Ternyata segelas matcha membuatku tak mampu memejamkan mata, apalagi meredam segala memori menyakitkan. Padahal sebelumnya, aku nyaris kalah dengan kantuk. Setelah bosan berselancar, akhirnya aku mendapatkan hidayah, untuk sekadar membaca selembar-dua lembar kitab suci. Skincare yang baru kuaplikasikan, aku basuh dengan air, bersuci.
Aku menyalakan lampu ruang tamu di rumah kontrakan empat petak ini, tak lupa juga kipas angin. Agar nyaman untuk berlama-lama, ku niatkan tak tidur hingga sahur, solat subuh, dan mengerjakan banyak rencana wajib sebelum mudik.
Lembar pertama, tidak begitu sunyi, kontrakan kami dekat dengan jalan raya, bahkan jalan toll. Tapi tidak ada suara manusia yang begitu dominan, hanya lalu-lalang kendaran. Entah kenapa, rasanya begitu lancar dan khusuk. Oh apakah benar khusuk? Banyak memori menyakitkan lewat satu-persatu, bahkan begitu dalam saat ku coba membaca dari baris ke baris. Begitu menyakitkan, hingga mataku tak lagi mampu membaca, air mataku berlinang.
Begitu menyakitkan. Dua tahun terakhir ini begitu menyakitkan. Aku harus menerima keadaan tanpa sedikit pun pengakuan dan kata maaf, atas kecerobohan dan kebodohan seseorang. Entahlah, bagiku cukup krusial untuk meminta maaf, bukan berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu bersikap baik. Terlebih kesalahannya begitu fatal. Begitu juga, orang yang barang kali harus berperan menjadi perantara, malah selalu saja menjadi duri.
Tuhan, padahal telah aku mohon di baitullah, agar rasa sakit ini bisa hilang, entah sembuh sempurna, atau terlupakan saja. Tapi, tetap saja, aku masih di sini, bertarung melawan rasa sakit yang ditorehkan oleh orang yang tak luput aku doakan.
Aku hanyalah manusia, yang sedari kecil tak pernah diminta, tapi mau tak mau memahami banyak hal sendirian. Meredam tangis, membungkan tanya, hilang arah, bahkan menjadi monster yang meledak-ledak. Rasanya, berada di sini, tanpa membandingkan tingkat keberuntungan dengan yang lainnya, aku sudah cukup baik, walaupun belum menjadi baik, setidaknya aku tahu harus terus berusaha menjadi baik, manusia baik.
Apa bisa aku yang tumbuh dengan penuh ketimpangan ini, berharap menjadi sumber kebahagiaan dan kehangatan? Apa bisa aku yang besar dengan perlakuan tidak menyenangkan ini, membagi keceriaan dengan banyak orang? Aku tahu, aku juga beruntung, di banyak hal. Tapi, izinkanlah kali ini, aku berbagi, menunjukan kelemahanku. Barang kali menjawab, pertanyaan banyak orang, kenapa aku jarang sekali terlihat tersenyum. Iya, aku menyimpan luka, terlebih saat aku masih usia anak.
Entah bagaimana, aku tak pernah mampu membagikannya ke siapapun. Betapa terpuruknya aku dalam masa-masa pertumbuhan dan perkembanganku. Aku hanya ingin mengimani, bahwa aku bisa memutus segala perbuatan buruk dan kekakuan yang menghantarkanku hingga kini. Namun barang kali, ada ruang di hatiku, yang masih tak bisa memaafkan. Terlebih tak pernah ada kesadaran dan kata maaf.
Cukuplah sepenggal curahan hatiku ini menjadi sedikit pengetahuan pembaca tentangku. Tak perlu dipahami. Memori buruk masa kecil dan luka yang disebabkan oleh orang terkasih memang seperti ini, kerap hadir di sunyi malam, mengobrak-abrik yang sebetulnya sudah diusahakan sedemikian rupa.
Suatu hari, aku akan kembali, dengan keceriaan dan kehangatan yang utuh. Dulu saja bisa aku lalui, mana mungkin hal-hal semacam ini tidak bisa aku tangani? Hanya butuh waktu.
.png)
Comments
Post a Comment