Skip to main content

Sebuah Perenungan

Beberapa hari lalu, di siang hari. Aku melihat dua anak kecil di perempatan lampu merah, tidak jauh dari mereka ada dua remaja perempuan mengamen, pikirku mereka ini ibu atau kakaknya. Kami menunggu lampu merah paling depan. Di sisi jalan lainnya aku melihat seorang ibu menggendong bayi, di bawah terik matahari. Ada tiga anak berpanas-panasan, menghirup udara yang penuh polusi, entah sudah makan atau belum. Bahkan dua remaja perempuan itu pun, jika aku tak salah taksir, mereka juga masih usia anak.


Batinku melirih, Tuhan tidakkah engkau akan menitipkan kepadaku, sedang aku bisa memberikan kehidupan yang nyaman dan aman pada sang anak. Tentu dengan segala ridho dan rizkimu. Pikiran itu cukup lama, sambil aku amati dari ujung mataku, anak-anak ini. Seharusnya mereka di rumah, walau sederhana namun aman dan nyaman di masa pertumbuhan dan perkembangannya. 


Lampu hijau, kami pun melaju, belum sempat motor kami berbelok, aku kembali sadar. Sungguh Allah tak pernah keliru dalam memberikan rezeki pada hambanya. Tak pernah, sedikit pun. 


Lalu, hari ini aku dua kali menangis. Pertama saat aku melihat seorang anak, yang kembali menghampiri teman tuna daksa-nya, kemudian menggendongnya agar bisa bermain bersama ketimbang meninggalkan anak tersebut di rumah sendirian. Lirih aku kembali bergumam, jika Allah izinkan, maka dengan segala ilmu dan kekuatanku, aku akan mendidik anak sebaik itu. Aku berjanji akan berusaha. Menemani juga menuntun anak-anakku menjadi manusia yang bermanfaat.


Tak lama berselang, aku menyaksikan seorang anak dengan gugup dan suara parau bercerita, betapa keji bapak kandungnya melakukan pelecehan seksual kepadanya, di saat sang ibu merantau ke luar negeri demi menopang ekonomi keluarga. Kembali aku berpikir, tentu Allah telah mengukur segalanya. Allah maha mengetahui.


Ya Allah, ampunilah keterbatasanku. Sebagaimana pernah aku lalui, aku akan selalu yakin atas doaku. Ini pertarungan baru, aku memang harus banyak belajar. Sungguh aku ingin menjalani hidup tidak hanya sekadar hidup. Aku pun tak ingin menjadi nomor satu yang dielu-elukan. Aku hanya ingin memberi makna, pada diriku sendiri. Barangkali teman hidupku, suamiku. Bahkan lebih luas pada keluarga dan orang sekitarku.

Hai! Salam kenal dariku ya. Rumi yang secara acak terkadang menulis, entah saat luang ataupun sibuk.

Comments