Nusa Tenggara Timur, Provinsi dengan Stunting Paling Tinggi di Indonesia

 “NTT butuh resource nih.”

Sebuah pesan dari seorang Executive Director NGO di kolom pesan instagramku. Pesan singkat yang membuatku sangat bersemangat. Tawaran untuk kembali melakukan emergency response dalam bentuk dukungan psikososial terhadap bencana Siklon Seroja di Nusa Tenggara Timur. 

Apa itu Siklon Tropis Seroja?

Menurut KBBI, siklon adalah angin ribut yang berpusar dan bergerak dengan cepat mengelilingi suatu pusat; angin puting beliung.

Siklon tropis Seroja sendiri adalah sebuah siklon tropis yang mulai terbentuk di selatan Nusa Tenggara Timur, Indonesia, pada 3 April 2021. Siklon ini menyebabkan hujan lebat dan cuaca  ekstrim yang berakibat banjir bandang dan tanah longsor di beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur. Puncak badai Siklon terjadi pada 5 April 2021 yang setidaknya berdampak pada kurang lebih dua juta jiwa. Sejauh ini Siklon tropis Seroja adalah satu-satunya siklon wilayah Australia 2020-2021 yang menyebabkan korban jiwa. Ada sekitar 68 jiwa meninggal dunia, 15 luka-luka, dan 70 orang dinyatakan hilang. (Data per 8 April 2021, sumber update by @ibufoundation)

Rasanya sedih sekali melihat bencana demi bencana yang dialami Indonesia. Belum lagi dengan suasana khusus covid-19. Tapi, keadaan ini tidak  menyurutkan niat orang baik atau bahkan lembaga yang ingin membantu meringankan beban saudara setanah air.

Berangkat ke Nusa Tenggara Timur

Setelah tawaran via DM itu datang, beberapa hari kemudian aku medapatkan tawaran resmi dari HRD, kami mulai mengatur keberangkatan. Selama menunggu tanggal keberangkatan, aku berusaha mengingat kembali program Rumah Kencana (Ruang Ramah Anak Paska Bencana) yang pernah aku bawakan saat emergency response di Sulawesi Tengah pada November 2018 – April 2019. Aku juga belajar hal baru mengenai disability inclusion. Aku kembali beririsan dengan pengalamanku merawat almh. Nenek yang pada penghujung usianya, menjadi disabilitas karena terserang stroke. What a wonderful throwback! I miss you, every single day Nekino.

Tiba-tiba, aku diberitahu tanggal keberangkatan, cukup mendadak. H-2. Semua berjalan dengan cepat, aku harus menjalani swab test antigen, dan kemudian tahu prosedur keberangkatan ke luar daerah. Yah, terbang tak sesimpel dulu. Harus deg-degan gimana kalo ternyata aku OTG???? Beneran dibuat senewen perihal swab test ini, ya kalo ternyata aku OTG kan harus isolasi dan gak bisa berangkat. 

Alhamdulillah, setelah hidungku dicolok untuk mendapatkan sampel testnya, aku dinyatakan negative covid-19. Beneran deh jadi lega! Hasil test hanya berlaku 1x24 jam. Sesampainya di bandara, hal pertama yang harus aku lakukan adalah validasi surat hasil swab test. Setelah itu, semua berjalan seperti biasa dengan prokes yang berlaku. Bandara tampak sepi, berbuka di salah satu resto di bandara membuatku mengutuk diri “kenapa gak beli makan dulu sih yaaa!” Haha.

Aku terbang ke Jakarta menggunakan Citilink, kursi pesawat banyak yang kosong, bahkan banyak sekali. Hal ini membuatku merasa miris, tapi juga melegakan untukku yang kurang nyaman dengan kepadatan. Setelah sampai di Soekarnoe-Hatta, aku kebingungan mencari gate untuk penerbangan selanjutnya. Aku bertanya-tanya, apakah kemampuanku membaca petunjuk yang kurang baik, atau memang semua tampak membingungkan. Berbekal dengan keberanianku, aku bertanya berkali-kali dengan petugas bandara yang aku temui. Malu bertanya, sesat di jalan adalah salah satu prinsip hidupku. Haha. 

Selain menunggu penerbangan selanjutnya, aku juga menunggu seorang teman dari Bandung. Kami akan berangkat bersama ke NTT. Waktu berjalan cepat, akhirnya kami berkenalan dan bercerita tentang banyak hal. Ya, tidak terlalu banyak, hanya seputar hobinya berpetualang, mendaki gunung, dan sejenisnya. Betapa autisnya (ketergantungan dengan gawai) aku kalo harus menunggu sendirian selama enam jam. Dan lagi… aku membeli makanan cepat saji dengan harga bandara untuk sahur. Bahkan di resto dan menu yang sama persis karena resto lain yang sudah tutup. Kami makan sahur tepat 40 menit sebelum boarding

Tubuh sudah terasa lelah. Akhirnya bisa duduk manis di pesawat dan tidur. Sayangnya, penumpang disebelahku bermain game selama di perjalanan, dengan kecerahan gawai yang sangat mengganggu. Alhasil aku beberapa kali terbangun, dan “kok ya lama banget”.




Sesampainya di Kupang kami langsung disapa oleh matahari pagi Kupang yang hangat. Sembari menunggu jemputan, kami sempatkan berfoto. Beruntungnya, satu perjalanan dengan orang yang suka dan bisa memfoto. I’m so happy!

Provinsi dengan Stunting Tertinggi di Indonesia

Rumah yang kami tinggali hanya berjarak lima belas menit waktu tempuh dari bandara. Hari itu aku tidak ikut ke lapangan, aku disilakan untuk beristirahat terlebih dulu. Rebahan, tidur, hingga bosan tidur. Sore hari, kami pergi untuk membeli makanan. Ya, sedikitnya aku mulai melihat Kupang. Bangunannya, orang-orangnya, jalannya, makanannya, hingga pemandangannya. Banyak hal menarik dari sudut pandangku, mungkin ditulisan selanjutnya ya!

Aku berkenalan dengan banyak orang baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, hal yang menyenangkan sekaligus menantang. Beberapa orang juga adalah teman selama project di Palu dulu. Kami mulai saling bertukar informasi, lebih tepatnya mereka yang sudah lebih dulu ada di sini memberikanku informasi yang sudah mereka tahu.

Di mulai dengan fakta bahwa di sebuah desa, dari 15 orang anak yang di-screening, 10 diantaranya menderita stunting. Aku beberapa kali membaca mengenai stunting, tapi mengetahui bahwa NTT adalah provinsi dengan tingkat stunting paling tinggi di Indonesia baru aku tahu setalah aku menuliskan “stunting paling tinggi di Indonesia” di mesin pencarian gawaiku beberapa menit setelah mendengar cerita dari teman kerjaku. Waw! Seketika aku terkejut dengan fakta ini, yaaa setelah aku pikir ini wajar. Di NTT bahan pangan mahal, belum lagi umr yang rendah. Tentu saja akses terhadap makanan ini diperparah lagi dengan belum teraksesnya ilmu dan pengetahuan yang cukup mengenai pemenuhan gizi. Baik untuk ibu hamil atau anak dalam periode kehidupan awal (1000 hari pertama).


Banyak juga Ibu yang memiliki anak dengan jarak usia yang sangat dekat. Hal ini juga menyebabkan angka stunting di NTT sangat tinggi.

Akibat Stunting

Stunting bukan hanya mengakibatkan penderitanya memiliki tubuh yang pendek atau kerdil, namun juga berdampak pada perkembangan otak, yang akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi serta kreativitas anak di usia produktif. Dengan kata lain, stunting sangat mempengaruhi masa depan bangsa ini. 

Aku masih mencari tahu mengapa di sini semuanya lebih mahal. Apakah hanya karena faktor distribusi yang jauh, atau ada faktor lain yang menarik untuk dipelajari. Apakah di sini tidak ada pertanian sendiri? Lalu, kenapa hasil laut juga mahal? There is so many questions in my head.

Rencananya aku akan berada di NTT selama satu bulan, awalnya aku berniat untuk menulis setiap hari dan menerbitkannya di blog ini. Mungkin tulisan ini bisa jadi karena load kerjaan belum berat. Tapi aku akan berusaha berbagi cerita mengenai timur Indonesia melalui tulisan di sini ataupun di instagramku. Terima kasih ya sudah membaca!

Comments

Post a comment

Pink Hair Girl, Cute