Wednesday, 6 February 2019

Turun Gunung Nokilalaki Tengah Malam

Wednesday, February 06, 2019 0 Comments
Halloooo! Assalammualaikum, apo kabar wong kito galo?

Ternyata jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama itu lumayan buat mood jadi tidak terkontrol sekali. Swing. Masih dari Palu, jauh dari keluarga dan juga teman. Keluar dari zona nyaman to find another comfrot zone. Awalnya terasa sulit, kemudian kian sulit lalu mulai bisa mengikuti alur. Ternyata dunia penuh dengan warna lain, perbedaan yang berharga. 

Dua bulan sudah berkegiatan di Palu, dengan orang yang selalu sama dari rumah, kantor, lapangan dan seperti itu terus. Kegiatan yang padat, hiburan yang sulit, apalagi waktu ME TIME yang langka, terkadang membuatku sulit mengekspresikan rasa lelah. Penyendiri yang tak lagi punya ruang~

Sudah-sudah, mari cukupkan keluh kesah ini. Kali ini aku mau cerita tentang perjalanan keduaku mendaki gunung lewati lembah demi menemukan jodoh wkwk. Sangat mendadak, persiapan yang kurang dari 24 jam. Hanya karena rindu sensasi berjalan mendaki, hanya karena rindu, merasakan lemah-selemah-lemahnya diri. 

Saat ajakan mendaki itu datang, aku sedang sangat lelah dengan tugas yang menumpuk dan rencana kegiatan yang tak kalah menumpuk. Berhubung, hari libur dan letak gunungnya tidak jauh dari tempat tinggal aku tidak berpikir dua kali untuk ikut. Tanpa mencari tahu karakteristik si gunung, jarak dll. 

Mendaki Gunung Nokilalaki

Gunung Nokilalaki adalah gunung yang terletak di Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Indonesia. Ini memiliki ketinggian 2.355 meter. Gunung ini termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Gunung Noki ini cukup populer di Sulawesi Tengah, sebagai tujuan pendakian para pecinta alam atau penikmat sepertiku.

Rumi dan Alyssa



Kami berangkat dari Palu sekitar jam 10 pagi, masih harus mampir ke pasar untuk membeli logistik. Perjalanan menuju Karawana untuk menjemput teman-teman Komunitas Pecinta Alam Desa Karawana. Sampai sesaat sebelum Azan Zuhur, kami ditemani  Bang Fajar dan Bang Mato selama perjalanan menuju Gunung Nokilalaki dan kembali lagi di Karawana. Perjalanan menuju kaki gunung hanya satu jam dari Desa Karawana, sesampainya kami langsung melanjutkan perjalanan menuju titik yang lebih tinggi.
Sesaat sebelum perjalanan dimulai



Perjalanan menuju shelter 1 sangat menguras tenaga, kebayang banget kaki yang sudah lama banget gak diajak jalan apalagi olahraga, harus jalan menanjak. Debar jantung benar-benar berasa sampai pipi, I was thinking like, kalo langsung makan duren bisa langsung berpisah dengan makhluk dunia ini. Setiap lima menit sekali, aku selalu minta untuk istirahat dan tanpa basa-basi setiap istirahat langsung duduk bahkan rebahan. Perjalanan hari pertama membesitkan, jangan-jangan aku tak lagi mampu.

Setelah berjalan sekitar satu jam, kami pun sampai di tanah yang cukup lapang, tidak jauh sebelum shelter 1.  Karena cuaca yang mulai turun hujan dan akan gelap sebentar lagi, kami sepakat untuk mendirikan tenda di tanah lapang ini. Sebelahnya aliran air yang langsung dari gunung. Sungguh anugerah Tuhan. Setelah tiga tenda didirikan, kami pun mulai memasak untuk makan malam.



Suasana Memasak di dekat Shelter 1
Untuk sampai di tempat kami mendirikan tenda ini, aku dan teman-teman bermandikan peluh. wkwk. sebelum magrib, yang awalnya hanya ingin berbesih diri di aliran air terdekat, akhirnya kami memutuskan untuk mandi. Air dingin yang menyegarkan, what a great moment to remember. Efek terlalu lelah, habis makan malam dan selesai solat isya aku pun turuuuuu. Bangun-bangun udah berganti hari aja, jauh-jauh untuk numpang tidur doang.


Hari kedua kami lanjutkan perjalanan setelah makan pagi rangkap siang, menuju Shelter 2 terasa lebih manusiawi. Mungkin efek hari pertama yang sudah berjalan, pernafasan mulai teratur dan rasa lelah bisa dikondisikan.






Muka lelah

Perjalanan kali ini benar-benar ingin aku nikmati, tanpa keluh, tanpa tanya, tanpa kata-kata yang dulu berlarian di kepalaku. Aku ingin menyatu dengan rasa lelah, dengan segala keterbatasanku. Bersama orang-orang baru, aku bisa percaya. Bersama orang-orang baru, aku bisa pergi sejauh itu. Iya, bersama orang-orang baru. Berjalan didepan, sesekali hanya sendiri, aku menikmati sekali. Sendiri.

Hari menjelang sore, tapi kami tak kunjung sampai. Persediaan cemilan pun menipis dan daku tak lagi punya permen. Rasa lelah, haus dan tak ingin mengeluh menjadi satu.



Puncak Nokilalaki
Akhirny.a sampe puncak!!! dan yang kulihat hanya ratusan batang pohon yang menjulang, tak ada sunset, hanya dingin yang menusuk. Karena suhu yang dingin, kami harus segera turun. Perjalanan panjang, sampai puncak, foto-foto, kemudian turun.

Turun gunung adalah salah satu hal yang sangat sulit. Dengan sisa tenaga yang ada, kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan menuju Shelter 3, kami disuguhi matahari yang mulai meninggalkan sisi bumi tempat kami berpijak. Hari pun gelap dan perjalanan harus terus dilanjutkan, dengan kehati-hatian, aku berhasil membuat semua orang melambat. Wkwk.

Gelap, lelah, lelah, lelah, takut jatuh, lemah. Terima kasih Bang Mato yang sudah bersedia menemani. Menuntun dari atas gunung sampai Shelter 1. Dalam perjalanan turun ini, aku hanya terdiam. Menyadari bahwa, saat lemah kita butuh seseorang. Saat takut, kita perlu untuk yakin, tetap hati-hati. Bahwa semua orang penting, bagi diri mereka sendiri, terlebih orang lain. Bahwa mengeluh, sungguh, tidak ada gunanya. Bahwa dalam keterbatasan, kita masih bisa mencapai tujuan. Yang paling penting adalah cara kita menikmati setiap tapakannya.

Kami akhirnya tiba di Shelter 1 jam 3 pagi. Semua rasa lelah langsung dibayar tuntas dengan tidur. Menunda rencana awal yang ingin langsung turun dan pulang. Setelah istirahat, kami turun ke perkampungan jam 9 pagi dan sampai setengah jam setelahnya.

Cant wait for next adventure!

Friday, 18 January 2019

2018 Dengan Ribuan Kenangan

Friday, January 18, 2019 1 Comments
Sepertinya tahun ini sudah menjadi tahun terbaiknya. Tahun dimana kesempatan bertubi-tubi datang, pun keberhasilan yang nyaris, ribuan menghampiri, ditutup kehilangan yang pedih. 2018.

Sunset di Pantai Tanjung Karang, Donggala

Berkelebat serangkaian syukur, tapi rimbunnya rindu, sedetik jauh lebih menyiksa. Tuan, dalam sibuk, rindu tak pernah alfa menghampiri. Sepanjang tahun. Setiap hari, dibalik senyum, dihela tangis, nama tetap tak mampu terucap. Kemungkinan garis itu tak akan pernah bertemu. Ini yang terbaik, tapi tak sebaik saat itu. 

Proses belajar banyak hal baru. Belajar agama, belajar untuk ikut mendengarkan kajian, belajar untuk memahami, untuk mencari jalan terbaik. Hadiah terbaik terlahir sebagai muslimah, menerima segala edukasi agama yang terpenuhi, diberikan kemurahan untuk sadar, digerakkan untuk menunaikan. Tapi, bertahun hidup tak pernah haus akan ilmu dan pengetahuannya, hingga akhirnya salah satu teman mengenalkan dengan kajian, mengajak ke masjid, mendengarkan ilmu yang ajaib, bertukar pikiran tentang hal-hal indah. Tuhan, agama ini sungguh indah, tidak ada kebencian yang diajarkan didalamnya, dengan ilmu yang sedikit, keyakinan ini penuh. Bahwa nilai rahman dan rahim itu harus ada di setiap kalbu.

Ada tumpukan risau, saat usia bertambah, hari berlalu, pencapaian tak kunjung nyata. Tapi, rezeki tak melulu tentang uang, pekerjaan.. Terus apa??? Pilihan untuk menikmati waktu setelah lulus menjadi boomerang, tak pernah terpikir akan berlama-lama di rumah. Tak pernah terkira harus kesana-kemari. Dalam tahap belajar, ada beberapa hal yang dihindari dalam mencari jalan untuk mandiri ini. Menolak sesuatu yang buruk tidak salah bukan? Ternyata sulit. Meneguhkan hati. Tetap bersabar, yakin bahwa Tuhan Maha Asyik dalam merencanakan segalanya. 

Lalu, Tuhan beri kesempatan untuk mengenal banyak orang hebat. Berada ditengah kepositifan yang tak henti tapi pasti berakhir, karena dunia ini, fana. Melihat dan merasakan bagaimana orang-orang berusaha keras untuk impian, tersadar, tersungkur, ternyata kemalasan adalah teman terburuk. Beberapa pencapaian kembali tertunda karena kelalaian dan selalu menggampangkan sesuatu.

Bertemu orang dengan kerja keras yang sungguh nyata, memandu atlet dari India, berpanas-panas demi totalitas. Asian Games 2018, menjadi bagian dari mengharumkan nama bangsa, walau hanya sebatas relawan, kesempatan yang sungguh luar biasa.

Ada seribu.

Ada seribu.

Tapi hanya teringat satu.

Kemudian, khawatir mulai tumbuh. Tanya mulai bercabang, menanyakan keadaan diri. Menanyakan posisi hidup dikehidupan ini.

Tersadar, berusaha sadar, menjalani dengan kesadaran. Tapi, Tuhan punya rencana lain. 

Akhir tahun, impian yang mulai pudar, yang mulai samar, yang ingin ditinggalkan, memberikan nafas baru. Menginjakkan kaki di Palu, diberi kesempatan terbaik untuk belajar sebagai program officer. Jika berhasil dihari itu, pun nyatanya berhasil dihari lainnya, tak akan pernah, tak akan mampu memaknai perbedaan sedalam ini, pun lebih menghargai dan mencintai diri. 

Mengenal banyak orang baru, harus hidup dengan keramaian, setiap hari, nyaris tak henti. Belajar, tak pernah menjadi hal yang mudah keluar dari zona nyaman. 

Berpulang satu. Orang terbaik. Yang menjadi contoh dalam hidup, yang selama ini waktu banyak dihabiskan bersama, membuatkan kopi, memasak makanan kesukaan, hidup bersama, memaknai cinta, kasih dan sayang dengan cara yang sedikit berbeda. Kematian, menjadi pisah yang larut. Kematian, menjadi akar baru, untuk pohon rindu lainnya. Terima kasih telah melukis anak kecil ini, dengan penuh teladan yang baik. 

Tuan.
Jika kelak cerita terbaikmu tidak berakhir dipangkuan saat malam tiba, maka seperti itulah yang terbaik.

Tuan.
Jika kelak ilmu tak berakhir dilembut tanganmu, maka seperti itulah akhirnya.

Tuan.
Sepanjang tahun, sepasang mata, mencari tutur yang lebih baik, nyatanya tak ada yang lebih menarik dari kecerdasan.

Tuan.
Berhentilah, berlarian dikepala yang sempit ini.

Mengakhiri tahun dipinggir pantai, ditengah kermaian, menyambut matahari dengan terjaga, pikirku melayang, tentang ilmu yang tak bertambah, tentang waktu yang kian berkurang, tentang rasa yang kadang goyah. Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu, tidak satupun kewajiban terlaksana tanpa izinmu, terlepas mereka ragu akan-Mu, kesunyian masih sanggup menjadi tempat bertahan terbaik.

Halo, salam kenal orang baru. Jika bagimu, penyendiri ini aneh. Jika bagimu, membaca buku saat orang berbincang itu aneh. Jika bagimu, semua itu sama. Sadarilah, hak menilai hanya milik Tuhan. Sadarilah, kata tak laku tanpa ilmu ditelinga. Rupa tak akan tampan, tanpa tutur yang cerdas dimata. Mari membaur, engkau makhluk hidup, manusia dengan kesempurnaannya.

Wassalammualaikum.

Palu, 19 Januari 2019.