Thursday, 31 May 2018

[Pemilihan] Duta Bahasa 2018

Thursday, May 31, 2018 3 Comments

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah – Pramoedya Ananta Toer, House of Glass.”

Hallooo! Assalammualaikum ^^

Mungkin gak sih tulisanku ini ada manfaatnya? Mungkin gak sih aku juga akan abadi kayak Eyang Pram? Mungkin gak sih setiap artikel yang aku post menambah panjang umur Harumi Paramaiswari ini? Aku tuh... aku tuh sebenernya pengen punya tulisan yang penuh makna dan menginspirasi gitu. Oke skip~ Maafkan Rumi ya teman-teman.

Mengikuti pemilihan Duta Bahasa Sumatra Selatan

Wah! Apa? Duta Bahasa? Hehe. Orang yang kenal dan deket, pasti tahu banget Rumi itu bukan orang yang tampil. Bukan sekali. Suka bersembunyi, tempat kesukaan sih tetep, dibelakang badan kakak yang tinggi itu loh kak! Ckck.



Awalnya aku ingin daftar disalah satu program Kemenpora, Kapal Pemuda Nusantara. Tahun ini syarat administrasinya harus mengirimkan 2 buah esai, sampai dengan tanggal penutupan aku belum sempat menyelesaikan satu esai kebaharian. Karena memang belum banyak ilmu tentang itu alias malas. Jangan ditiru ya teman-teman. Iseng, aku nyari-nyari kegiatan apa yang bisa aku ikutin dalam waktu dekat. Ketemulah akun ig @dubassumsel, akunnya dikunci tapi langsung diterima untuk mengikuti. Yup, ternyata lagi buka pendaftaran untuk Pemilihan Duta Bahasa 2018. Seperti berjodoh, semua berkas yang diperlukan dengan lancar dipersiapkan dan diunggah ke google form.

Pengumuman tahap administari, aku lolos. Kemudian test kebahasaan yang terdiri dari UKBI dan UKBA.

Apa sih UKBI?

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia, test yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan berbahasa seseorang dalam berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia, baik Penutur Indonesia atau Penutur Asing. Seperti toefl-lah teman-teman. Ternyata Bahasa Indonesia kita juga ada, namanya UKBI, diingat ya.

Sebenarnya UKBI sudah dikembangkan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional sejak 1997 tapi baru diresmikan penggunaanya tahun 2006. Sayangnya, aku saja baru tahu test ini tahun lalu. 2017. Saat kebetulan lagi di Jakarta dan ada UKBI gratis dari Badan Bahasa tapi karena sesuatu dan lain hal gak bisa ikut.

UKBA

Uji Kemahiran Bahasa Asing. TOEFL dong? Bukan loh! Alhamdulillah bukan. Hehe. Di sesi UKBA ini kita diminta menulis esai dengan tema yang sudah ditentukan pihak panitia atau balai bahasa. Alhamdulillah, tema yang diberikan ada yang aku kuasai. Kalo dipiki-pikir, aku lumayan malu sama yang memeriksa esaiku, karena salah penulisan dan grammar yang ala kadarnya. You know my english lah ya.

Wawancara 

Ditahap ini, para peserta pemilihan Duta Bahasa Sumsel 2018 harus mengikuti 3 rangkaian test. Yang pertama kepribadian, ditahap ini Ibu pewawancaraku lemah lembut dan singkat sekali menanyaiku. Beliau bertanya, “sudah berapa banyak teman yang kamu kenal selama mengikuti tahapan test ini?” Karena kebetulan aku sudah kenal banyak orang, jadi berasa seneng aja. Hehe. Aku jawab 10! Padahal kan baru Kak Benny, Kak Tomi, Agus sama satu lagi. Singkatnya Ibu bertanya lagi mengenai Bahasa Indonesia saat ini.

Bagiku, Bahasa Indonesia memiliki tempat tersendiri. Apalagi setelah mengikuti serangkaian test dan menjadi salah satu finalis. Tapi, jauh sebelum itu, aku sudah menjadi penikmat cuitan penuh ilmunya Ivan Lanin, aku menerapkan ilmu-ilmu kecil seperti mengurangi menyingkat kata, menggunakan tanda baca yang baik dan benar. Untuk dua hal yang berharga ini aku mau berterima kasih dengan Ibu C. Ngatirah selaku wali kelas VI-ku dan Ibu Ida Yulia, guru Bahasa Indonesia semasa SMA yang penuh prestasi dan inspirasi.

Selanjutnya, sesi kebahasaan. Di sesi ini esai yang kita tulis akan dibahas dan tentunya mengenai kemampuan berbahasa daerah. Karena aku berasal dari Palembang, diminta untuk berbahasa Palembang alus alias bebaso. Malangnya, sekian lama belajar kearifan lokal aku baru pertama kali mendengar bebaso hari itu. Jadi keinget waktu ngobrol sama temen dari Kalimantan Tengah, yang menanyakan Bahasa Palembang. Teman nanyain, apa ada bahasa alusnya dan aku jawab penuh keyakinan. Gak ada.

Kak, ada loh! Bebaso! Kakak nak Rumi ajari dak?”

Karena tidak bisa bebaso, ditanyalah mengenai makanan khas Palembang kesukaanku. Langsung tanpa basa-basi, serikayo! Diminta menjelaskan tentang serikayo. Hm!!! Tiba-tiba aku merasa hobi masakku benar-benar membantu.

Minat dan Bakat

Tahapan yang membuatku tak berdaya. Lemah. Karena bingung dan lupa kalo aku ada bakat jadi penulis! Wkwk, jadi saat mengisi form aku cuma nulis bakatku mengajar? Apa ngajar itu bakat ya Rum? Ya Allah Rum.... sepertinya Kak Ivana, Kak Nandya dan para panitia pun bisa mengajar ya Rum. Sudahlah. Hehe. Bakat satu lagi yang aku tampilin adalah.... baca puisi, ini beneran dadakan tanpa persiapan. Karena memang suka baca puisi dan sering baca puisi walau via telpon dan cuma didengerin Bibah dan Suzy, aku tahu aku berbakat.

Aku membacakan puisi Wiji Thukul, Tembok dan Bunga! Satu-satunya puisi yang terpikir saat menunggu antrian test bakat ini. Puisi yang aku suka dan tidak melulu tentang cinta.

Selesailah serangkaian test hari itu, melihat peserta lain dan berkenalan langsung. Aduh, aku siapa banget. Mereka semua berbakat dan jauh lebih baik.

Satu-satunya yang buat aku berharap ya karena ini Duta Bahasa, jauh sekali orang seperti Rumi ini mau cari popularitas apalagi samir. I just love this country and all about it. Belajar mengenai negara ini selalu membuatku tertantang, begitulah kiranya. Harapan lainnya aku bisa tahu dan berperan lebih tentang literasi.


Cerita pra-pembekalan dan pembekalan di post selanjutnya ya! Selamat dan semangat meraih kemenangan di Bulan Suci Ramadan, wassalammualaikum.

Monday, 21 May 2018

[Review] X2 Bio Glaze, Softlens Pertamaku!

Monday, May 21, 2018 1 Comments
Heiiiiii, hallo semuanya. 

Gimana nih puasanya? Lancar, aman, sentosa kan? 

Kali ini aku mau bagiin pengalaman pertama aku menggunakan softlens! Apa? Gimana-gimana? Harumi pake softlens? Wkwkwk. Kalo teman deketku pasti tau banget, kalo aku beneran gak mau pake softlens selama ini. 

Banyak sekali hal yang aku khawatirkan kalo benda mungil itu harus masuk ke mataku, tapi keindahan yang nampak saat mengenakannya tak bisa kita pungkiri kan ya. Selama kuliah teman-temanku sering sekali gonta-ganti softlens, tapi akuuuu. Tidak tergoda!!!!! 

Alasanku simpel dan klasik. Takut. 

Sampai akhirnya aku tahu salah satu brand softlens yang buatku tergoda dan terus mencari tahu tentang keamanan menggunakan softlens. Ini nih beberapa hal yang perlu kita ketahui sebagai pemula dalam dunia per-softlens-an. 

1. Pilihan Warna 

Tips ini penting banget nih untuk pemula, softlens menawarkan bergai warna-warni yang indah. Dari yang bening, abu-abu, pink, biru dll. Fungsi utama softlens

Add caption
kan sebenernya untuk menggantikan fungsi kacamata, saran Rumi sih teman-teman pemula pilih yang bening atau warna kalem dulu deh! Softlens yang Rumi pake diatas itu Nu Quarto dari X2 Bio Glaze. Warnanya yang soft tapi cantik banget, bisa bedain kan mata Rumi sama mata Devi yang gak pake softlens

2. Diameter Softlens / Power Range 

Ini penting banget loh..... Awalnya aku bingung saat ditanya power range softlens. Duh apaan yak itu. wkwk. Biar teman-teman pemula gak bingung dan jangan sampe salah beli. Jadi, power range itu ukuran dari softlens. Softlens memiliki beberapa ukuran diameter, kita tinggal pilih sesuai dengan bentuk mata kita. 
  • 14 mm, ukuran ini cocok untuk orang yang matanya kecil seperti mataku. Mata-mata sipit sayu gitu. 
  • 14.2 mm, kalo kalian mau matanya keliatan sedikit belok, bisa pilih ukuran ini. 
  • 15 mm, ini diameter untuk si mata besar. 
Pemilihan ini sangat penting ya teman-teman, karena kalo salah pilih bakalan susah waktu pemasangan dan pasti kurang nyaman saat pemakaian. 

3. Sesuaikan Kadar Air 

Kadar air dalam softlens penting nih kita samain sama kondisi mata kita, kadar softlens yang paling baik itu yang 45%. Softlens dari X2 softlens ini menggunakan teknologi terbaru yang membuat pengguna softlens nyaman dan jauh dari mata yang kering. Goodbye contact lens dryness!

4. Sesuaikan dengan Minus Mata 

Kalo pertama kali beli softlens pasti ditanya, “matanya normal atau minus nih mbak?” Nah kita harus beneran tahu kondisi mata kita saat ini, minusnya berapa. Karena kalo terakhir periksa mata tahun lalu minus 2, saat ini belum tentu. Baiknya teman-teman periksa lagi kondisi matanya ya! 

5. Perhatikan Masa Kadaluwarsa

Tidak seperti kacamata yang awet sepanjang minus mata tidak bertambah, softlens memiliki jangka pakai tersendiri. Seperti produk dari X2 softlens memiliki waktu pakai selama 6 bulan. Jadi per 6 bulan kita bisa beli model terbaru deh dengan warna pilihan lain lagi. Hehe.

6. Pilihlah Softlens dengan Teknologi Terbaru dan Terpercaya 

Kita menaggalkan kacamata pasti dengan berbagai pertimbangan kan ya? Kita menggunakan softlens pasti dengan pemikiran yang panjang. Hehe. Pilihlah brand softlens terbaik dan terpercaya. 


X2 Bio Glaze, Softlens dengan SDD Technology 


Kemasan X2 softlens lucu banget.
Pilihan Rumi jatuh ke X2 Softlens, salah satunya karena desain terbaru X2 softlens menggunakan SDD Technology. Teknologi ini membuat zona optik pada bagian tengah lensa kontak tidak menjadi 2 lapis, sehingga mengurangi ketebalan pada titik tengah (center thickness) softlens. Tipisnya titik ini akan membuat penggunaan lebih nyaman.  

Cast Moulding & Sandwich Technology 
Rumi menggunakan Nu Azul dar X2 softlens
Lensa kontak X2 Bio Glaze diproduksi dengan menggunakan teknologi cast moulding & sandwich dyeing sehingga memberikan kenyamanan maksimum untuk digunakan dan mempertahankan warna pada lensa untuk tahan lama atau tidak luntur. Teknologi sandwich dyeing akan membuat pengunaan softlens aman dan nyaman. Teknologi ini juga membuat softlens produksi X2 jauh lebih tipis dan nyaman. Berasa gak pake softlens loh!!! 


Clean & Clear View 


Lensa kontak X2 Bio Glaze didesain dengan teknologi Aspheric yang dapat mengurangi aberasi (distorsi) yang terdapat pada lensa minus spheric. Lensa Aspheric jauh lebih jernih dan membuat kejernian luar biasa sehingga penglihatan berkualitas HD. Cihuyy. Ngeliat kayak orang normal nih bakalan. 

Setelah rentetan tekhnologi terbaru yang ditawarkan oleh X2 Bio Glaze, Brand Ambassador X2 Softlens juga membuat Rumi semakin percaya. Iya BA-nya Pevita Pearce dan yang paling penting dalam proses pembelian adalah pelayanan yang prima. Admin X2 Bio Glaze di @x2softlens (instagram) baik dan ramah! Yuk tunggu apalagi, dapatkan softlens kamu di X2 Bio Glaze untuk melengkapi hari kemenangan yang tinggal 26 hari lagi! 

Wassalammualaikum

Sunday, 29 April 2018

Ekspedisi Nusantara Jaya 2017

Sunday, April 29, 2018 0 Comments

Salah satu senja terbaik, di Ujung Pandaran..
Senja yang disadari memikat saat terlepas
Senja yang indah karena makna ringkas
Rindu tidak berat
Hanya rumit

Halooooo...
Assalammualaikum^^
Hari itu aku mendapatkan whatsapp dari salah satu temen volunteer yang sudah dewa dalam menata kata dan perasaan. Hahaha. Info mengenai Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 didapat dari Kak Dikaa!!! Idola sesegadis di Palembang. Aku yang polos dan malas ini, sampai dengan H-1 penutupan pendaftaran  belum juga sempat mendaftar dan melengkapi berkas. Pikirku seperti biasa, yasudahlah mungkin lain kali.
Sampai akhirnya pengumuman dari ENJ yang pertama keluar, ada beberapa teman yang lulus dan ada yang belum lulus. Mendapat kabar jika akan dibuka lagi sampai beberapa hari kedepannya. Mungkinnn, ini takdirku. Buru-buru mengurus beberapa berkas yang dibutuhkan. Sampai akhirnya masih juga... mengurus surat keterangan dokter, ngerprint surat pernyataan di Hari Minggu. Hari terakhir pendaftaraan dan ditutup pukul 4 Sore. The power of kepepet. Untuk essay memang sudah dipersiapkan.
Awalnya aku tertarik untuk ke Aceh, tapi... Aku rasa belum saatnya. Terus ke Sulawesi, tiketnya lumayannnn. Karena sudah tau dari temen kalo program ini hanya memberikan uang saku dan makan selama di penempatan (berasa pm) Haha. Ada ajakan ke Bali, but I still remember.. the last time I was there. Gak ada makanan yang bisa masuk ke mulut. Gak ada air yang bisa diteguk sempurna. Aku mau aman.
Jadilah, Kalimantan Tengah. Iya, Palangkaraya.
Pilihan yang tepat menurutku. Lumayan.
Pengumuman tau dari temen. Aku lulus. Alhamdulillah.
Setelah pengumuman, kami team Ekspedisi Nusantara Jaya Kalimantan Tengah membuat grup WA. Digrup ini kami menentukan Ketua Team. Aku lupa gimana prosesnya karena waktu itu cuma ikut-ikutan dan aku tidak terlalu peduli. Sampai akhirnya, kami mulai menentukan hari keberangkatan. Awalnya minggu kedua September, lalu dipercepat menjadi awal September. Ini sebenernya jadi salah satu kekesalanku. Karena hasil diskusi yang sudah final, diubah karena salah dua orang. Tapi seperti itulah....
Jadwal keberangkatanku sudah disusun rapi, sampai akhirnya ada kabar bahwa wisuda akan diundur. Awalnya, cuek dan gak mau percaya. Masa sih acara seakbar wisuda bisa diundur? H-7? Gak masuk akal. Tapi, itu nyata. Terjadi. Dari tanggal 27 Agustus jadi 10 September. Sedangkan ENJ 1-10 September. My pretty heels... Serangkaian acara wisuda, seperti malam pelepasan dan pemandian calon alumni harus ditinggal. Panitia yang gagal dateng, kan lucu. Setelah dipikirkan dan memikirkannya. Aku memutuskan untuk pulang ekpedisi duluan.
Singkat cerita, karena tidak akan ada waktu liburan setelah ekspedisi. Aku buru-buru membeli tiket ke Bandung, untuk sejanak rehat dari urusan kampus. Seharusnya langsung ke Jogja, karena temen di Jogja lagi sibuk jadilah Bandung yang kupilih. Dua hari di Bandung, menuju Jogja menggunakan kereta api. For the first time naik kereta api untuk rute jauh. Sendirian. Kena macet lagi. Sampe stasiun 10 menit sebelum jadwal keberangkatan, ngeprint tiket terus lari-lari menuju gerbong. Alhamdulillah gak telat, kereta baru jalan setelah telat 4 menit dari jadwal keberangkatan.
Tiba di Jogja tengah malem, dijemput sama si Akbar. Awalnya aku kira si Akbar ini anak Jogja. Bakalan diajak ke rumahnya, ketemu Ibunya. Wkwk. Ternyata kita nginep di Wisma Anak Sulawesi Selatan deket Fave Hotel. Di Jogja janjian ketemu dengan Anita dan Pras juga, kita team acaranya ENJ Kalteng. Keluar tengah malem nyari makan di jalanan Jogja. Dua hari di Jogja keliling-keliling bentar, do the best thing in the world. Yakk, shopping. HAHAHA. Jogja kali itu beneran cuma singgah, padahal kalo emang diinget-inget banyak banget tempat yang pengen dikunjungi. Mungkin lain kali.
Udah sepanjang ini, belom ada bahas ENJnya. Aku tipikal curhaterss banget yak. No more secret.
Via Lempuyangan menuju Surabaya. Surabaya menyambut dengan ramah, kami menumpang dengan anak pramuka UIN Sunan Ampel yang super duper baik banget. Ini serius. Mereka keren banget dalam memuliakan tamu! Semoga bisa balik ke Surabaya lagi. Jalan-jalan ke taman kota dan tugu Hiu dan Buaya itu loh. Ah... harus balik lagi ini.
Flight to Palangkaraya...
Sampe siang hari, panas, gak ada yang jemput (manja) terus kotanya sepi sekaliiii. Singkatnya kita berempat sampe di meet point. Ketemu Kak Shihab dan Anggie. Mencicipi penganan khas Kalimantan Barat. Lalu Albert, Fenta dan Chris dateng ke sanggar pramuka UPR. Yang lain mulai dateng sampe akhirnya kita kumpul semua lepas magrib. Perkenalan singkat, kita mulai membahas mengenai persiapan keberangkaatan dari setiap divisi. Kesiapan program. Jadi dari keseluruhan anggota ENJ KalTeng 2017, kita terbagi ke beberapa divisi untuk masing-masing memiliki program kerja. 
Hari pertama di Palangkaraya dan Diskusi pertama ENJ Kaltteng 2017.
Divisi Pendidikan dengan Kelas Inspirasi dan Outbond, divisi kesehatan dengan pengecekan kesehatan gratis dan divisi fundrising dengan membagikan donasi ke warga Desa Ujung Pandaran. Setelah berdiskusi, besoknya kita langsung berangkat menuju Desa untuk Ekspedisi. Sampai di desa dini hari, iya dini, gelap gulita, dingin tapi berhambur bintang di langit. Bahagia~
Kami awali hari raya idul adha dengan menyeduh mie dan berbagi, pengalaman pertama hari raya dengan penuh kesederhanaan dan rasa lapar. Setelah itu kami berkunjung ke kantor desa untuk menyampaikan maksud dan tujuan kami. Seperti biasa sambutan orang-orang yang jauh dari riuh kota selalu ramah, ajaibnya kami pun dipersilahkan menginap di kantor desa. Karena kebetulan, kantor sedang libur untuk beberapa hari kedepan.
Foto setelah Pembukaan resmi ENJ Kalteng 2017, bersama stakeholder Desa Ujung Pandaran
Suasana Kantor, tempat bernaung selama di Desa Ujung Pandaran
Hari pertama kami mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis untuk warga Desa Ujung Pandaran, sekaligus menyalurkan donasi pakaian. Pemeriksaan yang dilakukan oleh Team Kesehatan berupa pengecekan tensi, denyut nadi dan berat badan. Banyak sekali Ibu-ibu yang mengeluhkan kondisi kesehatannya. Karena saat itu satu hari setelah idul adha, banyak warga tensi darahnya cukup tinggi. Keluhannya, pusing-pusing. Pakaian yang adapun menjadi rebutan warga.
Pemeriksaan Tensi oleh Team Kesehatan ENJ Kalteng 2017
Asisten Kesehatan, dengan tugas mencatat Sistole-diastole dan denyutan nadi
Bersama warga Desa Ujung Pandaran

Perempuan-perempuan desa ini memakai sejenis bedak, entah apa sebutan untuk bedak ini, aku sudah searching tetep gak nemu. Dari pengamatan singkatku bedak ini berfungsi melindungi wajah dari sinar UVA dan UVB. Biar muka adem dan cantik ya. Perempuanlah yah.. Karakter Ibu-ibunya juga, Ibu yang suka investasi dengan membeli emas.
Hari berikutnya dimulai dengan Kelas Inspirasi di SDN 1 Ujung Pandaran, aku, Hariyandi dan Anita menjadi satu team untuk menginspirasi (gaya amat). Menceritakan tentang cita-citaku lalu macam-macam cita yang ada di dunia dan Indonesia khususnya. Bercerita tentang impian selalu menyadarkan kembali jalan yang sudah jauh ditapaki ini...
Berbincang bersama Kepala Sekolah
Team Kelas Inspirasi bersama siswa SDN 1 Ujung Pandaran
Selagi team Kelas Inspirasi mengenalkan cita serta cinta (cielah) di SDN 1 Ujung Pandaran team kesehatan melakukan penyuluhan pada siswa SMP. Penyuluhan megenai pentingnya perilaku hidup sehat, diawali dengan menjaga kebersihan tubuh. 
Kak Fazrul menyampaikan penyuluhan PHBS

Kegiatan Penyuluhan PHBS di SDN 1 Ujung Pandaran dan SMP Satu Atap-1 Teluk Sampit
Foto Bersama para Guru
Saat di desa kami sering sekali berkeliling desa atau keluar desa untuk membeli kebutuhan dengan menaiki mobil pick-up, pengalaman baru, asik, disini jadi sering ngobrol ngarul sama Kak Shihab! Berbelanja keluar desa, singgah di masjid, berniaga dengan orang Kalimantan. Tau kalo telur disini, gak dijual per-kg. Tak pernah membayangkan sebelumnya, akan ada hari yang penuh rindu saat diingat kembali. 
Harumi naik Pick-up di Ekspedisi Nusantara Jaya 2017
Setiap malam hari setelah makan, kami melakukan evaluasi dan briefing singkat untuk kegiatan besoknya. Mungkin makan dengan membentuk lingkaran, makan sebungkus berbagi dengan Muna, dengan segala seadanya. Kegiatan ini yang mungkin paling sering aku rindu, saat terbatas dan kita bersyukur, nikmat Allah sungguh bertambah. Walau ada kecewa dalam hatiku, jauh sekali ke pesisir pantai tapi gak makan seafood, jujur saat itu hatiku jadi rapuh sekali (drama).
Kegiatan selanjutnya adalah pembersihan daerah pesisir pantai bersama dengan para warga desa dan pembuatan plang nama disetiap jalan yang ada di Desa Ujung Pandaran. Proses pengerjaan plang ini, bener-bener menghabiskan waktu dan tenaga, serta memperlihatkan kuatnya pemuda-pemuda Indonesia. Haha. Selain kerja keras, kerja sama sangat dibutuhkan.
Proses pemotongan kayu untuk tiang.
Diperhalus oleh Fenta
Pengerjaan untuk mencetak Huruf di plang
Pemasangan plang nama jalan
Plang nama dari Team Ekspedisi Nusantara Jaya Kalimantan Tengah 2017
Karena harus wisuda, iya harus dateng wisuda, pelepasan, yudisium, aku aakhirnya harus pulang duluan. Pulang dari Desa Ujung Pandaran ke Palangkara, karena begitu tidak mengenakkannya perasaan malam itu, aku tak sanggup mengingatnya dan setelah dipikir-pikir singakat banget waktu di Palangkaraya ini, udah kayak orang kaya aja berkunjung singkat gini. Suka sedih kalo dipikirin. Someday I’ll be back Central Borneo!!
Kegiatan terus berlanjut... 
Bermain bersama anak-anak SDN 1 Ujung Pandaran
Memindahkan air dari gelas
Ini main apa ya???
Menyusun kata
Kegiatan bermain bersama selesai
Focus Group Discussion bersama para pemuda dan stake holder Desa Ujung Pandaran berjalan lancar dan membuahkan ide-ide cemerlang terutama dibidang pariwisata.
FGD

Beberapa point hasil FGD
Ekspedisi Nusantara Jaya adalah program pengabdian singkat ke daerah pesisir di seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Kemenko Kemaritiman RI. Dari ENJ teman-temanku bertambah, ilmuku insyaallah, rinduku jangan ditanya. Untuk melakukan sesuatu, kita hanya perlu memulainya. Indahnya keberagaman, hanya omong kosong jika kau hanya diam di kamar. Eloknya negeri hanya khayalan jika kau takut berpergian. Keluarlah dari zona itu, zona nyaman atau zona rumit yang kau buat karena salah memperlakukan diri, kenali dirimu, kenali temanmu, kenali lingkunganmu, kenali negeri ini. Yok jadi bagian dari ujung-ujung tombak program-program pemerintah, awalnya tak apa jika tumpul, biar ketulusan dan waktu bersama mengasah kemampuanmu!
Akhirnya selesai juga!
Wassalammualaikum.

Sunday, 11 March 2018

Save Street Child, Harapan untuk Indonesiaku

Sunday, March 11, 2018 0 Comments
Heal the world make it a better place, for you and for me and the entire human race. There are people dying, if you care enough for the living, make a batter place.”

Dunia ini akan baik-baik saja.
Indonesia akan sepenuhnya merdeka.
Indonesia akan maju.
Indonesia akan makmur seutuhnya.
Anak-anak bangsa akan cerdas.
Kemiskinan akan terhapuskan.

Percaya? Harus.
Berdoa tanpa keyakinan, mana mungkin Allah kabulkan. Berusaha tanpa keyakinan, pasti tak akan tekun.
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang

Indonesia dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah dan masalah-masalah sosial yang kian menumpuk menuntut untuk diselesaikan. Indonesia dengan tingkat korupsi yang tinggi dan budaya malu pada diri sendiri serta Tuhan yang rendah. Indonesia dengan kesadaraan cinta akan lingkungan yang kurang. Indonesia, negara dengan masyarakat konsumtif. Indonesia, yang kurang sosok nasionalis. Indonesia yang carut, marut, kacau, macet dan miskin.

Tapi,
Indonesia tanah airku, tempatku dilahirkan. Lebih dari itu, Indonesia ragam dengan budaya yang penuh cinta. Indonesia negara yang merdekanya penuh perjuangan. Indonesia yang lahir dari tumpah darah pahlawan. Indonesia yang dibesarkan oleh guru-guru di pelosok negeri. Indonesia yang ditopang petani-petani di ujung perbatasan. Indonesia yang hidup dari nelayan-nelayan pesisir pantai. Indonesia yang tetap dijaga oleh mereka diperbatasan walau penuh keterbatasan. Indonesia yang tetap dinamis dengan ribuan gerakan kepemudaan. Indonesia yang tetap hidup dengan kepedulian-kepedulian. Indonesia yang selalu diisi dengan ide-ide cemerlang dari pemuda-pemudanya.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Lingkungan temapt tinggal adik-adik TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Indonesia yang penuh dengan orang-orang baik. Indonesia  penuh dengan orang-orang yang berkeyakinan. Indonesia penuh dengan pekerja-pekerja keras yang jujur. Indonesia penuh dengan ketulusan-ketulusan yang murni.
           
Indonesia.
Yang lahir dari sejarah.
Indonesia.
Yang lahir dari orang-orang berintegritas.
Indonesia.
Yang lahir dari sosok penuh cinta dan cerdas.

Aku mungkin masih belum paham akan sejarah negeri ini. Sejarah sebenarnya, tanpa ada yang dikurangi apalagi sosok yang dilupakan. (Sejarah, kenapa aku gak ambil jurusan sejarah aja ya dulu. Haha). Katanya tak setiap negara punya sejarah. Kita harus berbangga karena kemerdekaan diraih dengan penuh cerita dan derita.
           
Lalu,
Bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu?  
Atau
Sudahkah kita merdeka?

Aku berutung, karena keisenganku ikut paskibra SMP secara alamiah menanamkan jiwa-jiwa nasionalis. Belum hilang pedihnya pengalaman dijemur dan dibentak-bentak, SMA ikut paskibra lagi. Jangan ditanya gimana rasanya guling botol, makan cepet atau tidur dengan sepatu dan baju tebal. Mandi cepat dan air sedikitpun hal yang lumrah. Tapi, dari kegiatan seperti itu aku belajar menghargai, aku belajar menyesuaikan diri. Boleh bermanja-manja karena kita anak Ayah dan Ibu tapi jangan pula apatis karena kita juga anak bangsa. Alhamdulillah, siksa-derita-air mata, tidak sia-sia. (Insyaallah). Gimana pengalaman paskibmu teman? Meluap? Sia-sia? Masih suka buang sampah sembarangan?

Indonesia 2018.
Penuh dengan drama dari kaca mataku.
Tapi juga penuh dengan orang-orang baik.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Ruang Belajar Kelas Belajar Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Di Palembang, kota dimana aku dibesarkan. Puluhan komunitas sosial bersinergi bahu-membahu membudayakan kebaikan. Membudayakan berbagi tanpa mengenal lelah, seperti Jumat Sedekah. Kini sudah menjadi sebuah yayasan, kegiatan rutinnya membagikan nasi setiap hari Jumat untuk mereka yang membutuhkan, juga mengumpulkan donasi untuk orang-orang membutuhkan dan sering melakukan pasar murah. Ketimbang Ngemis, komunitas yang memberikaan bantuan kepada (terutama) lansia yang masih saja dengan gagah berani tetap mencari nafkah.

Budaya literasi pun mulai menjamur, menanamkan akar agar kelak kokoh dalam menemani usaha meningkatkan budaya baca anak bangsa. Sobat Literasi Jalanan, komunitas melapak buku. Selalu banjir pembaca, mengenalkan kembali nikmatnya buku.

Kelas-kelas belajar dari Komunitas Rumah Belajar Ceria, selain kelas belajar RBC sudah memiliki kampung yang dibina masyarakat sekitarnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan juga memiliki rumah jamur. Lalu, Relawan Anak Sumatera Selatan, yang fokus memberikan pendidikan tambahan untuk anak-anak penjual koran. Komunitas Peduli Kanker Anak dan Penyakit Kronis, komunitas yang ikut membersamai hari-hari anak-anak penderita kanker dan penyakit kronis untuk tetap mendapatkan ruang belajar dan cita-cita.

Banyak sekali. Itu hanya beberapa.

Save Street Child Palembang.
Dari komunitas ini aku belajar banyak. Aku belajar dari seorang mahasiswa kedokteran, yang entah bagaimana, beliau selalu punya waktu, rela dan ikhlas menyeberang Ampera untuk ke Sukawinatan. Dari beliau, aku beneran belajar bagaimana sebenarnya prioritas itu. Lalu, dari sosok yang lembut namun tegas dalam bersikap. Aku belajar bagaimana totalitas dalam beramal. Bagaimana kebahagiaan itu menular.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Dari orang yang selalu ingin berbagi. Aku belajar bahwa hidup selalu menyajikan pilihan-pilihan baik. Selalu. Selalu. Bahwa Allah selalu menjawab doa-doa. Bahwa ingin Allah hanya sebatas Kaf dan Nun. Terjadi, maka terjadilah.

 Kak, Mbak, bagiku mengenal kalian seperti mengenalkanku dengan sisi-sisi baik dari diriku. Bahwa kebaikan harus ditemukan, disadari lalu dibangun agar kokoh.

Sampai kelak, semoga kita tidak lelah dengan kegiatan-kegiatan yang tak riuh, jauh dari tepuk tangan. Semoga kita tak menuntut, atas jerih yang tak dikenali oleh uang melimpah. Semoga kita, kelak akan melihat mereka pandai membaca, mereka hebat dalam berhitung, mereka lulus SMA, mereka diwisuda menjadi sarjana, lebih dari itu, semoga kelak mereka mencintai negeri ini. Mereka mencintai sesama, mereka mengasihi yang lemah, mereka menguatkan yang rapuh, mereka jujur tanpa cela, mereka berani, mereka menjelajah jauh menerapkan ilmu-ilmu dari kita.

Save Street Child Palembang, bukan hanya sebuah komunitas.

Save Street Child Palembang, sebuah perjalananku dalam mencari ilmu. Mengenal banyak kebaikan, merasakan cinta yang tulus, sebuah cerita yang bermakna. Selamat HUT ke-6. Semoga kelak, akan ada HUT ke-16; ke-26 dst.

Sunday, 18 February 2018

Kampung Al-Munawwar, Destinasi Wisata Sejarah di Palembang

Sunday, February 18, 2018 0 Comments
Assalamualaikum teman-teman ^^

Kalo berkunjung ke Palembang destinasi wisatanya kemana aja sih? Palembang ada apa aja sih? Kalo hari libur, selain ke mall bisa kemana aja sih? 
Kampung Al-Munawwar
Rumah Kembar
Palembang emang minim dengan wisata alam, tapi kaya banget loh dengan cultures and heritage. Pernyataan ini udah pernah disampaikan langsung oleh salah satu pemandu wisata nomer wahid di Palembang, sayang banget aku lupa namanya.
Salah satunya Kampung Al-Munawwar yang terletak di tepian Sungai Musi 13 Ulu. Kampung Arab tertua di Palembang ini semakin cantik saat ini. Kampung tempat bermukimnya para keturunan Arab ini tersusun rapi disepanjang lorong dengan bangunan-bangunan khas dan telah berumur lebih dari 300 tahun.
Sebenarnya Etnis Arab cukup banyak tersebar di Palembang, baik di Ulu atau Ilir dari Palembang. Fyi, Palembang terbagai menjadi 2 bagian yang terpisah oleh Sungai Musi, bagian utara yang disebut Seberang Ilir dan bagian selatan dinamakan Seberang Ulu. Perpisahan ini kembali dihubungkan oleh kokohnya Jembatan Ampera yang resmi beroperasi sejak tahun 1965.
Nah, untuk sampai di Kampung Al-Munawwar bisa melalui jalur darat ataupun air. Moda transportasi yang digunakan di darat pun sudah banyak pilihan, dari layanan online maupun konvensional. Kampung Al-Munawwar terletak di Kecematan Seberang Ulu II, kelurahan 13 Ulu. Jalur air bisa ditempuh dengan layanan getek atau ketek. Getek adalah kendaraan apung yang terbuat dari beberapa kayu yang diikat sejajar untuk mengangkut barang atau orang. Untuk naik getek ini, kita bisa naik dari dermaga yang ada di pelataran Benteng Kuto Besak ataupun dermaga lainnya.
Kampung Al-Munawwar
Jalur Air menggunakan Getek; Foto September 2016.
Kampung Al-Munawwar masih sngat memegang teguh adat istiadat. Menjadi daya tarik sendiri saat mendengarkan langsung sejarah Kampung Arab ini dari Pak RT. Dulu sekali saat Etnis Arab mendarat untuk pertama kalinya di Palembang iu adalah di 13 Ulu ini. Tujuannya untuk menyebarkan Ajaran Islam dan berdagang. Kapten Arab diberikan wilayah atau tempat bermukim oleh Kesultanan Palembang, yang kemudian mulai membangun beberapa Rumah di Al-Munawwar. Rumah pertama yang dibangun adalah Rumah Tinggi, yang berasitektur rumah Limas dengan sentuhan Timur Tengah dan Eropa.
Rumah Darat merupakan rumah kedua yang dibangun oleh Al Habib Abdurrahman Al Munawwar untuk putera pertamanya, Al Habib Muhammad Al Munawwar. Rumah Darat berbentuk limas dan berbahan kayu secara keseluruhan.
Kampung Al-Munawwar
Rumah Batu
Rumah Batu adalah rumah ketiga yang dibangun untuk putera ketiga, yaitu Al Habib Ali Al Munawwar. Rumah batu didirikan di atas fondasi bata yang ditinggikan. Struktur Limas tampak pada lantai rumah yang dibuat bertingkat. Lantai rumah ini menggunakan ubin marmer yang diimport langsung dari Itali. Rumah Batu menjadi tempat berlindung warga Kampung Al-Munawwar saat terjadi pertempuran 5 hari 5 malam, pada tanggal 1-5 Januari 1947. Total ada 8 rumah khas beraksitektur limas (rumah kayu khas Palembang) di Kampung Arab Al-Munawwar ini. Yok ke Al-Munawwar!
Kampung Al-Munawwar
Festival Kopi di Kampung Al-munawwar, September 2016
Kampung Al-Munawwar
Penduduk asli Kampung Al-Munawwar
Kampung Al-Munawwar
Arab banget kan? Ini di teras Rumah Batu.
Kampung Al-Munawwar
Teras Rumah Batu Kampung Al-Munawwar, 2016
Jujur, penetapan Kampung Al-Munawwar sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Palembang menjadi salah satu kebanggan tersendiri bagiku. Pertama kali berkunjung September 2016, Kampung Al-Munawwar ini sudah memiliki daya tarik sendiri dengan segala sejarahnya. Kemudian, banyak perbaikan yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata untuk menjadikan Kampung Al-Munawwar sebagai salah satu destinasi wisata di Palembang, baik bagi warga Palembang maupun warga dari luar kota bahkan luar negeri. Palembang sendiri akan menjadi Tuan Rumah Asian Games 2018. Kami tidak hanya siap menyambut para atlet dengan kemegahan Jakabaring Sport City, tapi juga dengan banyaknya wisata budaya dan kuliner yang kaya dan terjaga.

Kampung Al-Munawwar, Februari 2018. Instagramable kan?

Kampung Al-Munawwar
Kampung Al-Munawwar 2018.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatiin nih kalo berkunjung ke
Kampung Al-Munawwar, karena Kampung ini masih sangat menjaga adat dan istiadat.

  • Harus menggunakan pakaian yang sopan. Tidak menggunakan celana pendek untuk laki-laki apalagi perempuan.
  • Tidak disarankan berdua-duaan kalo bukan muhrim.
  • Tidak membuang sampah sembarangan! Pahamilah teman-teman, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
  • Jam berkunjung dari 08.30 – 17.00.
  • Libur saat Hari Jumat.
  • Uang kontribusi masuk Al-Munawwar Rp.5000,-

Kampung Al-Munawwar memang dicanangkan menjadi destinasi wisata budaya yang hanya dibuka pada siang hari. Karena, menjelang magrib anak-anak mulai belajar bersama, mengaji bersama, untuk menjaga hal ini jam operasional hanya sampai pukul 17.00 WIB. Uang kontribusi masuk Kampung Al-Munawwar sudah termasuk parkir dan penggunaan toilet. 
Kampung Al-Munawwar
Masjid di Kampung Al-Munawwar.
Selain sejarah dan budaya kita juga bisa kulineran di Kampung Al-Munawwar ini, disepanjang lorong terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan khas Palembang seperti Model, Tekwan, Pempek dan Kemplang. Untuk oleh-oleh bagi wisatawan luar kota bisa membawa Kopi Khas Kampung Al-Munawwar, dengan harga terjangku. Eits, kopi ini bukan kopi biasa loh. Kebetulan saat berkunjung kemarin, ada beberapa kunjungan dari Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Jambi dan beberapa rombongan lain dari luar kota yang di guide langsung oleh Pak Ale (salah satu orang dinpar Kota Palembang dan pengusaha kopi). Ada demo tentang kopi Kampung Al-Munawwar yang langsung disuguhkan dan setelah meminumnya, para wisatawan pun memborong habis kopi tersebut.
Kampung Al-Munawwar
Salah satu warung yang menjual penganan Khas Palembang dan Kopi Khas Al-Munawwar.
Adapun ilmu kopi yang aku dapet dari duduk manis dan memperhatikan Pak Ale, antara lain:
       1. Kalo mau minum kopi sehat, ganti gulanya dengan gula aren! Kalo di supermarket bisa beli brown sugar.
2. Untuk rasa pas untuk yang mau minum kopi, kopi dan gula perbandingannya 1:1. Untuk ukuran gelas sedang, 10 gram kopi (satu sendok makan) dan gula dengan takaran yang sama.
3. Untuk penyuka kopi, kopi bisa diperbanyak dengan menambahkan sekitar 5 gram menjadi 15 gram atau bahkan 20 gram untuk satu sendok makan gula. Tentunya diseduh dengan air mendidih.
Selain makanan khas Palembang disini juga menjual makanan dengan sentuhan khas Arab, seperti nasi goreng dengan kismis.
Kampung Al-Munawwar
Al-Munawwar 2016.

Kampung Al-Munawwar
Al-Munawwar 2018.
Kampung Al-Munawwar sudah menjadi salah satu destinasi study banding bagi beberapa dinas pariwisata dari luar kota. Bangga kan? Kita harus mengapresiasi kerja keras banyak orang ini, kerja keras pemerintah kota maupun provinsi, warga sekitar, dengan tetap mematuhi aturan yang ada dan ikut melestarikannya, melalui tulisan salah satunya. ^^
Wassalammualaikum.