Wednesday, 6 March 2019

Rumah Kenangan

Wednesday, March 06, 2019 0 Comments
Hari itu aku lebih dulu menuju tempat dimana suara panggilan biasa berkumandang lima kali dalam satu hari. Langkah kakiku tak jauh, karena tepat didepan pekarangan aku baru turun dari mobil, dengan rasa lelah, aku berharap akan lillah. Setelah membersihkan diri dan sepenuh hati berharap niatku akan ikut bersih. 

Duduk di rumah yang masih sepi, setalah memberikan salam dengan dua rakaat salat sunnah. Aku tertegun, berlomba, berlintasan, seribu satu peristiwa, tentang rumah ini. Rumah Kenangan. Ayat-ayat dari pengeras suara menemani lamunan. Menyimak hidup anak kecil yang nakalnya tak sudah. 

Belum genap pukul 17.30 WIB, dia sudah rapi menggendong seperangkat kain penutup aurat, menunggu sang teman untuk bersama mengelilingi kampung dengan langkah-langkah kecil. Mengukur jalan kata warga yang setiap sore melihat sekawan yang tak pernah alfa berjalan sambil menyapa. Tepat sebelum sampai di rumah yang belum memanggil, mereka akan berhenti persis dipertigaan, untuk membeli kudapan. Pempek panggang namanya, makanan khas kota ini. Tempat dua sekawan ini dibesarkan, mereka sama-sama lahir jauh dari sana. Tapi, menekuni langkah, bermain dan belajar di Palembang. 

Sesekali, mereka bertemu Kakek dari si anak kecil atau Ayah dari teman si anak kecil. Berkali-kali, mereka diperdengarkan dengan pertanyaan "kalian mau ke rumah atau mau jajan?"

Si anak kecil sangat suka kudapan itu, "Mang, yang pedes ya."



Sesekali mereka menjadi yang pertama, membuka rumah yang melantunkan ayat-ayat suci. Mengambil wudu, lalu bercerita menunggu satu-persatu orang datang, dengan bercerita entah apa. Mereka sangat menikmati kebiasaan ini, setiap hari. Setelah menunaikan ibadah tiga rakaat, mereka akan duduk, bahkan berbaring untuk menunggu waktu selanjutnya. Mendengarkan Ibu-ibu mengaji. Iya, mereka berdua, berbagi banyak cerita. Saat ada pembacaan yasin, mereka akan sangat senang, biasanya ada kudapan yang dibagikan. 


Tak jarang, saat suara takbir diperdengarkan, itu adalah suara laki-laki yang serumah dengan mereka. Terlebih Bulan Ramadan, aktivitas ke rumah ini akan ditemani oleh lebih banyak teman lainnya dan yang pasti mereka akan bertambah banyak tingkah. Seperti membawa seabrek jajanan, mie sakura mentah biasanya menjadi menu wajib. Omelan Ibu-ibu sudah sangat akrab, berdesakan, berhimpit-himpitan. Seperti itulah, saat rumah sedang banyak tamu. Padahal biasanya, mereka bisa berlarian, hingga terjatuh dan bangun lagi.

Bertahun-tahun memiliki lebih dari tiga rute untuk sampai ke rumah, akhirnya kebiasaan itu hilang. Lebih baik di "rumah". 

Berpindah, si anak kecil terkadang iri dengan adik bungsunya, selepas salat sang Ayah hanya membiarkan si bungsu untuk melipat sajadah. Sedangkan anggota keluarga lain, harus menyebut nama Nya, duduk hingga rapalan-rapalan harapan selesai. 

Anak kecil itu terkadang masih menyempatkan untuk berkunjung saat jadwal kuliah merumahkannya sebelum senja. Bedanya, dia hanya akan pergi saat mendengar panggilan dan langkahnya tak lagi bertemankan sepasang kaki. Tapi, sibuk lebih sering membuatnya berkunjung seadanya. Benar, sekarang dia sudah berkunjung ke banyak rumah. Tapi selalu singkat, dia tak pernah lagi menunggu, berlama-lama, berbaris untuk bersalaman. 

Anak kecil, yang dulu nakal, ternyata sekarang semakin nakal. Dia kerap diam saat waktunya berkunjung tapi masih bepergian dengan makhluk. "Pasti si ini akan keberatan, kalo aku minta berhenti sebentar" pikirnya. Panggilan itu sering tak terpenuhi, tiang dari kehidupan terlampu sering gugur hanya karena kewajiban, diakhir waktu, dengan peluh.

Si anak kecil, mulai berharap bisa mengunjungi banyak rumah disetiap langkah kakinya yang semakin jauh pun semakin entah arahnya. Dia ingin bersujud dibanyak tempat, mengenang Ayah, alm. Kakek dan masa kecilnya. 

Panggilan itu datang, ternyata rumah ini mulai ramai. Aku masih terduduk, mendengarkan suara merdu pengingat kewajiban, betapa berharga semuanya. Tuhan, aku tak ingin ingatan seindah ini hilang, aku ingin hidup dengan rindu yang seperti ini, aku ingin mengulangi rindu ini setiap hari. 

Bagaimana bisa aku membuka, saat hatiku terlalu sibuk merawat rindu yang kian rimbun? Pastilah, kau harus yang terbaik.

Belajar Membuat Hidroponik

Wednesday, March 06, 2019 1 Comments
Hallo! Hai! Assalammualaikum.

Beberapa minggu lalu mendapatkan ilmu mengenai hidroponik melalui kegiatan learning by doing, hydroponic bersama teman kerja. Belajar sekaligus praktik tentang penyemaian serta keseluruhan langkah dalam proses penanaman dengan metode hidroponik. Sangat menarik, sangat menarik sekali, batinku. Ternyata cukup simple untuk mengisi waktu luang, terlebih sangat bermanfaat dan menyenangkan. 

Rencananya setelah kami belajar, kami akan memfasilitasi masyarakat desa dampingan untuk belajar cara pembuatan hidroponik. Singat cerita, rencana naik tingkat, sudah ada jadwalnya. Lalu, aku dan tim mulai mempersiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan hidroponik. Mencatat semua kebutuhan dan membelinya sendiri.

Bahan-bahan untuk pembuatan hidroponik tahap 1:
  • Rockwool (media tanam, terbaut dari batuan yang disentrifungal membentuk serat-serat)
  • Air
  • Gergaji kecil (alat potong)
  • Bibit sayuran (kangkong, bayam, sawi)
  • Wadah plastik
Saat membeli semua bahan diatas, aku kembali mendapatkan edukasi mengenai hidroponik. Langkah-langkah yang harus dilakukan lebih details. Tapi tetep aja saat besoknya harus jadi fasilitator aku masih ragu dan menanyakan teman kerjaku apakah punya waktu untuk menjadi fasilitator, mengingat ilmuku sangat minim. Setelah dikonfimasi bahwa beliau berhalangan, dua jam sebelum kegiatan, aku sempatkan membaca mengenai hidroponik. 

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air. Nutrisi yang ada pada tanah akan dicampurkan di air, jadi airnya itu sudah mengandung semua kebutuhan tanaman yang ada pada tanah. 

Keuntungan hidroponik, yaitu:
  • Efisiensi lahan, karena tidak menggunakan tanah
  • Kuantitas dan kualitas meningkat
  • Penggunaan pupuk dan air lebih efisien
  • Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah
Dengan ilmu seadanya, aku pun mulai membuka acara sore itu. Dengan  peserta sekitar tiga puluh orang. Diawali dengan rasa gugup, karena ternyata ada beberapa mahasiswa pertanian. Awalnya besar harapan kalo meraka paham tentang hidroponik, lalu aku bias mundur bertahap. Haha. "Bukan, kosentrasi saya, Kak" jawab mahasiswa yang lagi KKN itu.

Menerangkan secara singkat mengenai hidroponik dan pengenalan bahan-bahan untuk penyemaian

Peserta memotong rockwool

Setelah mengenalkan hidroponik secara singkat, kami langsung mempraktikannya. Seluruh peserta dibagi menjadi lima kelompok, setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk mengisi 3 potong rockwool dengan tiga macam bibit yang berbeda. Mulai dari membagi rockwool menjadi kotak-kotak kecil, kemudian membasahinya dengan air.

Peserta meletakkan bibit tanaman ke rockwool

Rockwool diletakkan diwadah yang penuh dengan air lalu diangkat atnpa diperas, dipindahkan ke wadah plastik, kemudian dari setiap kotak kecil rockwool sedikit ditekan menggunakan jari kelingking dan taburkan bibit sayuran yang akan ditanamkan. Untuk satu kotak kecil, kita bisa menanamkan lima butir bibit sekaligus. Proses ini memerlukan kesabaran, karena bibit yang digunakan cukup kecil.

Proses penyemaian ini akan berlangsung selama kurang lebih tujuh hari atau lebih, rockwool akan dipindahkan ke media hidroponik jika akar-akar dari tanaman sudah bermunculan. (ini akan aku tulis, setelah praktik yang kedua yah).



Details rockwool yang sudah ditanami bibit
Rockwool yang telah ditanami bibit akan menjadi tanggung jawab setiap kelompok untuk terus dijaga dan dirawat hingga minggu depan saat pemindahan ke media hidroponik.

Ilmu akan bertambah saat dibagikan, if you never try you'll never know. Do everything Rum, try it, with your heart, try your best, you can, yes you can!

Jadi tidak sabar untuk tahapan selanjutnya, lalu tidak sabar untuk pulang dan mencoba di rumah. Mengisi halaman rumah dengan hidroponik, menghias waktu kosong dengan bercocok tanam. Membayangkannya saja aku sudah sangat senang, membayangkannya saja sudah merimbun rindu, tentang Ayah yang seorang pecinta tanamanan, lulusan pertanian. Membayangkannya saja, aku sekelebat kembali, mengingat almh. Nenek yang rajin merawat aneka kembang hias. Ah, apa kabar pekarangan sempit rumah kita? Kini, cucumu terjebak rindu dan rasa ingin tahu yang sesak. Jalan buntu, antara ingin pulang dan terus berkelana.

Aku ingin kembali menulis.
Tentang syukur, mengenai pohon rinduku.

Selamat malam dari Indonesia bagian tengah.
Wassalammualaikum!


Saturday, 2 March 2019

-----

Saturday, March 02, 2019 0 Comments
Tidak pernah terfikir, hingga akhirnya bertemu. Semua nampak jelas, bagaimana ingin kuhabiskan waktu. Terlalu singkat, tapi benih itu tumbuh dengan cepat, menjalari tembok yang kubangun dalam hening. 

Tidak pernah terfikir, hingga akhirnya kudengar suara dari isi kepalamu. Hatiku seperti terketuk, aku tahu dengan siapa waktu ini ingin aku lewati. Sangat singkat, namun tatap pertama saat aku melihat langkahmu masih teramat jelas. Sesekali terulang.

Membangun hal kecil dengan ilmu dan iman. Membangun kebahagiaan. 

Kita akan menghabiskan waktu dengan diskusi-diskusi ringan, aku akan mendengarkan penjelasanmu dengan setumpuk rasa ingin tahu. Atau aku akan membacakanmu beberapa puisi sebelum tidur. Aku akan berbisik membangunkan saat azan subuh kan jelang. Lalu, kau akan menyimakku mengaji saat pulang dari masjid. Aku akan membuatkanmu sarapan, lalu kau akan menciumku dengan ridho saat akan pergi bekerja.

Kita akan bergantian terjaga untuk memperhatikan bayi kecil, anggota baru keluarga. Kita akan bergantian mengaji didalam kamar, bergantian mengekspresikan buku-buku cerita untuk si bayi. Aku akan sering mengajak si bayi bicara, menceritakan sang Ayah, sedari kecil, bercerita tentang kakek, nenek nya, serta semua orang hebat lainnya.

Kita akan pergi berlibur, memasuki museum-museum, berlarian di pesisir pantai, sesekali mendaki gunung untuk sampai di puncak bersama. 

Kita juga akan mendidik anak-anak dari masjid ke masjid. Mendengarkan anak-anak praktik cinta dan kasih sayang. 

Kita akan menikmati kehidupan sebagai ibadah. Aku akan .... Aku akan.

Tapi beriring waktu, jauh sebelum khayal ini mampu hidup. Aku tak lagi mampu membayangkannya. 

Satu-satunya yang kukira akan berhasil. 
Satu-satunya yang kupastikan bisa.

Wednesday, 6 February 2019

Turun Gunung Nokilalaki Tengah Malam

Wednesday, February 06, 2019 0 Comments
Halloooo! Assalammualaikum, apo kabar wong kito galo?

Ternyata jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama itu lumayan buat mood jadi tidak terkontrol sekali. Swing. Masih dari Palu, jauh dari keluarga dan juga teman. Keluar dari zona nyaman to find another comfrot zone. Awalnya terasa sulit, kemudian kian sulit lalu mulai bisa mengikuti alur. Ternyata dunia penuh dengan warna lain, perbedaan yang berharga. 

Dua bulan sudah berkegiatan di Palu, dengan orang yang selalu sama dari rumah, kantor, lapangan dan seperti itu terus. Kegiatan yang padat, hiburan yang sulit, apalagi waktu ME TIME yang langka, terkadang membuatku sulit mengekspresikan rasa lelah. Penyendiri yang tak lagi punya ruang~

Sudah-sudah, mari cukupkan keluh kesah ini. Kali ini aku mau cerita tentang perjalanan keduaku mendaki gunung lewati lembah demi menemukan jodoh wkwk. Sangat mendadak, persiapan yang kurang dari 24 jam. Hanya karena rindu sensasi berjalan mendaki, hanya karena rindu, merasakan lemah-selemah-lemahnya diri. 

Saat ajakan mendaki itu datang, aku sedang sangat lelah dengan tugas yang menumpuk dan rencana kegiatan yang tak kalah menumpuk. Berhubung, hari libur dan letak gunungnya tidak jauh dari tempat tinggal aku tidak berpikir dua kali untuk ikut. Tanpa mencari tahu karakteristik si gunung, jarak dll. 

Mendaki Gunung Nokilalaki

Gunung Nokilalaki adalah gunung yang terletak di Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Indonesia. Ini memiliki ketinggian 2.355 meter. Gunung ini termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Gunung Noki ini cukup populer di Sulawesi Tengah, sebagai tujuan pendakian para pecinta alam atau penikmat sepertiku.

Rumi dan Alyssa



Kami berangkat dari Palu sekitar jam 10 pagi, masih harus mampir ke pasar untuk membeli logistik. Perjalanan menuju Karawana untuk menjemput teman-teman Komunitas Pecinta Alam Desa Karawana. Sampai sesaat sebelum Azan Zuhur, kami ditemani  Bang Fajar dan Bang Mato selama perjalanan menuju Gunung Nokilalaki dan kembali lagi di Karawana. Perjalanan menuju kaki gunung hanya satu jam dari Desa Karawana, sesampainya kami langsung melanjutkan perjalanan menuju titik yang lebih tinggi.
Sesaat sebelum perjalanan dimulai


Perjalanan menuju shelter 1 sangat menguras tenaga, kebayang banget kaki yang sudah lama banget gak diajak jalan apalagi olahraga, harus jalan menanjak. Debar jantung benar-benar berasa sampai pipi, I was thinking like, kalo langsung makan duren bisa langsung berpisah dengan makhluk dunia ini. Setiap lima menit sekali, aku selalu minta untuk istirahat dan tanpa basa-basi setiap istirahat langsung duduk bahkan rebahan. Perjalanan hari pertama membesitkan, jangan-jangan aku tak lagi mampu.

Setelah berjalan sekitar satu jam, kami pun sampai di tanah yang cukup lapang, tidak jauh sebelum shelter 1.  Karena cuaca yang mulai turun hujan dan akan gelap sebentar lagi, kami sepakat untuk mendirikan tenda di tanah lapang ini. Sebelahnya aliran air yang langsung dari gunung. Sungguh anugerah Tuhan. Setelah tiga tenda didirikan, kami pun mulai memasak untuk makan malam.



Suasana Memasak di dekat Shelter 1
Untuk sampai di tempat kami mendirikan tenda ini, aku dan teman-teman bermandikan peluh. wkwk. sebelum magrib, yang awalnya hanya ingin berbesih diri di aliran air terdekat, akhirnya kami memutuskan untuk mandi. Air dingin yang menyegarkan, what a great moment to remember. Efek terlalu lelah, habis makan malam dan selesai solat isya aku pun turuuuuu. Bangun-bangun udah berganti hari aja, jauh-jauh untuk numpang tidur doang.


Hari kedua kami lanjutkan perjalanan setelah makan pagi rangkap siang, menuju Shelter 2 terasa lebih manusiawi. Mungkin efek hari pertama yang sudah berjalan, pernafasan mulai teratur dan rasa lelah bisa dikondisikan.






Muka lelah

Perjalanan kali ini benar-benar ingin aku nikmati, tanpa keluh, tanpa tanya, tanpa kata-kata yang dulu berlarian di kepalaku. Aku ingin menyatu dengan rasa lelah, dengan segala keterbatasanku. Bersama orang-orang baru, aku bisa percaya. Bersama orang-orang baru, aku bisa pergi sejauh itu. Iya, bersama orang-orang baru. Berjalan didepan, sesekali hanya sendiri, aku menikmati sekali. Sendiri.

Hari menjelang sore, tapi kami tak kunjung sampai. Persediaan cemilan pun menipis dan daku tak lagi punya permen. Rasa lelah, haus dan tak ingin mengeluh menjadi satu.



Puncak Nokilalaki
Akhirny.a sampe puncak!!! dan yang kulihat hanya ratusan batang pohon yang menjulang, tak ada sunset, hanya dingin yang menusuk. Karena suhu yang dingin, kami harus segera turun. Perjalanan panjang, sampai puncak, foto-foto, kemudian turun.

Turun gunung adalah salah satu hal yang sangat sulit. Dengan sisa tenaga yang ada, kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan menuju Shelter 3, kami disuguhi matahari yang mulai meninggalkan sisi bumi tempat kami berpijak. Hari pun gelap dan perjalanan harus terus dilanjutkan, dengan kehati-hatian, aku berhasil membuat semua orang melambat. Wkwk.

Gelap, lelah, lelah, lelah, takut jatuh, lemah. Terima kasih Bang Mato yang sudah bersedia menemani. Menuntun dari atas gunung sampai Shelter 1. Dalam perjalanan turun ini, aku hanya terdiam. Menyadari bahwa, saat lemah kita butuh seseorang. Saat takut, kita perlu untuk yakin, tetap hati-hati. Bahwa semua orang penting, bagi diri mereka sendiri, terlebih orang lain. Bahwa mengeluh, sungguh, tidak ada gunanya. Bahwa dalam keterbatasan, kita masih bisa mencapai tujuan. Yang paling penting adalah cara kita menikmati setiap tapakannya.

Kami akhirnya tiba di Shelter 1 jam 3 pagi. Semua rasa lelah langsung dibayar tuntas dengan tidur. Menunda rencana awal yang ingin langsung turun dan pulang. Setelah istirahat, kami turun ke perkampungan jam 9 pagi dan sampai setengah jam setelahnya.

Cant wait for next adventure!

Friday, 18 January 2019

2018 Dengan Ribuan Kenangan

Friday, January 18, 2019 1 Comments
Sepertinya tahun ini sudah menjadi tahun terbaiknya. Tahun dimana kesempatan bertubi-tubi datang, pun keberhasilan yang nyaris, ribuan menghampiri, ditutup kehilangan yang pedih. 2018.

Sunset di Pantai Tanjung Karang, Donggala

Berkelebat serangkaian syukur, tapi rimbunnya rindu, sedetik jauh lebih menyiksa. Tuan, dalam sibuk, rindu tak pernah alfa menghampiri. Sepanjang tahun. Setiap hari, dibalik senyum, dihela tangis, nama tetap tak mampu terucap. Kemungkinan garis itu tak akan pernah bertemu. Ini yang terbaik, tapi tak sebaik saat itu. 

Proses belajar banyak hal baru. Belajar agama, belajar untuk ikut mendengarkan kajian, belajar untuk memahami, untuk mencari jalan terbaik. Hadiah terbaik terlahir sebagai muslimah, menerima segala edukasi agama yang terpenuhi, diberikan kemurahan untuk sadar, digerakkan untuk menunaikan. Tapi, bertahun hidup tak pernah haus akan ilmu dan pengetahuannya, hingga akhirnya salah satu teman mengenalkan dengan kajian, mengajak ke masjid, mendengarkan ilmu yang ajaib, bertukar pikiran tentang hal-hal indah. Tuhan, agama ini sungguh indah, tidak ada kebencian yang diajarkan didalamnya, dengan ilmu yang sedikit, keyakinan ini penuh. Bahwa nilai rahman dan rahim itu harus ada di setiap kalbu.

Ada tumpukan risau, saat usia bertambah, hari berlalu, pencapaian tak kunjung nyata. Tapi, rezeki tak melulu tentang uang, pekerjaan.. Terus apa??? Pilihan untuk menikmati waktu setelah lulus menjadi boomerang, tak pernah terpikir akan berlama-lama di rumah. Tak pernah terkira harus kesana-kemari. Dalam tahap belajar, ada beberapa hal yang dihindari dalam mencari jalan untuk mandiri ini. Menolak sesuatu yang buruk tidak salah bukan? Ternyata sulit. Meneguhkan hati. Tetap bersabar, yakin bahwa Tuhan Maha Asyik dalam merencanakan segalanya. 

Lalu, Tuhan beri kesempatan untuk mengenal banyak orang hebat. Berada ditengah kepositifan yang tak henti tapi pasti berakhir, karena dunia ini, fana. Melihat dan merasakan bagaimana orang-orang berusaha keras untuk impian, tersadar, tersungkur, ternyata kemalasan adalah teman terburuk. Beberapa pencapaian kembali tertunda karena kelalaian dan selalu menggampangkan sesuatu.

Bertemu orang dengan kerja keras yang sungguh nyata, memandu atlet dari India, berpanas-panas demi totalitas. Asian Games 2018, menjadi bagian dari mengharumkan nama bangsa, walau hanya sebatas relawan, kesempatan yang sungguh luar biasa.

Ada seribu.

Ada seribu.

Tapi hanya teringat satu.

Kemudian, khawatir mulai tumbuh. Tanya mulai bercabang, menanyakan keadaan diri. Menanyakan posisi hidup dikehidupan ini.

Tersadar, berusaha sadar, menjalani dengan kesadaran. Tapi, Tuhan punya rencana lain. 

Akhir tahun, impian yang mulai pudar, yang mulai samar, yang ingin ditinggalkan, memberikan nafas baru. Menginjakkan kaki di Palu, diberi kesempatan terbaik untuk belajar sebagai program officer. Jika berhasil dihari itu, pun nyatanya berhasil dihari lainnya, tak akan pernah, tak akan mampu memaknai perbedaan sedalam ini, pun lebih menghargai dan mencintai diri. 

Mengenal banyak orang baru, harus hidup dengan keramaian, setiap hari, nyaris tak henti. Belajar, tak pernah menjadi hal yang mudah keluar dari zona nyaman. 

Berpulang satu. Orang terbaik. Yang menjadi contoh dalam hidup, yang selama ini waktu banyak dihabiskan bersama, membuatkan kopi, memasak makanan kesukaan, hidup bersama, memaknai cinta, kasih dan sayang dengan cara yang sedikit berbeda. Kematian, menjadi pisah yang larut. Kematian, menjadi akar baru, untuk pohon rindu lainnya. Terima kasih telah melukis anak kecil ini, dengan penuh teladan yang baik. 

Tuan.
Jika kelak cerita terbaikmu tidak berakhir dipangkuan saat malam tiba, maka seperti itulah yang terbaik.

Tuan.
Jika kelak ilmu tak berakhir dilembut tanganmu, maka seperti itulah akhirnya.

Tuan.
Sepanjang tahun, sepasang mata, mencari tutur yang lebih baik, nyatanya tak ada yang lebih menarik dari kecerdasan.

Tuan.
Berhentilah, berlarian dikepala yang sempit ini.

Mengakhiri tahun dipinggir pantai, ditengah kermaian, menyambut matahari dengan terjaga, pikirku melayang, tentang ilmu yang tak bertambah, tentang waktu yang kian berkurang, tentang rasa yang kadang goyah. Tuhan, terima kasih atas kemurahan-Mu, tidak satupun kewajiban terlaksana tanpa izinmu, terlepas mereka ragu akan-Mu, kesunyian masih sanggup menjadi tempat bertahan terbaik.

Halo, salam kenal orang baru. Jika bagimu, penyendiri ini aneh. Jika bagimu, membaca buku saat orang berbincang itu aneh. Jika bagimu, semua itu sama. Sadarilah, hak menilai hanya milik Tuhan. Sadarilah, kata tak laku tanpa ilmu ditelinga. Rupa tak akan tampan, tanpa tutur yang cerdas dimata. Mari membaur, engkau makhluk hidup, manusia dengan kesempurnaannya.

Wassalammualaikum.

Palu, 19 Januari 2019.

Wednesday, 26 December 2018

[REVIEW] YOHMO SPRAY TONIC

Wednesday, December 26, 2018 2 Comments
Sebagai manusia kita memiliki naluri untuk merawat setiap titipan yang diberikan kepada kita, terutama the one and only, tubuh tercinta ini. Kesehatan kulit selalu menjadi prioritas selain menjaga pola makan serta pola hidup agar memiliki tubuh yang sehat. Rasanya semua bagian kulit ditubuh kita memerlukan perhatian dan perawatan khusus serta berbeda. Saat ini saja, kulit tubuh yang terdiri dari kulit lengan dan kaki, kulit wajah dan kulit rambut. Dari ketiga bagian kulit tersebut, semuanya memiliki perlakuan yang berbeda.

Sejauh ini, kulit tubuhku cukup dengan menggunakan sabun dan lotion yang tepat maka kesehatannya akan terjaga dengan baik. Kulit lembab dan halus sepanjang hari. Begitu pula dengan kulit wajah, jika pola makanku teratur dan sehat, maka penggunaan pencuci muka jensi apapun tidak terlalu berpengaruh. Yang menjadi masalah semenjak beberapa tahun terakhir adalah kulit rambutku selalu saja gersang dan berketombe, hal ini menyebabkan tiada hari tanpa rambut rontok. Berbagai cara sudah dilakukan untuk kembali memiliki kulit kepala yang sehat, karena kulit kepala yang sehat adalah awal dari rambut kuat serta sehat. Otomatis rontok akan berkurang dan kesedihan pun lenyap. Kalo rambut sudah rontok, selain sedih stress akan menjadi eh si rambut malah tambah rontok. Suatu hubungan yang kompleks memang.

Demi memiliki kulit rambut yang sehat, jauh dari rontok, perjalananku dalam mencari shampo, masker, hair tonic, sungguh amat panjang dan melelahkan. Sampe akhirnya aku menemukan hair tonic yang bisa menyehatkan kulit kepalaku kembali.

Yohmo hair tonic atau yang lebih akrab dengan Yohmo tonic adalah hair tonic yang berasal dari perusahaan farmasi terbesar di Jepang dengan formulasi terbaik.

Apa sih yang terkandung di Yohmo tonic?

Yohmo Spray Tonic 

Jelas ya masalah awal dari kerontokan itu adalah kulit rambut yang tidak sehat. Jadi langkah awal kita perlu mengembalikan kesehatan kulit kepala, Yohmo tonic hadir dengan Castor Oil atau Minyak Jarak yang bisa mengatasi infeksi kulit kepala dan ketombe serta mempercepat pertumbuhan rambut dan menjadikan rambut lembut. Minyak Jarak sangat baik untuk mengembalikan kesehatan kulit kepala.

Yohmo Spray Tonic

Ethanol dan Benzethnomium Chloride, dua bahan ini membantu membersihkan kulit kepala secara efektif, berupa minyak yang mengeras  dan tidak dapat dibersihkan oleh shampo. Juga membunuh bakteri yang ada di kulit kepala.

Vitamin E

Setelah masalah utama terselesaikan, Yohmo tonic tidak berhenti disitu dalam memberikan khasiatnya. Vitamin E sangat baik untuk menguatkan dan membuat rambut berkilau. Melembutkan dan melembabkan kulit kepala. Vitamin E akan menyatu dengan Minyak Jarak untuk menyehatkan rambut.

Yang paling aku sukai dari Yohmo tonic adalah kemasannya yang praktis dan mudah dibawa bepergian. Yohmo tonic mengeluarkan 2 produk, yang pertama dalam bentuk tube dengan isi 200 ml dan Yohmo 120 ml spay. Sudah pasti dong, aku memilih yang spray, selain harganya yang lebih terjangkau yang pasti pengaplikasiannya juga lebih mudah. Untuk Yohmo 200 ml tube harganya 280k sedangkan Yohmo 120 ml spray dengan harga 170k.


Yohmo Spray Tonic


Cara penggunaan Yohmo tonic yang nggak ngejelimet juga buat aku jatuh hati dengan produk ini. Setelah keramas dengan shampo dan rambut mulai kering, kita bisa mengoleskan atau menyemprotkan cairan Yohmo tonic diseluruh bagian kulit kepala. Untuk lebih rileks dan Yohmo tonic lebih menyerap, lakukan pijatan setidaknya selama satu menit diseluruh bagian kulit kepala, dijamin adem. Aliran darah juga lancar dan rambut harum seharian. Untuk hasil optimal Yohmo tonic bisa digunakan sebanyak dua kali dalam sehari selama setidaknya tiga bulan.

Jangan tunggu rusak dulu, yuk rawat kulit kepala dan rambut dengan Yohmo tonic. Rasakan nikmatnya punya kulit kepala yang sehat serta rambut tebal yang berkilau. Yohmo tonic tersedia di Aeon, Waston, Century, Lulu, Yogya dan Hypermart atau yang menyukai kepraktisan seperti akuuu, bisa langsung melipir ke JD.ID, Bukalapak atau Shopee. Let’s take an action now, save our sclap!

Sunday, 16 December 2018

Tepat, Saat Ku Jauh

Sunday, December 16, 2018 0 Comments
Aku ingin kau abadi, pasti, terukir sama dalam rangkaian kataku, meski payah dan selalu nampak lemah, sebentar, aku tak ingin kurang dalam mengekspresikan engkau dalam kata, yang pasti payah dan selalu terlihat lemah. 

Aku tak menangis saat membaca pesan singkat dari cucumu yang lain, tapi tanganku gemetar, bicaraku rancu, dalam hatiku, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pagi itu, akhirnya tangis pecah, kutahan, kuredam dalam derasnya guyuran air... 

Mendengar kabar kau sakit tepat seminggu yang lalu, hatiku lemah, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pikirku melayang, siapa yang merawatmu, kembali kupastikan, dan menantumu yang kupanggil papa itu, mengabarkan bahwa kau sehat, yah penyakit orang tua ujarnya. Risauku berkurang, kupikir, segera kau kan pulang. Kembali ke rumah yang sepi, ditemani tv dan bergelas-gelas kopi. 

Ternyata, Tuhan telah menakdirkan kepergianmu. Tepat, saat aku jauh. 

Hari itu aku pulang, perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi, aku punya banyak waktu, untuk menangis tersedu tanpa khawatir ada yang melihat. Aku tidak menangisi kepergianmu. Aku mensyukuri setiap hal yang pernah terjadi dan khawatir seberapa lebat rindu kan tumbuh. Di mushola Bandara Sultan Hasanuddin, silih berganti orang asing mendengar senyap tangisku. 

Tuhan, aku selalu berharap kau anugerahi ingatanku, agar kuingat setiap keindahan yang telah kulalui bersama kakek dan nenekku, dua pasang malaikat yang telah merawatku, membesarkanku. 

Tuhan, aku ingat, saat-saat dulu, beliau menjemputku dengan vespanya. Saat beliau mulai pelan membawakan motor ketika aku beranjak mengenakan rok biru. Aku ingat, seberapa dihormatinya beliau. Aku ingat, dengan guru-guru ngaji yang dibawanya ke rumah, aku ingat dengan kebiasaannya terlelap saat fajar. 

Tuhan, beberapa tahun terakhir kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia tampak lemah dan tua. Dia tak segagah dulu. Dia tak setiap hari lagi ke masjid. Kaki sakit, katanya. Dia menua, dia sakit, dia lemah... 

Subuh menjelang, biasa kudengar suaranya memasak air lalu menyeduh segelas kopi. Lalu, kakinya mulai sering sakit, dia menungguku untuk memasakkan air. Dari kecil, dia selalu enggan membangunkanku. 

Harinya begitu membosankan, tapi dia enggan kuajak berlibur keluar kota. Dia tak gagah lagi untuk bermain badminton apalagi menonton sepak bola ke stadion. Temannya sudah jarang berkunjung, sejak dia turun dari amanatnya. Hanya berteman TV, karena cucunya tak suka mengobrol. Bicara seperlunya. 


Aku hapal betul makanan kesukaannya. Aku suka sekali memasak, saat sadar beliau selalu lahap memakannya. Di 40 hari terakhir hidupnya, aku tak sempat melihat wajahnya, mendengar panggilannya, memasak untuknya. Berkali dia sampaikan, tempatku terlalu jauh. Berkali pula aku yakinkan, bahwa tak jarak yang jauh, sampai akhirnya, aku tak sempat melihatnya.

Tuhan, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, sepasang yang telah pergi ini telah menanam banyak kebaikan. Gilanya mereka menyemai ribuan bibit kerinduan, dan akan terus lebat sepanjang hayat ini. 

Tuhan, rinduku semoga dapat kukelola dengan baik. Menjadi baik kemudian bermanfaat, karena aku telah dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang dan contoh yang baik. 

Tuhan, perpisahan itu nyata adanya. 
Sepi, senyap, gelap itu pasti.
Tuhan, rawat ingatanku. 
Agar aku tahu bagaimana aku dirawat dan harus seperti apa kelak aku harus menemani penerusku tumbuh.