Friday, 24 January 2020

Lalu.. Apa yang Dibutuhkan untuk Menilai Seseorang?

Friday, January 24, 2020 0 Comments


Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang? Apakah perjalanan jauh mengajarkan banyak hal? Seperti, bagaimana caranya menyapa? Menanyakan letak jalan tujuan. Apa yang dibutuhkan untuk melihat sepenuhnya, seseorang? Apakah percakapan ratusan ribu jam membuat lebih peka? Jika seseorang bicara sambil melirikkan mata ke kiri atas, berarti orang tersebut seorang visual. Yang lebih suka dengan hadiah ketimbang puisi panjang nan romantis.

Hidup menuntut kita untuk terus belajar, dari setiap karbondioksida yang dikeluarkan maka harus ada hal-hal baru yang dialirkan ke jaringan-jaringan otak. Hari-hari sekarang mungkin tak pernah terbayangkan, saat dulu ingin sekali menjadi orang dewasa. Yang tak dicari-cari saat siang hari, untuk sekadar tidur siang. Atau menahan diri untuk tidak keluar rumah, saat izin tak didapat. Yang terputar saat dulu hanyalah, saat dewasa bisa berpergian jauh dan punya banyak uang. Akan lebih didengarkan.

Malam sulit tidur, pagi susah bangun, siang menahan kantuk. Seperti ini ternyata menjalani hidup saat tak ada lagi yang mencari-cari, memaksa untuk tidur siang.  Dalam perjalanan terbayang-bayang, pohon nangka yang selalu berbuah di depan rumah. Kegiatan di pagi hari saat harus menyapu reruntuhan daun nangka yang menguning di jalanan depan rumah, menumpuknya di tempat sampah. Atau saat memanen buah nangka yang besar, memisahkan antara buah dan kulit, menyimpannya dengan rapi di dalam kulkas setelah dibagikan ke tetangga.

Padatnya jalanan kerap membuat waktu tidur harus dipangkas, menampilkan lamunan-lamunan jauh. Papan-papan reklame memuat promosi sebuah film, yang menjadi sebuah akhir dari kisah Anak Betawi. Sinetron kesukaan banyak orang, selalu diputar ulang di stasiun tv. Sehabis mandi adalah saatnya menonton. Duduk manis, melayangkan banyak rindu-pilu-biru yang tak seorang pun tahu.. dan ingin tahu. Kuku-kuku panjang harus dipotong, kemudian pindah ke teras rumah sekadar untuk merasakan hangatnya sinar mentari, dibantu tongkat yang sudah menemani sejak sebagian tubuh lumpuh.

Perjalanan malam, saat pulang. Berjalan lambat sambil menatap langit yang tak mampu memperlihatkan warna sebenarnya, pesona luasnya bentang hitam dengan titik cahaya, dari planet maupun kerlip bintang. Tepat di depan pagar rumah, sebelum malam larut akan duduk menatap langit, menebak-nebak hiasannya. Menukar cerita, yang tak selalu membawa keceriaan. 

"Lihat tiga bintang yang berderet itu, ada di sisi kanan dan kiri. Itulah mata bumi kita ini."

Lalu setiap kali ada waktu, mata-mata yang selalu membawa kembali itu sulit untuk ditemukan. Harus berlibur untuk melihat langit. Harus berlibur untuk menyempurnakan satu kenangan.

Jadi teringat, kenangan menghabiskan sisa-sisa malam di sebuah pasar, kedinginan sambil sedikit takut, menanti fajar dibawah pekat langit dan taburan bintang yang seakan dekat. Hari raya tanpa kekenyangan. Jauh-jauh melangkah, yang kutemui malah kekal yang tak pernah ingin usai.

Lalu... Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang?

Saat jauh pikirannya saja tak akan pernah sanggup digapai.

Thursday, 23 January 2020

Aku dan Jejak Digitalku

Thursday, January 23, 2020 0 Comments
Kebiasaan menulis sudah sangat berkurang, rasanya susah sekali untuk menghasilkan satu tulisan yang bermanfaat, yha walaupun sekadar curhatan. Kalo punya makna kan asik yha. DA blog juga turun drastis. Hehe. 

Rencana tahun ini, mau rajin nulis dan lebih percaya diri lagi. Ternyata, aku masih kurang percaya diri kalo tulisanku dibaca orang, wkwk. Seneng sih, tapi masih malu-malu juga. Sering terjadi pergolakan batin, kok ya kalo orang nulis namaku di google langsung muncul semua... akun media sosial-ku, mulai dari instagram, fb, twitter, blog dan segala macemnya. Kadang sedih, karena gak bisa bersembunyi. Sering iri sama orang yang gak punya jejak digital... 

Pernah mencoba non-active akun instagram, karena merasa, kok ya enak aja orang bisa tahu segala kegiatanku, tahu tentangku, hanya dengan modal gawai dan paket internet. Tapi hanya bertahan gak lebih dari dua minggu, pernah juga kepikiran buat menghapus semua akun media sosial. 

Setelah pergolakan batin yang sekian kali. Aku memutuskan untuk tetap menggunakan berbagai macam media sosialku. Menurutku, as long as yang aku share tidak mengganggu orang lain dan berusaha menebar manfaat. Yha, ndapapa. Ya kan? Tapiii, tetep aja sering mikir. 

"Rum, semua orang bisa tahu semuanya loh."

Nyaris semua akun media sosial-ku di setting untuk public, yha karena beberapa media sosial juga menjadi sarana untuk dapet uang jajan. Hehe. Jangan minta aku untuk buat fake account atau second account, paling tidak bisa berpura-pura, memilih-milih teman dan sebagainya.



Apa Adanya dan Tebar Manfaat

Gelombang gejolak mengenai privasi di era digital ini selalu ada tempat dipikiranku, terkadang mengajak emosiku untuk turut andil memikirkannya. Huft. Tapi ada beberapa hal yang selalu membuatku merasa, ndapapa asalkan bermanfaat. 

Sisi diriku yang selalu menuangkan cerita lewat aksara, biasa aku publish di instastory. Sering terpikir, bosen gak ya orang yang baca ini, atau apa sik yang dipikirin orang tentangku. Anak kemarin sore yang sok-sokan berbagi. Tapiii, dilain waktu ndak jarang ada beberapa teman membalas dengan komentar yang menyenangkan. Walau terkadang hanya sekadar emoji berbentuk hati. 

Hal-hal kecil seperti inilah yang menjadi salah satu alasan untuk tetep sharing melalui tulisan-tulisan singkat. Ya, motivasi terbesarnya, biar tetap terbiasa nulis. Walaupun cuma berapa kata, tidak beraturan, menurutku menulis itu tidak mudah. Jadiii, yha harus dibiasakan. Siapa tahu, suatu saat nanti tulisannya semakin membaik. Aamiin.

Ada istilah fake account bahkan alter account, untuk menyembunyikan jejak digital. Kok yha aku gak kepikir buat akun yang bener-bener buat orang gak akan bisa ngetrack si pemilik akun in real life. Tergantung pemanfaatan akunnya kali ya. Tapi, bagiku menjadi diriku. Menjadi apapun, berbagi apapun, jika tidak melukai diriku dan tidak melanggar hak orang lain, yha berbahagialah. 

"Jangan persempit dunia yang belum bisa kita jangkau luasnya ini dengan pikiran aneh-aneh."


Think, Feel, Act

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar tiga jurus jitu think, feel, act dari Bos di kantor. Tampak familiar, ternyata sudah mulai aku aplikasikan sejak di Palu, dampaknya bukan main, hidup jadi lebih luwes. Hehe. 

Pikiran adalah kunci. Pikiran adalah ujung tombak. Pikiran adalah akar. Pikiran adalah pusat kendali. Benar sekali, terkadang bahagia hanya sebatas pikiran. Kaya miskin, hanya masalah pikiran. Cukup atau kurang hanya tentang pikiran. 

Memikirkan dunia ini, sudah pasti tak akan ada habisnya. Belum lagi manusia di dalamnya. Jangan diragukan, emosi pasti akan ikut menyertai setiap pola pikir yang terbentuk, ujung-ujungnya bikin depresi. Pikiran mempengaruhi perasaan dan sangat mempengaruhi keputusan. 

"Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, jangan membuat janji ketika sedang senang. - Ali Bin Abi Thalib."

Kamu, adalah Tuan pikiranmu. Jangan biarkan suara-suara sumbang, yang tidak membangun memasuki ruangan spesial milikmu itu. Jadilah dirimu, dalam versi terbaik. Ingatlah satu, "sebaik-baik manusia, adalah mereka yang bermanfaat." Tidak perlu membahagiakan banyak orang, fokuslah membangun kebahagiaanmu, percayalah orang yang menyayangimu akan turut berbahagia. 

Membangun pola pikir yang sehat sudah banyak sekali membantuku, terutama dalam melewati quarter life crisis, dari terkapar, sampai bisa jalan santai dan menatap semuanya dengan tenang. 

Kalo kamu sedih ya rasakan, kalo kamu marah ya lampiaskan, kalo kamu bahagia ekspresikan, jika bagimu menangis sendiri adalah yang terbaik, ya lakukan, jika bagimu membagi amarah di sosmed bisa melegakan, ya silakan, rilis semua rasa itu, selagi itu membuatmu lebih baik. 

Tapi ingatlah... semua rasa itu juga pernah dilalui oleh banyak orang. Kalo kata W.S Rendra "Suka duka kita bukanlah istimewa, karena setiap orang mengalaminya." Jangan tunggu hari esok untuk bahagia, untuk merasakan rasa sakit, rasakan saja. Tapi ingat! Bumi terus berputar, waktu tak akan menunggu walau sedetik.

Hidup adalah proses belajar, yang ujungnya adalah kematian. Tapi, kita terbiasa mengenal belajar adalah menghafal, belajar adalah menghitung angka. Padahal menjadi bahagia pun ada ilmunya. Harus dipelajari setiap hari.

Selamat belajar teman-teman, terima kasih sudah membaca! Tunggu buku-ku yha, hehe. Semoga tahun ini bisa nerbitin buku.... puisi. Aamiin dong?



Friday, 3 January 2020

Belajar, Pulang dan Merantau

Friday, January 03, 2020 0 Comments
Tidak terasa sudah hari keempat di tahun 2020, sudah berapa draft tercipta untuk menuliskan perjalanan panjang yang dinamis nan manis tahun 2019. Susah sekali melukiskannya, walau hanya lewat kata-kata. Kalo ngelukis beneran kan jadinyaaa gambar. Hehe.

BELAJAR 

Pergantian tahun lalu, aku lalui di sebuah pantai yang cantik di Sulawesi Tengah, membunuh waktu dan menanti fajar dengan berbincang diatas pasir putih. Sampai dengan April, kuhabiskan waktu di bawah langit Sulawesi yang begitu indah, biru dan tampak sangat dekat. Menghabiskan waktu dengan belajar hal baru, belajar memahami diri, belajar hadir untuk diri, belajar memimpin, belajar mendampingi. Ya, aku belajar banyak hal, terutama ilmu psikologi.

Menjadi program officer di salah satu NGO Nasional adalah pengalaman kerja full time pertamaku. Menjadi bagian dari tim pendampingan psikososial tanpa latar belakang akademis membuatku harus ngebut belajar. Banyak sekali pertemuan-pertemuan ajaib yang membuatku lebih bersyukur, lebih mampu menerima, melihat dan mencintai diriku. 

Menyelesaikan project tepat waktu dan kembali pulang ke kampung halaman, Palembang. 

PULANG



Ada yang istimewa di tempat ini, ada banyak rupa dan juga topengnya. Diantaranya menyebabkan tawa, beberapa membuat tangis. Sejauh itu, semuanya adalah pelajaran.

Ada beberapa yang selalu datang dengan keluh dan kesah, membawa beban dan masalah. Tanpa sadar, kata-kata telah menjadi konduktor energi negatif. Karena memang beberapa itu hanya akan tenang hatinya, berkurang susahnya, setelah memelukku dan membuatku lemas kehabisan tenaga. 

Dulu aku bertanya-tanya, pada susah yang selalu datang dan bahagia yang melupakan. Tapi, seperti itulah, menjadi obat untuk rasa sakit, bukankah bermanfaat? Peran-peran ini mulai aku nikmati. Menyambut hangat, mendengarkan dengan baik, terkadang mengutuk pelan hidup yang kau cipta, penuh nanah. 

Aku juga menonton gemerlap yang dipertontonkan dan rasa iba yang dijual saat bertatap muka, empat mata. Padahal hidup dengan terhormat lebih mudah ketimbang belok kanan, belok kiri, mengikuti nafsu. Tapi, biarlah bebas, memilih adalah hak setiap bernyawa. 

Hak-hak itu bisa dinikmati, tentunya. Hak-hak itu adalah utuh. Sayangnya, tak semua orang terfasilitasi, mengenal baik buruk, mengenal untung rugi, mengenal praktik-praktik ilmu yang disampaikan melalui ceramah yang membosankan. Budayanya hanya angka akhir yang dilihat, bukan proses apalagi konsepnya. 

Berteman ambis, seseorang tampak arogan. Merasa hebat, berdiri dan mengeluarkan penyakit di atas panggung dengan pengeras suara. Prosesnya pasti disiplin, pengorbanannya pasti bukan main. Tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dengan lidah seperti itu. 

MERANTAU

Bagaimana rasanya berdiri sendiri? Menghidupi diri, lepas dan bertanggung jawab sendiri. Keputusan yang sulit juga sangat menarik. Membawa diri jauh dari rasa nyaman. Berpisah dengan orang-orang dan lari dari banyak rasa suka. 

Bagiku, Ibukota tak pernah semenarik saat aku mulai menjadi bagiannya. Karena tumbuh di Kota yang bisa dianggap besar dan pesat perkembangannya, aku kira semua itu sudah cukup memfasilitasi. Sayangnya, Ibukota diluar ekspektasiku. Tempat ini, seakan permainan baru yang masih bersih. 

Beberapa orang sibuk dengan cerita mengenai "orang dalam". Ada yang mencarinya, ada yang mengutuknya. "Pasti dia ada orang dalam". Haha. Padahal ada arena bersih yang bisa membuat tetap bersih. 

Beberapa orang sibuk dengan seragam. "Kenapa ndak daftar **** Rum?" hehe. Bahkan ada, "memangnya sudah punya uang berapa mau masuk itu?" Hehe. Hidup ini, sungguh ironi, mengantarkan anak-anak agar bisa menjadi jalan menuju surga, tapi mengajarkan kebodohan dan meragukan diri serta Tuhan dengan sikap sehari-hari

Yhaaa memang gila, tapi asik juga, apalagi bisa dinikmati.

Memilih tinggal di kostan. Mengisi kebutuhan dengan hasil kerja, memang lebih nikmat tidur di kamar yang disediakan oleh orang tua atau keluarga. Tapi seperti itulah, susah payah ini tidaklah istimewa. Proses ini dilalui oleh banyak orang.

2019, sudah menjadi tahun pembelajaran. Lebih fokus pada diri, bukan angan-angan yang tak pasti. Apalagi laki-laki. Haha. Terbitlah, tahun ini harus seperti mentari. Indah, berproses untuk menghangatkan. Tidak bermimpi aneh-aneh, cukup menjadi obat untuk diri sendiri dan menjadi alasan sekitar tersenyum walau hanya sesaat.

Terima kasih Rumiiii, karena sudah melalui semuanya! Sudah mau belajar. Eittsss, belajar adalah proses seumur hidup. So.. Jangan lelah, semoga dari tingkah laku, kamu bisa jadi pengajar yang baik.

Terima kasih pula teman bermain Rumii! Yang senantiasa menjadi ilmu dan pengajar. Mari kita rapatkan barisan, hempaskan toxic. Hehe. Semoga Allah melindungi dan merawat akal pikiran serta hati kalian. Pis, lov n gawl.

Saturday, 7 December 2019

#GintungMemanggil Bersama Komunitas Plastik Untuk Kebaikan

Saturday, December 07, 2019 2 Comments
Banyak hal yang membuatku suka menonton Drama Korea, selain ceritanya yang unik dan mengangkat banyak issue, juga karena pola hidup masyarakat Korea Selatan yang mandiri dan rapi. Nonton bukan hanya sekadar nonton, tapi juga belajar hal-hal baik serta mengasah pola pikir. Hehe. 

Salah satu pola hidup masyarakat Korea Selatan yang menginspirasi adalah budaya memilah sampah. Adegan membuang sampah banyak sekali di drama-drama yang sering aku tonton. Mulai dari membuang sampah sesuai jenisnya di dalam rumah, sampai membuangnya pada tempat pembuangan sampah di kompleks perumahan dll.

Sampah sudah menjadi issue yang hangat di dunia ini, terutama sampah plastik yang mengotori lautan. Indonesia sendiri menjadi negara nomor dua penghasil plastik terbesar di dunia sebanyak 30 ton pertahun. Tentu saja hal ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan edukasi mengenai sampah yang belum maksimal. 


Kepedulian Yang Selalu Ada

Saat ini sudah banyak yang peduli dengan lari-nya sampah baik sampah rumahan hingga produksi skala besar, seperti rumah makan bahkan pabrik. Kepedulian ini lahir dari setiap elemen, baik pemerintah, masyarakat, bahkan para millennials. Banyak komunitas-komunitas dengan serius memberikan edukasi mengenai sampah, bahkan menawarkan berbagai macam solusi pengolahan sampah serta menanamkan motivasi pada masyarakat umum untuk peduli dengan sampah yang mereka hasilkan. 

Minggu lalu, saya bersama teman-teman blogger berkesempatan untuk ikut langsung aksi nyata membersihkan Waduk Gintung dari sampah-sampah plastik. Acara ini diikuti oleh banyak orang, mulai dari anak-anak, millenials, ibu-bapak. Acara #GintungMemanggil ini dilaksanakan oleh Komunitas Plastik Untuk Kebaikan. Terbayang kan? Namanya saja sudah menjelaskan tujuannya.

Komunitas Plastik Untuk Kebaikan

Komunitas yang terbilang baru ini, cukup membuatku kagum. Berdiri sejak 10 November 2019 dan saat ini sudah mempunyai mobil operasional sendiri. Menandakan keseriusan. Apalagi banyak Ibu-ibu yang menjadi penggeraknya. 

#GintungMemanggil adalah sebuah acara untuk menyusur Waduk Gintung, membersihkannya dari sampah plastik. Sebelum memulai, kami diberikan edukasi singkat mengenai sampah plastik. Sampah yang memiliki nilai ekonomis langsung seperti botol air mineral dan sampah plastik lainnya. Kami dibekali dengan dua kantong sampah setiap kelompoknya, untuk mengambil sampah di pinggiran Waduk Gintung dan mengelompokkannya.


Kami memilah sampah pastik yang memiliki nilai ekonomis,  yang akan ditukarkan dengan sembako saat sudah selesai. Kegiatan ini selain membersihkan Waduk Gintung dari sampah, juga menjadi aksi nyata bagi masyarakat sekitar untuk peduli lingkungan dan memanfaatkan sampah plastik.


Diatas adalah Mobil Sembako dari Komunitas Plastik Untuk Kebaikan, mobil ini baru beroperasi di daerah Tanggerang Selatan saja. Biasanya setiap Sabtu dan Minggu, nah mobil ini operasionalnya dibantu oleh beberapa volunteer. Kalo temen-temen mau jadi volunteernya, bisa langsung cek ig-nyaa ya! 



Sampah-sampah plastik yang dikumpulkan dapat ditukarkan dengan sembako sesuai dengan timbangan dari plastiknya. Banyak sekali masyarakat sekitar yang ikut serta membawa kumpulan sampah plastiknya untuk ditukarkan. 


Sudah banyak masyarakat yang peduli dan memilah sampah rumahnya. 

Sesaat setelah sampai di Mobil Sembako, aku sempat berbincang dengan salah satu anggota Komunitas Plastik Untuk Kebaikan, ternyata program peduli sampah seperti ini sudah marak sekali dilakukan, terutama oleh pemerintah. Dengan sangat serius. 

"Ada ya Mbak, di satu daerah itu, kita sudah edukasi masyarakatnya, untuk membuang sampah berdasarkan jenisnya, sampah plastik, organik, anorganik seperti itu. Kalo masyarakatnya tidak sesuai saat membuangnya. Yaa kita gak angkut sampahnya, biar menumpuk."

Ngobrol sambil bayangin Drama Korea dong, wih udah kek di Korea Selatan aja nih. Asik banget dengerin ceritanya. 

Untuk peduli dengan bumi ini, kita semua harus turut serta, aksi nyata, mengedukasi dengan sabar dan konsisten. Pemerintah ke masyarakatnya, masyarakat ke sesama, orang tua ke anak atau sebaliknya. 

Nothing wrong with plastics, the way we manage its waste that matters. Plastik gak salah, kadang sulit juga untuk mengurangi penggunaannya kalo lagi kepepet, tapi cara kita "melarikan" plastik yang bisa memberikan dampak. Tinggal pilih mau membuangnya di tempat yang tepat, atau ikut serta mengotori lautan. 

Sunday, 24 November 2019

Neurosains dan Tumbuh Kembang Anak

Sunday, November 24, 2019 4 Comments
Pekan lalu, seorang teman di dunia relawan tiba-tiba mengajakku untuk menjadi dokumentator sebuah kegiatan. 

"Kak, mau jadi dokumentator gak?"
"Kapan nih, kegiatan apa?"
"Senin sampai Rabu, Kak. Kegiatannya tentang neurosains, yang waktu itu pernah aku ceritain."

Ajakan via Whatshapp itu membuatku penasaran sekali, apa sih neurosains? Ohhh, pasti nih menyangkut saraf. Aku menerima tawaran temanku, karena sudah tahu kegiatan itu pesertanya adalah anak-anak. Lumayankan bisa belajar hal baru, terutama neurosains. 

Apa itu Neurosains? 

Aku pun semakin penasaran apa sih neurosains? Sampai akhirnya mengajak diskusi salah satu temanku yang sedang S-2 jurusan Psikologi Profesi Klinis. Yha, aku kira neurosains adalah salah satu cabang ilmu kalo gak Kedokteran mungkin Psikologi. Dari temanku, aku mendapat gambaran mengenai neurosains, tentang ilmu yang sedang gandrungnya di era industri 4.0.

"Ambil aja foto candid, yang natural" ujar temanku berpesan melalui chat whatsapp. 

Neurosains merupakan cabang ilmu pendidikan yang mempelajari otak dan sistem saraf atau ilmu yang mengkaji mengenai kesadaran dan kepekaan otak dari segi biologi, persepsi, ingatan dan kaitannya dengan pembelajaran. Itulah kesimpulan yang aku dapatkan setelah membaca beberapa jurnal.

Jujur saja, sejak bekerja sebagai program officer untuk pendampingan psikososial di Sulawesi Tengah, aku memiliki ketertarikan dengan anak dan segala hal yang membentuk mereka. Tentang haknya, tentang pola asuh seharusnya dan sampai ketemu dengan neurosains ini.

Anak-anak adalah generasi penerus, dari Ayah dan Ibu. Terlebih lagi bagi nusa dan bangsa. Untuk dunia yang kian pesat kemajuannya, dari segi ilmu dan teknologi. Keinginan memiliki anak, bukan hanya sekadar keinginan yang begitu saja. Namun suatu pilihan yang harus diiringi ilmu-ilmu dan usaha yang maksimal. Agar kelak anak-anak mendapatkan haknya, tumbuh dengan baik dan siap menjadi manusia cerdas yang berakhlak. Tentu dong.. Untuk itu kita perlu ilmunya.

Neurosains dan Tumbuh Kembang Anak

Budaya dan cara kita mengajari otak kita untuk berperilaku, memainkan peran besar dalam membentuk otak kita. - Louann Brizendine. 

Setiap anak memiliki kebiasaan yang berbeda, dalam sifat dan sikap. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah ingatan. Ingatan merupakan hal yang dapat tersensor oleh seluruh sensor tubuh yang kemudian memiliki daya tarik, dirasa berguna dan berulang-ulang prosesnya. Hal ini tertanam di otak bagian hipocampus yang disebut long term memory. Untuk lebih detailnya gambar di bawah ini akan menjelaskan proses terbentuknya ingatan atau memori.

Vigor Holiday Program

Kebanyakan orang tua mungkin masih bingung untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak bukan hanya tentang asupan gizi namun juga tentang tumbuh kembang otak yang dipengaruhi dari faktor lingkungan. Banyak hal memang yang harus dipersiapkan, dilihat lebih teliti oleh para ahlinya.

Saat ini Vigor Hub memiliki banyak program untuk membantu para orang tua melihat tumbuh kembang si anak. Baik secara fisik ataupun psikologis. Program yang disusun secara details dan juga fun.

Salah satunya adalah vigor Holiday Program. Program yang dilaksanakan saat liburan sekolah, bukan hanya sekadar mengisi waktu luang namun juga belajar banyak hal baru.

Hari pertama, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan usia. Anak-anak akan diberikan tugasnya masing-masing untuk membuat sandwich dan minuman. Sebelum melakukan kegiatan, anak-anak diberikan contoh langsung proses pembuatan makanan dan minumannya. Setiap kelompoknya saling berkaitan dan setiap orang dalam kelompok saling bekerja sama.

Kegiatan berlangsung penuh antusias, anak-anak memperhatikan demo lalu menjalankan urutan intruksi membuat makanan dan minumannya. Anak-anak juga belajar menggunakan pisau, menyelaraskan mata dan gerakan tangan, belajar untuk fokus. Anak-anak belajar untuk saling mengingatkan. Selain itu, anak-anak juga diajarkan melipat tisu dan menggunakan alat makan dengan baik dan benar.

Setelah melakukan kegiatan kelompok, pada hari kedua anak-anak melakukan lebih banyak gerakan.

Neurosains

Gerakan yang dilakukan untuk melatih keseimbangan tubuh dan kepatuhan untuk mengikuti instruksi.

Neurosains

Banyak sekali media yang digunakan untuk melatih motorik anak-anak, pun kegiatan yang dilakukan secara fun.

Neurosains


Neurosains

Anak-anak juga dilatih untuk memainkan stick drum dan bermain disk jokey. Dari kegiatan ini kita dapat melihat kemampuan anak-anak dalam mengkoordinasikan gerakan tangan dengan otak.  Musik juga sangat baik untuk perkembangan emosi dan ingatan.

Neurosains

Hari terakhir, kegiatan dilakukan di dalam air. Wah bisa kebayang kan, betapa senangnya anak-anak melalukan kegiatan di dalam air. Mulai dari latihan  pernapasan, senam dan bermain stick drum di dalam air sesuai dengan irama musik dan instruksi dari dr. Anne. 

Rasanya, gelas kosongku sedikit terisi. Walau masih banyak tanda tanya. Yang pasti, menjadi orang tua memerlukan persiapan, banyak persiapan. Dari ilmu, mental dan juga material. Karena kita bukan hanya sekadar melahirkan anak, namun juga satu generasi baru, yang akan menjadi manusia, yang memimpin, yang peduli dan bersaing secara sehat. 

Saturday, 26 October 2019

Keseruan Mengunjungi Museum Nasional dan Museum Sejarah Jakarta

Saturday, October 26, 2019 20 Comments
Sebutkan hobi kamu? 

Hobi saya banyak Pak, salah satunya jalan-jalan. Terutama mengunjungi tempat baru. 

Pertanyaan yang selalu keluar kalo lagi interview, dan jawaban yang selalu sama, yha jalan-jalan, bertemu orang baru, foto-foto, berniat menuliskan keceriaan dan khidmat-khidmatnya, bagian terakhir ini bukan main sulitnya. 

Diawal tulisan ini, aku mau mengucapkan selamat, semangat dan terima kasih secara bangga kepada teman-teman blogger yang sangat aktif menulis. Percayalah, walau perlahan, link-link yang kakak-kakak bagikan dan masuk ke pemberitahuanku membakar semangatku untuk terus produktif menulis. Apalagi yang menyempatkan hadir, membaca dan meninggalkan jejak di komentar postinganku. Terima kasih~

Memilih pindah dari Palembang dan mencari kerja di Ibukota dan sekitarnya, sebenarnya bukanlah pilihan utama. Rasanya cukup berat, apalagi setelah dijalani. Bukan main. Tapi tawaran dari kota metropolitan ini juga bukan sekadar basa-basi. Ada ribuan kesempatan untuk belajar, pun mengenal banyak orang. Akhirnya memulai karir di sebuah perusahaan kontraktor di Bekasi, kemudian bertemu teman satu frekuensi tentang jalan-jalan. 

Kesepakatan simpel, setiap Sabtu, kami membuat jadwal untuk jalan-jalan, entah ke museum, taman atau toko buku. Jalan-jalan ini harus ramah kantong dan juga ramah dengan bumi. Sedemikian rupa. 

Menikmati Transportasi Umum

Perjalanan kali ini kami sangat memaksimalkan moda transportasi publik, menuju Stasiun Juanda menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik) dari Stasiun Bekasi. Sehari sebelumnya kami sudah mempersiapkan emoney biar saat perjalanan bisa langsung tap-tap. Sebenarnya juga bisa menggunakan Tiket Harian Berjamin, hanya dengan deposit 10K dan ditambah uang perjalanan sesuai destinasi, kamu sudah bisa naik KRL. Untuk menghindari antre dan kelupaan refund ya lebih baik menggunakan emoney, walaupun jarang digunakan. 

Setelah sampai di Stasiun Juanda, kami menyebrang untuk menaiki City Tour Bus, bus bertingkat yang melayani penumpangnya untuk mengelilingi Kota Jakarta. Bus ini gratis, tis, tis!

City tour bus

City tour bus

Tidak lama menunggu, bus pun datang, kami memilih duduk di lantai dua bus. Biar lebih kelihatan. Hehe. Selain gratis, bus ini juga dilengkapi dengan guide serta supir yang bersertifikat. Bukan kaleng-kaleng lah guys. Selama perjalanan, kami diberikan informasi mengenai bus dan lingkungan sekitar. Nah bus ini jam operasionalnya sampai malam di hari weekend. Selain informatif, mas guide yang kulupa namanya, amatlah lucu dan menghibur.

Belajar Hal Baru, Mengenal Pahlawan


Setiap ada monumen di jalan yang kami lewati, maka mas guide akan menjelaskannya secara singkat. Yha, tugasku mencatat untuk kemudian mencari tahu. 

Monumen di atas adalah patung pahlawan, Mohammad Husni Thamrin. MH. Thamrin adalah tokoh Betawi pada saat nama Jakarta masih Batavia. MH. Thamrin aktif dalam politik, memperjuangkan suara-suara orang tertindas, beliau pula mengusulkan pembangunan tempat penyimpanan air bersih untuk minum, yang kemudian disetujui pemerintah Belanda, Saluran Air Minum Kanal Ciliwung. Kini dikenal dengan Penjernihan Air Pejompongan. 

Monumen ini diresmikan oleh Bapak Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI jakarta pada masanya. 

Nyasar ke Museum Nasional

Rute ngebolang hari itu adalah Galeri Nasional dan Museum Fatahillah di Kota Tua. Entah terlalu asik menikmati perjalanan, aku yang sebelumnya mendengar kalo ingin ke Galnas berarti turun saat bus berhenti di depan Perpusnas. Tapi kedua temanku tidak mendengar hal yang sama, kupikir aku salah mendengar. Jadi kami melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnyaaaa berhenti di Museum Nasional atau Museum Gajah. 

Museum nasional

Rasanya bahagia bisa kembali lagi ke Museum Nasional. Tempat yang pernah aku kunjungi secara singkat beberapa tahun yang lalu. Ikon Museum Nasional yang selalu terniang-niang ini merupakan karya seniman asal Bali, Nyoman Nuarta. Pusaran dengan detail orang-orang di dalamnya, seolah tertarik dan juga bertahan sekuat tenaga. Karya ini memiliki makna ketahanan budaya yang terus menggelora sepanjang masa. Budaya yang tetap luhur dan menginspirasi, sejalan dengan kemajuan. 

Museum nasional

Museum nasional

Biaya masuk Museum Nasional 5000,- rupiah untuk pengunjung dewasa. Museum ini dibuka dari Selasa - Minggu. Seperti kebanyakan museum yang tutup di Hari Senin. Di meja registrasi, setelah membeli tiket, kita akan mendapatkan peta museum dan juga peta tempat-tempat wisata di Kota Jakarta. Pokoke lengkap! 

Dari pintu masuk, lurus saja dan kita akan disabut dengan patung-patung dari banyak tokoh perwayangan. Aku sedikit bingung karena ada beberpa patung yang tidak utuh, memang seperti itu bentuknya atau luput dari perawatan yaaa. Setiap patung juga dilengkapi dengan penjelasan singkatnya. 




Aku selalu suka membaca lagi sejarah melalui kunjungan ke museum,  siapa tahu kan keluar di soal test cpns. Mayan cuyyy! 


Setelah puas melihat patung-patung, aku berjalan ke sisi lain museum, melewati ruangan dengan peta Republik Indonesia dan ragam suku, bahasa yang hidup di dalamnya. Kaya sekali tanah air ini.



Sisi berikutnya menjelaskan asal-usul manusia di Indonesia. Wajah-wajah perempuan Indonesia. Di sisi ini juga ada replika tulang-belulang orang yang telah meninggal.





Saat naik ke lantai dua museum, kita akan disambut dengan gambar-gambar yang menjelaskan kehidupan zaman dulu.  Wanita-wanita Indonesia yang mandiri dan kuat tergambar nyata, pun anak-anak yang bahagia dengan permainan seadanya. Yang selalu membuat hatiku hangat adalah foto wanita dengan senyuman di bagian Pulau Jawa, sekilas beliau mirip sekali dengan Almh. Nenekku. Pun senyumnya. Aku sampai bergumam, seharusnya latarnya adalah Pulau Sumatra, karena dari silsilah yang ku tahu, keluarga kami adalah orang Sumatra yang berasal dari Pagaralam.

Pameran "Japanese Design Today 100"

Seingatku, Museum Nasional sering sekali mengadakan event-event yang menarik, kebetulan sekali saat kami berkunjung sedang berlangsung pameran karya seni dan koleksi dari Jepang. 



Ada sekitar 100 foto, maket ataupun pakaian yang dipamerkan. Program ini bertujuan untuk mengenalkan Jepang pada dunia. Tentu saja didalam bidang seni, baik seni tradisional maupun kontemporer. Sebagai penyelenggara, The Japan Foundation telah bekerjasama dengan banyak museum di seluruh dunia. Keren ya?

Apakah kita juga sudah melakukan hal ini untuk mengenalkan budaya, sejarah serta para seniman Indonesia ke seluruh penjuru dunia melalui pameran karya seni di museum lain di luar negeri. Pastilahhh hal ini terpikir oleh Bapak-Ibu yang di posisi nya, yang memiliki kuasa dan kemampuan untuk mewujudkannyaaa. Hihi.

Belajar Sejarah Kota Jakarta di Museum Fatahillah

Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta ini terletak di Kota Tua. Biaya masuknya 5000,- rupiah untuk pengunjung dewasa. Yang aku suka dari museum ini adalah keteraturannya, petunjuk yang cukup jelas membuat pengunjung sangat mudah untuk melihat sejarah secara runut. 




Museum ini menceritakan penampakan Batavia dengan para tokohnya hingga menjadi Jakarta. Dari Balai Kota hingga resmi menjadi Museum Sejarah Jakarta. Juga menceritakan peristiwa-peristiwa bersejarah, seperti wabah penyakit yang pernah terjadi hingga kebangkrutan VOC.


Museum ini dilengkapi dengan furniture-furniture khas zaman dulu yang terbuat dari kayu. Sangat terawat.



Banyak juga lukisan-lukisan sarat makna. Salah satunya seperti latar foto di atas.


Dari lantai dua Museum Sejarah Jakarta, kita bisa menyimak keramaian Kota Tua. Di museum ini juga terdapat penjara bawah tanah.

Menikmati Selendang Mayang

Selain suka jalan-jalan ke tempat baru, aku juga suka jajan. Hehe. Kalo Palembang kaya sekali kulinernya, teman-temanku terkadang bingung kalo aku minta diajak makan makanan khas Bekasi. Hehe. Nah, selain kerak telor, aku akhirnya bisa mencicipi Selendang Mayang. Konon, minuman ini khas Jakarta. Rasanya segar, manisnya pas. Harganya murah! 


Setelah duduk sambil berselendang mayang, kami pulang melalui Stasiun Jakarta Kota. Langsung menuju Bekasi. 

Untuk KRL pulang pergi kami mengeluarkan 8000,- rupiah, 10000,- rupiah untuk masuk dua museum, 5000,- jajan Selendang Mayang, oh iya karena terlalu lama menunggu kami menggunakan bus berbayar dari Museum Nasional ke Kota Tua 3500,- rupiah (aku lupa nama busnya) dan jajan cilok selagi nunggu City Tour Bus (akhirnya nyerah) 5000,- rupiah. Untuk makan siang dan air minum kami bawa dari rumah, sudah ada isi ulang air mineral di Museum Nasional. 31.500,- rupiah, ramah kantong kan? Pun ramah lingkungan.

Perjalanan itu hanya butuh niat. Jangan lupa untuk membekali diri dengan informasi, baca-baca, bawa bekal hehe, lalu eksekusi. Capek ga??? Wah karena ini hobi dan emang suka jalan kaki, capeknya standar aja, bahagianya banyak! Yuk ke museum! 

Nantikan cerita perjalanan selanjutnya yhaaa!

Monday, 14 October 2019

Hal Yang Harus Dihindari Saat Pengajuan Kartu Kredit CIMB Niaga

Monday, October 14, 2019 4 Comments
Banyaknya produk kartu kredit membuat begitu banyak orang berupaya untuk mengajukan aplikasi ke berbagai bank, termasuk Bank CIMB Niaga. Meski prosesnya cukup mudah dan singkat, ternyata ada hal yang harus dihindari saat pengajuan kartu kredit CIMB Niaga loh! 

Pihak bank tentu akan melakukan validasi dan verifikasi setelah kamu mengajukan aplikasi kartu kredit. Hasil analisis tersebut akan menentukan lolos atau tidaknya pengajuan yang kamu lakukan. Atau, jika pun lolos, bank juga yang menentukan limit kartu kredit yang akan kamu miliki kelak.

Mengajukan kartu kredit CIMB Niaga memang mudah. Namun demikian ada beberapa hal yang sering menyulitkan proses aplikasinya.

Hal Yang Menyulitkan Proses Pengajuan Kartu Kredit CIMB Niaga

Kartu Kredit CIMB Niaga

Sama seperti melamar pekerjaan, beberapa orang rela melakukan berbagai cara supaya aplikasi kartu kredit terlihat sempurna, dengan harapan pihak bank akan meloloskan aplikasi tersebut.

Nah ini ada beberapa hal yang perlu kamu hindari saat mengajukan kartu kredit, yaitu:

Memalsukan Nominal Gaji

Sudah pasti dong untuk pengajuan kartu kredit CIMB Niaga kamu diharuskan melampirkan slip gaji.  Nah, ada anggapan beberapa orang bahwa semakin besar nominal gaji maka semakin besar pula peluangnya untuk lolos. Padahal, tidak sepenuhnya demikian.

Nominal gaji digunakan pihak bank untuk menentukan limit kartu. Misalnya, gaji yang besar dianggap mampu untuk membayar tagihan kartu kredit yang juga relatif besar. Sehingga, pihak bank akan lebih longgar dalam memberikan limit yang besar. Jadi slip gaji itu sebagai data penyesuaian.

Sebaiknya tetap mencantumkan nominal gaji yang sebenarnya. Supaya kamu mendapatkan limit kredit yang juga sesuai batas kemampuan. Selain itu, semakin besar limit kartu kredit, maka semakin besar pula iuran tahunan yang diberlakukan dan yang paling dasar, jujur itu sangatlah penting! 

Kredibilitas Tempat Kerja

Meskipun gaji yang kamu terima besar di sebuah perusahaan, bukan jaminan bahwa aplikasi yang kamu ajukan akan mudah disetujui. Pihak bank tentunya bisa mengamati kredibilitas tempat kerja kamu. Jika perusahaan tersebut dianggap kredibel, maka peluang lolosnya besar.

Sebaliknya, jika kredibilitas kantor kamu tidak begitu baik di mata perbankan, aplikasi kamu memang tidak serta merta ditolak. Biasanya akan ada syarat tambahan yang diberikan oleh bank. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan bank bahwa kamu berada dalam kondisi stabil dalam hal pekerjaan.

Yang dikatakan stabil termasuk juga status kamu sebagai karyawan tetap dengan masa kerja lebih dari 2 tahun. Akan timbul poin negatif di sisi analis bank, jika riwayat pekerjaan menunjukkan bahwa kamu sering berpindah tempat kerja dalam tempo yang cukup singkat. Ingat ya berpindah-pindah kerja bukan jadi poin negatif di mata HRD tapi juga oleh analisis bank. 

Riwayat Keuangan

Sebelum mengajukan aplikasi kartu kredit, sebaiknya kamu pelajari dulu kesehatan keuangan kamu. Misalnya, apakah kamu memiliki tanggungan perbankan yang sedang berjalan atau tidak. Jika ada, apakah nominal tagihan tersebut masih dalam batas yang sehat atau tidak.

Pihak bank tentu akan lebih paham tentang cashflow yang kamu miliki. Jika perbandingan pemasukan dan cicilan kamu sama besar, maka peluang aplikasi kamu untuk disetujui akan semakin kecil. Sebab dalam menerbitkan kartu kredit, pihak bank menggunakan prinsip risiko kredit macet.

Beberapa bank terkemuka mensyaratkan kamu untuk menyertakan fotokopi sisi depan kartu kredit lain yang sudah dimiliki. Hal ini untuk memantau riwayat pembayaran tagihan kartu kredit kamu. Pastikan kamu tak pernah terlambat membayar tagihan atau mengalami masalah lainnya dengan kartu kredit terbitan bank lain.

Mengajukan Banyak Kartu Kredit Sekaligus

Memang tak ada salahnya mencoba peruntungan mengajukan aplikasi kartu kredit sekaligus ke banyak bank. Harapannya, salah satu aplikasi tersebut akan lolos. Namun, cara ini sebaiknya dihindari.

Perlu diingat, bahwa pihak bank bisa mengetahui aktivitas pengajuan kartu kredit yang kamu lakukan. Jika kamu ketahuan mengirimkan permohonan sekaligus ke banyak bank, maka akan muncul kecurigaan. Akibatnya, aplikasi pengajuan kartu kredit CIMB Niaga kamu akan ditolak.

Untuk menyiasatinya, jangan lakukan pengiriman aplikasi kartu kredit secara serentak. Berikan jeda waktu sekitar 4 atau 5 hari setelah mengajukan aplikasi ke bank yang satu, baru kemudian dilanjutkan ke bank yang berikutnya.

Gagal Verifikasi

Setelah aplikasi kartu kredit CIMB Niaga kamu sudah dikirim, dalam jangka waktu 5 hari kerja pastikan kamu bisa dihubungi. Sebab, dalam kurun waktu tersebut pihak analis bank akan melakukan verifikasi lewat telepon. Bukan cuma kamu yang akan dihubungi, tetapi juga kerabat dekat yang kamu cantumkan pada lembar aplikasi. Baiknya kamu memberitahu kerabat yang nomernya dicantumkan untuk verifikasi.

Jika analis bank gagal menghubungi kamu hinga 2 atau 3 kali percobaan, maka aplikasi kartu kredit kamu akan dibatalkan atau ditolak. Sederhana saja, pihak analis bank memiliki setumpuk data calon nasabah yang harus diverifikasi. Jika satu gagal, mereka akan melanjutkan pekerjaan ke calon nasabah lainnya.
Setidaknya, beberapa hal tersebut membuat Anda sedikit sulit untuk lolos dalam proses pengajuan kartu kredit, khususnya dari Bank CIMB Niaga.

Untuk mengetahui persyaratan lengkap pengajuan kartu kredit, kamu bisa mengunjungi CekAja.com.

Situs CekAja.com menyediakan banyak perbandingan produk perbankan, yang disajikan secara netral. Sehingga kamu dapat memilah mana produk yang paling tepat untuk kamu sesuai dengan kebutuhan kamu. CekAja.com juga sudah berafiliasi dengan kartu kredit Bank CIMB Niaga, untuk proses pengajuan kartu kredit lewat link https://www.cekaja.com/banks/cimb-niaga/kartu-kredit