Skip to main content

Petualangan Seru ke Dieng: Dari Cari Batik hingga Nikmati Sagon Rangi


Berawal dari undangan teman kantor yang akan menikah di Banjarnegara. Kami pun menyusun renvcana untuk hadir. Mulai dari memesan tiket kereta hingga memesan mobil untuk disewa. Tidak begitu serius, rencana dan realisasi dilakukan disela menumpuknya pekerjaan yang tiada habis, haha. Diskusi awal terkait transportasi akhirnya menemui kesepakatan, akan ditempuh menggunakan kereta dengan tujuan Purwokerto. Pilihan yang gugur adalah kereta dengan tujuan Yogyakarta, karena takut kelelahan, mengingat kami pergi Jumat malam sepulang kerja, dan acara pernikahan minggu, selesai langsung pulang.

Setelah tiket kereta issued. Persiapan-persiapan lainnya pun dicicil, seperti membeli baju batik kembaran, memesan kaos kembaran, hingga sandal jepit kembaran. YA, INI BAPAK-BAPAK. Aku kebagian ke Thamrin City untuk mencari batik kondangan itu, mengelilingi tamcit yang baru pertama kali ku kunjungi, menanyakan kesesuaian warna dan harga, aku hanya ingin cepat pulang wkwk. Karena tujuan kereta adalah Purwokerto, kami harus menyewa mobil untuk sampai ke Banjarnegara. Sat set sat set, dengan melampirkan undangan pernikahan teman dan SIM, mobil pun issued.

Tibalah hari keberangkatan. Aku sempatkan pulang ke kos, yang hanya lima langkah dari kantor. Dengan sigap ku siapkan semuanya, melipat pakaian, memasukkannya ke dalam tas, solat magrib, kemudian kembali ke kantor untuk makan bersama sebelum menuju ke Stasiun Pasar Senin. Betul saja, ada sedikt drama, Go-Car yang dipesan harus muter-muter dulu sebelum berhasil sampai di titik jemput, akhirnya kami harus berangkat dengan was-was, satu jam sebelum keberangkatan, dengan jarak tempuh cukup jauh dan lalu lintas di Jumat malam. Hamdalah Cipete-Pasar Senin, bisa ditempuh dengan waktu yang tepat. 

Kereta seakan melaju cepat, pukul tiga pagi kami sampai di Stasiun Purwokerto. Setelah mampir sebentar ke toilet, kami pun langsung menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan menggunakan mobil sewaan. Seperkian detik ada perdebatan, ke mana tujuan perjalanan ini sebelum ke Banjarnegara. Apakah cukup dengan mengelilingi Purwokerto atau ingin berkunjung ke Dieng di Wonosobo. Dengan keinginan hati yang kuat, sang pengemudi pun secara gagah berani memutuskan untuk ke Dieang. Khayalannya ingin melihat sunrise, wkwk. Padahal waktu tempuhnya tiga jam lebih.

jalan-jalan ke jawa tengah


Kami berhenti di salah satu masjid yang ada di pinggir jalan untuk salat subuh. Saat itu sekitar pukul 05.30 WIB, udara sangat dingiiin. Benar saja, sesaat setelah mengambil wudu, aku langsung menggigil kedinginan. Sudah terbayang dinginnya Dieng. Melanjutkan perjalanan, kami sangat berharap menemukan warung soto untuk sarapan, jalanan kami susuri, sulit sekali menemukan tempat sarapan yang terlihat cocok. Hingga akhirnya, perjalanan mulai menanjak, takut semakin tak ada pilihan, kami berhenti di sebuah warung tepat di pengkolan jalan. Gak masalah lah nasi bukan soto hangat, yang penting makannnn dulu. Yang mengejutkan adalah, total kami makan hanya empat puluh enam ribu rupiah, iyaaaa, 46K! Harga nasi hanya empat ribu, gorengan tiga buah hanya dua ribu. Alamak, kenyang dan bahagia!

Perut kenyang, hati pun senang. Perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri petunjuk dari Google Maps. Hingga akhirnya indah pemandangan mulai menyapa kami. Langit biru dan udara yang segar. Kami pun memutuskan untuk berhenti sebentar dan mengambil foto. Tentu saja, diantara bapak-bapak ini bahkan ada yang Live IG, membuat video dan langsung mengunggahnya. Hahaha.



Jalan Menanjak dan Kampas Rem Angit

Perjalanan bermodalkan Google Maps dan keberanian ini tidak begitu mulus. Sesuai arahan, kami menelusuri jalan menanjak dengan pemandangan indah. Hingga akhirnya tiba pada suatu tikungan yang menanjak dengan kondisi jalan berlubang. Mobil kami pun tidak mampu untuk naik. Satu persatu dari kami pun turun, yang paling pertama bergegas untuk mencari batu demi mengganjal ban belakang mobil agar tidak meluncur. Karena panikkkk, aku pun kesulitan membuka seat belt, yang membuatku menjadi penumpang terakhir yang turun. Saat keluar mobil, aku langsung menepi dan menenangkan diri. Bau angit dari kampas rem yang terbakar membuatku semakin sesak. Mobil pun ditepikan dan diganjal. Kami berunding, apakah perjalanan ini akan diteruskan atau memutar kembali. 

Tak lama datang seorang pengendara motor menghampiri, menawarkan jasanya untuk menuntun kami melalui jalanan menanjak ini. Dengan pengalamannya akan medan, dia seakan menjamin kami akan mudah menuju puncak. "Seikhlasnya saja, nanti satu penumpang bisa ikut saya".

Perjalanan kami teruskan dengan was-was. Ya, mungkin hanya aku yang penuh cemas, takut kejadian tersebut terulang. Hingga akhirnya kami sampai di tujuan pertama. Wisata Alam Batu Pandang Ratapan Angin.

Wisata Alam Batu Pandang Ratapan Angin


Batu Pandang Ratapan Angin


Sebelum sepenuhnya memasuki area wisata, kami mampir ke sebuah warung kopi untuk menghangatkan menyesap kopi saset hangat. Awalnya aku tidak terlalu menyambut gembira perjalanan ke Dieng ini, karena aku baru mengunjungi tempat-tempat tujuan kami beberapa bulan lalu. Tapiiii perjalanan kali ini berbeda. Haha. Jadi Kang Foto bapak-bapak. 

Batu Pandang Ratapan Angin

Mengunjungi kompleks wisata Batu Pandang Ratapan Angin saat musim hujan dan kemarau sungguh beda. Dari warna langit, danau, dan suhu. Tempat ini memiliki banyak spot foto yang berlatar belakang danau hijau cantik, selama perjalanan menuju puncak, kita juga akan disuguhi beberapa tanaman, seperti wortel, kentang, maupun aneka bunga-bunga cantik.

Untuk masuk kawasan ini hanya perlu membayar parkir Rp10.000 untuk satu mobil dan Rp15.000 untuk tiket masuk per orang. Jajanan di warung-warung sekitar juga sangat terjangkau, banyak sekali penganan berbahan dasar kentang yang dijual. Oh iya, sudah ada toilet, ya walaupun belum terlalu bersih, cukup dengan Rp2.000 saja. Di sini juga banyak yang menjual penganan khas Dieng seperti Cabe Gendot, Carica, dan Kentang.

Melanjutkan Perjalanan ke Candi Arjuno

Akulaaaah Arjunaaaa-aaa-aaa, yang mencari cinta, wkwk. Tapi keadaan saat itu adalah... kamiiiii lah yang mencari Arjuna. Walaupun sudah menggunakan Google Maps bukan berarti semuanya mulus langsung sampai. Ada adegan salah belok hingga hilang arah. Tentu saja bertanya adalah solusinya.

Kami membeli tiket Rp20.000 per satu orang untuk memasuki kawasan Candi Arjuno sekaligus Kawah Sikidang. Berjalan dari parkiran menuju kawasan Candi Arjuno. Saat berkeliling kami beruntung bisa melihat Umat Hindu beribadah dengan khusyuk. Sepertinya mereka rombongan yang berasal dari Bali. Ada yang memimpin ibadah yang diikuti oleh anak-anak hingga orang tua, baik wanita maupun laki-laki. Sangat khidmat.

Candi Arjuno


Candi Arjuno


Candi Arjuno adalah sebuah kompleks candi Hindu yang terletak di lereng Gunung Arjuno, Jawa Timur, Indonesia. Candi ini merupakan salah satu dari beberapa candi yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan diperkirakan dibangun pada abad ke-14 Masehi, pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Candi Arjuno memiliki signifikansi sejarah dan keagamaan yang penting dalam tradisi Hindu di Indonesia.

Candi Arjuno memiliki arsitektur yang khas dari candi-candi Hindu. Candi ini terdiri dari beberapa struktur, termasuk candi utama (punden), perwara (candi pendamping), dan gapura (gerbang masuk). Candi utama memiliki tiga tingkat yang menggambarkan kosmos Hindu, yaitu bumi, dunia tengah, dan surga. Pada puncak candi terdapat stupa yang melambangkan kesucian. Candi Arjuno adalah salah satu contoh penting dari warisan budaya Hindu yang masih hidup dan berfungsi di Indonesia.


Belerang dan Sagon Rangi Khas Kawah Sikidang

Mau ga mau kami harus mengunjungi Kawah Sikidang. Walaupun Pak Sugi sungut-sungut karena harus memutari beberapa kelok tempat belanja untuk bisa kembali ke parkiran nantinya. Haha. Kami memulai perjalanan dengan menganti baju dengan kaos kembaran. Yup! Wajib.

Kawah Sikidang adalah sebuah kawah vulkanik aktif yang terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Namanya "Sikidang" berasal dari kata "kidang" yang berarti rusa dalam bahasa Jawa, karena asap dan uap yang berasal dari kawah ini terlihat seperti tanduk rusa. Seperti kunjunganku sebelumnya, kawah ini cukup ramai. Namun banyak sekali spot-spot foto baru dan sudah sangat oke.


Kawah Sikidang


Jujur saat pertama ke Kawah Sikidang aku sangat jatuh cinta dengan salah satu penganan yang dijual di area pasar yang menjual oleh-oleh dan makanan. Aku sangat semangat untuk kembali menemukannya. Seingatku ada tujuh atau sembilan kelokan blok penjual yang harus dilalui untuk bisa keluar menuju area parkiran. Aku sempat putus asa, takut pedangan penganan tersebut tidak lagi berjualan, mengingat banyak sekali perbaikan infrastruktur di kawasan Kawah Sikidang ini. Alhamdulillah, walaupun sudah putus asa dan mampir ke penjual kue putu, tak lama, akhirnya aku bisa melihat kembali warung Sagon Rangi tersebut. Langsung duduk dan memesan haha. Kebetulan saat itu kami terpisah, aku berjalan duluan meninggalkan bapak-bapak yang mampir beli somay, untuk segera menemukan Sagon Rangikuuu.

Sagon Rangi


Setelah pesananku sampai, dengan penuh gembira aku memakannya, sambil sesekali menengok ke belakang. Berharap empat bapak-bapak segera sampai, jujur saja, aku tidak sabar mengenalkan penganan enak ini. Rasanya sangat gurih dan hangat. Sulit ditemui di Jakarta.

Sagon Rangi


Perjalanan di Kawasan Kawah Sikidang ditutup dengan hati senang karena Sagon Rangi. Kami pun memutuskan untuk menuju Banjarnegara ke rumah teman yang akan menikah besok. 

Mampir ke Purwokerto

Setelah menghadiri pernikah teman, kami bergesar untuk melanjutkan jalan-jalan singkat ini. Tujuan selanjutnya adalah Baturraden dan Alun-Alun Purwokerto. 

Baturraden


Kami sampai di Kawasan Wisata Baturraden sudah sore, sehingga sayang sekali jika ingin masuk, hanya bisa menikmati kawasan wisata tersebut sebentar. Dengan nominal biaya masuk yang cukup mahal, Rp50.000 kalau tidak salah, karena di dalam ada tempat pemandian air hangat. Kami pun memtusukan untuk makan dan menuju Alun-Alun Purwokerto menghabiskan waktu menunggu jadwal kereta.

Alun-Alun Purwokerto


Alun-Alun Purwokerto


Aku cukup takjub dengan Alun-Alun Purwokerto yang sangat tertata rapi. Tentu sangat luas, sehingga suasananya sangat menyenangkan. Para pedangang tidak berdesakan, begitu pula pengunjung. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu di sini. Berfoto, duduk-duduk dan juga jajan. Begitu pula kami, yang sangat kegirangan menemukan banyak pedagang. Aku menjadi juru beli. Aku kerahkan semua tenaga dan keinginanku untuk membeli semuaaaanya. Tentu saja harganya sangat terjangkau, sangat berbeda jika jajan di Jakarta. Krepes cuma Rp6.000. Bahagia bukan? Kami makan bersama, dan tentu aku bisa jadi, mungkin, yang paling banyak, dan disepakati jajanan ini akan dibiayai secara rata. Menang banyak, bukan? Kami cukup lama duduk di alun-alun sebelum menuju stasiun. Ngemil sambil berbincang ngalor-ngidul. Barangkali perjalanan seperti ini bisa kembali terulang. Semoga!

Ternyata seru ya jalan dengan empat bapak-bapak paruh baya ini. Dikit-dikit bisa diminta stop untuk ku ambil gambarnya. Perjalanan singkat seperti ini semoga terulang kembali ya!
Hai! Salam kenal dariku ya. Rumi yang secara acak terkadang menulis, entah saat luang ataupun sibuk.

Comments