RUN FASTER TO END TB: Kemenkes Ajak Masyarakat Peduli Eliminasi Tuberkulosis Lewat Fun Run dan Talkshow Inspiratif
Jakarta, 24 Mei 2026 — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggelar kegiatan Fun Run bertajuk “Run Faster to End TB” sebagai acara puncak Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) 2026 di kawasan Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia.
Acara dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan kegiatan lari santai yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan. Seluruh peserta mengenakan vest bertuliskan “Run Faster to End TB” sebagai simbol dukungan terhadap gerakan percepatan eliminasi TB di Indonesia.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat penanggulangan TB. Dalam pemerintahan saat ini, TB juga masuk sebagai salah satu dari delapan program percepatan pemerintah di bidang kesehatan.
Talkshow Hadirkan Wamenkes dan Penyintas TB
Selain kegiatan olahraga, acara juga dilanjutkan dengan talkshow edukatif yang menghadirkan Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR serta dr. Reisa Broto Asmoro. Dalam pemaparannya, dr. Benjamin menjelaskan bahwa tuberkulosis terdiri dari dua jenis, yaitu TB Sensitif Obat (SO) dan TB Resistan Obat (RO). Keduanya memiliki mekanisme pengobatan yang berbeda.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini dunia kesehatan tengah mengembangkan inovasi pengobatan TB yang lebih singkat.
“Saat ini sedang dikembangkan pengobatan TB yang cukup satu bulan, baik untuk TB SO maupun TB RO,” jelas dr. Benjamin dalam sesi talkshow.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan bahwa penularan TB terjadi melalui udara atau droplet, sehingga deteksi dini dan kepatuhan pengobatan menjadi hal yang sangat penting untuk memutus rantai penularan.
Kisah Veronica, Penyintas TB RO yang Berhasil Sembuh
Salah satu sesi yang paling menyentuh dalam acara ini adalah kehadiran Veronica, penyintas TB Resistan Obat (TB RO) yang telah dinyatakan sembuh setelah menjalani pengobatan panjang.
Veronica menceritakan bahwa proses pengobatan TB RO bukan hal yang mudah. Ia harus menghadapi berbagai efek samping seperti mual, pusing, hingga kesemutan pada telapak kaki selama masa terapi.
Meski begitu, ia tetap bertahan karena memiliki tekad kuat untuk sembuh dan mendapat dukungan penuh dari keluarganya, terutama orang tua.
“TB bisa disembuhkan dengan dua syarat, yaitu minum obat secara rutin dan tuntas,” ujar Veronica di hadapan peserta talkshow.
Kisah Veronica mendapat perhatian besar dari peserta karena memberikan harapan bahwa TB, termasuk TB RO, tetap dapat disembuhkan apabila pasien disiplin menjalani pengobatan.
Booth Edukasi dari Komunitas dan Dukungan Berbagai Pihak
Tidak hanya menghadirkan olahraga dan edukasi, kegiatan ini juga diramaikan dengan berbagai booth pameran dari komunitas maupun perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap eliminasi TB di Indonesia.
Beberapa booth yang hadir antara lain dari Fujifilm, Otsuka, PETA, serta PPTI. Booth-booth tersebut menampilkan berbagai informasi edukasi, layanan kesehatan, hingga bentuk dukungan terhadap program pengendalian TB nasional.
Kehadiran berbagai pihak dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa eliminasi TB tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi membutuhkan kolaborasi dari komunitas, tenaga kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat luas.
Kampanye Publik untuk Tingkatkan Kesadaran TB
Melalui kegiatan Run Faster to End TB, Kementerian Kesehatan berharap masyarakat semakin memahami bahwa TB masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia, namun dapat dicegah dan disembuhkan. Kampanye dengan pendekatan olahraga, edukasi, dan cerita inspiratif seperti ini dinilai mampu mendekatkan isu TB kepada masyarakat secara lebih ringan dan humanis.
Sebagai peserta yang hadir langsung dalam kegiatan ini, saya melihat antusiasme masyarakat cukup tinggi. Tidak hanya sekadar mengikuti fun run, banyak peserta juga aktif mendengarkan sesi edukasi dan mengunjungi booth-booth kampanye kesehatan yang tersedia.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa eliminasi TB bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi gerakan bersama yang membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat Indonesia. Yes We Can, END TB!


Comments
Post a Comment