Adikku Dibully Oleh Satu Angkatan

"Adikku dibully oleh satu angkatan."

Begitulah, ujung dari curhat temanku mengenai adiknya yang tidak sengaja mengeluh saat melakukan kuliah daring. Dosen pemangku mata kuliah tersebut sakit hati, setelah memberikan tugas untuk merangkum 3 buku. 

"Shit!!!! Tiga buku!" Keluhan itu terucap saat mode suara akun zoom milik adik temanku menyala. Masalah langsung membesar! Kaprodi, Kajur, hingga ancaman nilai anak satu kelas pun keluar. Bayangkan?



Belum cukup juga, mahasiswa baru ini diminta untuk membuat video klarifikasi dan permintaan maaf untuk diunggah ke semua media sosial pribadi miliknya. Belum lagi ancaman nilai untuk teman sekelasnya, membuat anak usia 19 tahun ini dibully habis-habisan. 

Sehari setelahnya, temanku beserta orang tua dan adiknya menghadap langsung ke dosen serta jajaran jurusan tempat kuliahnya untuk minta maaf dan mencari solusi terbaik dari kesalahan sang adik. 

Seakan-akan mengeluh adalah perbuatan paling hina. Sang adik yang baru 19 tahun, ditunjuk-tunjuk di depan kakak dan orang tuanya langsung. Bahkan dosen tersebut hirau dan menyalahkan adik temanku saat temanku memberitahu bahwa saat ini adiknya sedang dibully oleh satu angkatan. Belum cukup puas hati, ada sederet perbandingan yang diucapkan si dosen mengenai adik temanku dan mahasiswa-mahasiswa lainnya.

Prihatin! Jika pendidik tak lagi peduli dengan kesehatan mental peserta didik, di mana lagi negeri ini bisa berharap akan lahir anak-anak atau pemuda-pemuda cerdas yang kuat dan penuh empati. Sampai kapan menegur dengan mengancam terus langgeng di dunia pendidikan? Sampai kapan, kesalahan diperbaiki dengan cara yang kurang tepat? Malah menambah luka dan membentuk mental yang kurang baik.

"Kuatin adik kamu, sampaikan letak kesalahannya, lalu kuatkan,", hanya itu pesan yang kusampaikan dengan temanku. Pasti, pandemi ini berat untuk semua orang. Untuk semua pendidik yang harus lebih repot dengan pembelajaran daring. Yang mungkin harus belajar lagi mengenai fasilitas pendukung pembelajaran. Pasti tidak mudah, pasti lebih lelah. Perasaan atau respon terhadap kata-kata atau perilaku orang lain memang hak pribadi. Tapi, haruskah? Mengingat beliau adalah pendidik. 

Kejadian ini mengingatkanku pada deretan peristiwa saat salah satu dosenku selalu menghabiskan setengah dari jam mengajarnya untuk marah, bersumpah serapah, mengajari kami yang penuh ketakutan dan tekanan. Bila diingat-ingat, betapa melelahkannya saat itu, betapa buang-buang waktu. Wajar saja jika beberapa orang setuju, pendidikan formal tidak begitu penting dan buang-buang waktu.

Alhamdulillah... Dari proses itu aku bisa belajar, memilah mana yang baik dan tidak baik. Mana yang bisa aku ambil dan aku buang jauh-jauh. Tapi, sebagian orang bisa jadi mengadopsi itu secara tidak sadar. "Kami dulu seperti ini, bla bla bla..."

Mendidik memang bukan perkara mudah. Mendidik adalah sebuah tanggung jawab. Mungkin, perlu kembali mengingat tujuan mendidik saat lelah menyerang. Semoga kita lebih peduli dengan kesehatan mental orang-orang disekitar, berpikir dengan benar sebelum bertindak, memikirkan secara runut dampak dari tindakan yang kita ambil, terutama kita, yang berdiri di depan banyak orang, yang bisa dengan mudah dicontoh. 

11 comments

  1. Hal-hal kayak gini emang perlu diangkat ke publik, biar jd kesadaran kita bersama

    ReplyDelete
  2. Hmmm potret pendidikan zaman sekarang

    ReplyDelete
  3. Potret pendidikan zaman sekarang

    ReplyDelete
  4. Mental anak didik di hiraukan, sedangkan salah beretika sedikt diungkit habis2an.

    ReplyDelete
  5. Sayang banget sama pola pikir dosennya yang lain ikut2n, disini juga ada kejadian serupa yang pernah viral karena mahasiswa yang meeting via zoom mungkin nggak sngaja ketiduran, tapi over bullying itu berefek parah hingga dia mau berhenti kuliah.

    ReplyDelete
  6. Belum ada cerita, apa yang dilakukan oleh adik temannya saat ucapannya terdengar oleh dosen. Simalakama, satu sisi, dosen ingin mengajarkan mahasiswanya untuk berkata dengan kata-kata baik sehingga memberikan hukuman daring sebagai efek jera. Di sisi lain, efek dari mahasiswa harus diperhatikan karena akan berdampak pada kesehatan mentalnya. Untuk kebaikan, dua pihak harus saling bisa menyadari dan saling memaafkan agar tidak ada kerugian mental dari dua belah pihak.

    ReplyDelete
  7. Cerminan pendidikan di Indonesia sekali ya

    ReplyDelete
  8. Menurutku perkataan mahasiswa tersebut tidak begitu fatal. Seharusnya dosen pengajarnya tidak perlu begitu berlebihan. Cukup dinasihati, diberi hukuman yang mendidik. Kalau diulangi lagi, baru jadinya fatal. Sedih rasanya.

    ReplyDelete
  9. Terkadang prihatin juga dengan budaya membully di Indonesia. Seolah seorang dengan kedudukan/posisi superior bisa dengan mudah berlaku zolim terhadap orang² yg tidak sejalan. Semoga sang adik kuat menghadapi ini semua ya. Karena kabar buruknya pembully tidak hanya ada di sekolah saja, tapi ada dimana-mana :(

    ReplyDelete
  10. Sempat berpikir,,,ini mungkin bisa sisebut perploncoan,,,tujuan dan manfaatnya untuk masuk ke pendidikan formal itu apa? Saya rasa tak perlu lah mereka berdalih untuk melatih mental segala,,,

    Oke,,,melatih mental mungkin diperlukan juga,,,saya adalah salah satu anggota perguruan pencak silat diindonesia,,,dan jujur saja perploncoan itu ada,,,tapi dilakukan di akhir atau bisa disebut di ujian kenaikan tingkat akhir yang dimana para murid perguruan itu sudah kenyang dengan latihannya,,,tidak di awal masuk seperti yang sering dilakukan saat awal masuk pendidikan,,,dan sifatnya juga bukan bullying,,,tapi lebih untuk mengetes apa saja yang sudah dipelajari dan latihan yang murid lakukan,,,,kalau tes mental di lakukan di awal, apa gunanya? Menurutku itu sih

    ReplyDelete
  11. Budaya membuli di indonesia ini makin parah ya, makin g bisa dikendalikan, pdhl, cuma karena dibully seseorag bisa langsung down loh, soalnya tmnku ada yg ky gitu

    ReplyDelete

Ini Harumi
Theme by MOSHICOO