Sunday, 15 September 2019

Quarter Life Crisis: Rumi dan Isi Kepalanya

Selalu terniang, perkataan seorang teman. "Rum, elu mah selu mulu". Aku mungkin sangat jauh dari kata ambis, banyak sekali hal-hal mewah yang terlewat karena aku lupa mencatat. Semuanya menguap bertebaran tidak pada tempatnya. Padahal hal-hal mewah itu selalu runut jika saja aku lebih melihat, jika saja aku lebih mau memahami. Andai dulu aku membaca sebaik saat ini, aku pasti bisa lebih rapi dalam mencatat.

Memasuki lingkup yang sangat mewah, aku yang sederhana selalu apa adanya. Sesekali aku merasa miskin ditengah kemewahan itu, aku merasa gersang ditengah rimbun yang ternyata palsu. Aku mendengar pencapaian-pencapaian, aku bertepuk tangan, sesekali aku berbangga dan pasti aku bersyukur. Lalu, aku mendegar kisah-kisahnya, perjuangan yang tak pernah mudah, aku paham betapa tekunnya mereka menyiram agar bukan hanya rimbun namun pohon itu dapat tinggi. 

Quarter Life Crisis


Berjalannya waktu, aku memahami, meskipun pernah aku sesali karena menjadi terlalu biasa. Tapi seperti itulah, mana mungkin semua orang harus melalui jalan yang sama? Tanpa kamu saja, jalan itu sudah penuh sesak. Tentu, mungkin lebih baik jika ada kamu atau kamu akan turut menjadi palsu. Mendengar ceritanya secara bergantian saja sudah sangat menakutkan.

Diriku, kau adalah kebenaran yang aku pilih. Entah dengan alasan konyol ataupun perihal hati yang selalu ingin menang sendiri. Atau kepala yang tak pernah sempat berpikir jernih. Tentang semua hal-hal mewah yang terlewat karena kau lupa mencatat, bukankah kau juga menulis banyak hal-hal indah dan mengagumkan? 

Diriku, kau adalah wanita yang aku pilih. Entah dengan alasan-alasan lugu dan naif, kau sudah sangat jauh dan pasti mampu untuk lebih jauh. Kemampuanmu mendengar sungguh menakjubkan, bicara adalah hal mudah apalagi jika tak mengandung manfaat, tapi untuk mendengar banyak celoteh, kau sudah sangat tumbuh.

Diriku, kau adalah pemikiran yang aku pilih. Entah arah mana yang benar ingin kau tuju, hanya karena kau tak ingin salah dan menyakiti. Teruslah bingung dan hidup dari kebingungan itu, untuk terus membaca dan memahami.

Diriku, kau adalah tangan yang aku pilih. Entah berbalas atau hanya akan tercatat. Jangan peduli bahwa kau tak akan pernah mendapatkan piala atau medali yang bisa dipajang.

Jalanmu bukan jalanku. Aku mendengar kau berbangga. Jelas aku pun berbangga, kubuktikan dengan bersedia menjadi teman diskusimu. Perjalananmu terkadang aku ceritakan, jerih payahmu sering kali aku bagikan. Aku bingung bagaimana bisa pohon yang tinggi dan rimbun itu palsu. 

Ternyarta, tekun mencatat hanya menawarkan kemewahan. Ternyata rajin menyiram hanya menawarkan ketinggian. Berutungnya, kau sering mendengar dan menelaah. Beruntungnya kau sering mengulur tangan dengan tulus. 

Isi kepalaku, teruslah bertanya-tanya. Berisik itu wajar sebagaimana dulu kau selalu selu.

3 comments:

  1. tulisan yang bagus, pilihan kata yang keren

    ReplyDelete
  2. Bagus tulisannya, belajar sastra ya mbak?
    Tulisannya seperti tulisan anak2 sastra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan engga Mbak, cuma penikmat amatir aja hehe. Terima kasih sudah berkunjung Mbak!

      Delete