Wednesday, 6 March 2019

Rumah Kenangan

Hari itu aku lebih dulu menuju tempat dimana suara panggilan biasa berkumandang lima kali dalam satu hari. Langkah kakiku tak jauh, karena tepat didepan pekarangan aku baru turun dari mobil, dengan rasa lelah, aku berharap akan lillah. Setelah membersihkan diri dan sepenuh hati berharap niatku akan ikut bersih. 

Duduk di rumah yang masih sepi, setalah memberikan salam dengan dua rakaat salat sunnah. Aku tertegun, berlomba, berlintasan, seribu satu peristiwa, tentang rumah ini. Rumah Kenangan. Ayat-ayat dari pengeras suara menemani lamunan. Menyimak hidup anak kecil yang nakalnya tak sudah. 

Belum genap pukul 17.30 WIB, dia sudah rapi menggendong seperangkat kain penutup aurat, menunggu sang teman untuk bersama mengelilingi kampung dengan langkah-langkah kecil. Mengukur jalan kata warga yang setiap sore melihat sekawan yang tak pernah alfa berjalan sambil menyapa. Tepat sebelum sampai di rumah yang belum memanggil, mereka akan berhenti persis dipertigaan, untuk membeli kudapan. Pempek panggang namanya, makanan khas kota ini. Tempat dua sekawan ini dibesarkan, mereka sama-sama lahir jauh dari sana. Tapi, menekuni langkah, bermain dan belajar di Palembang. 

Sesekali, mereka bertemu Kakek dari si anak kecil atau Ayah dari teman si anak kecil. Berkali-kali, mereka diperdengarkan dengan pertanyaan "kalian mau ke rumah atau mau jajan?"

Si anak kecil sangat suka kudapan itu, "Mang, yang pedes ya."



Sesekali mereka menjadi yang pertama, membuka rumah yang melantunkan ayat-ayat suci. Mengambil wudu, lalu bercerita menunggu satu-persatu orang datang, dengan bercerita entah apa. Mereka sangat menikmati kebiasaan ini, setiap hari. Setelah menunaikan ibadah tiga rakaat, mereka akan duduk, bahkan berbaring untuk menunggu waktu selanjutnya. Mendengarkan Ibu-ibu mengaji. Iya, mereka berdua, berbagi banyak cerita. Saat ada pembacaan yasin, mereka akan sangat senang, biasanya ada kudapan yang dibagikan. 


Tak jarang, saat suara takbir diperdengarkan, itu adalah suara laki-laki yang serumah dengan mereka. Terlebih Bulan Ramadan, aktivitas ke rumah ini akan ditemani oleh lebih banyak teman lainnya dan yang pasti mereka akan bertambah banyak tingkah. Seperti membawa seabrek jajanan, mie sakura mentah biasanya menjadi menu wajib. Omelan Ibu-ibu sudah sangat akrab, berdesakan, berhimpit-himpitan. Seperti itulah, saat rumah sedang banyak tamu. Padahal biasanya, mereka bisa berlarian, hingga terjatuh dan bangun lagi.

Bertahun-tahun memiliki lebih dari tiga rute untuk sampai ke rumah, akhirnya kebiasaan itu hilang. Lebih baik di "rumah". 

Berpindah, si anak kecil terkadang iri dengan adik bungsunya, selepas salat sang Ayah hanya membiarkan si bungsu untuk melipat sajadah. Sedangkan anggota keluarga lain, harus menyebut nama Nya, duduk hingga rapalan-rapalan harapan selesai. 

Anak kecil itu terkadang masih menyempatkan untuk berkunjung saat jadwal kuliah merumahkannya sebelum senja. Bedanya, dia hanya akan pergi saat mendengar panggilan dan langkahnya tak lagi bertemankan sepasang kaki. Tapi, sibuk lebih sering membuatnya berkunjung seadanya. Benar, sekarang dia sudah berkunjung ke banyak rumah. Tapi selalu singkat, dia tak pernah lagi menunggu, berlama-lama, berbaris untuk bersalaman. 

Anak kecil, yang dulu nakal, ternyata sekarang semakin nakal. Dia kerap diam saat waktunya berkunjung tapi masih bepergian dengan makhluk. "Pasti si ini akan keberatan, kalo aku minta berhenti sebentar" pikirnya. Panggilan itu sering tak terpenuhi, tiang dari kehidupan terlampu sering gugur hanya karena kewajiban, diakhir waktu, dengan peluh.

Si anak kecil, mulai berharap bisa mengunjungi banyak rumah disetiap langkah kakinya yang semakin jauh pun semakin entah arahnya. Dia ingin bersujud dibanyak tempat, mengenang Ayah, alm. Kakek dan masa kecilnya. 

Panggilan itu datang, ternyata rumah ini mulai ramai. Aku masih terduduk, mendengarkan suara merdu pengingat kewajiban, betapa berharga semuanya. Tuhan, aku tak ingin ingatan seindah ini hilang, aku ingin hidup dengan rindu yang seperti ini, aku ingin mengulangi rindu ini setiap hari. 

Bagaimana bisa aku membuka, saat hatiku terlalu sibuk merawat rindu yang kian rimbun? Pastilah, kau harus yang terbaik.

No comments:

Post a Comment