Wednesday, 6 March 2019

Belajar Membuat Hidroponik

Hallo! Hai! Assalammualaikum.

Beberapa minggu lalu mendapatkan ilmu mengenai hidroponik melalui kegiatan learning by doing, hydroponic bersama teman kerja. Belajar sekaligus praktik tentang penyemaian serta keseluruhan langkah dalam proses penanaman dengan metode hidroponik. Sangat menarik, sangat menarik sekali, batinku. Ternyata cukup simple untuk mengisi waktu luang, terlebih sangat bermanfaat dan menyenangkan. 

Rencananya setelah kami belajar, kami akan memfasilitasi masyarakat desa dampingan untuk belajar cara pembuatan hidroponik. Singat cerita, rencana naik tingkat, sudah ada jadwalnya. Lalu, aku dan tim mulai mempersiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan hidroponik. Mencatat semua kebutuhan dan membelinya sendiri.

Bahan-bahan untuk pembuatan hidroponik tahap 1:
  • Rockwool (media tanam, terbaut dari batuan yang disentrifungal membentuk serat-serat)
  • Air
  • Gergaji kecil (alat potong)
  • Bibit sayuran (kangkong, bayam, sawi)
  • Wadah plastik
Saat membeli semua bahan diatas, aku kembali mendapatkan edukasi mengenai hidroponik. Langkah-langkah yang harus dilakukan lebih details. Tapi tetep aja saat besoknya harus jadi fasilitator aku masih ragu dan menanyakan teman kerjaku apakah punya waktu untuk menjadi fasilitator, mengingat ilmuku sangat minim. Setelah dikonfimasi bahwa beliau berhalangan, dua jam sebelum kegiatan, aku sempatkan membaca mengenai hidroponik. 

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air. Nutrisi yang ada pada tanah akan dicampurkan di air, jadi airnya itu sudah mengandung semua kebutuhan tanaman yang ada pada tanah. 

Keuntungan hidroponik, yaitu:
  • Efisiensi lahan, karena tidak menggunakan tanah
  • Kuantitas dan kualitas meningkat
  • Penggunaan pupuk dan air lebih efisien
  • Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah
Dengan ilmu seadanya, aku pun mulai membuka acara sore itu. Dengan  peserta sekitar tiga puluh orang. Diawali dengan rasa gugup, karena ternyata ada beberapa mahasiswa pertanian. Awalnya besar harapan kalo meraka paham tentang hidroponik, lalu aku bias mundur bertahap. Haha. "Bukan, kosentrasi saya, Kak" jawab mahasiswa yang lagi KKN itu.

Menerangkan secara singkat mengenai hidroponik dan pengenalan bahan-bahan untuk penyemaian

Peserta memotong rockwool

Setelah mengenalkan hidroponik secara singkat, kami langsung mempraktikannya. Seluruh peserta dibagi menjadi lima kelompok, setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk mengisi 3 potong rockwool dengan tiga macam bibit yang berbeda. Mulai dari membagi rockwool menjadi kotak-kotak kecil, kemudian membasahinya dengan air.

Peserta meletakkan bibit tanaman ke rockwool

Rockwool diletakkan diwadah yang penuh dengan air lalu diangkat atnpa diperas, dipindahkan ke wadah plastik, kemudian dari setiap kotak kecil rockwool sedikit ditekan menggunakan jari kelingking dan taburkan bibit sayuran yang akan ditanamkan. Untuk satu kotak kecil, kita bisa menanamkan lima butir bibit sekaligus. Proses ini memerlukan kesabaran, karena bibit yang digunakan cukup kecil.

Proses penyemaian ini akan berlangsung selama kurang lebih tujuh hari atau lebih, rockwool akan dipindahkan ke media hidroponik jika akar-akar dari tanaman sudah bermunculan. (ini akan aku tulis, setelah praktik yang kedua yah).



Details rockwool yang sudah ditanami bibit
Rockwool yang telah ditanami bibit akan menjadi tanggung jawab setiap kelompok untuk terus dijaga dan dirawat hingga minggu depan saat pemindahan ke media hidroponik.

Ilmu akan bertambah saat dibagikan, if you never try you'll never know. Do everything Rum, try it, with your heart, try your best, you can, yes you can!

Jadi tidak sabar untuk tahapan selanjutnya, lalu tidak sabar untuk pulang dan mencoba di rumah. Mengisi halaman rumah dengan hidroponik, menghias waktu kosong dengan bercocok tanam. Membayangkannya saja aku sudah sangat senang, membayangkannya saja sudah merimbun rindu, tentang Ayah yang seorang pecinta tanamanan, lulusan pertanian. Membayangkannya saja, aku sekelebat kembali, mengingat almh. Nenek yang rajin merawat aneka kembang hias. Ah, apa kabar pekarangan sempit rumah kita? Kini, cucumu terjebak rindu dan rasa ingin tahu yang sesak. Jalan buntu, antara ingin pulang dan terus berkelana.

Aku ingin kembali menulis.
Tentang syukur, mengenai pohon rinduku.

Selamat malam dari Indonesia bagian tengah.
Wassalammualaikum!


1 comment: