Sunday, 24 March 2019

An Introvert Man

Sunday, March 24, 2019 0 Comments
Hallo..
This is special for you.
Untuk kekuatan yang tumbuh dari hatimu.
Untuk kerja keras yang selalu kau rawat.
Hari ini kesedihan datang, dari segala sudut yang mungkin terbentuk di muka bumi ini. Tapi, tak seorang setan pun tahu, penyebab luruhnya air mata.


Dear, an introvert man.
Mungkin bertemu denganmu tahun lalu menjadi salah satu hal yang sangat patut aku syukuri. Kemudian menyadari bahwa kau juga menyukai buku, lalu penulis yang sama. 

Kau selalu sederhana dalam pandangku. Selalu saja bersahaja. Aku ingat saat pertama bertemu, kau dan jam tanganmu itu, selalu membuatku "APAAN SIH NIH ORANG?" Maklum aku baru di dunia itu, jangankan mengenalmu, namamu yang tenar itu tak pernah terdengar walau samar. 

Kemudian menghabiskan waktu bersama, dan kau masih saja tampak menyebalkan. Entah, angin tak pernah membawa kabar tentangmu atau kau terlalu pandai menutupi sinarmu.

Ternyata.. Kau pantas untuk hal baru itu. 

Hari ini, aku sadari seberapa kuat kau bergelumat melawan dirimu sendiri.
Untuk menyadari kita hanyalah manusia yang fana dan hina.
Hari ini, terima kasih sudah menceritakan perang-perang yang pernah kau lalui. Bukan karena kau selalu menang, tapi cinta selalu mampu menyeleksi orang-orangnya.

Kebanggaanlah untuk Ayah dan Ibumu.
Semoga terus menginspirasi anak manusia.

Ditengah hiruk-pikuk dunia yang merobek banyak prinsip pemula seperti kita.
Semoga jalinan saling membangun ini kian kuat.

Wednesday, 6 March 2019

Rumah Kenangan

Wednesday, March 06, 2019 0 Comments
Hari itu aku lebih dulu menuju tempat dimana suara panggilan biasa berkumandang lima kali dalam satu hari. Langkah kakiku tak jauh, karena tepat didepan pekarangan aku baru turun dari mobil, dengan rasa lelah, aku berharap akan lillah. Setelah membersihkan diri dan sepenuh hati berharap niatku akan ikut bersih. 

Duduk di rumah yang masih sepi, setalah memberikan salam dengan dua rakaat salat sunnah. Aku tertegun, berlomba, berlintasan, seribu satu peristiwa, tentang rumah ini. Rumah Kenangan. Ayat-ayat dari pengeras suara menemani lamunan. Menyimak hidup anak kecil yang nakalnya tak sudah. 

Belum genap pukul 17.30 WIB, dia sudah rapi menggendong seperangkat kain penutup aurat, menunggu sang teman untuk bersama mengelilingi kampung dengan langkah-langkah kecil. Mengukur jalan kata warga yang setiap sore melihat sekawan yang tak pernah alfa berjalan sambil menyapa. Tepat sebelum sampai di rumah yang belum memanggil, mereka akan berhenti persis dipertigaan, untuk membeli kudapan. Pempek panggang namanya, makanan khas kota ini. Tempat dua sekawan ini dibesarkan, mereka sama-sama lahir jauh dari sana. Tapi, menekuni langkah, bermain dan belajar di Palembang. 

Sesekali, mereka bertemu Kakek dari si anak kecil atau Ayah dari teman si anak kecil. Berkali-kali, mereka diperdengarkan dengan pertanyaan "kalian mau ke rumah atau mau jajan?"

Si anak kecil sangat suka kudapan itu, "Mang, yang pedes ya."



Sesekali mereka menjadi yang pertama, membuka rumah yang melantunkan ayat-ayat suci. Mengambil wudu, lalu bercerita menunggu satu-persatu orang datang, dengan bercerita entah apa. Mereka sangat menikmati kebiasaan ini, setiap hari. Setelah menunaikan ibadah tiga rakaat, mereka akan duduk, bahkan berbaring untuk menunggu waktu selanjutnya. Mendengarkan Ibu-ibu mengaji. Iya, mereka berdua, berbagi banyak cerita. Saat ada pembacaan yasin, mereka akan sangat senang, biasanya ada kudapan yang dibagikan. 


Tak jarang, saat suara takbir diperdengarkan, itu adalah suara laki-laki yang serumah dengan mereka. Terlebih Bulan Ramadan, aktivitas ke rumah ini akan ditemani oleh lebih banyak teman lainnya dan yang pasti mereka akan bertambah banyak tingkah. Seperti membawa seabrek jajanan, mie sakura mentah biasanya menjadi menu wajib. Omelan Ibu-ibu sudah sangat akrab, berdesakan, berhimpit-himpitan. Seperti itulah, saat rumah sedang banyak tamu. Padahal biasanya, mereka bisa berlarian, hingga terjatuh dan bangun lagi.

Bertahun-tahun memiliki lebih dari tiga rute untuk sampai ke rumah, akhirnya kebiasaan itu hilang. Lebih baik di "rumah". 

Berpindah, si anak kecil terkadang iri dengan adik bungsunya, selepas salat sang Ayah hanya membiarkan si bungsu untuk melipat sajadah. Sedangkan anggota keluarga lain, harus menyebut nama Nya, duduk hingga rapalan-rapalan harapan selesai. 

Anak kecil itu terkadang masih menyempatkan untuk berkunjung saat jadwal kuliah merumahkannya sebelum senja. Bedanya, dia hanya akan pergi saat mendengar panggilan dan langkahnya tak lagi bertemankan sepasang kaki. Tapi, sibuk lebih sering membuatnya berkunjung seadanya. Benar, sekarang dia sudah berkunjung ke banyak rumah. Tapi selalu singkat, dia tak pernah lagi menunggu, berlama-lama, berbaris untuk bersalaman. 

Anak kecil, yang dulu nakal, ternyata sekarang semakin nakal. Dia kerap diam saat waktunya berkunjung tapi masih bepergian dengan makhluk. "Pasti si ini akan keberatan, kalo aku minta berhenti sebentar" pikirnya. Panggilan itu sering tak terpenuhi, tiang dari kehidupan terlampu sering gugur hanya karena kewajiban, diakhir waktu, dengan peluh.

Si anak kecil, mulai berharap bisa mengunjungi banyak rumah disetiap langkah kakinya yang semakin jauh pun semakin entah arahnya. Dia ingin bersujud dibanyak tempat, mengenang Ayah, alm. Kakek dan masa kecilnya. 

Panggilan itu datang, ternyata rumah ini mulai ramai. Aku masih terduduk, mendengarkan suara merdu pengingat kewajiban, betapa berharga semuanya. Tuhan, aku tak ingin ingatan seindah ini hilang, aku ingin hidup dengan rindu yang seperti ini, aku ingin mengulangi rindu ini setiap hari. 

Bagaimana bisa aku membuka, saat hatiku terlalu sibuk merawat rindu yang kian rimbun? Pastilah, kau harus yang terbaik.

Belajar Membuat Hidroponik

Wednesday, March 06, 2019 1 Comments
Hallo! Hai! Assalammualaikum.

Beberapa minggu lalu mendapatkan ilmu mengenai hidroponik melalui kegiatan learning by doing, hydroponic bersama teman kerja. Belajar sekaligus praktik tentang penyemaian serta keseluruhan langkah dalam proses penanaman dengan metode hidroponik. Sangat menarik, sangat menarik sekali, batinku. Ternyata cukup simple untuk mengisi waktu luang, terlebih sangat bermanfaat dan menyenangkan. 

Rencananya setelah kami belajar, kami akan memfasilitasi masyarakat desa dampingan untuk belajar cara pembuatan hidroponik. Singat cerita, rencana naik tingkat, sudah ada jadwalnya. Lalu, aku dan tim mulai mempersiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan hidroponik. Mencatat semua kebutuhan dan membelinya sendiri.

Bahan-bahan untuk pembuatan hidroponik tahap 1:
  • Rockwool (media tanam, terbaut dari batuan yang disentrifungal membentuk serat-serat)
  • Air
  • Gergaji kecil (alat potong)
  • Bibit sayuran (kangkong, bayam, sawi)
  • Wadah plastik
Saat membeli semua bahan diatas, aku kembali mendapatkan edukasi mengenai hidroponik. Langkah-langkah yang harus dilakukan lebih details. Tapi tetep aja saat besoknya harus jadi fasilitator aku masih ragu dan menanyakan teman kerjaku apakah punya waktu untuk menjadi fasilitator, mengingat ilmuku sangat minim. Setelah dikonfimasi bahwa beliau berhalangan, dua jam sebelum kegiatan, aku sempatkan membaca mengenai hidroponik. 

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air. Nutrisi yang ada pada tanah akan dicampurkan di air, jadi airnya itu sudah mengandung semua kebutuhan tanaman yang ada pada tanah. 

Keuntungan hidroponik, yaitu:
  • Efisiensi lahan, karena tidak menggunakan tanah
  • Kuantitas dan kualitas meningkat
  • Penggunaan pupuk dan air lebih efisien
  • Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah
Dengan ilmu seadanya, aku pun mulai membuka acara sore itu. Dengan  peserta sekitar tiga puluh orang. Diawali dengan rasa gugup, karena ternyata ada beberapa mahasiswa pertanian. Awalnya besar harapan kalo meraka paham tentang hidroponik, lalu aku bias mundur bertahap. Haha. "Bukan, kosentrasi saya, Kak" jawab mahasiswa yang lagi KKN itu.

Menerangkan secara singkat mengenai hidroponik dan pengenalan bahan-bahan untuk penyemaian

Peserta memotong rockwool

Setelah mengenalkan hidroponik secara singkat, kami langsung mempraktikannya. Seluruh peserta dibagi menjadi lima kelompok, setiap kelompok diberi tanggung jawab untuk mengisi 3 potong rockwool dengan tiga macam bibit yang berbeda. Mulai dari membagi rockwool menjadi kotak-kotak kecil, kemudian membasahinya dengan air.

Peserta meletakkan bibit tanaman ke rockwool

Rockwool diletakkan diwadah yang penuh dengan air lalu diangkat atnpa diperas, dipindahkan ke wadah plastik, kemudian dari setiap kotak kecil rockwool sedikit ditekan menggunakan jari kelingking dan taburkan bibit sayuran yang akan ditanamkan. Untuk satu kotak kecil, kita bisa menanamkan lima butir bibit sekaligus. Proses ini memerlukan kesabaran, karena bibit yang digunakan cukup kecil.

Proses penyemaian ini akan berlangsung selama kurang lebih tujuh hari atau lebih, rockwool akan dipindahkan ke media hidroponik jika akar-akar dari tanaman sudah bermunculan. (ini akan aku tulis, setelah praktik yang kedua yah).



Details rockwool yang sudah ditanami bibit
Rockwool yang telah ditanami bibit akan menjadi tanggung jawab setiap kelompok untuk terus dijaga dan dirawat hingga minggu depan saat pemindahan ke media hidroponik.

Ilmu akan bertambah saat dibagikan, if you never try you'll never know. Do everything Rum, try it, with your heart, try your best, you can, yes you can!

Jadi tidak sabar untuk tahapan selanjutnya, lalu tidak sabar untuk pulang dan mencoba di rumah. Mengisi halaman rumah dengan hidroponik, menghias waktu kosong dengan bercocok tanam. Membayangkannya saja aku sudah sangat senang, membayangkannya saja sudah merimbun rindu, tentang Ayah yang seorang pecinta tanamanan, lulusan pertanian. Membayangkannya saja, aku sekelebat kembali, mengingat almh. Nenek yang rajin merawat aneka kembang hias. Ah, apa kabar pekarangan sempit rumah kita? Kini, cucumu terjebak rindu dan rasa ingin tahu yang sesak. Jalan buntu, antara ingin pulang dan terus berkelana.

Aku ingin kembali menulis.
Tentang syukur, mengenai pohon rinduku.

Selamat malam dari Indonesia bagian tengah.
Wassalammualaikum!


Saturday, 2 March 2019

-----

Saturday, March 02, 2019 0 Comments
Tidak pernah terfikir, hingga akhirnya bertemu. Semua nampak jelas, bagaimana ingin kuhabiskan waktu. Terlalu singkat, tapi benih itu tumbuh dengan cepat, menjalari tembok yang kubangun dalam hening. 

Tidak pernah terfikir, hingga akhirnya kudengar suara dari isi kepalamu. Hatiku seperti terketuk, aku tahu dengan siapa waktu ini ingin aku lewati. Sangat singkat, namun tatap pertama saat aku melihat langkahmu masih teramat jelas. Sesekali terulang.

Membangun hal kecil dengan ilmu dan iman. Membangun kebahagiaan. 

Kita akan menghabiskan waktu dengan diskusi-diskusi ringan, aku akan mendengarkan penjelasanmu dengan setumpuk rasa ingin tahu. Atau aku akan membacakanmu beberapa puisi sebelum tidur. Aku akan berbisik membangunkan saat azan subuh kan jelang. Lalu, kau akan menyimakku mengaji saat pulang dari masjid. Aku akan membuatkanmu sarapan, lalu kau akan menciumku dengan ridho saat akan pergi bekerja.

Kita akan bergantian terjaga untuk memperhatikan bayi kecil, anggota baru keluarga. Kita akan bergantian mengaji didalam kamar, bergantian mengekspresikan buku-buku cerita untuk si bayi. Aku akan sering mengajak si bayi bicara, menceritakan sang Ayah, sedari kecil, bercerita tentang kakek, nenek nya, serta semua orang hebat lainnya.

Kita akan pergi berlibur, memasuki museum-museum, berlarian di pesisir pantai, sesekali mendaki gunung untuk sampai di puncak bersama. 

Kita juga akan mendidik anak-anak dari masjid ke masjid. Mendengarkan anak-anak praktik cinta dan kasih sayang. 

Kita akan menikmati kehidupan sebagai ibadah. Aku akan .... Aku akan.

Tapi beriring waktu, jauh sebelum khayal ini mampu hidup. Aku tak lagi mampu membayangkannya. 

Satu-satunya yang kukira akan berhasil. 
Satu-satunya yang kupastikan bisa.