Friday, 30 November 2018

Hari pertama di Palu

Haloooo! Assalammualaikum.

Yeay. Kali ini aku mau berbagi c-e-r-i-t-a langsung dari Palu. Iya, Rumi lagi di Palu teman-teman. Mungkin akan sejenak rehat dari blogger gathering

Kok bisa sampe Palu sih Rum?

Sebenarnya, Rumi yang tak pernah mempunyai target secara duniawi, materi dan tidak realistis ini, akhirnya sadar dunia terus berputar dan dibeberapa sisi kehidupan, aku selalu berada ditempat yang sama, bahkan mengalami kemunduran. Kayaknya aku sudah mulai mengalami krisis kehidupan dalam artian yang lebih sempit. Perihal masa depan. 

Setelah sadar, penuh dengan kematangan aku mulai serius untuk mencari kerja, walaupun akhirnya aku masih mangkir kalo yang memanggil bukan yang benar-benar hatiku sukai. Padahal aku mau kerja apapun loh. Mau. Kenyataannya, terikat, berkomitmen, sangat sulit.

Akhirnya, aku fokus untuk ikut CPNS 2018. Gak perlu, tapi tahulah ya kalo sudah fokus, gaya belajarku bakal kayak apa. Wkwk. Hari test pun tiba, masyaallah, soal TWK, TIU nya mudah, semua diperlancar dengan Kuasa Allah, sampe TIU gak aku toleh lagi saat waktu ujian masih ada sisa. Aku yakin. Tapi nervous untuk submit. Sepuluh menit terakhir, aku gunakan untuk untuk membaca ulang soal TWK. TKP??? Ya, gak muluk namanya juga kepribadian. Memang kenapa sih kepribadianku? Toh jawabnya ya sesuai karakter dan formasi yang aku daftar. Ternyataaaaa. Setelah submit, nilai TKP nya kurang sist. Lucu. Bingung. Hahahahaha. Kepribadianku, tidak cocok untuk jadi ASN. Oke sip.

Rencana ke Bandung aku tunda, gak lulus test eh mau jalan-jalan. Aku masih punya hati kok.

Aku bingung, karena gak ada plan B untuk masa depanku yang abu-abu ini. Berusaha tetap yakin kalo semuanya sudah diatur Allah. I pray harder, I ask him with patient. Allah lebih tahu yang aku butuhin. Tapi tetap aku terkadang kumat, galau lagi. Padahal urusan dunia ini, kecil sekali bagi Nya.

Akhirnya teman baikku, mengirimi pesan. 

Mi, tertarik jadi relawan ke Palu? Tapi waktunya lumayan lama.”

Karena sepertinya ini tawaran... jadi aku bales. “Ada jalan? Kalo diizinin ortu aku mau.

Kenapa aku mau? Karena aku sempet ngerasa, udah bukan waktunya lagi membagi fokus di dunia kerelawanan. Bukan, I need to build my own career. Tapi, nyatanya, sekelas TKP aja aku gagal. Yaaa gagal, soalnya gak sulit dan kepribadianku, tidak ada masalah sepertinya yaaa. Allah gak ridho aja. Allah gak ngizinin lulus. Udah itu aja.

Singkat cerita, aku serahin semua urusan dunia ini dan berusaha setenang mungkin biar suara hatiku kedengeran. Sudah. Fix, aku mantep mau ke Palu dan sebagian orang yang tidak berkepentingan mulai mempertanyakan kewarasanku. Sabar, tunggu cpns dulu. Nilainya lumayan. YHA.

Bergabung dengan IBU Foundation

Sejak hari pertama ikut workshop bersama pihak donor, aku mulai merasa. “Wah, ternyata seperti ini. Child protection itu sedetails ini.” Selama ini aktif di SSCP, aku gak ada ilmu sejauh itu dalam memenuhi hak-hak dari anak. Banyak sekali rasanya ilmu yang bisa aku pelajari.

Dunia kerelawanan yang selama ini aku tekuni, ternyata memiliki konsep yang jauh lebih sistematis dan teratur. Sangat memperhatikan dan bertanggungjawab.

Hari Pertama di Palu




Tiba-tiba keinget tahun lalu, kepengen daftar program buat ke Sulawesi, tapi lebih milih Kalimantan karena tiket yang mahal :( sekarang Allah kasih rejeki untuk bisa ke sini. Perjalanan dari Bandung menuju bandara Soekarno-Hatta ditempuh dengan menggunakan Kereta Api yang kemudian dilanjutkan dengan naik damri. Sampai di Bandara 1C lepas Magrib dan harus menunggu penerbangan 2.30 pagi. Menghabiskan waktu dipelataran bandara. Terbang selama dua jam duapuluh menit, akhirnya kami sampai di Bandara Sis Al Jufri Palu. Hari pertama kami gunakan untuk beristirahat.

Hari Pertama ke Desa 

Kemarin, adalah hari pertama aku berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal yang ada di Sulawesi Tengah. Perjalanan selama satu jam dari basecamp menuju desa, kami disuguhi pemandangan yang indah sekali. Langit biru bersih, pantai yang panjang dan bukit-bukit yang menampakkan bahwa udara diluar sejuk nan dingin, tetapi tidak teman-teman. Di sini lumayan hangat. Yha, aku sudah pasti tidak kedinginan dan tak butuh pelukan. Wkwk.




Disambut ramah oleh pihak Desa, kami memperkenalkan diri dan mengenalkan program kami. Melihat keadaan di sini, rasanya, seluruh orang sedang bahu-membahu dalam kebaikan, membantu sebaik mungkin saudara di sini. Setelah pamit dengan pihak Kantor Desa, kami menyempatkan diri berkunjung ke salah satu dusun, yang kebetulan teman laki-laki harus menunaikan Salat Jumat. Sejak awal kedatangan, ada beberapa anak yang mulai mengikuti, dengan senyum simpul malu-malu di wajah masing-masing. Masih teringat, betapa fasihnya mereka memperkenalkan diri. Dengan malu-malu menjabat tanganku. 

Perkenalkan, nama saya Loli.

Kalimat perkenalan itu dilafalkan tanpa jeda, begitu yakin walau dibarengi rasa malu bertemu orang baru. Aku cukup takjub dengan anak-anak di sini. Kesopanan dan kepercayaan diri mereka. Ternyata di Desa ini TPA wajib diikuti untuk semua siswa SD. Rasanya hal yang sudah sulit ditemukan di kota-kota besar. Orang tua sangat peduli dengan nilai-nilai agama. Ketika Salat Zuhur di masjid, semua adik-adik perempuan yang dari tadi bermain dengan Hilma, mengikuti kami untuk menunaikan salat.

Mereka menularkan kehangatan, senyum penuh rasa ingin tahu. Hey, would you be nice? I’ll try my best.

Dear, Allah. I am here cause I am normal. I am human. 

Selama Engkau ridho, urusan dunia akan terasa mudah dan menyenangkan.

Selamat Pagi dari Palu.
Wassalammualaikum. 

No comments:

Post a Comment