Wednesday, 3 May 2017

[Review] Kita dan Rindu yang Tak Terjawab

             Jika pilihan tak mampu digenggam, akankah semesta memihak?

         Dari sampul buku, sepertinya orang-orang sudah bisa menebak dimana setting buku yang satu ini. Pemilihan cover yang menurutku, tepat sekali.

Assalammualaikummm.
Kali ini aku diajak mengenal Suku Batak melalui buku ini. Beruntung sekali, karena tidak seperti Bali yang aku udah punya sedikit prngetahuan. Kalo mengenai Suku Batak ini aku belum ada tau apa-apanya lah bang! Janganlah kau biarkan diri kau itu tak berpengetahuan nang! Bacalah buku ini, bagus untuk menambah wawasan kau. Hihi.

Dari buku ini aku belajar betapa kuatnya cinta. Meskipun sudah lama tinggal di Jakarta tapi keluarga Papa Batak tetap menjaga adatnya. Tetap melestarikan adatnya. Buku ini tidak mengajak kita berkeliling ke tanah Suku Batak dengan danaunya yang terkenal. Melainkan bagaimana keluarga Batak dalam menjaga keutuhan Sukunya dan menjaga sikap-sikap baik.
Buku ini memperlihatkan seutuhnya kasih dan sayang kedua orang tua kepada anaknya. Seiring selesainya beberapa step dalam hidup kita sebagai anak, orang tua juga ikut berbahagia dan terus mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk menikahkan anak dengan sebaik-baiknya calon yang ada.
Kita dan Rindu yang Tak Terjawab, mengisahkan Naiza, gadis Batak yang sudah mulai matang untuk sebuah Pernikahan Batak! Papa dan Mama Batak yang sedari kecil membesarkan Naiza dengan adat Batak sangat berharap jika Naiza akan berjodoh dengan laki-laki Batak dan menciptakan banyak pahompu.
Sidney, laki-laki Batak yang mulai bosan mencari pasangan sendiri. Kini mulai pasrah mengenai jodoh. Umur 32 tahun dan desakan orang tua agar segera menikah, dengan Batak pastinya membuat Sidney berusaha mendapatkan Naiza dengan sebisanya.
Tantra, laki-laki Jawa yang telah kenal dan tumbuh bersama Naiza semenjak berusia empat tahun. Tantra dan Naiza adalah sahabat yang sangat cocok. Namun dengan berlalunya waktu, Tantra menyadari sesuatu sekaligus menyadari satu hal lain. Dia bukan Batak!
Membaca novel ini sempat mebuatku bercerita dengan teman kampusku. “Aku lagi baco novel dan tokohnyo itu punyo sahabat dari kecik sampe lah kuliah masih sahabatan. Iri nian aku.” Hahahaha. Cerita ini beneran buat aku sedikit iri dalam kadar yang cukup pastinya. Hehe.
Novel ini aku khatamkan dalam waktu ynag cukup singkat karena cerita yang menarik. Tapi, tiga bab belakang aku merasa bosan dan cerita sudah bisa ditebak! But overall, siapa sih yang merasa gak seneng tau gimana Batak itu.
Btw aku ngarepnya dua Batak, Sidney dan Naiza bisa bersatu melahirkan banyak pahompu untuk Papa dan Mama Batak. Nanti marganya, Sinaga kan ya?
Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca gaes, waktumu tidak akan sia-sia loh. Waktumu bakalan lebih bermanfaat kalo baca buku daripada seliweran di Instagram. Sebagai pembaca yang baru baca satu, dua buku boleh kali ya aku menilai hehe. Untuk buku ini 7,1/9. Sayang sekali settingnya tidak memperkuat cerita seperti dua seri sebelumnya.
Wassalammualaikum.

No comments:

Post a Comment