Lalu.. Apa yang Dibutuhkan untuk Menilai Seseorang?



Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang? Apakah perjalanan jauh mengajarkan banyak hal? Seperti, bagaimana caranya menyapa? Menanyakan letak jalan tujuan. Apa yang dibutuhkan untuk melihat sepenuhnya, seseorang? Apakah percakapan ratusan ribu jam membuat lebih peka? Jika seseorang bicara sambil melirikkan mata ke kiri atas, berarti orang tersebut seorang visual. Yang lebih suka dengan hadiah ketimbang puisi panjang nan romantis.

Hidup menuntut kita untuk terus belajar, dari setiap karbondioksida yang dikeluarkan maka harus ada hal-hal baru yang dialirkan ke jaringan-jaringan otak. Hari-hari sekarang mungkin tak pernah terbayangkan, saat dulu ingin sekali menjadi orang dewasa. Yang tak dicari-cari saat siang hari, untuk sekadar tidur siang. Atau menahan diri untuk tidak keluar rumah, saat izin tak didapat. Yang terputar saat dulu hanyalah, saat dewasa bisa berpergian jauh dan punya banyak uang. Akan lebih didengarkan.

Malam sulit tidur, pagi susah bangun, siang menahan kantuk. Seperti ini ternyata menjalani hidup saat tak ada lagi yang mencari-cari, memaksa untuk tidur siang.  Dalam perjalanan terbayang-bayang, pohon nangka yang selalu berbuah di depan rumah. Kegiatan di pagi hari saat harus menyapu reruntuhan daun nangka yang menguning di jalanan depan rumah, menumpuknya di tempat sampah. Atau saat memanen buah nangka yang besar, memisahkan antara buah dan kulit, menyimpannya dengan rapi di dalam kulkas setelah dibagikan ke tetangga.

Padatnya jalanan kerap membuat waktu tidur harus dipangkas, menampilkan lamunan-lamunan jauh. Papan-papan reklame memuat promosi sebuah film, yang menjadi sebuah akhir dari kisah Anak Betawi. Sinetron kesukaan banyak orang, selalu diputar ulang di stasiun tv. Sehabis mandi adalah saatnya menonton. Duduk manis, melayangkan banyak rindu-pilu-biru yang tak seorang pun tahu.. dan ingin tahu. Kuku-kuku panjang harus dipotong, kemudian pindah ke teras rumah sekadar untuk merasakan hangatnya sinar mentari, dibantu tongkat yang sudah menemani sejak sebagian tubuh lumpuh.

Perjalanan malam, saat pulang. Berjalan lambat sambil menatap langit yang tak mampu memperlihatkan warna sebenarnya, pesona luasnya bentang hitam dengan titik cahaya, dari planet maupun kerlip bintang. Tepat di depan pagar rumah, sebelum malam larut akan duduk menatap langit, menebak-nebak hiasannya. Menukar cerita, yang tak selalu membawa keceriaan. 

"Lihat tiga bintang yang berderet itu, ada di sisi kanan dan kiri. Itulah mata bumi kita ini."

Lalu setiap kali ada waktu, mata-mata yang selalu membawa kembali itu sulit untuk ditemukan. Harus berlibur untuk melihat langit. Harus berlibur untuk menyempurnakan satu kenangan.

Jadi teringat, kenangan menghabiskan sisa-sisa malam di sebuah pasar, kedinginan sambil sedikit takut, menanti fajar dibawah pekat langit dan taburan bintang yang seakan dekat. Hari raya tanpa kekenyangan. Jauh-jauh melangkah, yang kutemui malah kekal yang tak pernah ingin usai.

Lalu... Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang?

Saat jauh pikirannya saja tak akan pernah sanggup digapai.

Comments

  1. Tidak berani menilai seseorang saya hihihi, karena manusia sejatinya punya dua sisi, baik dan khilaf meski kadang khipaf disengaja hahahaha.

    Jadi saya nggak mau menilai orang, eh selain orang-orang terdekat sih, ya ampun sama aja saya masih menilai ya? :D

    ReplyDelete
  2. Kadang rasa lebih banyak digunakan. Kadang pula, tak perlu menilai, cukup merasakan apakah seseorang baik, ikhlas dsb, he.

    ReplyDelete

Post a Comment