Friday, 26 April 2019

Cerita Pendampingan Psikososial: Desa Karawana

Hallo! Assalammualaikum teman-temanku! Hehe

Mari kita lahirkan sesuatu hari ini! Yha, belum bisa melahirkan bayi yang lucu, hangat dan menggemaskan, kita lahirin karya yuk! Cuzzzz!

Kali ini aku mau cerita tentang Desa Karawana! Yup, salah satu desa dampinganku saat melaksanakan pendampingan psikososial bersama Yayasan IBU. 

Desa Karawana terletak di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Desa Karawana berjarak sekitar 23 km dari Ibukota Provinsi, yaitu Kota Palu, jarak tersebut bisa ditempuh sekitar 50 menit menggunakan mobil atau motor. Karawana adalah salah satu desa yang terdampak oleh gempa yang terjadi pada 28 September 2018. Banyak rumah yang rusak berat, serta rusak ringan di desa ini.

Masih teringat hari pertama berkunjung ke Desa Karawana, disambut dengan cerita hangat oleh Sekertaris desa. Mulai dari karakter masyarakat yang sangat agamis, pemuda yang aktif serta betapa besarnya Kuasa Tuhan karena Desa Karawana masih berdiri dan kuat untuk bangkit setelah bencana yang menimpa. 

"Nak, tidak jauh dari kantor desa sementara ini. Dibelakang sana, ada satu desa yang hancur. Ada satu rumah ibadah yang bergerak jauh karena likuifaksi. Alhamdulillah kami semua selamat." cerita Pak Hasan didepan kami.

Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, kami berjalan mengelilingi desa untuk lebih mengenal desa yang akan kami dampingi beberapa bulan kedepan. Baru beberapa langkah, terdengar seorang Ibu yang memanggil. "Istirahat disini Nak, makanlah dulu di dapur umum ini." ajak beliau. 

Kaledo
Bersama dengan temanku, kami menikmati makanan khas daerah Sulawesi Tengah. Kaledo namanya, lumayan mirip dengan pindang tulang, salah satu makanan favorite dari Sumatra Selatan. Yang berbeda, kaledo kuahnya cukup bening dan rasa asamnya yang lumayan kuat serta disajikan juga dengan ubi rebus atau singkong rebus. 

"Ibu.. di Palembang ada juga makanan yang tebuat dari daging-daging dengan tulang seperti ini. Pindang tulang namanya." aku bercerita tentang salah satu makanan kesukaanku.

Mata pencahariaan masyarakat Karawana adalah bertani. Sepanjang desa terlihat, hamparan luas pohon kelapa yang indah. 

"Mbak, di desa ini matahari itu satu orang satu." ujar salah satu pemuda pecinta alam Desa Karawana.

Gaes, aseli Karawana ini hot sekali. Panase pol. Ternyata Allah adil, di desa ini, berdasarkan info dan pengalaman, matahari dibagi satu persatu untuk setiap warga dan pengunjungnya. Haha.

Selama berkegiatan kami dibantu oleh Komunitas Pecinta Alam dan Karang Taruna Desa Karawana.

Banyak hal yang berubah, bertumbuh, berkembang. Rasanya, aku tak pernah melihat ada sekumpulan pemuda atau pemudi di tempat tinggalku, yang masih berkumpul di sore hari untuk merencanakan suatu kegiatan. Yha.. Sesuatu yang baru bagiku.

Before
After
Selain melakukan pendampingan psikososial yang terfokus pada remaja, Yayasan IBU juga membangun RUMAH KENCANA (Ruang Ramah Anak Pasca Bencana) untuk memfasilitasi kegiatan dan seterusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat desa.

Proses mendirikan Rumah Kencana di Desa Karawana ini cukup lancar, luncur, melalui Ridho-Nya. Dari penentuan titik, lalu urusan surat-menyurat dan pembangunan venue yang aman terkendali. 


Pemandangan dari Rumah Kencana
Selama lima bulan melaksanakan kegiatan pendampingan, banyak sekali memori yang terajut. Beberapa terekam rapi menjadi ribuan gambar di handphone, beberapa masih lekat diingatan. Agar abadi, mari menulis! 

Mulai dari mengenalkan diri serta program, lalu sosialisasi dengan masyarakat desa, seperti pemerintah desa, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda. Bersama kami berusaha untuk kembali memiliki semangat seperti dulu, saat kegiatan-kegiatan selalu rutin diadakan di desa.

Lomba Makan Kerupuk
Pengenalan Makanan Sehat
Proses Menghias Rumah Kencana
Malam Puisi
Dari berbagai kegiatan yang dilakukan untuk mengembalikan rutinitas masyarakat, remaja khususnya. Kami melakukan banyak kegiatan, seperti perlombaan, sosialisasi, kerja bakti dan yang paling berkesan adalah Malam Puisi. Akhirnya bisa mengadakan kegiatan yang akuuu banget hehe, yang pasti semua kegiatan memiliki nilai tersendiri.

Malam Puisi menjadi wadah bagi masyarakat untuk berekspresi, mengeksplorasi perasaan melalui rangkaian aksara yang dibacakan. Banyak yang terpingkal, tertawa mendengar puisi jenaka dan terdiam bahkan menangis saat ada yang membacakan puisi tentang orang tua.


Anak-anak bermain di Rumah Kencana
Desa Karawana sangat khas dengan kudapannya, pisang goreng dengan sambal yang gurih. Nyaris setiap berkunjung kemi menyempatkan diri membeli pisang goreng.

Desa Karawana..
Kami bukan sekadar membangun Rumah Kencana
tapi kami menanam bibit semangat
untuk kembali bangkit

Kami tidak hanya meninggalkan untaian kenangan
harapannya setiap kebaikan akan terus berlanjut

Kelak perjalanan singkat ini, akan begitu manis ku kenang. Tempat belajar banyak hal, tempat bertemu banyak muka. Tempat melihat banyak keindahan. Tulisan ini hanya mewakili sedikit sekali dari ratusan hari yang aku lalui di Karawana, keindahan dan rasa syukur yang semestinya tidak akan bisa digambarkan dengan kata-kata.

Sampai jumpa!

No comments:

Post a Comment