Sunday, 11 March 2018

Save Street Child, Harapan untuk Indonesiaku

Heal the world make it a better place, for you and for me and the entire human race. There are people dying, if you care enough for the living, make a batter place.”

Dunia ini akan baik-baik saja.
Indonesia akan sepenuhnya merdeka.
Indonesia akan maju.
Indonesia akan makmur seutuhnya.
Anak-anak bangsa akan cerdas.
Kemiskinan akan terhapuskan.

Percaya? Harus.
Berdoa tanpa keyakinan, mana mungkin Allah kabulkan. Berusaha tanpa keyakinan, pasti tak akan tekun.
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang

Indonesia dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah dan masalah-masalah sosial yang kian menumpuk menuntut untuk diselesaikan. Indonesia dengan tingkat korupsi yang tinggi dan budaya malu pada diri sendiri serta Tuhan yang rendah. Indonesia dengan kesadaraan cinta akan lingkungan yang kurang. Indonesia, negara dengan masyarakat konsumtif. Indonesia, yang kurang sosok nasionalis. Indonesia yang carut, marut, kacau, macet dan miskin.

Tapi,
Indonesia tanah airku, tempatku dilahirkan. Lebih dari itu, Indonesia ragam dengan budaya yang penuh cinta. Indonesia negara yang merdekanya penuh perjuangan. Indonesia yang lahir dari tumpah darah pahlawan. Indonesia yang dibesarkan oleh guru-guru di pelosok negeri. Indonesia yang ditopang petani-petani di ujung perbatasan. Indonesia yang hidup dari nelayan-nelayan pesisir pantai. Indonesia yang tetap dijaga oleh mereka diperbatasan walau penuh keterbatasan. Indonesia yang tetap dinamis dengan ribuan gerakan kepemudaan. Indonesia yang tetap hidup dengan kepedulian-kepedulian. Indonesia yang selalu diisi dengan ide-ide cemerlang dari pemuda-pemudanya.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Lingkungan temapt tinggal adik-adik TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Indonesia yang penuh dengan orang-orang baik. Indonesia  penuh dengan orang-orang yang berkeyakinan. Indonesia penuh dengan pekerja-pekerja keras yang jujur. Indonesia penuh dengan ketulusan-ketulusan yang murni.
           
Indonesia.
Yang lahir dari sejarah.
Indonesia.
Yang lahir dari orang-orang berintegritas.
Indonesia.
Yang lahir dari sosok penuh cinta dan cerdas.

Aku mungkin masih belum paham akan sejarah negeri ini. Sejarah sebenarnya, tanpa ada yang dikurangi apalagi sosok yang dilupakan. (Sejarah, kenapa aku gak ambil jurusan sejarah aja ya dulu. Haha). Katanya tak setiap negara punya sejarah. Kita harus berbangga karena kemerdekaan diraih dengan penuh cerita dan derita.
           
Lalu,
Bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu?  
Atau
Sudahkah kita merdeka?

Aku berutung, karena keisenganku ikut paskibra SMP secara alamiah menanamkan jiwa-jiwa nasionalis. Belum hilang pedihnya pengalaman dijemur dan dibentak-bentak, SMA ikut paskibra lagi. Jangan ditanya gimana rasanya guling botol, makan cepet atau tidur dengan sepatu dan baju tebal. Mandi cepat dan air sedikitpun hal yang lumrah. Tapi, dari kegiatan seperti itu aku belajar menghargai, aku belajar menyesuaikan diri. Boleh bermanja-manja karena kita anak Ayah dan Ibu tapi jangan pula apatis karena kita juga anak bangsa. Alhamdulillah, siksa-derita-air mata, tidak sia-sia. (Insyaallah). Gimana pengalaman paskibmu teman? Meluap? Sia-sia? Masih suka buang sampah sembarangan?

Indonesia 2018.
Penuh dengan drama dari kaca mataku.
Tapi juga penuh dengan orang-orang baik.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Ruang Belajar Kelas Belajar Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Di Palembang, kota dimana aku dibesarkan. Puluhan komunitas sosial bersinergi bahu-membahu membudayakan kebaikan. Membudayakan berbagi tanpa mengenal lelah, seperti Jumat Sedekah. Kini sudah menjadi sebuah yayasan, kegiatan rutinnya membagikan nasi setiap hari Jumat untuk mereka yang membutuhkan, juga mengumpulkan donasi untuk orang-orang membutuhkan dan sering melakukan pasar murah. Ketimbang Ngemis, komunitas yang memberikaan bantuan kepada (terutama) lansia yang masih saja dengan gagah berani tetap mencari nafkah.

Budaya literasi pun mulai menjamur, menanamkan akar agar kelak kokoh dalam menemani usaha meningkatkan budaya baca anak bangsa. Sobat Literasi Jalanan, komunitas melapak buku. Selalu banjir pembaca, mengenalkan kembali nikmatnya buku.

Kelas-kelas belajar dari Komunitas Rumah Belajar Ceria, selain kelas belajar RBC sudah memiliki kampung yang dibina masyarakat sekitarnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan juga memiliki rumah jamur. Lalu, Relawan Anak Sumatera Selatan, yang fokus memberikan pendidikan tambahan untuk anak-anak penjual koran. Komunitas Peduli Kanker Anak dan Penyakit Kronis, komunitas yang ikut membersamai hari-hari anak-anak penderita kanker dan penyakit kronis untuk tetap mendapatkan ruang belajar dan cita-cita.

Banyak sekali. Itu hanya beberapa.

Save Street Child Palembang.
Dari komunitas ini aku belajar banyak. Aku belajar dari seorang mahasiswa kedokteran, yang entah bagaimana, beliau selalu punya waktu, rela dan ikhlas menyeberang Ampera untuk ke Sukawinatan. Dari beliau, aku beneran belajar bagaimana sebenarnya prioritas itu. Lalu, dari sosok yang lembut namun tegas dalam bersikap. Aku belajar bagaimana totalitas dalam beramal. Bagaimana kebahagiaan itu menular.

TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
TPA Sukawinatan, Save Street Child Palembang
Dari orang yang selalu ingin berbagi. Aku belajar bahwa hidup selalu menyajikan pilihan-pilihan baik. Selalu. Selalu. Bahwa Allah selalu menjawab doa-doa. Bahwa ingin Allah hanya sebatas Kaf dan Nun. Terjadi, maka terjadilah.

 Kak, Mbak, bagiku mengenal kalian seperti mengenalkanku dengan sisi-sisi baik dari diriku. Bahwa kebaikan harus ditemukan, disadari lalu dibangun agar kokoh.

Sampai kelak, semoga kita tidak lelah dengan kegiatan-kegiatan yang tak riuh, jauh dari tepuk tangan. Semoga kita tak menuntut, atas jerih yang tak dikenali oleh uang melimpah. Semoga kita, kelak akan melihat mereka pandai membaca, mereka hebat dalam berhitung, mereka lulus SMA, mereka diwisuda menjadi sarjana, lebih dari itu, semoga kelak mereka mencintai negeri ini. Mereka mencintai sesama, mereka mengasihi yang lemah, mereka menguatkan yang rapuh, mereka jujur tanpa cela, mereka berani, mereka menjelajah jauh menerapkan ilmu-ilmu dari kita.

Save Street Child Palembang, bukan hanya sebuah komunitas.

Save Street Child Palembang, sebuah perjalananku dalam mencari ilmu. Mengenal banyak kebaikan, merasakan cinta yang tulus, sebuah cerita yang bermakna. Selamat HUT ke-6. Semoga kelak, akan ada HUT ke-16; ke-26 dst.

No comments:

Post a Comment