Thursday, 28 September 2017

[Trip] Kehangatan di Kaki Gunung Dempo



Haloooooo, assalammualaikum^^


           Hari ini Palembang hujaaaaan seharian, dingin sekali. Mengingatkanku pada Pagaralam atau Semende yang berada di daerah daratan tinggi Sumatera Selatan. Kamis kali ini Palembang berduka, karena mantan Walikota Palembang. Alm. Romi Herton meninggal dunia di Serpong sekitar jam 3 pagi. Semoga segala dosa diampuni dan semua amal ibadah diterima ya Pak. Seperti hukumnya, kesalahan besar hanya dimiliki orang-orang besar.

Oke... kali ini aku mau throwback nyeritain pengalaman kedinginan di kaki gunung. Entah deh di kaki sebelah kanan atau kiri. Gunung Dempo. Mungkin Gunung paling populer di Sumatera Selatan, Gunung yang paling sering disambangi puncaknya oleh anak-anak pecinta alam. Karena kata mereka, muncak itu candu. Iya, kayak aku candu pada kata-katamu. Gak deng, kayak aku candu pada kopi hitam. Candu, kemudian rindu.
November itu, kami baru saja melalui satu tahapan menuju puncak gemilang cahaya selesainya satu MK di kampus. Dadakan, tanpa ada persiapan yang heboh kami berencana nge-camp di Kaki Gunung Dempo! Berbekal dua temen cowok yang udah pernah sampe puncak dan kelengkapan dokumentasi yang handal, aku beranikan diri untuk ikut. Lumayan habis ngerjain laporan yang tiada henti revisinya. Ngeprint sana-sini, kegiatan nginep yang jadi kamuflase buat main uno dan remi doang, berangkatlah kami berdelapan sepulang ngampus langsung ke terminal bus menuju Pagaralam.
Pergi jam 2 siang dari Kertapati, kami sampai jam 10 malam di rumah Ayah Anton. Salah satu, kuncen Gunung Dempo. Kalo nggak salah mengingat, waktu itu Ayah dalam keadaan masih berduka karena ditinggal Istri beliau menghadap Allah swt. Kelelahan karena berjam-jam didalam bus langsung terbayar cash saat sampai dipelataran rumah Ayah Anton. Kerlap-kerlip lampu Kota Pagaralam terpancar jelas dari rumah yang memang jauh lebih tinggi dari kota. Hal ini sulit ditemui di Palembang. Menginap untuk beristirahat dibelakang rumah Ayah, mengalami kedinginan yang lumayan menusuk. Padahal sudah tidur dengan perlengkapan yang sesuai intruksi.
Keesokan harinya, jam 8 pagi kami pamit untuk menuju Kampung Empat namanya. Tempat dimana titik terakhir terdapat rumah warga dan mushola. Kami menuju Kampung Empat dengan menumpang Truck pengangkut pemetik teh. Jalan yang dilalui menanjak berliku dan tak mulus. Alhamdulillah semua itu dilalui bersama teman. Andi yang tak henti membunuh waktu dengan “Aku ado cerito”. What a great moment to remember, Ndik. Guncangan-guncangan diatas truck itu terlewati dengan apik bersama, ada ketawa yang lepas, ada topi yang terhempas, ada rasa yang lekas. Pemetik kopi yang tersenyum simpul, menghangatkan udara yang kian dingin saat keberadaan kian tinggi sedang mentari belum bersinar sempurna.
Sampai di Kampung Empat, disambut dua anjing lucu dan hamparan tanaman daun bawang. Disini ada pos peminjaman perlengkapan mendaki dan warung makan. Di pos itu setiap pendaki wajib melapor kalo hendak mendaki, ruangannya cukup luas dihuni oleh beberapa orang yang memelihara anjing lucu tadi. Ada kamar mandi dengan air super dingin, dapur disebelah kanan serta beberapa perlengkapan mendaki. Karena rencana ini cukup dadakan, kami tidak membawa perlengkapan yang cukup memadai dari Palembang. Hanya beberapa sleeping bag. Jadi kami menyewa dua tenda, sleeping bag dan hammock. Ternyata harganya lumayan jauh lebih mahal dari penyewaan di Palembang. So pasti karena tingkat urgensinya beda. Wkwk
Di depan tempat Pelaporan untuk ijin mendaki, ada penyewaan perlengkapan mendaki. Pretty sure, I'm forget the name. In frame (Ilham, Rumi, Roby, Diah, Andi)
Perjalanan dimulai jam 10 pagi, kami hanya diajak melewati pintu rimba. Tapi, jalannya begituuu. Ah, alhamdulillah semua sampai dengan selamat. Perjalanan dua-tiga jam itu lucu sekali. Berkali-kali teman-temanku terjatuh, terpeleset. Mungkin sepatu yang digunakan kurang tepat. Because we are newbie. Kali itu aku hanya beruntung karena menggunakan stepa hehe. Sejauh perjalanan aku mengekor Purbaya sebagai pemimpin perjalan, aku jauh melesat didepan. Perjalanan melalui gerimis hujan, membuat udara semakin dingin dan lelah semakin menyergap.
Sampai di pelataran tempat tenda akan dibangun, keadaan kami semua sudah kuyup diguyur hujan. Disana terparkir Avanza putih dan satu tenda yang riuh suara gitar. Seisi tenda mulai menyapa, satu-persatu. Kami mulai membangun tenda, satu tenda khusus perempuan dan satu untuk laki-laki. Saling berhadapan. Hujan terus turun, kami berkumpul di satu tenda untuk menyantap makanan dan as always maen setsot! Satu tenda mungil diisi delapan makhluk hidup. Hangat sekaliii.
Menjelang sore, kami sudah berkenalan dengan pemilik tenda sebelah. Hanya Kak Wawan yang namanya terniang sampe sekarang. Hai Kak Wawan!!! Sore itu tiba-tiba ada mobil yang datang dan memberitahu kalo besok akan ada perlombaan diarea Gunung Dempo ini. Aku lupa lomba apa, the point is ditempat kami membangun tenda akan dibangun tenda untuk keperluan besok. Tenda tim sar yang besar, alhamdulillah karena tenda-tenda mungil kami bisa masuk didalem tenda yang lumayan melindungi dari terpaan angin malam. Malam datang dengan dinginnya, malam datang dengan riuhnya. Didalam tenda kami jadi bergabung dengan kakak-kakak dari tenda sebelah. Makan bersama, bercerita dan bernyanyi ria. Mengenal orang baru selaalu menyenangkan. Kami bahu-membahu menjaga nyala api, untuk menghangatkan sekaligus menerangi. Dingin begitu menusuk karena kurang safety. Malam habis dilalui dengan nyani-nyanyi didepan nyala api yang tak lagi besar. Lewat tengah malam kami keluar untuk melihat hamparan bintang dan cahaya dari Kota Pagaralam, lalu mengabadikannya lewat kamera.

Kedinginan....
About 2AM
Lelah yang melingkupi tubuh, membuat moment sunrise terlewaaatt. Ah, hari itu hujan masih saja turun. Kami enggan keluar tenda. Sorenya kami bermain air dibelakang tempat kami mendirikan tenda, sedikit turun kebawah ada mata air dengan batu yang membentuk perosotan. Seperti biasa, sebenarnya aku takut sekali untuk ikut merosot. Tapi, kalo gak sekarang. Kapan lagi. Perosotan alami itu kira-kira setinngi 2 meter, langsung kekolam dengan dalam sekitar dua meter dan diameter satu meter. Airnya(?) Brrrrr.
Alam selalu memampu mengembalikan lagi hal-hal yang mungkin tanpa disadari mulai melayang pergi karena hiruk-pikuk perkuliahan dan ibukota. Hijau yang dingin berhasil menghangatkan jiwa muda kami. 
Dempo! Suatu hari nanti aku akan berada di puncakmu! Bukan karena aku ingin memamerkan foto-foto cantikku. Tapi, karena perkenalan ini terasa belum purnama. Kelak, ijinkanku meminangmu dengan semangat dan ketulusan belajar. Belajar, bahwa alam kan selalu baik-baik saja tanpa manusia. Bahwa alam tidak membutuhkan manusia, sejatinya manusialah yang bergantung dengannya.
Beautiful view and I.
<3
Ternyata kita bersembilan. Too lazy to make it right! WKWK
CSEA<3 In frame (Rumi, Salsa, Diah)
Sempat kehabisan bahan makanan, aku mengekor dua temen Kak Wawan untuk pergi mencari sayuran. Perjalanan lumayan jauh dan naik-naik ke kebun warga, pastinya sudah izin dong yaaa. Hehe. Kami menuju kebun kubis yang ditanam dilereng-lereng gunung yang menanjak. Sampai dihamparan kubis, wah rasanya bahagia sekali memetik kubis bersama dua lelaki asing. Wkwkwk. Sedikit takut tapi kapan lagiiiiii. HAHAHA. Kubis itu lalu dimasak dengan ditumis tapi berkuah, menggunakan bawang dan cabe. Entahlah hari itu rasanya begitu enak, nikmat.
Keesokan paginya, kami pulang ke rumah Ayah Anton. Ternyata dari tempat ngecamp ke Kampung Empat cukup berjalan kaki selama 30 menit tanpa harus melalui jalur pendakian. Tapi, kalo gak gitu kapan lagi kan ya. Sempat terlantar di Kampung Empat, kami sampe di rumah Ayah Anton dengan diantar Kak Wawan. Oh iya, nasi goreng Kampung Empat juara sekali. Seperti nasi goreng masakan almh. Nenek yang memang asli Pagaralam.
Foto bersama teman-teman Kak Wawan sehabis makan nasi goreng Kampung Empat!
Sampai di rumah Ayah Anton kami langsung istirahat. Menghela dingin dengan tidur bersama pakaian berlapis-lapis. Sorenya aku dijemput sepupu mamaku untuk bertandang ke rumah adik almh. Nenek di Jemaring. Sudah lama sekali tidak berkunjung, semenjak almh sakit. Mudik sudah tak pernah lagi. Bertemu keluarga jauh, disambut sebaik-baiknya. Ahhh, rasanya keluarga dan teman memang anugerah yang indah.
Lepas magrib kami bertemu di loket bus menuju Palembang. Berangkat malam hari dari Pagaralam, subuh sampai di Kertapati. Tepat tanggal 6 November. Hari ulang tahun Diah.
Perjalanan yang indah, cerita renyah yang akan dikenang dan dibagikan. Selama perjalanan solat banyak tinggal. Managemen solat emang sulit bagiku saat lagi dalam perjalanan. Semoga kelak bisa jalan-jalan tanpa meninggalkan solat ya Rum! Terima kasih teman-teman, apapun aku bagi kalian. Kalian adalah orang-orang yang ikut serta menjadikan aku seperti saat ini. See ya on top, in the jannah track!
With Love,
Perjalanan yang telah lalu, nyaris satu tahun lalu.
Harumi, Rumi, Mi, Mik.
Whatever you all name me.
Wassalammualaikum.

No comments:

Post a Comment