Saturday, 7 December 2019

#GintungMemanggil Bersama Komunitas Plastik Untuk Kebaikan

Saturday, December 07, 2019 2 Comments
Banyak hal yang membuatku suka menonton Drama Korea, selain ceritanya yang unik dan mengangkat banyak issue, juga karena pola hidup masyarakat Korea Selatan yang mandiri dan rapi. Nonton bukan hanya sekadar nonton, tapi juga belajar hal-hal baik serta mengasah pola pikir. Hehe. 

Salah satu pola hidup masyarakat Korea Selatan yang menginspirasi adalah budaya memilah sampah. Adegan membuang sampah banyak sekali di drama-drama yang sering aku tonton. Mulai dari membuang sampah sesuai jenisnya di dalam rumah, sampai membuangnya pada tempat pembuangan sampah di kompleks perumahan dll.

Sampah sudah menjadi issue yang hangat di dunia ini, terutama sampah plastik yang mengotori lautan. Indonesia sendiri menjadi negara nomor dua penghasil plastik terbesar di dunia sebanyak 30 ton pertahun. Tentu saja hal ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan edukasi mengenai sampah yang belum maksimal. 


Kepedulian Yang Selalu Ada

Saat ini sudah banyak yang peduli dengan lari-nya sampah baik sampah rumahan hingga produksi skala besar, seperti rumah makan bahkan pabrik. Kepedulian ini lahir dari setiap elemen, baik pemerintah, masyarakat, bahkan para millennials. Banyak komunitas-komunitas dengan serius memberikan edukasi mengenai sampah, bahkan menawarkan berbagai macam solusi pengolahan sampah serta menanamkan motivasi pada masyarakat umum untuk peduli dengan sampah yang mereka hasilkan. 

Minggu lalu, saya bersama teman-teman blogger berkesempatan untuk ikut langsung aksi nyata membersihkan Waduk Gintung dari sampah-sampah plastik. Acara ini diikuti oleh banyak orang, mulai dari anak-anak, millenials, ibu-bapak. Acara #GintungMemanggil ini dilaksanakan oleh Komunitas Plastik Untuk Kebaikan. Terbayang kan? Namanya saja sudah menjelaskan tujuannya.

Komunitas Plastik Untuk Kebaikan

Komunitas yang terbilang baru ini, cukup membuatku kagum. Berdiri sejak 10 November 2019 dan saat ini sudah mempunyai mobil operasional sendiri. Menandakan keseriusan. Apalagi banyak Ibu-ibu yang menjadi penggeraknya. 

#GintungMemanggil adalah sebuah acara untuk menyusur Waduk Gintung, membersihkannya dari sampah plastik. Sebelum memulai, kami diberikan edukasi singkat mengenai sampah plastik. Sampah yang memiliki nilai ekonomis langsung seperti botol air mineral dan sampah plastik lainnya. Kami dibekali dengan dua kantong sampah setiap kelompoknya, untuk mengambil sampah di pinggiran Waduk Gintung dan mengelompokkannya.


Kami memilah sampah pastik yang memiliki nilai ekonomis,  yang akan ditukarkan dengan sembako saat sudah selesai. Kegiatan ini selain membersihkan Waduk Gintung dari sampah, juga menjadi aksi nyata bagi masyarakat sekitar untuk peduli lingkungan dan memanfaatkan sampah plastik.


Diatas adalah Mobil Sembako dari Komunitas Plastik Untuk Kebaikan, mobil ini baru beroperasi di daerah Tanggerang Selatan saja. Biasanya setiap Sabtu dan Minggu, nah mobil ini operasionalnya dibantu oleh beberapa volunteer. Kalo temen-temen mau jadi volunteernya, bisa langsung cek ig-nyaa ya! 



Sampah-sampah plastik yang dikumpulkan dapat ditukarkan dengan sembako sesuai dengan timbangan dari plastiknya. Banyak sekali masyarakat sekitar yang ikut serta membawa kumpulan sampah plastiknya untuk ditukarkan. 


Sudah banyak masyarakat yang peduli dan memilah sampah rumahnya. 

Sesaat setelah sampai di Mobil Sembako, aku sempat berbincang dengan salah satu anggota Komunitas Plastik Untuk Kebaikan, ternyata program peduli sampah seperti ini sudah marak sekali dilakukan, terutama oleh pemerintah. Dengan sangat serius. 

"Ada ya Mbak, di satu daerah itu, kita sudah edukasi masyarakatnya, untuk membuang sampah berdasarkan jenisnya, sampah plastik, organik, anorganik seperti itu. Kalo masyarakatnya tidak sesuai saat membuangnya. Yaa kita gak angkut sampahnya, biar menumpuk."

Ngobrol sambil bayangin Drama Korea dong, wih udah kek di Korea Selatan aja nih. Asik banget dengerin ceritanya. 

Untuk peduli dengan bumi ini, kita semua harus turut serta, aksi nyata, mengedukasi dengan sabar dan konsisten. Pemerintah ke masyarakatnya, masyarakat ke sesama, orang tua ke anak atau sebaliknya. 

Nothing wrong with plastics, the way we manage its waste that matters. Plastik gak salah, kadang sulit juga untuk mengurangi penggunaannya kalo lagi kepepet, tapi cara kita "melarikan" plastik yang bisa memberikan dampak. Tinggal pilih mau membuangnya di tempat yang tepat, atau ikut serta mengotori lautan.