Thursday, 27 September 2018

Rumi, kapan menikah?

Heyyyyy, hallo! Assalammualaikum.

Sebentar lagi angka itu akan bertambah, satu titik baru untuk garis-garis lain. Tapi, masih banyak hal yang belum selesai dan tetap tertutup. Berada di lingkungan yang semua orangnya bisa menikmati hidup dengan cara baik membuatku menikmati hidup ini dengan sangat baik juga. Aku sangat menikmati dan bersyukur.

Bebas dan bisa memilih.

Aku mungkin orang yang sangat nyaman dengan kebebasan. Selama jalan hidupku, kedua orang tuaku memberikan kepercayaan yang sangat berharga, jauh lebih penting dari setumpuk materi. Iya, kepercayaan. Aku bisa memilih hal yang aku suka, aku bisa pergi ke tempat yang kuingini, aku bisa membaca banyak buku, aku bisa hadir dan mendengarkan ruang-ruang yang kusuka, aku bisa bertemu siapa saja. Tak mungkin jika tanpa kepercayaan Mama Papaku.

Kepercayaan yang selalu kujaga.

Selain menginginkan Mama Papaku terus sehat dan tak menangis karena apapun itu. Aku tidak ingin mereka kecewa. Aku tak ingin membuat pertanggungan mereka bertambah, di dunia maupun di akhirat. Lebih baik diam daripada mengatakan kebohongan dengan orang tua. Kutemui hanya orang baik, kuhadiri tempat-tempat yang juga akan turut menjagaku. Tak kubiarkan tanganku tersentuh nafsu. Karena aku, sungguh cinta dengan kedua orang tuaku dan menyanyangi semua kepercayaan mereka.

Hal-hal indah ini terlalu nyaman. Keluargaku tidak pernah menanyakannya, tapi beberpa orang mulai mengajukannya. Mungkin mereka penasaran. Atau mereka tidak sabaran. Akupun biasa saja. Sampai tiba, seorang teman, seorang laki-laki.

“Tahun depan, Rumi pengen ini. Terus kayak gini dan kayak gitu. ......”

“Rum, kamu gak mau nikah?”

Kuyakini ini bukan pertanyaan iseng.

Menikah.

Sempat miliki keinginan menikah muda. Tapi gimana dong udah gak muda lagi. Hehe. Beriring waktu, Allah maha baik, dibukakan hatiku, diizinkan aku berfikir. Kuyakini jodohku bisa siapa saja, kupastikan aku hanya menunggu sang jodoh. Bukan dia yang baik tutur katanya, bukan dia yang cerdas, bukan dia, bukan dia, tapi kamu. Biarlah jodoh, menjadi rahasia Allah hingga kelak si jodoh berani meminang dengan cara yang benar dan tepat. Jangan diterka, jangan diharap. Biarlah doa itu tak menyebut nama. Biarlah diri ini terus memperbaiki setiap kebaikan yang diinginkan.

Menikah bukan hanya tentang rasa lelah yang bisa dibagi dengan halal. Bukan tentang adanya tempat bersandar. Menikah tak sesimple itu dalam pandangku.

Menikah, bagi seorang permpuan berarti berubahnya haluan.  Dari mendengarkan pinta Ayah dan Bunda akan mendengarkan kata-kata dari lelaki yang disebut suami. Bukan hal yang mudah, pun tak sulit. Hanya saja yang tepat untuk terus mampu menjaga harga diri perempuan yang dia minta dan harap dari kedua orang tuanya, sangat sulit. Karakter seperti ini mungkin langka. Karena menikah bagiku, aku akan memiliki satu pasang orang tua lagi, yang akan aku hormati seperti orang tuaku, yang akan aku cintai seperti orang tuaku, yang tak akan luput namanya kusebut dalam doaku. Aku ingin keluargaku bertambah. Aku ingin dia tetap mendengarkan Ibunya tanpa pernah menyakiti hatiku. Aku ingin mendukung keputusan-keputusannya yang bijak.

Surga pada ridho suami. Tak pernah bisa kubayangkan, jika suatu saat aku harus mengamini sesuatu yang jelas salah. Aku harus mengalah untuk sesuatu yang tak baik. Atau aku terpaksa melakukan sesuatu, walau baik tapi aku terpaksa. Ilmu itu penting, adab nomor satu. Kubayangkan, jika suatu saat bisa kulepas semua dunia, hal-hal yang mudhorat, jelas karena tidak ada manfaatnya untuk akhirat, tapi dengan hati yang ikhlas. Karena aku paham kesederhanaan pun bisa membuatku bahagia, karena aku mengerti tujuan dari hidup. Ini satu hal yang selalu aku coba sendiri, tapi selalu gagal, aku rasa perlu teman untuk mendatangkan keikhlasan dengan ilmu dan adabnya.



Anak-anak wajib terdidik. Banyak yang mengira aku sangat siap menikah. Hahaha. Hanya karena aku suka anak-anak, padahal sudah dari SMP. Ilmu yang terbatas, aku selalu khawatir bagaimana cara mendidik anak-anakku kelak. Bagaimana menjaga mereka dengan baik tapi tetap, mereka bisa bebas dan memilih. Bagaimana cara merawatnya kelak. Bagaimana agar anak-anak mendapatkan haknya, Ibu yang baik, Ibu yang cerdas. Rasanya sangat sulit sekali. Tanggung jawab yang terlalu rumit. Aku ingin anak-anakku memakan masakanku, aku ingin kelak mendapat pujian bahwa masakanku adalah makanan paling enak di dunia. Aku ingin anak-anak sarapan dengan makananku. Aku ingin mereka belajar mengaji denganku, lalu aku bisa mengajarkan mereka mengerjakan tugas sekolah. Aku ingin, hal-hal indah bisa kupenuhi dengan kecakapan.

Kusadari semua perlu ilmu. Semua butuh waktu untuk belajar.

“Rum, kita harus mulai membuka diri.”

Kata siapa aku menutup diri? Aku membukanya, jelas, hanya untuk sang jodoh. Hahaha. Tidak ada khawatir, kita semua akan menikah pada waktuNya. Tepat.

Pernah melihat pasangan muda, berantem. Terus suami teriak-teriak. Pernah, mendengar suami meminta sesuatu tanpa mengucapkan kata tolong, apalagi terima kasih. Pernah, melihat istri menangis dan menyumpahi suami. Pernah, melihat sang Ibu bertengkar dengan istri. Bukan seperti itu pernikahan yang diharapkan, aku rasa oleh semua orang. Terutama, aku.

Sudah terjawabkah pertanyaan saudara?

Wassalammualaikum!

3 comments: