Thursday, 28 June 2018

[Review] Mata Hari karya Paulo Coelho


Selama seperempat detik, Mata Hari tetap tegak. Dia tidak mati seperti yang kulihat di film-film setelah orang ditembak. Dia tidak terjerembab ke depan atau ke belakang, dan tidak mengangkat kedua tanggannya. Tubuhnya merosot ke tanah, kepalanya tetap terdongak, matanya terbuka. Salah satu prajurit pingsan.

Kemudian lututnya melemas dan tubuhnya jatuh ke kanan, kedua kakinya tertekuk di bawah mantel bulunya. Dan dia tergeletak di sana, tak bergerak, dengan wajah menghadap langit.

“Mata Hari sudah mati.”

Yeay, Assalammualaikum. Senang sekali, bulan ini aku punya banyak buku baru. Hehe, pun beberapa sudah selesai aku baca. Salah satu yang paling menarik dan berkesan adalah buku dari Paulo Coelho, Mata Hari. Alasan membeli buku ini, pertama, karena pernah baca biografi singkat si Margaretha Geertruida Grietje Zelle di buku 10 Agen Rahasia Wanita Terpopuler karya Merry Magdalena. Buku yang dibeli beberapa tahun lalu. Alasan selanjutnya karena ini buku karya Paulo Coelho, penulis kesukaanku. Penulis yang dengan baik hati mengajakku ke Festival Film Cannes melalui bukunya The Winner Stands Alone.

Mata Hari karya Paulo Coelho

Aku tipikal yang kalo milih buku, pertama banget liat judulnya. Kalo menarik, aku baca sinopsis singkatnya dibagian cover belakang, kalo aku rasa bakalan kuat setting tempatnya atau misteri campur sejarah pasti aku beli. Hehe.

Pada saat itu, namaku pasti sudah lama terlupakan. Tetapi aku menulis bukan untuk diingat. Aku sendiri sedang memahami situasiku.

Dalam buku Mata Hari, ceritanya ditulis dengan penuh kehati-hatian, mengalir dan penuh misteri. Mata Hari melambangkan perempuan yang bingung dan putus asa, sekaligus perempuan yang penuh ambisi dan keberanian.

Mata Hari lahir dengan nama Margaretha, 7 Agustus 1876 di Belanda. Lahir dari keluarga kaya, Margaretha membeci keadaan ketika keluarganya harus bangkrut. Usianya 16 tahun saat pertama kali harus mengalami pelecehan seksual, oleh kepala sekolahnya sendiri. Saat itu Margaretha mulai hidup dengan rasa takut dan bingung yang perlahan tumbuh bersamanya. Marghareta mulai terkenal karena tariannya di sentreo Leiden.

Berharap dapat menemukan jati dirinya, Margaretha mencoba membalas iklan dari seorang perwira yang sedang mencari istri untuk diajak tinggal di Indonesia. Lautan asing dan eksotis pikirnya, Margaretha mengirimkan surat serta foto terbaiknya. Hingga akhirnya pernikahan digelar dan hiduplah di Indonesia. Kondisi ekonomi membaik dan kelas sosial Margaretha pun meningkat, menjadi keluarga bangsawan militer terhormat. Sayangnya, Rudolf, sang suami ternyata pemabuk dan pemarah. Margaretha menghadapi hari-hari yang hampa di rumah, tanpa cinta yang diharapkannya. Sampai dengan suatu hari, di sebuah pesta Margaretha menyaksikan seorang istri perwira teladan menembak mati dirinya sendiri. Istri perwira teladan yang dihormati serta disukai banyak orang, sebelum mematukkan pistol istri perwira berkata.

“Tubuhku boleh terus bernapas, tetapi jiwaku sudah mati. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, juga tidak bisa membuatmu mengerti bahwa aku memerlukanmu di sisiku.”

Peristiwa itu menyadarkan Margaretha akan hidup yang dijalaninya. Dia terkekang, jauh dari kebebasannya. Mulai saat itu, dia berani untuk membebaskan dirinya, dengan terus mengingat kematian istri perwira.

Dengan mengancam Rudolf, Margaretha sekeluarga kembali ke Belanda. Namun bukan itu yang dia harapkan, bertemu istri tiri ayahnya, mendengar tanggisan bayi, jiwanya ingin bebas. Margaretha memimpikan Paris sebagai kota tujuannya, untuk kembali menari, terkenal dan mengenakan kemewahan. Saat itu perang mulai terjadi, Belanda adalah salah satu negara yang netral. Demi kebebasan yang diinginkannya, Margaretha, memperkenalkan diri sebagai Mata Hari. Dia menjual tarian-tarian yang dipelajarinya di tanah Jawa. Mata Hari, perempuan cerdas namun malang. Mata Hari dituduh menjadi agen rahasia atau mata-mata Jerman oleh pihak Perancis. Perempuan dengan kebebasan dan gaya hidup yang glamor harus mendekam di penjara. Mata Hari begitu tidak terima atas tuduhan yang buktinya sangat lemah. Mata Hari harus mendekam, menunggu keputusan atas hukum yang berusaha dijeratkan padanya, dalam penjara dia mengilas lagi perjalanan hidupnya. Tentang kemewahan, kebebasan, cinta juga keberanian. Diusia 41 tahun dia harus mati ditembak oleh kepolisian negara impiannya, dengan tuduhan yang tak terbukti sampai saat ini.

Mata Hari, kebebasan begitu mahal bukan? Karena meski nikmat, kebebasan haruslah memiliki batas. Tapi keberanianmu telah jauh berjalan dan hidup lebih lama dari usiamu. Novel ini cukup menarik untuk dibaca dan diselesaikan hanya dalam beberapa kali menutupnya, untuk jeda. Mata Hari, perempuan cerdas yang menguasai banyak bahasa, perempuan beruntung karena pada masanya ia sempat mengelilingi banyak negara. Mata Hari, perempuan malang yang tak percaya cinta lalu menaruh hati dengan pria yang tak tulus menginginkannya.

“Bunga mengajarkan kita bahwa tidak ada yang abadi: keindahan mereka, bahkan juga fakta bahwa mereka akan layu, karena masih akan memberikan benih baru. Ingatlah ini kalau kau merasakan sukacita, kepedihan, atau kesedihan. Segala sesuatu berlalu, menjadi tua, mati dan terlahir kembali.”

Novel ini terbit 2016 dan diterjemahkan ditahun yang sama oleh Penerbit PT Gramedi Pustaka Utama, sudah dicetak sebanyak 3 kali sampai dengan November 2017. 192 halaman. Selamat membaca Novelnya! 

No comments:

Post a Comment