Saturday, 23 June 2018

Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018


Hallooooo, baiklah selagi niat nulis, waktu dan rasa ingin mewujudkannya sedang bertemu. Mari selesaikan kisah cinta Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.

Menjadi Finalis

Setelah pengumuman 20 finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan, kami mengikuti kegiatan pra-pembekalan. Kegiatan dimulai tanggal 3 Mei 2018. Selama pra-pembekalan ini kami menerima banyak materi dan sharing dengan para Duta Bahasa Sumatra Selatan 2017 dan pihak Balai Bahasa Sumatra Selatan.

Hari Pertama
Pemilihan Bapak dan Ibu Lurah.

Di hari pertama ini, kami 20 finalis bertemu untuk pertama kalinya sebagai finalis, kami dibagi menjadi 10 pasangan berdasarkan tinggi badan. Aku berpasang dengan Ikrar, dengan nomor urut 05 dan 06. Kesan pertama ketemu Ikrar, aduh ni anakkk sepertinya menyebalkan. I really dunno how amazing he is. Kami menggunakan pakaian kantor di pagi hari dan diminta membawa Pakaian Khas Palembang, untuk photoshoot. Drama banget nyari blazer motif songket yang aku gunain, memang sudah diminta mempersiapkan pakaian khas tapi tak menyangka kalo dibawa di hari pertama pra-pembekalan. Baru baca grup pun tengah malem, padahal seharian main doang. Nanya ke kakak-kakak, dari Kak Nais, Kak Stella, Mbak Isma, semua orang ditanya dan yeayyy Kak Pet ada. Terima kasih Kak Pet!!!!!

Acara dibuka langsung oleh pihak Balai Bahasa, kami mengawalinya dengan memperkenalkan diri lalu melakukan pemilihan Ibu Lurah dan Pak Lurah. Aku ikut pemilihan Ibu Lurah, luar biasa kan? Iyalah, kapan lagi bertingkah jauh dari biasanya. Hehe. Karena sudah sejauh ini. Jadi finalis ini jauh loh, Sekip-Jakabaring. Wkwk. Aku beneran menantang diriku untuk percaya diri dan melakukan yang terbaik. Berlelah-lelah dalam menuntut ilmu selalu menyenangkan.

AKSEL (Aksi Kelompok)

Dari 20 finalis dibagi kedalam 5 kelompok yang akan melakukan aksi nyata dalam menyebarkan virus literasi kepada masyarakat luas. Lokasi ditentukan oleh panitia, di Kawasan Olahraga Jakabaring.

Kami dari Aksel 1 dengan ULTRASI.

Finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan dan peserta ULTRASI.
Ular Tangga Literasi, menggunakan konsep bermain dan belajar dengan target anak-anak hingga remaja. Permainan ini berlangsung seperti permainan ular tangga pada umumnya, akan tetapi jika peserta memasuki angka dengan ular. Maka peserta tidak hanya akan turun ke angka yang lebih rendah tapi juga diberikan pertanyaan seputar literasi. Karena permainan ini diikuti oleh beberapa kalangan usia, kami memiliki pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sesuai dengan usia peserta. Ultrasi sangat menarik minat pengunjung Kawasan Olahraga Jakabaring, bahkan ada beberapa adik-adik yang kembali lagi untuk mengantre main.

Selain Ultrasi ada juga Tau enggak, sih? dari aksel 2.
Pekan Sastra Daring (Pesadar) dari aksel 3.
Haus Bahasa dari aksel 4. Teman-teman yang penasaran bisa melihat kegiatan Duta Bahasa Sumatra Selatan di ig @dubassumsel.

Belajar Menjadi Duta
Menggunakan pakaian khas Sumatra Selatan, kami belajar parade. Pertama bagiku!
Selain belajar mengenal kebahasaan kami juga belajar menegani sikap seorang Duta. Cielah seneng banget, dapet ilmu yang baruuuu banget bagiku. Pertama diajarkan cara makan, selama ini kita sering salah meletakkan posisi sendok dan garpu saat telah selesai makan. Sepengetahuanku, cara yang sopan saat setelah makan, posisi sendok dan garpu dibalik, diletakkan berdampingan. Ternyata, salah besar!!! Yang benar sendok dan garpu diposisikan mengarah ke pukul 5, dengan sendok disisi luar.
Cara duduk dan berdiri pun sudah ada aturannya, disini letak terlelah. Wkwk. Tapi sekali lagi, tidak ada lelah yang benar-benar melelahkan jika mengenai pengetahuan. Eyaaa.

Belajar parade. Susah-susah mudah tapi semuanya telah selesai. Hari yang melelahkan namun penuh dengan aura positif.

Pembekalan

Hari pembekalan dimulai Hari Senin tanggal 7 Mei 2018. Pembekalan semuanya berisi tentang materi kebahasaan dan pengenalan mengenai Balai Bahasa serta Badan Bahasa. Pembekalan berlangsung selama 4 hari.
Hari pertama pembekalan.
Hari-hari berlalu dengan lelah dan penuh hal baru. Terbiasa dengan kegiatan kerelawanan, aku benar-benar tidak berpikir sedang dalam kompetisi. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Setiap harinya, kami diberikan tugas, yang memerlukan edit-mengedit. Dari sini aku paham, bahwa aku juga bisa mengedit foto, aku bisa buat flayer ala-ala. Rumi bisa, terima kasih Duta Bahasa! Walau bisa meminta bantuan teman, aku memilih belajar untuk meraih sesuatu dengan usaha sendiri dan keikhlasan. Cielah berat amat Rum. 

Suci, Rumi. Yuniar
Selain mendapatkan ilmu mengenai kebahasaan, kami juga mengikuti make up class dari Wardah. Hari itu, aku belajar cara yang benar membersihkan make up dan cara make up simple. 

Finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.
Selain belajar, kami juga mempersiapkan penampilan untuk grand final. Latihan parade yang dimulai sejak pra-pembekalan, beberapa hari sebelum grand final kami berlatih untuk menampilkan sebuah opera dengan judul "Putri Kembang Dadar". Semua serba singkat, karena kegiatan yang memang padat. Pemilihan peran, latihan serta persiapan alat pendukung opera. Latihan berlangsung lucu, bahkan sangat lucu. Aku kebagian peran menjadi dayang tuan putri. Ya! Pengalaman pertama bagiku. Rasanya tidak mungkin Rum, setelah ini kamu masih jadi sosok pemalu.

 Hari Pemaparan


Hari itu, semuanya sudah aku persiapkan semaksimal mungkin. Walaupun aku merasa programku terlalu biasa, tapi seperti itulah nyatanya. Meningkatkan Literasi Anak TPA Sukawinatan melalui Membaca dan Bercerita. Program yang memang telah aku lakukan beberapa bulan belakangan. Aku ingin, anak-anak akrab dengan buku. Hanya itu. Hari itu, aku maju pertama! Wow. Alhamdulillah, lebih cepat lebih baik kan ya. Ada beberapa hal yang mungkin kurang maksimal, tapi aku tidak menampilkan kepalsuan walau hanya satu kata. Ini penting bagi calon penulis. Eyaaa. 

Seperti biasa, saat tegang, nafsu makan hilang. Setelah duduk kembali dan mendengarkan pemaparan teman pun aku masih tak nafsu makan. Hingga tiba saat opini dengan Bahasa Inggris. Yahhhh, you know me so well lah ya. Sialnya, aku maju diurutan 16, sungguh tak bisa kujelaskan perasaan menunggu untuk merasakan malu. Padahal pertanyaannya simple, tapi perbendaharaan kataku tipis ya jadi miris gitu mengenangnya.

Latihan mempersiapkan grand final. Parade, opera dan menyanyi.

GRAND FINAL

Hari yang ditunggu tiba. Dari pagi hari, kami sudah hadir di Balai Bahasa untuk latihan sekali lagi dan make up sedini mungkin. Haha.

Saat siap dan tamu undangan berdatangan, aku mulai gugup. Tak bisa kutolak, saat parade awal aku melakukan kesalahan. Rasanya ingin kuhapus bagian itu.

Sebelum penyematan pemenang, kami memaparkan AKSEL didepan tamu undangan. Ya! Di depan Mama, Papa dan Adikku. Semua berjalan lancar, saat menyanyikan lagu Indonesia Jaya, kami terhanyut dalam haru. Hidup memang tiada mungkin tanpa perjuangan, lalu mengapa masih mengeluh? Kurangin..

Opera. Cantik. Gugup banget Ya Rabb. Penasaran sama pendapat temanku yang tahunya aku paling gak mau ribet, gak mau keliatan dan selu. 

Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.
Pemenangnya pun dipilih. Yang terpilih pastilah yang terbaik.

Rumi dan Rumiku. (red: penggemar Harumi)

Kak Benny dan Rumi.
Tapi, aku tetap pemenang di hati teman-temanku. Apalagi di hati Papa dan Mama. Terima kasih atas dukungan dan doanya teman-teman. Semoga setiap langkah adalah menuju kebaikan dan kebermanfaatan. Karena, sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama, bagi seisi bumi. Penghargaan hanya sebuah bonus, penerapan dari proses belajarlah sebenarnya pencapaian.
Wassalammualaikum. ^^

No comments:

Post a Comment