Wednesday, 7 February 2018

[Trip to Lampung] Puncak Mas with Golden View

Halooo, assalammualaikum. ^^
Kali ini aku mau nyeritain first trip aku ditahun 2018. Antara direncanain dan tidak direncanain. Hoho. Jobseeker kok ngetrip? Karena Allah sayang banyak.
            Trip to Lampung.
            Sebenernya ini udah jadi plan di 2017 tapi dengan berat hati harus ditunda dulu. Januari sebenernya ada rencana untuk ke Batam bahkan ke Bromo tapi aku merasa kurang berdaya. Lain kali ya. Wacana kali ini. Perjalanan dimulai dari aku yang udah mumet banget belajar buat ningkatin TOEFL biar bisa lulus ke tahap selanjutnya dalam test penerimaan salah satu BUMN. Test dilaksanain tanggal 21 dan kita pergi tanggal 22. Kalo aja ada kereta jam 11 siang mungkin tanggal 21 sudah meluncur. Keberangkatan itu deal tanggal 17 Januari. Sejenis unplanned. Mulanya hanya aku, Salsa dan Mei. Karena tanggal 18 Niken dan Lutfi kebetulan main ke rumah dan mendengar rencana kami lalu tertarik bergabunglah mereka, tapi Lutfi gagal ikut.
            Singkat cerita tanggal 20 kita pesen tiket. Seperti biasa kalo tiket kereta aku selalu ngegunain aplikasi pegipegi.com tiketnya lebih murah walau beberapa ribu rupiah saja dan pemesanannya juga mudah! Setelah dibagi 4, harga tiket beserta baiya administrasi hanya Rp. 34.000,- Tiket tanggal 22 Januari untuk 4 cewek dengan jam keberangkatan 8:30 pagi. Stasiun Kertapati cukup jauh dari rumah kami, harus menyebrang! Eits... Udah ada Ampera jadi gak perlu naek perahu apalagi berenang untuk sampe kabagaian Hulu dari Kota Palembang tercinta ini.
            Merasa jam terbang sudah tinggi (cielah), aku menolak saat Mei mengintruksikan untuk sudah ada di stasiun jam 7.30 pagi. What!!! Never in blue moon. Mau sampe ke stasiun sepagi itu. Sempet menyaksikan Mei dag-dig-dug karena Niken kejebak macet. Udah berkali-kali dibilangin.. Mei jam 9.20 baru check in juga gpp. Jangan khawatir, ada aku. Haha. Padahal katanya kereta adalah rumah keduanya.
            Berangkatlah kita menempuh jarak 365 km untuk sampe ke Stasiun Tanjung Karang. Pergi bersama temen, setelah beberapa kali solo trip, memberikan warna tersendiri. Biasanya bawa novel bisa habis berbab-bab ini cuma beberapa lembar aja. Karena kita suka main remi dan bawa kartu (sebenernya untuk main di rumah Mei) tapi bosen melanda kala itu sinyal pun tiada kita gelar jaket buat jadi alas main setsot. What a trip. Sampe-sampe ada kakak yang ikutan main. Waktu magrib menjelang kita sampe di Tanjung Karang. Berang 9:32 pagi sampe sekitar 6:40 malem. Jadi Palembang-Lampung via Kertapati-Tj.Karang butuh waktu 12 jam.
            Gimana solatnya? Gimana? Gimana?
            Untuk trip kali ini aku udah mikirin lumayan perihal solat sebelum pergi, sempet nanya temen singkat. Tapi masih keliru waktu pelaksanaannya. Jadi solat dzuhur, asar, magrib aku qodo di waktu isya. Untuk pelaksanaan qodo mungkin detailnya dipostingan berikutnya ya guys...
            Keesokan harinya kita langsung jalan-jalan menuju Puncak Mas, perjalanan yang mulus tanpa macet buat aku jatuh cinta sama Lampung. Eits, bukan cuma macetnya doang. Tapi suasananya. Gimana ya. Menurutku Lampung ini cukup ideal untuk dijadiin tempat tinggal. Tata kota yang sejuk, jauh dari macet, tempat rekreasi yang beraneka dan yang pasti mallnya cukup memadai. Toko buku ada walau gak selengkap Gramedia World punya Palembang, brand-brand tertentu juga berbaris rapi siap menggoda. Perpaduan yang pas bagiku. Tapi, kalo Lampung gak ada kamu. Pasti berat. Aku milih kota yang ada kamu aja. Iya disana, disitu, disebelahmu, lalu dihatimu.

Pemandangan dari Mushola Cewek Puncak Mas

            Aku gak ada ekspektasi sama sekali untuk ke Puncak Mas, tempatnya seperti apa dan gimana. Ternyata guys, worth it banget! You must to be here. Apa karena hari itu sepi dan sejuk aja ya, jadi asik banget. Gak nyangka aja Lampung punya tempat gini dan berkali-kali aku bilang. “Mei.... lu ngapain di Palembang mulu, Lampung punya tempat gini.”
            Ada pengalaman lucu saat ternyata kami menaiki rumah pohon yang lagi gak boleh dinaikin. Saat penjaganya sadar, diatas rumah pohon itu tinggal aku dan Niken. Ternyata pohon duriannya sedang berbuah dan tidak boleh dinaikin. Haha. Wajar aja serba goyang. Lucunya lagi, kumat deh phobia ketinggianku, walau gak parah tapi lumayan. Setiap mau naikin tangga, semua harus steril aka gak boleh ada yang naik. Hanya aku. Itupun tertatih-tatih. Teriak-teriak dikit. Selalu mengasyikan melawan rasa takut. Yang sulit itu melawan rasa cinta ke kakak.

Ini loh pohon terlarang itu. Plangnya sih dipasang kurang tepat.

Ini lagi diatas rumah pohon yang paling tinggi. Nun jauh disana laut loh kak.

            Ada sekitar 6 rumah pohon untuk bersantai sambil take foto disini. Semuanya punya keunikan masing-masing dan beberapa rumah pohon menggunakan pohon durian hidup. Oh iya, biaya masuk Puncak Mas sangat terjangkau Rp.20.000,- per orang. Karena percayalah, suasana didalamnya tak ternilai. Puncak Mas juga dilengkapi ruang diskusi terbuka yang warna-warni, alangkah beruntungnya komunitas-komunitas atau pemuda-pemudi di Lampung mencari tempat untuk diskusi atau sekedar ngobrol melepas penat. Untuk makan dan minum disini juga ada food cornernya.

Sebelah kanan itu tempat diskusi dengan kursi warna-warni.

            Ajaibnya... musholanya pun dibangun seperti rumah pohon. Jadi ada dua mushola yang dibangun diatas pohon. Mushola cewek dan mushola cowok tepat samping kanan dan kiri atas kantin. Dari atas mushola kita bisa ngeliat jauh pemandangan Lampung dengan bukit-bukit dan laut diujung kanan. Angin sejuk, pemandangan indah. Nikmat Tuhan mana lagi mau didustakan?

Mushola Cewek.

Mushola cowok.


Setelah dari Puncak Mas kita menuju The Little Europe. Satu komplek kecil perumahan bergaya Eropa yang dicat warna-warni. Cantik sekali. Sayangnya gedung-gedung ini seperti terbengkalai. Tidak berpenghuni. Beberapa saja yang menjadikannya cafe. The Little Europe ini ada disalah satu kawasan perumahan elit.

The Little Europe. Semoga bisa ke Eropa anntinya.

Upnormal-mates.

            Perjalanan sore itupun usai dengan perut yang lapar minta diisi indomie kuah karena rintik hujan mulai turun.
            Tuhan, terima kasih karena kaki ini Engkau izinkan melangkah jauh.
            Tuhan, terima kasih karena mata ini Engkau persilahkan melihat jutaan keindahan.
            Tuhan, terima kasih karena teman-temanku adalah rezeki yang tak ternilai.
            dan Tuhan, terima kasih karena hati ini masih bisa sadar dan merasakan keagunganmu.
            See ya... ini baru hari pertama loh!
            Kita 3 hari di Lampung!
            Wassalammualaikum. ^^

8 comments:

  1. Lampung memang penuh pesona banget ya mbak. Aku malah baru tahu kalau puncak mas ini keren banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener, adem banget. Lampung banyak destinasi wisata juga..

      Delete
  2. Musholanya itu loh, adem banget ya Mba kayaknya...

    Semoga bisa ke lampung suatu saat. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerr banget musholanya adem, anginya sejuk banget.

      Kalo ke Lampung jangan lupaa ke Puncak Mas ya mbakk^^

      Delete
  3. banyak spot yg seru buat foto y mba.... instagramable bangetttttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mbak banyak banget, nature dapet, fullcolor jg bisa.. instagramable bgt..

      Delete
  4. kok lucu sih tempatnya huhuhu waktu ke Lampung aku cuman main ke pantai-pantai nya sampai gosong :D

    ReplyDelete