Friday, 8 December 2017

[Review] Kali Code Pesan-Pesan Api, Pemenang Persaingan Buku dan Gadget

Membayangkan Kali Code, membayangkan kehidupan yang keras dan hitam, rasanya tidak terlalu sulit. Kita tidak bisa mengubah gambaran realistis itu kepada suasana fiktif, tampaknya. Oleh sebab itu, novel ini tidak bisa lari dari kenyataan tersebut. Meski tak bermaksud mempermainkan jabatan walikota, siapa bilang tukang becak tak berani mencalonkan diri jadi gubernur? Dalam kehidupan bernegara yang demokratis, tak perlu heran bila Mustofa menceritakan seorang walikota berasal dari profesi penarik becak. Itulah yang terjadi pada tokoh cerita ini, dengan segala persoalannya, yang diceritakan dengan lugas. Cerita menarik, justru tak banyak pengarang mengambil rah tersebut. (Arwan Tuti Artha, wartawan)

Seperti kejatuhan durian runtuh, sore itu saat sedang menuju mushola untuk solat asar disalah satu mall sekitaran Bekasi. Aku melihat tumpukan majalah-majalah bobo yang dijual murah. Sekilas, hanya ada majalah-majalah yang usang isinya tapi tampilannya cukup baik. Setelah solat, untuk menunggu waktu magrib, aku dan temanku memutuskan untuk menjelajah toko buku tersebut. Kebetulan teman sangat butuh buku bacaan. Aku melihat, mencari, barangkali ada yang menarik. Saat itu aku sangat tertarik dengan buku yang membahas perjalanan seseorang keliling Eropa. Karena kondisi fisik yang sudah terbuka dan kotor, aku memutuskan untuk mengikhlaskan.

Sepertinya ada yang kurang jika tidak membeli buku. Setelah bertanya apakah ada buku-buku sastra, yang ringan namun penuh makna. Dalam deretan buku, aku melihat buku degan cover hitam, pria dan topinya, becak kokoh yang terjungkit, Kali Code Pesan-Pesan Api. Aku langsung tertarik dan membaca komentar para pembaca yang dituliskan dibelakang buku. Oke, sangat menarik. Harus dibaca dan di rumahkan.

Sekarang aku mulai kesulitan dalam membaca, selain waktu yang sepertinya sangat sulit luang. Lalu, persaingan buku dengan gadget yang terlalu sering dimenangkan oleh ngobrol-ngobrol lucu via WA. Kemudian, kelemahan yang kian kusadari. Disela akifitas yang banyak, menumpuknya hal yang harus dimengerti. Terkadang aku sulit sekali untuk diajak bercerita atau diskusi kembali mengenai buku-buku yang aku baca. Aku sulit mengingat dengan detail. Sedih sekali, saat seharusnya bahagia karena bisa berbagi sudut pandang. Aku malah berusaha keras meraba, cerita yang mana ya... Apakah kalian pernah diposisi seperti itu? Atau kalian punya tips agar semuanya tersimpan rapi?

Buku ini terlihat berbeda dan menarik. Terlebih setting tempatnya di Yogya. Aku selalu suka dengan buku yang setting tempatnya sangat kuat. Saat itu, aku berharap penulis menampilkan Yogya dengan apik.

Aku membeli dua buku penulis lokal yang namanya tak pernah kudengar. Buku terbitan 2005 dengan harga nyaman, dikala itu aku sebagai jobseeker yang ikhlas merantau.

Beberapa hari di Jakarta, aku membeli 6 buku dengan debat yang kumenangkan. "Rum, ini juga investasi. Daripada uangnya entah kemana. Buku tidak termasuk ke pemborosan kok."

Kali Code, Pesan-Pesan Api.

Gimana cerita sih, tukang becak jadi Walikota? Dari lembar pertama aku selalu penasaran.

Mustofa W Hasyim berhasil megemas kehidupan keluarga sederhana dengan begitu lugas.

Good Cover
Tris. Mas Tris, adalah walikota lulusan SMA. Tukang becak yang pernah mengenyam bangku perkuliahan. Harus ikhlas di Drop Out, alhamdulillah selamat dari eksekusi di Nusakambangan. Mas Tris adalah suami yang membantu istri berjualan lotek dan gado-gado siang hari kemudian mengayuh becak saat hari gelap. Caranya berteman luar biasa, kematian pelanggannya membuatnya mengayuh sepeda hingga ke desa sebelah untuk berziarah. 

Isterinya seorang pedagang rumahan. Khas sekali isteri-isteri perempuan Jawa. Yang sangat hati-hati. Yang sangat tahu diri tapi juga kuat untuk diajak melangkah lebih jauh. Penyeimbang yang sempurna untuk Mas Tris.

Dua anak terdidik, bahkan terkenal vokal dan kritis. Bukti Mas Tris dan Isteri adalah orang tua yang baik.

Kisahnya sangat nyata. Imajinasi yang langsung kudapat saat lembar-lembar awal berkembang dengan baik seiring cerita yang sarat pelajaran. Tukang becak lulusan SMA dengan beraninya mencalonkan diri sebagai walikota. Isteri dan anak yang selalu mendukung Ayah dengan akal sehat dan hati tulus. Cara berpolitik yang mungkin segar jika hadir saat ini. Pandangan baru di dunia yang sering terlihat keji. Partai yang naif, meloloskan tukang becak menjadi bakal calon anggota DPR. Lalu melenggang menjadi orang nomer satu, walikota. 

Setelah kesusahan ada kemudahan. Setelah kemalangan hadirlah keajaiban dengan jawaban-jawaban atas kemalangan selama ini. 

Buku ini menyajikan kehidupan bahagia keluarga tukang becak yang penuh syukur. Tukang becak yang meminjamkan uang pada teman, tukang becak yang berlibur, tukang becak yang berbelanja, tukang becak yang mendidik anak dengan baik sampai keperguruan tinggi, tukang becak dengan kemampuan sosialisasi yang membumi, tukang becak yang terpilih menjadi anggota dewan dan mulus menuju kursi walikota.

Karena beberapa percakapan menggunakan Bahasa Jawa, sedangkan terjemahannya ada dihalaman akhir. Aku cukup sulit untuk membolak-balik.

Kepercayaan diri itu mahal. Terlebih dukungan dari orang sekitar. Keluarga adalah harta yang sebenarnya dan kerendahan hati telah membuktikan kelanggengan nikmat Allah. 

#KaliCodePesanPesanApi
#bokkreview
#penulisIndonesia
#akucintabuku
#KaliCode
#Yogyakarta

2 comments:

  1. Yah drop out mengingatkan kisah saya dulu, ... :(, tapi sudahlah bagaimana bisa bangkit dan move on itulah yang terpenting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh pengalaman berharga ya kak,selamat sudah bisa move on :)) semangat terus kak!!

      Delete