Tuesday, 28 November 2017

[Trip] Jakarta Tempat Belajar; Monas yang Mempesona!

Tiba di terminal Lebak Bulus, memesan Go-Grab untuk sampai ke depan Kampus UIN Syarif Hidayatullah. Kampus UIN yang sudah lama namanya kudengar. Siang yang panas dan keadaan yang kurang nyaman karena sedang halangan dan sudah duduk lebih dari dua jam. Sampai di sebrang Halte Kampus UIN langsung bertemu dengan Ros, teman satu kos Anita yang dengan baik hati menjemputku untuk kemudian diantar ke kosan mereka.

Drama kebingungan menuju lokasi test kembali aku mulai dengan segala kelebayan. Pertanyaan berulang aku tanyakan dengan Nadia, dirincikan semua rute yang harus kutempuh melaui KRL. Ada rasa gugup saat harus naik KRL dengan rute yang cukup padat menurutku. Dengan kemanjaan diri, akhirnya aku memutuskan untuk pergi menggunakan Go-Grab. Entahlah, sialnya set pick up ku selalu salah, driver yang didapet selalu dengan jarak yang jauh. Frustasi. 

Keinget gimana cara Mei bertahan hidup dimanapun dia berada. Dengan segala hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, aku beranikan diri menyetop seorang driver grab untuk kemudian minta diantarkan ke lokasi test. What a trick. Ternyata di grab ada fitur grab now yang memang untuk mendapatkan driver terdekat dengan cepat. Jadi aku tetep memesan driver dengan aplikasi. Dalam perjalanan aku bertanya, "kok susah ya mas dapet drivernya?". "Drivernya banyak yang milih mbak". Perjalanan diselesaikan dengan menahan kelelahan diatas motor, karena ternyata jauh sekali. Tanggerang Selatan ke Jakarta Timur dengan motor. I dont wanna feel it, no more. 

Alhamduilah sampai dengan selamat di Maria Hall hanya bermodalkan Google Maps, sampai dengan kelelahan yang tak terdeskripsikan. Far from home, aku langsung sok asik menegur dua cewek yang aku temui tak lama setelah aku memasuki gerbang. Sialnya, aku lupa nama mereka. 

Kami menunggu waktu registrasi dengan sabar, ternyata waktu test diundur dari awalnya pukul 18.30 menjadi 19.30 atau bahkan 20.00 baru dimulai waktu itu. Pelayanan dari panitia test sangat baik sekali, orang dengan berkebutuhan khusus didahulukan. Panitia juga tidak bosan mengingatkan untuk mengambil wudhu terlebih dulu agar saat Magrib menjelang bisa segera menunaikan solat. berulang-ulang. Rasanya nyaman sekali walau lelah, ada yang peduli dengan ibadahmu.

Memasuki proses registrasi. Semua berjalan dengan lancar.

Aku mengambil posisi di barisan paling depan. Sepanjang menunggu semua peserta memasuki ruangan test, hari itu ada seribu lebih peserta dan aku adalah dua puluh orang pertama yang masuk ke ruangan test. Aku berdoa. Selemah mungkin, selembut mungkin. Dengan rendah hati aku berkata, aku menginginkan ini Ya Allah karena Ayah Ibuku menginginkannya. Aku menginginkannya. I'll do my best.

Ujian dimulai. Lelahku tak lagi tertolong. Soal yang aku hadapi, jauh sekali dari yang aku pelajari. Andai aku tidak mengingat Papa dan Mama. Mungkin akan aku submit sedini mungkin test malam hari itu. Tapi, meskipun aku harus gagal. Aku perlu berjuang hingga akhir. 20 menit terakhir aku sudah menyelesaikan 100 soal, biasanya aku selalu PD untuk mengumpulkan ujianku duluan. Tapi, meski lelah dan ingin cepat pulang. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan jika harus menemui angka-angka kecil. Aku kembali mencoba membaca beberapa soal, hingga akhirmya peserta disebelahku men-submit test miliknya dan aku mencoba melihat hasilnya. Tidak memenuhi, kepercayaan diriku meningkat. Wah gpp nih kalo gak memenuhi juga. Wkwk. Submit.

Entahlah.... seperti doa Mama sedang dikabulkan. Sepertinya Mama selalu mendoakanku dengan segala ketulusan dan kelembutannya. Angka yang muncul membuat mataku berkaca-kaca. Aku yang kelelahan, aku yang tidak maksimal, aku yang tidak percaya diri. Semua ini hanya karena Allah selalu baik, karena Allah selalu tidak pernah mengecewakan saat kita berdoa. Aku bahagia sekali. Hari itu hanya doa yang pantas dibilang berperan sangat penting. Ketika kamu merasa tidak pantas, tapi Allah mengabulkan doamu. Its the best feeling. 

Rasanya aku belum pernah berjalan sebahagia hari itu. Keluar dari ruangan ujian dengan mata berkaca-kaca karena bahagia dan rasa syukur. 

Orang pertama yang aku kabari tentang kelulusanku adalah Kak Dedi. Menunggu di kursi sambil mencharger Hp, Kak Dedi dengan baik hati memberi tahu rute pulang menggunakan KRL karena terlalu lelah kalo harus pulang menaikki motor. Meski takut dan gak pernah naik KRL sebelumnya, dengan beberapa transit dan menaiki semua KRL terakhir. Pukul 1 malam sampailah aku di kosan temen yang gak ada orangnya. 

Karena lelah, sehabis mandi aku langsung tidur.

Keesokan harinya, aku diajak teman dari Depok untuk jalan-jalan. Tujuan belum jelas. Setelah bertemu kami memuuskan untuk ke Monas, hari itu Jumat. Hari yang kata kebanyakan orang hari pendek. -_- 

Orang Depok gak paham jalan Jakarta. Menuju Monas berasa jauh sekali. Muter-muter, kelelahan, polusi yang yahhhhh. Tapi, membelah jalanan Ibukota dengan motor memasuki Jakarta Pusat, aku memiliki kesan berbeda tentang Ibukota. Tertata, rapi, megah dan lumayan lenggang. Aku sempat berpikir, gapapa menetap di Jakarta asalkan Jakarta Pusat. Hahahah. 

Sampai di pelataran Monas tepat adzan Solat Jumat. Menunggu teman Solat Jumat. Selesai solat, kita makan. Kebetulan hari itu aku lagi gak solat. Jakarta selalu hanya jadi kota persinggahanku. Ini pertama kalinya aku menetap. Ke Monas pun pengaalaman pertama. 

Karena temen juga kurang paham dengan Monas, jadilah kita dari gerbang Monas ke pintu masuk Monas jalan kaki yang lumayan banget. Untung loh ya yang diajak ini gak cengeng dan gak suka ngeluh wkwkwk. Karena weekday, kita bisa masuk ke puncak Monas tanpa antri yang terlalu lama. Sebenernya aku gak terlalu gimana dengan puncak atau cawan. Aku lebih terhipnotis dengan Museum Sejarah Indonesia yang ahhhhh aku suka sekali. Aku suka ke museum, apalagi kalo sama kamu. Kamu kapan ngajak aku ke museum?

Untuk ke Monas kita bisa naik Trans Jakarta dan turun di Halte Monas yang kemudian jalan kaki menuju gerbang Monas yang menurutku tidak terlalu jauh. Terus mengantri kereta wisata yang disediakan oleh pihak pengelola Monas untuk sampai ke Pintu masuk Monas. Untuk pelajar atau mahasiswa, kita perlu membayar 15K agar bisa sampai ke puncak Monas. Itu sudah bisa mengakses keseluruhan Monas. Museum Sejarah Indonesia, Gedung yang ada di sebelah lift untuk ke puncak (aku gak tau apa namanya). Di ruang itu ada gambar Burung Garuda yang besar, tulisan proklamasi dll. Untuk sampai ke pucak, kita perlu memperhatikan hari berkunjung dan jam berkunjung karena antriannya bener deh kalo weekend. Saranku waktu sore hari adalah yang paling pas menuju cawan. Bisa ngeliat sunset menyela diantara tingginya gedung-gedung kementrian.

Di dalam museum aku menikmati sekali waktu, sampai lupa kalo temen harus pulang jam 3 sore. Semua monumen aku foto beserta keterangannya. Ah, jadi tau sedikit kan tentang sejarah Indonesia.

Keluar dari Monas dengan menggunakan kereta wisata. Menuju parkiran. Karena hari belum gelap, aku pantang pulang. Hahaha. Minta dianter ke Kwitang untuk memebeli buku. Ini lagi, Monas-Kwitang harus muter-muter karena gak tau jalan dan lalu lintas Jakarta. Padahal di maps maupun hasil bertanya sama petugas Dishub, Monas-Kwitang deket. 

Sampe Kwitang. Sepi. Karena setelah beberapa hari di Jakarta, aku baru tau kalo sore Kwitang gak serame di film AADC. Gak serame adegan Cinta yang dilepas pergi oleh Rangga. Jadi aku males banget, akhirnya aku minta dianter ke stasiun terdekat. Karena masih soreeee banget dan kebetulan ada sejenis mall di deket stasiun mampirlah aku kesana. Mencari buku alibiku pada nuraniku. 

Yak berkeliling seorang diri. Hampir khilaf membeli sepatu yang lagi diskon. Hari itu aku membeli satu buku yang keren sekali. Buku murah, tapi harus selektif karena mau hemat. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga. Makan aja harus keluar kosan dulu dan beli. Setelah merasa bosan aku pulang.

Berjalan kaki menuju Stasiun Manggarai. Mengalahkan rasa takut, memecah padatnnya lalu lintas Jakarta seorang diri. Aku merasa bahagia.

No comments:

Post a Comment