Wednesday, 29 November 2017

Thank You!!!

Wednesday, November 29, 2017 2 Comments
Huaaaaaaaaaaaaaaa

Pernah merasa meleleh? Merasa melayang? Sekarang aku sedang merasakannya. Bukan, bukan karena baru ditembak cowok impian. Bukan.

Karena dilamarnya? Belum juga.

Tapi, karena orang yang selama ini, menyatakan perasaannya. Mengirimi Voice Note yang, masyaallah. Aku tambah bersyukur, karena darimu aku juga belajar banyak sekali. Aku menerima banyak sekali, aku merepotkan setiap hari.

Terlahir dengan tingkat keegoisan yang lumayan ambigu.

Tumbuh dengan segala sok kemandirianku.

Aku terlalu sering gagap berteman.

Aku mencontoh banyak darimu.

Huuuuu, ini perasaan lagi meleleh semelelehnya Bil! Thank you for your beautiful words, its mean a world to me.

Dari kamu aku belajar bagaimana dan kenapa orang-orang yang sudah ada dalam hidupku tidak ada yang boleh lepas lagi. Aku tidak boleh meninggalkan siapapun hanya karena beberapa hal bertentangan denganku.

Dari kamu aku belajar gimana caranya basa-basi. (penting banget haha)

Dari kamu aku belajar banyak hal! Terima kasih.

Yesterday I heard your voice with tears in your eyes. Itu karena aku. I was wrong. I’m so sorry. I was wondering if you no longer believe in me. I was so scared cause I know, I know you so well.

Our first funny and lovely drama.
Aku cuma mau bilang, kamu juga berlian. Aku sangat beruntung mengenalmu, mengenal keluargamu. Menjadi bagian dari kisahmu, menjadi bagian dari perubahanmu. Aku juga berubah banyak. Lebih baik. Lebih manusiawi, lebih menghargai.

Terima kasih telah ada disaat terjatuh, terima kasih telah menjadi dirimu.

Terima kasih telah melihatku dengan sebaik itu. Terima kasih...

Jika orang lain pergi meninggalkanku, I hope you stay forever even someday I’ll forget to ask. Please stay. I really know myself, I’m jerk at friendship. But, I’ll do my best to keep you safe and sound.
I’m with you with all your perfection and imperfection.


I’m so lucky to grow with you, Salsabilah Ratu Lele.

[Review] Lip Matte Terbaik!

Wednesday, November 29, 2017 8 Comments
Haiiii Ladies..
Assalammualaikum ^^
Semakin dewasa kita semakin sadar kalo melindungi semua yang dititpin Allah itu penting sekali. Melindungi hati dari para lelaki, melindungi diri dari lingkungan serta melindungi tubuh dari segala bentuk tekanan. Bagian tubuh yang rentan sekali terhadap lingkungan, salah satunya adalah kulit. Kulit enjadi bagian tubuh yang responnya terhadap lingkungan bisa sangat instan. Kulit harus dirawat dengan baik dan benar.
Kulit bibir yang sensitive sekali sangat perlu diperhatikan. Sudah menjadi umum bahwa lipstick atau lipcream tidak hanya berfungsi sebagai perona atau pemberi warna pada kulit bibir tapi juga mengandung banyak vitamin-vitamin yang dibutuhkan kulit bibir. Aku sendiri memiliki kulit bibir yang sangat mudah sekali kering. Yang gak bisa lama-lama di depan AC, apalagi AC mobil. Singkat kering, lalu bibir pecah-pecah perih. Untuk mengurangi kulit bibir yang rentan pecah-pecah ini aku rutin mengoleskan vaseline sebelum tidur kadang juga sebelum mengoleskan lipstick atau lipcream.
Karena kulit bibirku yang sensitive, aku sangat teliti dalam memilih lipstick atau lipcream apa yang akan aku gunakan untuk sehari-hari. Pemilihan warna pun harus tepat, karena kulit bibirku yang cenderung gelap. Jika menggunakan warna yang terlalu nude bisa-bisa keliatan pucet. Dibanding lipstick aku lebih prefer lipcream. Sudah pasti yang matte! Sejauh ini aku punya favorite matte lipcream.

1. Longlasting Matte Lip Cream
Rasanya aku sudah klik sekali dengan lipcream satu ini, selain sangat ringan dibibir teksturnya juga sangat lembut. Lipcream ini memiliki tingkat kenyamanan yang sangat tinggi di kulit bibirku. Untuk warna aku baru nyoba nomer 07 dan itu udah jatuh hati banget, udah nyaman. Hanya saja jika dibandingkan dengan lipcream matte dari Make Over, lipcream ini sangat mudah hilang jika terbasuh air. Tidak terlalu masalah memang, karena kita bisa mengoleskannya lagi. Tapi, terkadang males juga kalo udah diluar dan sibuk untuk meluangkan waktu sekedar touch up.
LT Pro Matte Lipcream 07
Di Palembang sendiri, LT Pro bisa dibeli di toko Linda, John atau Matahari. Kalo aku lebih suka belanja perlengkapan make up di John, selain harga yang lebih murah pelayanan John menurutku cukup baik. Harga satuan dari lipcream ini sekitar 90K.

2. LIP Gradation Maybelline
            Naksir sama salah satu produk Maybelline ini karena mantengin salah satu beuty vlogger yang diendorse oleh maybelline. Cara pengaplikasiannya yang seru dan sepertinya ringan sekali dibibir. Lipgradation yang matte, cocok parah di bibirku. Cuma masih berasa aja make sesuatunya. Haha.
rumi
            Aku beli ini di Matahari Deprt Store dengan harga sekitar 100K, dari beberapa variasi warna, aku memilih Mauve1 yang cenderung gelap tapi soft elegan. Seharusnya aku punya lebih dari satu lip gradiation agar pengaplikasinnya lebih pas buat di mix-match.

3. Wardah Exclusive Matte Lipcream
            Wardah adalah produk pertama yang aku pilih saat dulu pertama kali mau menggunakan lipstick. Lipstick dan lipcream wardah belum pernah mengecewakan menurutku. Untuk kuasnya, aku lebih suka bentuk kuas dari lipcream wardah. karena lebi panjang dan bentuk yang pas untuk pengaplikasian.
            Dibanding LT Pro dan Maybelline, harga produk Wardah lebih bersahabat bagiku. Mahsiswa yang baru diwisuda ini. Keunggulan lipcream ini dbanding LT Pro adalah keawetan yang lebih lama. Bahkan jika tidak tersenth air, lunturnya pun tak terlalu parah.
            Aku sengaja membeli nomer 14 yang best seller, nude tapi masih cukup cocok untuk bibirku, Harga dari lipcream ini 62K di Matahari Deprt Store.
Untuk Setahun terakhir, ini adalah lipcream yang aku gunakan. Harga memang tidak pernah bohong dan untuk diriku sendiri mana boleh coba-coba. Ketiga lipcream itu selain ringan dan cocok dalam segi warna dan harga, juga tidak membuat kulit bibir kering dan pecah-pecah.
Jika harus memilih. Pilihanku sejauh ini, dengan kapasitasku. Aku selalu memilih LT Pro Matte Lipcream untuk menemani hari-hariku.
So ladies, grab yours!

Wassalammualaikum ^^

Tuesday, 28 November 2017

[Trip] Jakarta Tempat Belajar; Monas yang Mempesona!

Tuesday, November 28, 2017 0 Comments
Tiba di terminal Lebak Bulus, memesan Go-Grab untuk sampai ke depan Kampus UIN Syarif Hidayatullah. Kampus UIN yang sudah lama namanya kudengar. Siang yang panas dan keadaan yang kurang nyaman karena sedang halangan dan sudah duduk lebih dari dua jam. Sampai di sebrang Halte Kampus UIN langsung bertemu dengan Ros, teman satu kos Anita yang dengan baik hati menjemputku untuk kemudian diantar ke kosan mereka.

Drama kebingungan menuju lokasi test kembali aku mulai dengan segala kelebayan. Pertanyaan berulang aku tanyakan dengan Nadia, dirincikan semua rute yang harus kutempuh melaui KRL. Ada rasa gugup saat harus naik KRL dengan rute yang cukup padat menurutku. Dengan kemanjaan diri, akhirnya aku memutuskan untuk pergi menggunakan Go-Grab. Entahlah, sialnya set pick up ku selalu salah, driver yang didapet selalu dengan jarak yang jauh. Frustasi. 

Keinget gimana cara Mei bertahan hidup dimanapun dia berada. Dengan segala hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, aku beranikan diri menyetop seorang driver grab untuk kemudian minta diantarkan ke lokasi test. What a trick. Ternyata di grab ada fitur grab now yang memang untuk mendapatkan driver terdekat dengan cepat. Jadi aku tetep memesan driver dengan aplikasi. Dalam perjalanan aku bertanya, "kok susah ya mas dapet drivernya?". "Drivernya banyak yang milih mbak". Perjalanan diselesaikan dengan menahan kelelahan diatas motor, karena ternyata jauh sekali. Tanggerang Selatan ke Jakarta Timur dengan motor. I dont wanna feel it, no more. 

Alhamduilah sampai dengan selamat di Maria Hall hanya bermodalkan Google Maps, sampai dengan kelelahan yang tak terdeskripsikan. Far from home, aku langsung sok asik menegur dua cewek yang aku temui tak lama setelah aku memasuki gerbang. Sialnya, aku lupa nama mereka. 

Kami menunggu waktu registrasi dengan sabar, ternyata waktu test diundur dari awalnya pukul 18.30 menjadi 19.30 atau bahkan 20.00 baru dimulai waktu itu. Pelayanan dari panitia test sangat baik sekali, orang dengan berkebutuhan khusus didahulukan. Panitia juga tidak bosan mengingatkan untuk mengambil wudhu terlebih dulu agar saat Magrib menjelang bisa segera menunaikan solat. berulang-ulang. Rasanya nyaman sekali walau lelah, ada yang peduli dengan ibadahmu.

Memasuki proses registrasi. Semua berjalan dengan lancar.

Aku mengambil posisi di barisan paling depan. Sepanjang menunggu semua peserta memasuki ruangan test, hari itu ada seribu lebih peserta dan aku adalah dua puluh orang pertama yang masuk ke ruangan test. Aku berdoa. Selemah mungkin, selembut mungkin. Dengan rendah hati aku berkata, aku menginginkan ini Ya Allah karena Ayah Ibuku menginginkannya. Aku menginginkannya. I'll do my best.

Ujian dimulai. Lelahku tak lagi tertolong. Soal yang aku hadapi, jauh sekali dari yang aku pelajari. Andai aku tidak mengingat Papa dan Mama. Mungkin akan aku submit sedini mungkin test malam hari itu. Tapi, meskipun aku harus gagal. Aku perlu berjuang hingga akhir. 20 menit terakhir aku sudah menyelesaikan 100 soal, biasanya aku selalu PD untuk mengumpulkan ujianku duluan. Tapi, meski lelah dan ingin cepat pulang. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan jika harus menemui angka-angka kecil. Aku kembali mencoba membaca beberapa soal, hingga akhirmya peserta disebelahku men-submit test miliknya dan aku mencoba melihat hasilnya. Tidak memenuhi, kepercayaan diriku meningkat. Wah gpp nih kalo gak memenuhi juga. Wkwk. Submit.

Entahlah.... seperti doa Mama sedang dikabulkan. Sepertinya Mama selalu mendoakanku dengan segala ketulusan dan kelembutannya. Angka yang muncul membuat mataku berkaca-kaca. Aku yang kelelahan, aku yang tidak maksimal, aku yang tidak percaya diri. Semua ini hanya karena Allah selalu baik, karena Allah selalu tidak pernah mengecewakan saat kita berdoa. Aku bahagia sekali. Hari itu hanya doa yang pantas dibilang berperan sangat penting. Ketika kamu merasa tidak pantas, tapi Allah mengabulkan doamu. Its the best feeling. 

Rasanya aku belum pernah berjalan sebahagia hari itu. Keluar dari ruangan ujian dengan mata berkaca-kaca karena bahagia dan rasa syukur. 

Orang pertama yang aku kabari tentang kelulusanku adalah Kak Dedi. Menunggu di kursi sambil mencharger Hp, Kak Dedi dengan baik hati memberi tahu rute pulang menggunakan KRL karena terlalu lelah kalo harus pulang menaikki motor. Meski takut dan gak pernah naik KRL sebelumnya, dengan beberapa transit dan menaiki semua KRL terakhir. Pukul 1 malam sampailah aku di kosan temen yang gak ada orangnya. 

Karena lelah, sehabis mandi aku langsung tidur.

Keesokan harinya, aku diajak teman dari Depok untuk jalan-jalan. Tujuan belum jelas. Setelah bertemu kami memuuskan untuk ke Monas, hari itu Jumat. Hari yang kata kebanyakan orang hari pendek. -_- 

Orang Depok gak paham jalan Jakarta. Menuju Monas berasa jauh sekali. Muter-muter, kelelahan, polusi yang yahhhhh. Tapi, membelah jalanan Ibukota dengan motor memasuki Jakarta Pusat, aku memiliki kesan berbeda tentang Ibukota. Tertata, rapi, megah dan lumayan lenggang. Aku sempat berpikir, gapapa menetap di Jakarta asalkan Jakarta Pusat. Hahahah. 

Sampai di pelataran Monas tepat adzan Solat Jumat. Menunggu teman Solat Jumat. Selesai solat, kita makan. Kebetulan hari itu aku lagi gak solat. Jakarta selalu hanya jadi kota persinggahanku. Ini pertama kalinya aku menetap. Ke Monas pun pengaalaman pertama. 

Karena temen juga kurang paham dengan Monas, jadilah kita dari gerbang Monas ke pintu masuk Monas jalan kaki yang lumayan banget. Untung loh ya yang diajak ini gak cengeng dan gak suka ngeluh wkwkwk. Karena weekday, kita bisa masuk ke puncak Monas tanpa antri yang terlalu lama. Sebenernya aku gak terlalu gimana dengan puncak atau cawan. Aku lebih terhipnotis dengan Museum Sejarah Indonesia yang ahhhhh aku suka sekali. Aku suka ke museum, apalagi kalo sama kamu. Kamu kapan ngajak aku ke museum?

Untuk ke Monas kita bisa naik Trans Jakarta dan turun di Halte Monas yang kemudian jalan kaki menuju gerbang Monas yang menurutku tidak terlalu jauh. Terus mengantri kereta wisata yang disediakan oleh pihak pengelola Monas untuk sampai ke Pintu masuk Monas. Untuk pelajar atau mahasiswa, kita perlu membayar 15K agar bisa sampai ke puncak Monas. Itu sudah bisa mengakses keseluruhan Monas. Museum Sejarah Indonesia, Gedung yang ada di sebelah lift untuk ke puncak (aku gak tau apa namanya). Di ruang itu ada gambar Burung Garuda yang besar, tulisan proklamasi dll. Untuk sampai ke pucak, kita perlu memperhatikan hari berkunjung dan jam berkunjung karena antriannya bener deh kalo weekend. Saranku waktu sore hari adalah yang paling pas menuju cawan. Bisa ngeliat sunset menyela diantara tingginya gedung-gedung kementrian.

Di dalam museum aku menikmati sekali waktu, sampai lupa kalo temen harus pulang jam 3 sore. Semua monumen aku foto beserta keterangannya. Ah, jadi tau sedikit kan tentang sejarah Indonesia.

Keluar dari Monas dengan menggunakan kereta wisata. Menuju parkiran. Karena hari belum gelap, aku pantang pulang. Hahaha. Minta dianter ke Kwitang untuk memebeli buku. Ini lagi, Monas-Kwitang harus muter-muter karena gak tau jalan dan lalu lintas Jakarta. Padahal di maps maupun hasil bertanya sama petugas Dishub, Monas-Kwitang deket. 

Sampe Kwitang. Sepi. Karena setelah beberapa hari di Jakarta, aku baru tau kalo sore Kwitang gak serame di film AADC. Gak serame adegan Cinta yang dilepas pergi oleh Rangga. Jadi aku males banget, akhirnya aku minta dianter ke stasiun terdekat. Karena masih soreeee banget dan kebetulan ada sejenis mall di deket stasiun mampirlah aku kesana. Mencari buku alibiku pada nuraniku. 

Yak berkeliling seorang diri. Hampir khilaf membeli sepatu yang lagi diskon. Hari itu aku membeli satu buku yang keren sekali. Buku murah, tapi harus selektif karena mau hemat. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga. Makan aja harus keluar kosan dulu dan beli. Setelah merasa bosan aku pulang.

Berjalan kaki menuju Stasiun Manggarai. Mengalahkan rasa takut, memecah padatnnya lalu lintas Jakarta seorang diri. Aku merasa bahagia.

Wednesday, 8 November 2017

[Trip] Jakarta Tempat Belajar

Wednesday, November 08, 2017 0 Comments
Sudah dua minggu menetap di Ibu Kota. Menyaksikan bagaimana Jakarta bergulir dari tengah malam ke malam lagi. Ada beberapa hal yang harus diikuti dan diurus di Ibu Kota. Beberapa hal yang mungkin akan membawa kebahagian untuk Ayah dan Ibu, lalu memperkaya diri ini dengan pengalaman hidup mandiri. 

Karena sudah cuek dari lahir dan malasnya berpikir cerdas, aku harus sadar bahwa aku harus pergi saat jadwal test kurang dari 36 jam. Buru-buru menelpon Papa untuk keberangkatanku. Memesan tiket yang sempat hangus karena waktu pembayaran lewat beberapa detik saja. Ketika memesan ulang harga sudah naik. Waktu adalah uang man. 

Untuk pemesanan tiket pesawat, aku selalu menggunakan aplikasi Airy yang dulu hanya memiliki fitur pemesanan kamar. Harga di Airy cukup bersahabat dan untuk perjalanan jauh ada kode promo yang bisa digunakan untuk meringankan. Sayangnya, aplikasi ini belum melayani pembelian tiket kereta. Haha. Overall, thank you Airy untuk beberapa tiket pesawat yang sudah sering aku dapatkan.

Pertama, aku mempertimbangkan untuk berangkat malam hari tanggal 24 Oktober. Karena pakaian yang masih banyak kotor dan kebetulan ada Mei dan Salsa lagi berkunjung ke rumah. Hari itu kami sibuk menemani Mei mengikuti ujian online salah satu BUMN. Sambil menemani dua temen gilaku, aku sempatkan mencuci baju, menjemur dan berharap kering di sore hari. Karena masih dalam keadaan yang membingungkan, aku belum sempat memesan tiket. Saat adikku menanyakan jam berapa akan berangkat, aku hanya menjawab mungkin nanti malam. Setelah, ditelaah lagi karena test yang diiukuti adalah sesi terakhir. Aku sangat mungkin untuk terbang di penerbangan paling pagi besok. Ya, I think is a good choice. Tiket dipesan. Hangus. Memesan lagi. Terbayar. Siap berangkat.

Setelah kedua temanku pulang, perasaan sedih yang merundungku sejak tadi pagi mulai kembali merayapi hariku. Aku sedih karena lagi-lagi aku tidak memaksimalkan usahaku untuk belajar. Aku terlalu sibuk menyenangkan diri yang mungkin tidak penting untuk masa depanku. Setiap hari selain pekerjaan rumah, aku selalu berkeliaran di mall untuk sekedar membeli barang baru, karoke, nonton atau makan-makan. Hal yang dulu sangat bukan aku. Hedonisme broke my soul and I’m paralyzed. 

Sehabis isya aku mulai belajar. Dengan sangat serius. Dengan ditemani secangkir kopi hitam favoritku. I know I can. Tapi, rasa bersalah masih saja menggangguku. Aku takut mengecewakan banyak orang. Pada seseorang, kubagi rasa resah gelisahku. Tapi, bercerita memang tak pernah mengurangi beban bagiku. Hari itu, aku halangan dan baru sadar di waktu Magrib. Lengkap sudah. Saat kamu ingin merayu Allah dengan mesranya tapi kamu tidak berdaya untuk mendekat dan memperlihatkan ketulusan kalian. Benar-benar perasaan yang menyebalkan.

Belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Bukan hal yang menyebalkan mempeajari negara ini tapi sulit sekali rasanya hanya punya waktu sedikit. Materi ini belum pernah aku sentuh. Berbekal MK Civic Education yang aku jalani sepenuh hati saat semester 5, semuanya cukup membantu. I love this country and I need to know all about it. Terkendala untuk menghafal pasal-pasal. Aduhhh, tapi bukan Rumi kalo gak percaya sama kemampuan diri sendiri dan menyerah sebelum perang. Belajar hingga larut malam, lalu menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Jakarta. Mengangkat baju dari jemuran lalu menyetrika, melipat dan meletakkannya dikoper sendiri. Aku merasa sedih. Biasanya Mama ada. Hari itu aku hanya mempelajari TWK karena untuk TIU dan TPA sudah sering aku pelajari.

Jarum jam mulai bergeser, menunjukkan subuh kan segera genap. Aku mulai menyiapkan sarapan untukku serta adikku. 2 bungkus mie goreng dan nasi goreng. Semalaman tidak tidur dengan satu gelas kopi di lambungku, aku sadar tubuhku butuh asupan yang cukup untuk bisa maksimal.

Penerbangan pukul 7.10 WIB. Di pesawat, sialnya aku tidak mendapatkan kursi favoritku. Kursi dekat dengan jendela. Aku duduk di perbatasan lorong pesawat dengan anak sma yang ramai sekali. Saat pesawat mulai mengintruksikan untuk menonaktifkan Hp mereka masih cekikikan berfoto. Karena pernah mempelajari pensinyalan, aku benar-benar sadar betapa bisa fatalnya Hp yang menyala dengan aktifnya sinyal provider. Minimal plane mode is on girls. Karena masih saja nervous, aku kembali membuka buku untuk belajar. Lumayan nyaris seratus soal gambar terjawab. 

Landing di Soetta 8.06 WIB. Ada janji untuk bertemu dengan teman yang akan pulang ke Kalimantan Barat. Dia harus naik pesawat pukul 12 dan aku harus ada di tempat test jam 4. Bertemu lalu mengobrol dengan ditemani Ice cream strobery yang secara gak sengaja dibayarin temen. Haha. Thank you Kak Shihab! Ngarul-ngidul ngomongin kehidupan job seeker. Karena kesedihan yang melandaku sepanjang hari kemarin, aku tidak sempat untuk membawakan pempek untuk teman-temanku di Jakarta. Jadilah, indomie khas Sumatera Selatan “Mie Celor” aku bawa untuk aku berikan kepada mereka. Diajarin gimana untuk sampai di kosan Anita dan berkelana menggunakan KRL. Serta foto jalur KRL.

Jam 10 WIB kami berdua berpisah. Aku menuju ruang tunggu damri, Kak Shihab check in. Menunggu damri dengan rasa lelah dan gelisah. Dari bandara menuju terminal lebak bulus yang dengan normal cukup satu jam ini harus dilalui dua jam lebih. Aku beberapa kali tertidur dan masih saja belum sampai. Duduk mulai lelah dan aku mulai meghitung... apakah aku bisa sampai tepat waktu.

To be continued..