Friday, 13 October 2017

[Review] Dilan, Dilan #2, Milea

Assalammualaikum...... Bismillah
Entahlah apa yang sebenernya lagi aku rasain. Tapi, belakangan ini aku jadi orang yang terlalu banyak bicara. Membagi hal-hal tidak penting di snapgram/whatsapp. Aku bingung apa yang sedang terjadi pada diriku, curhatan yang mungkin sudah bosen didenger oleh Mbak Odett, Sabil dan Mei. Whats going on you my dear soul? Apa yang aku harapkan dari pertemuan singkat? Apa yang aku harapkan dari seorang manusia antah-berantah? Sudah Rum, dia bukan ragu. Tapi, memang tidak ada alasan untuk itu. 
sumber: http://style.tribunnews.com/2017/07/21/tahu-tidak-novel-dilan-ini-diangkat-dari-kisah-nyata-lho-penasaran-dengan-sosok-aslinya
Oke. Kali ini aku mau ngereview. Eh kayaknya bahasanya ketinggian ya. Aku mau cerita aja mengenai perjalananku selama membaca Buku Ayah, yak Pidi Baiq. Dilan. Dilan dengan kisah asmara SMA nya terkenal itu. Aku baru saja rampung membaca Milea, suara dari Dilan. Buku ini aku pinjam dari Salsabilah, sebenernya aku juga turut serta menemainya membeli buku ini. Sudah lama, tapi saat itu apalagi saat Salsa selesai membaca ketiga bukunya, aku masih belum tertarik membacanya. Dengan alasan, aku udah harus selektif dengan apa yang mau aku baca karena waktuku tak lagi banyak. Apalagi untuk kisah kasih masa putih abu-abu.
Sepulang dari Kalimantan Tengah, tiba-tiba aja bilang ke Sabil kalo aku mau baca Dilan dan langsung meminjam ketiga seri bukunya. 
Quote yang lagi populer sekali.
Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Ini adalah buku pertama Pidi Baiq yang aku baca. Aku gak terlalu kenal Pidi Baiq, hanya sebatas ada quote beliau di jalan Asia Afrika Bandung kalo gak salah yang pernah jadi background fotoku waktu berkunjung ke Bandung 3 tahun lalu. Hanya sebatas itu.
Buku ini memberikan kesegaran tersendiri dengan bahasanya yang simple dan nyaman. Kisah masa putih abu-abu selalu ringan untuk dikonsumsi. Dilan dengan kepribadiannya yang loveable banget menurutku. Siapa sih yang tidak akan jatuh cinta dengan Dilan? Iya kalo cowok wajarlah ya. Haha. Caranya yang unik untuk mendapatkan hati Milea Adnan Hussain. Cara Pidi Baiq menuliskan kisah mereka membuatku seolah-olah menjadi orang ketiga saat Dilan dan Milea sedang berduaan. Berkeliling Bandung tahun 1990. Rasanya Bandung begitu menyejukkan. Begitu ramah untuk menghabiskan waktu remaja dengan menciptakan ribuan kenangan disetiap sudutnya. Selain menyampaikan kisah-kasih Dilan dan Milea buku ini juga menceritakan tentang keluarga keduanya. Bunda adalah favoritku!!! Rasanya ada aja ilmu parenting disetiap bukunya. Buku pertama ini aku selesaikan cukup lama karena memang terpotong waktu berkunjung ke rumah Nenek di luar kota, terpotong karena masih ada buku lain yang belum rampung. Terpotong urusan kampus. Intinya meski menarik dan aku mulai jatuh cinta dengan Dilan, buku ini belum cukup kuat untuk menarikku berdiam diri membacanya sampai selesai sesegera mungkin. Dilan yang unik dan beda. Milea, kamu beruntung karena Dilan sempat menjadi milikmu.
Karena ketidak berdayaanku mencegah spoiler dari sahabatku Salsabilah. Kubiarkan kebiasaannya yang selalu banyak omong itu cerita apa yang mau dia ceritakan. Bahkan endingnya sudah diberitahukan sebelum buku Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1991 kubuka lembar pertamanya. Karena bukunya dipinjam oleh Odetta dan belum dibaca. Karena iseng main ke kamar adikku dan aku menemukan jodohku. Yak. Aku nemu buku Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1991 dan langsung saja kubawa ke kamar untuk kubaca.
Dilan, dia adalah Dilanku Tahun 1991 jauh lebih lucu dan buat ngakak. Cara Milea menceritakan Dilan disini membuatku semakin mau ke Dilan. Hahaha. Cara Dilan memperlakukan Milea, cara Dilan bersikap ke semua orang. Ah Dilan, tahun 2017 masih adakah laki-laki seperti kamu? Biar itu jadi milik Rumi. *iniapa-_-
Entahlah rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan buku ini. Karena nggak sabar untuk membaca Milea, Suara dari Dilan. Aku merasa sedikit bosan beberapa bab terakhir. Tapi, perihal membaca, sekali kamu memulai untuk membaca maka kamu harus menutupnya dihalaman terakhir buku. Buku ini dirampungkan dengan terseok-seok karena bosan tapi harus selesai.
sumber: google
Aku selalu penasaran dengan sudut pandang Dilan mengenai keseluruhan cerita dari Milea. Aku penasaran bagaimana Dilan berfikir dan mengolah semuanya. Benar saja Dilan memang patut mendapatkan hatiku *iniapa-_- bukunya selesai dengan tiga kali nutup doang. Dua hari selesai. Pasti lebih lama dari waktu yang kalian butuh kan? Tapi bagiku itu udah cepet banget untuk nyelesain baca buku romance lagi.
Dilan, dibuku ini keliatan sekali Dilan adalah pria cerdas! Puisi-puisinya cerdas. Biasa tapi mengagumkan. Bawa-bawa Enstain dan kecepatan cahaya lagi. Cara Dilan bergaul dengan teman-temannya, cara Dilan menjalani hari sebagai anak, adik dan kakak. Aku rasa Dilan memiliki kesamaan denganku. Mengejar kebebasan dan sangat tau bahwa semua ada batasan. Cara Dilan menuliskan kisahnya dari sudut pandangnya, menurutku yaaa seperti laki-laki pada umumnya. Dibuku Milea, Suara dari Dilan. Menurutku Dilan sangat menjaga harga dirinya. Sangat menjaga. Seperti itulah laki-laki. Mereka sangat baik dalam mengontrol perasaan. Perempuan bisa apa(?)
Milea..... selama baca buku kedua aku selalu cerita ke Salsa mengenai perkembangan bacaannku. Aku sedikit menyesali keputusan-keputusan Milea, mungkin karena aku juga pernah mengalami hal yang sama di masa lalu. Padahal, Milea begitu beruntung karena nyatanya Dilan sudah sangat pasti mencintai Milea. Kenapa harus mengekang? Kenapa harus mendikte? Padahal kita sama-sama tau Dilan itu seperti apa. Seperti itulah remaja. Seperti Dilan katakan, perempuan selalu ingin laki-lakinya berkembang nyaris sesuai dengan yang dia inginkan. Dengan menjauhi hal-hal yang tidak baik menurut perempuannya.
Bukankah saling mendukung untuk tumbuh kuat mencapai impian masing-masing itu jauh lebih keren? Oh iya, Milea masih SMA tahun itu. Tapi, mungkin yang akan dilakukan oleh seorang siswi SMA akan sama dengan Milea. Entahlah, tapi aku mungkin tidak akan pernah mengekang apalagi mengancam putus, Milea. Apalagi ke seorang Dilan yang marahpun tidak pernah. Dilan yang sangat menghargai Milea.
Ah.... intinya buku ini boleh banget untuk dibaca. Buku ini asik dan unik. Cara menulis Ayah (sepertinya beberapa orang memanggil Pidi Baiq begitu) sangat menyenangkan dan penuh gairah. Buku yang mungkin bisa sama-sama kisahnya kita jadikan pelajaran. Seperti itulah laki-laki dengan harga dirinya dan begitulah perempuan yang hanya bisa menunggu.
Aku pernah melewati, saat dimana sesorang seperti kilat berubah. Menghilang tanpa kabar sebagai respon dari sikapku. Mungkin dia seperti Dilan, tidak ingin menggangguku padahal aku terus menunggu.
So ladies, kalo ketemu yang kayak Dilan dipertahanin. Jangan dikekang. Jangankan laki-laki. Perempuan yang belum terjamah konsep emansipasi saja gak mau dikekang. Laki-laki itu harga dirinya tinggi. Hahaha dan perempuan hanya bisa menunggu. Tapi, jika itu Dilan.. maka aku tidak akan sekedar menunggu. Aku akan bertanya.. *inibohong
Ditulis setelah selesai menutup buku ketiga dan sepertinya tidak sabar untuk menonton filmnya.
Bye..
Assalammualaikum, ^^
22:50; Friday 13 Oct 2017.

4 comments:

  1. Aku belum selesai baca Milea. Well, kerasa banget sih beda feelnya karena ditulis dari sudut pandang Dilan. Kalo yg Dilan kan ditulis dari sudut pandang cewek, jadi kerasa banget feel romantisnya Dilan dan sukses bikin pembaca cewek langsung jatuh hati ke karakter Dilan. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pidi Baiq menyampaikan sudut pandang Milea dengan yaaa begitulah cewek :D

      Delete
  2. Aku udah baca semua novelnya pidi baiq, dan paling suka yg judulnya Milea suara dari dilan kalau gak salah, sweet banget bacanya hehehe

    salam kenal ya sheniliana.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sakam kenal Mbak Yuliana, wah penggemar Pidi Baiq nihhh. Terima kasih sudah berkunjung ke blog rumi :)

      Delete