Friday, 29 September 2017

Pulau Kemaro, Destinasi Wisata di Kota Palembang

Friday, September 29, 2017 0 Comments

Sekian tahun tinggal di Palembang, aku gak pernah menginjakkan kaki ke Pulo Kemaro. Salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Palembang, menurutku. Hari itu, minggu pagi aku mendapatkan undangan untuk ikut launching produk terbaru dari Cameraphone, Oppo. Acara launching dimulai dari pagi di Kuto Besak Theater Restaurant. Kami diperlihatkan produk terbaru dari Oppo yang akan menyebar secara serentak di seluruh Indonesia beberapa hari kedepannya. Selesai solat zuhur, kami dibekali satu Cameraphone dari Oppo untuk menemani perjalanan kami menuju Pulo Kemaro!!!! Wah bahagianya aku saat itu.
Saat itu mungkin ada seratus orang yang ikut menyebrang ke Pulo Kemaro, dari media partner maupun kru Oppo sendiri. Perjalanan sekitar 30 menit menggunakan Kapal Putri Kembang Dadar. Sesampainya di Pulo Kemaro ini, suasana kental sekali dengan nuansa merah klenteng. Lampion-lampion tertata rapi mengikuti tapak jalan bergantungan.
Akhirnya, gadis Palembang ini menginjakkan kaki di Pulo Kemaro. Gratissssss! Hahahaha. 
Pagoda 9 Lantai, tampak samping
Pulo Kemaro ini penyebutanku saja yang Palembang asli, nama sebenarnya Pulau Kemaro yang terkenal dengan Pagoda tingkat 9 dan pohon cintanya. Jarak dari Jembatan Ampera sekitar 6 km yang besebrangan langsung dengan PT.Pusri. Untuk sampai disini bisa menyebrang melalui Dermaga BKB atau juga Dermaga yang ada di PT.Pusri. Untuk menyebrang dengan kapal biasa atau getek sekitar 200K untuk perjalanan pulang pergi. Setiap tahun baru Imlek akan ada acara Cap Go Meh di Pulo Kemaro dan biasanya akan ada Kapal Tongkang yang memberikan penyebrangan gratis kesana. Saat itu juga biasanya pintu Pagoda dibuka untuk umum.
Selain Pagoda yang dibangun tahun 2006 lalu, di Pulo Kemaro terdapat Vihara Cina dengan nama Klenteng Hok Tjing Rio atau lebih dikenal dengan nama Klenteng Kuan Im dibangun sejak 1962. Di depan Klenteng ini terdapat 3 buah makan, makam Tan Bun An (Pangeran Cina), Siti Fatimah (Putri Raja Palembang) dan pengawal sang Pangeran. Pulau ini terkenal dengan kisah cinta sang Pangeran dan Putri yang konon tenggelam di Sungai Musi. Ada juga Pohon Cinta yang melambaangkan cinta sejati, apabila ada pasangan yang menuliskan namanya di pohon ini katanya akan langgeng sampe nikah. But we know guys, nyoret-nyoret pohon itu gak dibenarkan.
   


Tempat beribadat Umat Budha


Disana juga terdapat tempat makan, ada beberapa pedagang dogan, air mineral dan makanan. Kebersihan Pulau ini menurutku sedikit tidak terawat dan masih berantakan. Ada beberapa fasilitas yang sepertinya sudah rusak, seperti tempat sampah dan keran air minum atau keran tempat cuci tangan gitu..
Tempat Pembakaran kertas
Setiap sisinya diambar dengan sangat cantik

Harumi dipintu samping Vihara
Pulo Kemaro menghadap Sungai Musi

Patung yang terdapat disisi kiri Pagoda
Tuna Wisma yang seharusnya lebih diperhatikan lagi oleh Pemerintah^^
Perjalanan yang menyenangkan. Kalo orang bilang cinta tak butuh alasan. Aku selalu meyakini kalo cinta butuh alasan. Jalan-jalanlah, kenali lingkunganmu, telusuri tempat tinggalmu, tempat dimana kenangan tumbuh bersama kembangmu. Lalu perlahan akan kamu temui alasan kenapa Palembang harus kamu cintai.
Cinta butuh alasan – Harumi. ^^
Sungai Musi sebagai Jalur Transportasi, juga wisata
Sepanjang jalan di BKB yang sekarang udah rapi dan bersih!
Ayok jalan-jalan, ayok ke Pulo Kemaro!!!!
Wassalammualaikum.

Thursday, 28 September 2017

[Trip] Kehangatan di Kaki Gunung Dempo

Thursday, September 28, 2017 0 Comments


Haloooooo, assalammualaikum^^


           Hari ini Palembang hujaaaaan seharian, dingin sekali. Mengingatkanku pada Pagaralam atau Semende yang berada di daerah daratan tinggi Sumatera Selatan. Kamis kali ini Palembang berduka, karena mantan Walikota Palembang. Alm. Romi Herton meninggal dunia di Serpong sekitar jam 3 pagi. Semoga segala dosa diampuni dan semua amal ibadah diterima ya Pak. Seperti hukumnya, kesalahan besar hanya dimiliki orang-orang besar.

Oke... kali ini aku mau throwback nyeritain pengalaman kedinginan di kaki gunung. Entah deh di kaki sebelah kanan atau kiri. Gunung Dempo. Mungkin Gunung paling populer di Sumatera Selatan, Gunung yang paling sering disambangi puncaknya oleh anak-anak pecinta alam. Karena kata mereka, muncak itu candu. Iya, kayak aku candu pada kata-katamu. Gak deng, kayak aku candu pada kopi hitam. Candu, kemudian rindu.
November itu, kami baru saja melalui satu tahapan menuju puncak gemilang cahaya selesainya satu MK di kampus. Dadakan, tanpa ada persiapan yang heboh kami berencana nge-camp di Kaki Gunung Dempo! Berbekal dua temen cowok yang udah pernah sampe puncak dan kelengkapan dokumentasi yang handal, aku beranikan diri untuk ikut. Lumayan habis ngerjain laporan yang tiada henti revisinya. Ngeprint sana-sini, kegiatan nginep yang jadi kamuflase buat main uno dan remi doang, berangkatlah kami berdelapan sepulang ngampus langsung ke terminal bus menuju Pagaralam.
Pergi jam 2 siang dari Kertapati, kami sampai jam 10 malam di rumah Ayah Anton. Salah satu, kuncen Gunung Dempo. Kalo nggak salah mengingat, waktu itu Ayah dalam keadaan masih berduka karena ditinggal Istri beliau menghadap Allah swt. Kelelahan karena berjam-jam didalam bus langsung terbayar cash saat sampai dipelataran rumah Ayah Anton. Kerlap-kerlip lampu Kota Pagaralam terpancar jelas dari rumah yang memang jauh lebih tinggi dari kota. Hal ini sulit ditemui di Palembang. Menginap untuk beristirahat dibelakang rumah Ayah, mengalami kedinginan yang lumayan menusuk. Padahal sudah tidur dengan perlengkapan yang sesuai intruksi.
Keesokan harinya, jam 8 pagi kami pamit untuk menuju Kampung Empat namanya. Tempat dimana titik terakhir terdapat rumah warga dan mushola. Kami menuju Kampung Empat dengan menumpang Truck pengangkut pemetik teh. Jalan yang dilalui menanjak berliku dan tak mulus. Alhamdulillah semua itu dilalui bersama teman. Andi yang tak henti membunuh waktu dengan “Aku ado cerito”. What a great moment to remember, Ndik. Guncangan-guncangan diatas truck itu terlewati dengan apik bersama, ada ketawa yang lepas, ada topi yang terhempas, ada rasa yang lekas. Pemetik kopi yang tersenyum simpul, menghangatkan udara yang kian dingin saat keberadaan kian tinggi sedang mentari belum bersinar sempurna.
Sampai di Kampung Empat, disambut dua anjing lucu dan hamparan tanaman daun bawang. Disini ada pos peminjaman perlengkapan mendaki dan warung makan. Di pos itu setiap pendaki wajib melapor kalo hendak mendaki, ruangannya cukup luas dihuni oleh beberapa orang yang memelihara anjing lucu tadi. Ada kamar mandi dengan air super dingin, dapur disebelah kanan serta beberapa perlengkapan mendaki. Karena rencana ini cukup dadakan, kami tidak membawa perlengkapan yang cukup memadai dari Palembang. Hanya beberapa sleeping bag. Jadi kami menyewa dua tenda, sleeping bag dan hammock. Ternyata harganya lumayan jauh lebih mahal dari penyewaan di Palembang. So pasti karena tingkat urgensinya beda. Wkwk
Di depan tempat Pelaporan untuk ijin mendaki, ada penyewaan perlengkapan mendaki. Pretty sure, I'm forget the name. In frame (Ilham, Rumi, Roby, Diah, Andi)
Perjalanan dimulai jam 10 pagi, kami hanya diajak melewati pintu rimba. Tapi, jalannya begituuu. Ah, alhamdulillah semua sampai dengan selamat. Perjalanan dua-tiga jam itu lucu sekali. Berkali-kali teman-temanku terjatuh, terpeleset. Mungkin sepatu yang digunakan kurang tepat. Because we are newbie. Kali itu aku hanya beruntung karena menggunakan stepa hehe. Sejauh perjalanan aku mengekor Purbaya sebagai pemimpin perjalan, aku jauh melesat didepan. Perjalanan melalui gerimis hujan, membuat udara semakin dingin dan lelah semakin menyergap.
Sampai di pelataran tempat tenda akan dibangun, keadaan kami semua sudah kuyup diguyur hujan. Disana terparkir Avanza putih dan satu tenda yang riuh suara gitar. Seisi tenda mulai menyapa, satu-persatu. Kami mulai membangun tenda, satu tenda khusus perempuan dan satu untuk laki-laki. Saling berhadapan. Hujan terus turun, kami berkumpul di satu tenda untuk menyantap makanan dan as always maen setsot! Satu tenda mungil diisi delapan makhluk hidup. Hangat sekaliii.
Menjelang sore, kami sudah berkenalan dengan pemilik tenda sebelah. Hanya Kak Wawan yang namanya terniang sampe sekarang. Hai Kak Wawan!!! Sore itu tiba-tiba ada mobil yang datang dan memberitahu kalo besok akan ada perlombaan diarea Gunung Dempo ini. Aku lupa lomba apa, the point is ditempat kami membangun tenda akan dibangun tenda untuk keperluan besok. Tenda tim sar yang besar, alhamdulillah karena tenda-tenda mungil kami bisa masuk didalem tenda yang lumayan melindungi dari terpaan angin malam. Malam datang dengan dinginnya, malam datang dengan riuhnya. Didalam tenda kami jadi bergabung dengan kakak-kakak dari tenda sebelah. Makan bersama, bercerita dan bernyanyi ria. Mengenal orang baru selaalu menyenangkan. Kami bahu-membahu menjaga nyala api, untuk menghangatkan sekaligus menerangi. Dingin begitu menusuk karena kurang safety. Malam habis dilalui dengan nyani-nyanyi didepan nyala api yang tak lagi besar. Lewat tengah malam kami keluar untuk melihat hamparan bintang dan cahaya dari Kota Pagaralam, lalu mengabadikannya lewat kamera.

Kedinginan....
About 2AM
Lelah yang melingkupi tubuh, membuat moment sunrise terlewaaatt. Ah, hari itu hujan masih saja turun. Kami enggan keluar tenda. Sorenya kami bermain air dibelakang tempat kami mendirikan tenda, sedikit turun kebawah ada mata air dengan batu yang membentuk perosotan. Seperti biasa, sebenarnya aku takut sekali untuk ikut merosot. Tapi, kalo gak sekarang. Kapan lagi. Perosotan alami itu kira-kira setinngi 2 meter, langsung kekolam dengan dalam sekitar dua meter dan diameter satu meter. Airnya(?) Brrrrr.
Alam selalu memampu mengembalikan lagi hal-hal yang mungkin tanpa disadari mulai melayang pergi karena hiruk-pikuk perkuliahan dan ibukota. Hijau yang dingin berhasil menghangatkan jiwa muda kami. 
Dempo! Suatu hari nanti aku akan berada di puncakmu! Bukan karena aku ingin memamerkan foto-foto cantikku. Tapi, karena perkenalan ini terasa belum purnama. Kelak, ijinkanku meminangmu dengan semangat dan ketulusan belajar. Belajar, bahwa alam kan selalu baik-baik saja tanpa manusia. Bahwa alam tidak membutuhkan manusia, sejatinya manusialah yang bergantung dengannya.
Beautiful view and I.
<3
Ternyata kita bersembilan. Too lazy to make it right! WKWK
CSEA<3 In frame (Rumi, Salsa, Diah)
Sempat kehabisan bahan makanan, aku mengekor dua temen Kak Wawan untuk pergi mencari sayuran. Perjalanan lumayan jauh dan naik-naik ke kebun warga, pastinya sudah izin dong yaaa. Hehe. Kami menuju kebun kubis yang ditanam dilereng-lereng gunung yang menanjak. Sampai dihamparan kubis, wah rasanya bahagia sekali memetik kubis bersama dua lelaki asing. Wkwkwk. Sedikit takut tapi kapan lagiiiiii. HAHAHA. Kubis itu lalu dimasak dengan ditumis tapi berkuah, menggunakan bawang dan cabe. Entahlah hari itu rasanya begitu enak, nikmat.
Keesokan paginya, kami pulang ke rumah Ayah Anton. Ternyata dari tempat ngecamp ke Kampung Empat cukup berjalan kaki selama 30 menit tanpa harus melalui jalur pendakian. Tapi, kalo gak gitu kapan lagi kan ya. Sempat terlantar di Kampung Empat, kami sampe di rumah Ayah Anton dengan diantar Kak Wawan. Oh iya, nasi goreng Kampung Empat juara sekali. Seperti nasi goreng masakan almh. Nenek yang memang asli Pagaralam.
Foto bersama teman-teman Kak Wawan sehabis makan nasi goreng Kampung Empat!
Sampai di rumah Ayah Anton kami langsung istirahat. Menghela dingin dengan tidur bersama pakaian berlapis-lapis. Sorenya aku dijemput sepupu mamaku untuk bertandang ke rumah adik almh. Nenek di Jemaring. Sudah lama sekali tidak berkunjung, semenjak almh sakit. Mudik sudah tak pernah lagi. Bertemu keluarga jauh, disambut sebaik-baiknya. Ahhh, rasanya keluarga dan teman memang anugerah yang indah.
Lepas magrib kami bertemu di loket bus menuju Palembang. Berangkat malam hari dari Pagaralam, subuh sampai di Kertapati. Tepat tanggal 6 November. Hari ulang tahun Diah.
Perjalanan yang indah, cerita renyah yang akan dikenang dan dibagikan. Selama perjalanan solat banyak tinggal. Managemen solat emang sulit bagiku saat lagi dalam perjalanan. Semoga kelak bisa jalan-jalan tanpa meninggalkan solat ya Rum! Terima kasih teman-teman, apapun aku bagi kalian. Kalian adalah orang-orang yang ikut serta menjadikan aku seperti saat ini. See ya on top, in the jannah track!
With Love,
Perjalanan yang telah lalu, nyaris satu tahun lalu.
Harumi, Rumi, Mi, Mik.
Whatever you all name me.
Wassalammualaikum.