Monday, 10 April 2017

Masak Itu Seni

Heyho... Assalammualaikum... Sebenernya aku udah nulis beberapa “tulisan” tapi karena tulisan-tulisan itu harus di post dengan beberapa foto dan dipost via laptop jadi aku belum sempet. Fyi, hotspot dari handphoneku gak bisa connect ke laptopku. Udah, udah aku coba oprek-oprek. Tapi, aku tak mampu. Jadi gini. Saat makan tadi aku sambilan nonton Hitam Putih (Hidup ini)... sekilas sih tapi bahas tetang makan. Tentang masakan dan masak sih point yang aku dapet. 
“Waktu dia ngasih tau gue resepnya, gak gue dengerin. Gue masa bodo aja. Karena gue tau, sekalipun dia ngasih tau seluruhnya, details, tangan dia dan tangan gue gak akan bisa masak yang sama. Seenak masakan dia. Dia udah masak ribuan kali. You cannot copy an art.” 
Kira-kira itu point yang menohokku dan memberikan energi ke otak untuk memerintahkan jari-jari (mungil)ku menari-nari diatas keyboard laptop kesayangan akuuuu. Wkwkwkwk 
Masak. 
Salah satu hal yang sangat aku suka. Aku butuh. 
Masak terkadang bukan cuma mengenai menyajikan makanan yang bisa dimakan doang. Masak juga tentang cinta. Dimana kamu peduli tentang apa yang disukai orang, apa yang boleh atau tidak boleh orang makan. Apa yang baik orang tersebut. Masak itu seni! Aku sendiri sudah satu tahun terakhir ini terbiasa memasak, dengan segala keriwehan kuliahku memasak adalah salah satu hiburan termurah. 
Aku gak berharap bisa masak seenak mungkin, aku cuma berharap dengan masak orang-orang disekitarku sadar bahwa aku peduli dan cinta dengan mereka. 
Sebagai perempuan. Perempuan yang hidup di tengah hiruk-pikuk perdebatan emansipasi, aku cuma punya impian kalo nanti masakanku adalah masakan yang bakalan paling dirindukan oleh keluargaku. Bakalan ada anak-anak atau remaja-remaja tanggung yang bilang “masakan yang paling enak itu.... masakan Ibuku”. Pay off  banget. Ala bisa karena biasa, last but not least. You cannot copy an art! 
Wassalammualaikum.

No comments:

Post a Comment