Sunday, 12 March 2017

Save Street Child Palembang; We Care To Share


Puput. Salah satu adek didik Sukawinatan
Assalammualaikum...
Pasti sudah pada nungguin kan ya postingan terbaru aku? Pasti udah beberapa kali ngerefresh laman blog aku.... taraaaa.. di pagi yang sedikit lenggang sehabis masak, mau ke kampus tapi janji sama temen jam 8 dan ada niat buat nulis! Yukkkkkk.
Kali ini aku mau ceritain tetang kegiatanku yang selalu aku laluin (Insyaallah) setiap Hari Minggu, yaitu jadi salah satu penghamba ilmu dan kesenangan di TPA Sukawinatan. Tau TPA Sukawinatan kan ya man-teman? Apalagi yang domisili Palembang, harus tau. Itu penting, I swear. TPA (Tempat Pembuangan Akhir), sudah kebayang lah yaa... Sukawinatan, tau kan daerah-daerah “Suka”? Iya mereka gak berjauhan kok. Kalo dari lrg. Sukabangun lurus aja sampe ketemu STAN terus ketemu three junction turn left sampe ketemu perempatan turn left, just go ahead sampe ketemu jalan Soetta lalu nyebrang. Ngeliat gunung? Iya Gunung Sampah. Berarti kamu hebat!!!
Jadi gini... Kampung TPA Sukawinatan itu bisa dibilang masih sangat marginal sekali. Beberapa tahun yanag lalu (+5 tahun) datanglah kakak-kakak pendiri SSCP untuk membuka kelas dilingkup TPA Sukawinatan. Mereka menawarkan kepedulian dan keikhlasan untuk sama-sama bergerak mewujudkan cita-cita negeri ini. MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA. Sudah seharusnya cita-cita suci itu ada disetiap doa dan sikap anak bangsa ini.. Kamu anak siapa? Mama, Papa doang yaa???
Setahun yang lalu aku baru gabung di Komunitas ini, karena sangat tertarik melihat dari kegiatan-kegiatan yang di share di akun Instagram @SSChildPLG (Chek it out!) dengan waktu pendaftaran yang bakalan tutup di hari itu aku mendaftar bermodalkan numpang di laptop temen untuk nulis CV dan essay lalu melipirlah berkasku itu ke email SSCP. Ya, aku keterima! Ada sesi wawancara yang diadakan di Masjid simpang Dunkin (For sure, aku lupa banget nama masjidnya). Hari itu juga hari pertama Rapat Relawan Lentera Sekolah, jadi aku, Kak Edo dan Regha datang telat ke lokasi wawancara. Alhamdulillah masih disambut dengan hangat.
Keesokan harinya kami diajak ke tempat-tempat mengajar SSCP, tahun lalu SSCP memiliki tiga lokasi mengajar yaitu: PS BAR (Panti Sosial Bina Anak Remaja), PS PRAN (Panti Sosial Rehabilitasi Anak Nusantara) dan TPA Sukawinatan. PS BAR adalah panti sosial khusus perempuan, rentang umur yang ada dari 4 tahun-16 tahun. Sedangkan PS PRAN khusus laki-laki dan ada beberapa rumah keluarga di dalam lingkungan PS PRAN yang jauh lebih luas dari PS BAR dan Kelas Sukawinatan yang ada di TPA Sukawinatan. Kelas yang selalu penuh, selalu rame dengan anak-anak kecil yang polos juga semangat.
Tapi, Kelas PS BAR dan PS PRAN sudah tidak ada karena Panti Sosialnya diganti menjadi Panti Tunanetra dan adik-adik asuh dipindahkan ke beberapa Panti Asuhan atau dipulangkan ke rumah.
Sempat hanya ada Kelas Sukawinatan, kami mulai menyusun Kelas Bahasa Inggris yang seharusnya akan diterapkan di Panti Sosial, karena keterbatasan jadi kami mulai membuka Kelas Bahasa Inggris di Panti Asuhan Doa Ibu. (Details, next post maybe hehe)
Kelas Sukawinatan itu memiliki +60 adik didik yang terdiri dari umur 4 tahun sampe 15 tahun. Diantara 60 adik tersebut ada yang putus sekolah dan masih terus sekolah. Ada yang tidak bisa membaca, sulit mengingat, malu untuk berbicara, takut untuk menjawab. Ada yang sama, antara aku dan mereka. Kami sama-sama anak bangsa ini. Malah mereka lebih semangat, sangat semangat! 
Ketua SSCP dan beberapa Adik didik Kelas Sukawinatan
Bagi kalian yang punya adik di rumah atau kalian yang menjadi penikmat video balita-balita cerdas. Coba deh main ke Sukawinatan, coba ngerasain sensai ngajarin Aurel dekte, atau ngajarin Puput mengenal huruf. Ngediemin Jumat atau ngerayu Icha yang suka ngambek lalu nangis. Yokkkkkkk, rasain menjadi bagian dari proses seseorang mengenal sesuatu.
Great things never came from comfort zone, dude.”
Dari awal mereka cuek-cuek aja dengan kehadiranku, lalu mulai tertarik kalo liat aku dateng kemudian mulai memanggilku dengan Kakak Les (sebagian masih wkwk).
Kak Rumi
Ya. Beberpa udah mulai mengingatnya. Hehe.
Biasanya kami mengajarkan mereka mengenal huruf, membaca, menulis, belajar matematika ataupun membantu mengerjakan PR. Setiap bulannya juga ada kegiatan Minggu Kreatif yang akan diisi dengan sama-sama belajar memperbaharui barang bekas menjadi benda-benda lucu dan punya nilai jual. Kelas Sukawinatan, ditumpangi tempat berukuran kira-kira 2x3m di sebelah timbangan bak sampah. Ruangan ini penuh dengan keceriaan di setiap Hari Minggu. Untuk buku bacaan dan alat tulis pun lengkap. Meja belajar dan alat-alat mewarnai ada di Sukawinatan.
Betapa senangnya mereka!

Gunung Sampah di TPA Sukawinatan.
Adik-adik kedatangan HIPMI SUMSEL.
Adik-adik menerima donasi dari Zetizen Sumeks.
Pengajar dan Mahasiswa UIN yang lagi KKN.
            Minggu berganti. Minggu lainnya menyambut. Mereka layaknya pengingat bahwa semua hal hanya perlu dihadapi dengan ikhlas dan ketulusan. Time takes time. Mereka seperti mendikteku, bahwa kesabaran itu tak berbatas. Sabar, sabar, sabar lagi dan sabar terus. Mungkin sebenar-benarnya aku bukan mengjar tapi belajar. Belajar dari mereka yang selalu semangat dan ingin tau.
            Banyak hal yang dipelajari, termasuk belajar rindu kalo Hari Minggu harus berhalangan hadir. Semoga kehadiran kami memberikan sesuatu, walau hanya sedikit bagi hidup dan kehidupan kalian dek... semoga kalian bisa terus menghidupkan cita-cita dihati kalian, berusaha mewujudkan walau apapun keadaannya, semoga kami terus bisa membantu dengan doa dan apapun itu.
            We Care To Share.
            Wassalammualaikum..

No comments:

Post a Comment