Friday, 24 January 2020

Lalu.. Apa yang Dibutuhkan untuk Menilai Seseorang?

Friday, January 24, 2020 0 Comments


Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang? Apakah perjalanan jauh mengajarkan banyak hal? Seperti, bagaimana caranya menyapa? Menanyakan letak jalan tujuan. Apa yang dibutuhkan untuk melihat sepenuhnya, seseorang? Apakah percakapan ratusan ribu jam membuat lebih peka? Jika seseorang bicara sambil melirikkan mata ke kiri atas, berarti orang tersebut seorang visual. Yang lebih suka dengan hadiah ketimbang puisi panjang nan romantis.

Hidup menuntut kita untuk terus belajar, dari setiap karbondioksida yang dikeluarkan maka harus ada hal-hal baru yang dialirkan ke jaringan-jaringan otak. Hari-hari sekarang mungkin tak pernah terbayangkan, saat dulu ingin sekali menjadi orang dewasa. Yang tak dicari-cari saat siang hari, untuk sekadar tidur siang. Atau menahan diri untuk tidak keluar rumah, saat izin tak didapat. Yang terputar saat dulu hanyalah, saat dewasa bisa berpergian jauh dan punya banyak uang. Akan lebih didengarkan.

Malam sulit tidur, pagi susah bangun, siang menahan kantuk. Seperti ini ternyata menjalani hidup saat tak ada lagi yang mencari-cari, memaksa untuk tidur siang.  Dalam perjalanan terbayang-bayang, pohon nangka yang selalu berbuah di depan rumah. Kegiatan di pagi hari saat harus menyapu reruntuhan daun nangka yang menguning di jalanan depan rumah, menumpuknya di tempat sampah. Atau saat memanen buah nangka yang besar, memisahkan antara buah dan kulit, menyimpannya dengan rapi di dalam kulkas setelah dibagikan ke tetangga.

Padatnya jalanan kerap membuat waktu tidur harus dipangkas, menampilkan lamunan-lamunan jauh. Papan-papan reklame memuat promosi sebuah film, yang menjadi sebuah akhir dari kisah Anak Betawi. Sinetron kesukaan banyak orang, selalu diputar ulang di stasiun tv. Sehabis mandi adalah saatnya menonton. Duduk manis, melayangkan banyak rindu-pilu-biru yang tak seorang pun tahu.. dan ingin tahu. Kuku-kuku panjang harus dipotong, kemudian pindah ke teras rumah sekadar untuk merasakan hangatnya sinar mentari, dibantu tongkat yang sudah menemani sejak sebagian tubuh lumpuh.

Perjalanan malam, saat pulang. Berjalan lambat sambil menatap langit yang tak mampu memperlihatkan warna sebenarnya, pesona luasnya bentang hitam dengan titik cahaya, dari planet maupun kerlip bintang. Tepat di depan pagar rumah, sebelum malam larut akan duduk menatap langit, menebak-nebak hiasannya. Menukar cerita, yang tak selalu membawa keceriaan. 

"Lihat tiga bintang yang berderet itu, ada di sisi kanan dan kiri. Itulah mata bumi kita ini."

Lalu setiap kali ada waktu, mata-mata yang selalu membawa kembali itu sulit untuk ditemukan. Harus berlibur untuk melihat langit. Harus berlibur untuk menyempurnakan satu kenangan.

Jadi teringat, kenangan menghabiskan sisa-sisa malam di sebuah pasar, kedinginan sambil sedikit takut, menanti fajar dibawah pekat langit dan taburan bintang yang seakan dekat. Hari raya tanpa kekenyangan. Jauh-jauh melangkah, yang kutemui malah kekal yang tak pernah ingin usai.

Lalu... Apa yang dibutuhkan untuk menilai seseorang?

Saat jauh pikirannya saja tak akan pernah sanggup digapai.

Thursday, 23 January 2020

Aku dan Jejak Digitalku

Thursday, January 23, 2020 0 Comments
Kebiasaan menulis sudah sangat berkurang, rasanya susah sekali untuk menghasilkan satu tulisan yang bermanfaat, yha walaupun sekadar curhatan. Kalo punya makna kan asik yha. DA blog juga turun drastis. Hehe. 

Rencana tahun ini, mau rajin nulis dan lebih percaya diri lagi. Ternyata, aku masih kurang percaya diri kalo tulisanku dibaca orang, wkwk. Seneng sih, tapi masih malu-malu juga. Sering terjadi pergolakan batin, kok ya kalo orang nulis namaku di google langsung muncul semua... akun media sosial-ku, mulai dari instagram, fb, twitter, blog dan segala macemnya. Kadang sedih, karena gak bisa bersembunyi. Sering iri sama orang yang gak punya jejak digital... 

Pernah mencoba non-active akun instagram, karena merasa, kok ya enak aja orang bisa tahu segala kegiatanku, tahu tentangku, hanya dengan modal gawai dan paket internet. Tapi hanya bertahan gak lebih dari dua minggu, pernah juga kepikiran buat menghapus semua akun media sosial. 

Setelah pergolakan batin yang sekian kali. Aku memutuskan untuk tetap menggunakan berbagai macam media sosialku. Menurutku, as long as yang aku share tidak mengganggu orang lain dan berusaha menebar manfaat. Yha, ndapapa. Ya kan? Tapiii, tetep aja sering mikir. 

"Rum, semua orang bisa tahu semuanya loh."

Nyaris semua akun media sosial-ku di setting untuk public, yha karena beberapa media sosial juga menjadi sarana untuk dapet uang jajan. Hehe. Jangan minta aku untuk buat fake account atau second account, paling tidak bisa berpura-pura, memilih-milih teman dan sebagainya.



Apa Adanya dan Tebar Manfaat

Gelombang gejolak mengenai privasi di era digital ini selalu ada tempat dipikiranku, terkadang mengajak emosiku untuk turut andil memikirkannya. Huft. Tapi ada beberapa hal yang selalu membuatku merasa, ndapapa asalkan bermanfaat. 

Sisi diriku yang selalu menuangkan cerita lewat aksara, biasa aku publish di instastory. Sering terpikir, bosen gak ya orang yang baca ini, atau apa sik yang dipikirin orang tentangku. Anak kemarin sore yang sok-sokan berbagi. Tapiii, dilain waktu ndak jarang ada beberapa teman membalas dengan komentar yang menyenangkan. Walau terkadang hanya sekadar emoji berbentuk hati. 

Hal-hal kecil seperti inilah yang menjadi salah satu alasan untuk tetep sharing melalui tulisan-tulisan singkat. Ya, motivasi terbesarnya, biar tetap terbiasa nulis. Walaupun cuma berapa kata, tidak beraturan, menurutku menulis itu tidak mudah. Jadiii, yha harus dibiasakan. Siapa tahu, suatu saat nanti tulisannya semakin membaik. Aamiin.

Ada istilah fake account bahkan alter account, untuk menyembunyikan jejak digital. Kok yha aku gak kepikir buat akun yang bener-bener buat orang gak akan bisa ngetrack si pemilik akun in real life. Tergantung pemanfaatan akunnya kali ya. Tapi, bagiku menjadi diriku. Menjadi apapun, berbagi apapun, jika tidak melukai diriku dan tidak melanggar hak orang lain, yha berbahagialah. 

"Jangan persempit dunia yang belum bisa kita jangkau luasnya ini dengan pikiran aneh-aneh."


Think, Feel, Act

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar tiga jurus jitu think, feel, act dari Bos di kantor. Tampak familiar, ternyata sudah mulai aku aplikasikan sejak di Palu, dampaknya bukan main, hidup jadi lebih luwes. Hehe. 

Pikiran adalah kunci. Pikiran adalah ujung tombak. Pikiran adalah akar. Pikiran adalah pusat kendali. Benar sekali, terkadang bahagia hanya sebatas pikiran. Kaya miskin, hanya masalah pikiran. Cukup atau kurang hanya tentang pikiran. 

Memikirkan dunia ini, sudah pasti tak akan ada habisnya. Belum lagi manusia di dalamnya. Jangan diragukan, emosi pasti akan ikut menyertai setiap pola pikir yang terbentuk, ujung-ujungnya bikin depresi. Pikiran mempengaruhi perasaan dan sangat mempengaruhi keputusan. 

"Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, jangan membuat janji ketika sedang senang. - Ali Bin Abi Thalib."

Kamu, adalah Tuan pikiranmu. Jangan biarkan suara-suara sumbang, yang tidak membangun memasuki ruangan spesial milikmu itu. Jadilah dirimu, dalam versi terbaik. Ingatlah satu, "sebaik-baik manusia, adalah mereka yang bermanfaat." Tidak perlu membahagiakan banyak orang, fokuslah membangun kebahagiaanmu, percayalah orang yang menyayangimu akan turut berbahagia. 

Membangun pola pikir yang sehat sudah banyak sekali membantuku, terutama dalam melewati quarter life crisis, dari terkapar, sampai bisa jalan santai dan menatap semuanya dengan tenang. 

Kalo kamu sedih ya rasakan, kalo kamu marah ya lampiaskan, kalo kamu bahagia ekspresikan, jika bagimu menangis sendiri adalah yang terbaik, ya lakukan, jika bagimu membagi amarah di sosmed bisa melegakan, ya silakan, rilis semua rasa itu, selagi itu membuatmu lebih baik. 

Tapi ingatlah... semua rasa itu juga pernah dilalui oleh banyak orang. Kalo kata W.S Rendra "Suka duka kita bukanlah istimewa, karena setiap orang mengalaminya." Jangan tunggu hari esok untuk bahagia, untuk merasakan rasa sakit, rasakan saja. Tapi ingat! Bumi terus berputar, waktu tak akan menunggu walau sedetik.

Hidup adalah proses belajar, yang ujungnya adalah kematian. Tapi, kita terbiasa mengenal belajar adalah menghafal, belajar adalah menghitung angka. Padahal menjadi bahagia pun ada ilmunya. Harus dipelajari setiap hari.

Selamat belajar teman-teman, terima kasih sudah membaca! Tunggu buku-ku yha, hehe. Semoga tahun ini bisa nerbitin buku.... puisi. Aamiin dong?



Friday, 3 January 2020

Belajar, Pulang dan Merantau

Friday, January 03, 2020 0 Comments
Tidak terasa sudah hari keempat di tahun 2020, sudah berapa draft tercipta untuk menuliskan perjalanan panjang yang dinamis nan manis tahun 2019. Susah sekali melukiskannya, walau hanya lewat kata-kata. Kalo ngelukis beneran kan jadinyaaa gambar. Hehe.

BELAJAR 

Pergantian tahun lalu, aku lalui di sebuah pantai yang cantik di Sulawesi Tengah, membunuh waktu dan menanti fajar dengan berbincang diatas pasir putih. Sampai dengan April, kuhabiskan waktu di bawah langit Sulawesi yang begitu indah, biru dan tampak sangat dekat. Menghabiskan waktu dengan belajar hal baru, belajar memahami diri, belajar hadir untuk diri, belajar memimpin, belajar mendampingi. Ya, aku belajar banyak hal, terutama ilmu psikologi.

Menjadi program officer di salah satu NGO Nasional adalah pengalaman kerja full time pertamaku. Menjadi bagian dari tim pendampingan psikososial tanpa latar belakang akademis membuatku harus ngebut belajar. Banyak sekali pertemuan-pertemuan ajaib yang membuatku lebih bersyukur, lebih mampu menerima, melihat dan mencintai diriku. 

Menyelesaikan project tepat waktu dan kembali pulang ke kampung halaman, Palembang. 

PULANG



Ada yang istimewa di tempat ini, ada banyak rupa dan juga topengnya. Diantaranya menyebabkan tawa, beberapa membuat tangis. Sejauh itu, semuanya adalah pelajaran.

Ada beberapa yang selalu datang dengan keluh dan kesah, membawa beban dan masalah. Tanpa sadar, kata-kata telah menjadi konduktor energi negatif. Karena memang beberapa itu hanya akan tenang hatinya, berkurang susahnya, setelah memelukku dan membuatku lemas kehabisan tenaga. 

Dulu aku bertanya-tanya, pada susah yang selalu datang dan bahagia yang melupakan. Tapi, seperti itulah, menjadi obat untuk rasa sakit, bukankah bermanfaat? Peran-peran ini mulai aku nikmati. Menyambut hangat, mendengarkan dengan baik, terkadang mengutuk pelan hidup yang kau cipta, penuh nanah. 

Aku juga menonton gemerlap yang dipertontonkan dan rasa iba yang dijual saat bertatap muka, empat mata. Padahal hidup dengan terhormat lebih mudah ketimbang belok kanan, belok kiri, mengikuti nafsu. Tapi, biarlah bebas, memilih adalah hak setiap bernyawa. 

Hak-hak itu bisa dinikmati, tentunya. Hak-hak itu adalah utuh. Sayangnya, tak semua orang terfasilitasi, mengenal baik buruk, mengenal untung rugi, mengenal praktik-praktik ilmu yang disampaikan melalui ceramah yang membosankan. Budayanya hanya angka akhir yang dilihat, bukan proses apalagi konsepnya. 

Berteman ambis, seseorang tampak arogan. Merasa hebat, berdiri dan mengeluarkan penyakit di atas panggung dengan pengeras suara. Prosesnya pasti disiplin, pengorbanannya pasti bukan main. Tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dengan lidah seperti itu. 

MERANTAU

Bagaimana rasanya berdiri sendiri? Menghidupi diri, lepas dan bertanggung jawab sendiri. Keputusan yang sulit juga sangat menarik. Membawa diri jauh dari rasa nyaman. Berpisah dengan orang-orang dan lari dari banyak rasa suka. 

Bagiku, Ibukota tak pernah semenarik saat aku mulai menjadi bagiannya. Karena tumbuh di Kota yang bisa dianggap besar dan pesat perkembangannya, aku kira semua itu sudah cukup memfasilitasi. Sayangnya, Ibukota diluar ekspektasiku. Tempat ini, seakan permainan baru yang masih bersih. 

Beberapa orang sibuk dengan cerita mengenai "orang dalam". Ada yang mencarinya, ada yang mengutuknya. "Pasti dia ada orang dalam". Haha. Padahal ada arena bersih yang bisa membuat tetap bersih. 

Beberapa orang sibuk dengan seragam. "Kenapa ndak daftar **** Rum?" hehe. Bahkan ada, "memangnya sudah punya uang berapa mau masuk itu?" Hehe. Hidup ini, sungguh ironi, mengantarkan anak-anak agar bisa menjadi jalan menuju surga, tapi mengajarkan kebodohan dan meragukan diri serta Tuhan dengan sikap sehari-hari

Yhaaa memang gila, tapi asik juga, apalagi bisa dinikmati.

Memilih tinggal di kostan. Mengisi kebutuhan dengan hasil kerja, memang lebih nikmat tidur di kamar yang disediakan oleh orang tua atau keluarga. Tapi seperti itulah, susah payah ini tidaklah istimewa. Proses ini dilalui oleh banyak orang.

2019, sudah menjadi tahun pembelajaran. Lebih fokus pada diri, bukan angan-angan yang tak pasti. Apalagi laki-laki. Haha. Terbitlah, tahun ini harus seperti mentari. Indah, berproses untuk menghangatkan. Tidak bermimpi aneh-aneh, cukup menjadi obat untuk diri sendiri dan menjadi alasan sekitar tersenyum walau hanya sesaat.

Terima kasih Rumiiii, karena sudah melalui semuanya! Sudah mau belajar. Eittsss, belajar adalah proses seumur hidup. So.. Jangan lelah, semoga dari tingkah laku, kamu bisa jadi pengajar yang baik.

Terima kasih pula teman bermain Rumii! Yang senantiasa menjadi ilmu dan pengajar. Mari kita rapatkan barisan, hempaskan toxic. Hehe. Semoga Allah melindungi dan merawat akal pikiran serta hati kalian. Pis, lov n gawl.