Sunday, 16 December 2018

Tepat, Saat Ku Jauh

Aku ingin kau abadi, pasti, terukir sama dalam rangkaian kataku, meski payah dan selalu nampak lemah, sebentar, aku tak ingin kurang dalam mengekspresikan engkau dalam kata, yang pasti payah dan selalu terlihat lemah. 

Aku tak menangis saat membaca pesan singkat dari cucumu yang lain, tapi tanganku gemetar, bicaraku rancu, dalam hatiku, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pagi itu, akhirnya tangis pecah, kutahan, kuredam dalam derasnya guyuran air... 

Mendengar kabar kau sakit tepat seminggu yang lalu, hatiku lemah, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pikirku melayang, siapa yang merawatmu, kembali kupastikan, dan menantumu yang kupanggil papa itu, mengabarkan bahwa kau sehat, yah penyakit orang tua ujarnya. Risauku berkurang, kupikir, segera kau kan pulang. Kembali ke rumah yang sepi, ditemani tv dan bergelas-gelas kopi. 

Ternyata, Tuhan telah menakdirkan kepergianmu. Tepat, saat aku jauh. 

Hari itu aku pulang, perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi, aku punya banyak waktu, untuk menangis tersedu tanpa khawatir ada yang melihat. Aku tidak menangisi kepergianmu. Aku mensyukuri setiap hal yang pernah terjadi dan khawatir seberapa lebat rindu kan tumbuh. Di mushola Bandara Sultan Hasanuddin, silih berganti orang asing mendengar senyap tangisku. 

Tuhan, aku selalu berharap kau anugerahi ingatanku, agar kuingat setiap keindahan yang telah kulalui bersama kakek dan nenekku, dua pasang malaikat yang telah merawatku, membesarkanku. 

Tuhan, aku ingat, saat-saat dulu, beliau menjemputku dengan vespanya. Saat beliau mulai pelan membawakan motor ketika aku beranjak mengenakan rok biru. Aku ingat, seberapa dihormatinya beliau. Aku ingat, dengan guru-guru ngaji yang dibawanya ke rumah, aku ingat dengan kebiasaannya terlelap saat fajar. 

Tuhan, beberapa tahun terakhir kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia tanpa lemah dan tua. Dia tak segagah dulu. Dia tak setiap hari lagi ke masjid. Kaki sakit, katanya. Dia menua, dia sakit, dia lemah... 

Subuh menjelang, biasa kudengar suaranya memasak air lalu menyeduh segelas kopi. Lalu, kakinya mulai sering sakit, dia menungguku untuk memasakkan air. Dari kecil, dia selalu enggan membangunkanku. 

Harinya begitu membosankan, tapi dia enggan kuajak berlibur keluar kota. Dia tak gagah lagi untuk bermain badminton apalagi menonton sepak bola ke stadion. Temannya sudah jarang berkunjung, sejak dia turun dari amanatnya. Hanya berteman TV, karena cucunya tak suka mengobrol. Bicara seperlunya. 


Aku hapal betul makanan kesukaannya. Aku suka sekali memasak, saat sadar beliau selalu lahap memakannya. Di 40 hari terakhir hidupnya, aku tak sempat melihat wajahnya, mendengar panggilannya, memasak untuknya. Berkali dia sampaikan, tempatku terlalu jauh. Berkali pula aku yakinkan, bahwa tak jarak yang jauh, sampai akhirnya, aku tak sempat melihatnya.

Tuhan, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, sepasang yang telah pergi ini telah menanam banyak kebaikan. Gilanya mereka menyemai ribuan bibit kerinduan, dan akan terus lebat sepanjang hanyat ini. 

Tuhan, rinduku semoga dapat kukelola dengan baik. Menjadi baik kemudian bermanfaat, karena aku telah dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang dan contoh yang baik. 

Tuhan, perpisahan itu nyata adanya. 
Sepi, senyap, gelap itu pasti.
Tuhan, rawat ingatanku. 
Agar aku tahu bagaimana aku dirawat dan harus seperti apa kelak aku harus menemani penerusku tumbuh. 

No comments:

Post a Comment