Wednesday, 26 December 2018

[REVIEW] YOHMO SPRAY TONIC

Wednesday, December 26, 2018 2 Comments
Sebagai manusia kita memiliki naluri untuk merawat setiap titipan yang diberikan kepada kita, terutama the one and only, tubuh tercinta ini. Kesehatan kulit selalu menjadi prioritas selain menjaga pola makan serta pola hidup agar memiliki tubuh yang sehat. Rasanya semua bagian kulit ditubuh kita memerlukan perhatian dan perawatan khusus serta berbeda. Saat ini saja, kulit tubuh yang terdiri dari kulit lengan dan kaki, kulit wajah dan kulit rambut. Dari ketiga bagian kulit tersebut, semuanya memiliki perlakuan yang berbeda.

Sejauh ini, kulit tubuhku cukup dengan menggunakan sabun dan lotion yang tepat maka kesehatannya akan terjaga dengan baik. Kulit lembab dan halus sepanjang hari. Begitu pula dengan kulit wajah, jika pola makanku teratur dan sehat, maka penggunaan pencuci muka jensi apapun tidak terlalu berpengaruh. Yang menjadi masalah semenjak beberapa tahun terakhir adalah kulit rambutku selalu saja gersang dan berketombe, hal ini menyebabkan tiada hari tanpa rambut rontok. Berbagai cara sudah dilakukan untuk kembali memiliki kulit kepala yang sehat, karena kulit kepala yang sehat adalah awal dari rambut kuat serta sehat. Otomatis rontok akan berkurang dan kesedihan pun lenyap. Kalo rambut sudah rontok, selain sedih stress akan menjadi eh si rambut malah tambah rontok. Suatu hubungan yang kompleks memang.

Demi memiliki kulit rambut yang sehat, jauh dari rontok, perjalananku dalam mencari shampo, masker, hair tonic, sungguh amat panjang dan melelahkan. Sampe akhirnya aku menemukan hair tonic yang bisa menyehatkan kulit kepalaku kembali.

Yohmo hair tonic atau yang lebih akrab dengan Yohmo tonic adalah hair tonic yang berasal dari perusahaan farmasi terbesar di Jepang dengan formulasi terbaik.

Apa sih yang terkandung di Yohmo tonic?

Yohmo Spray Tonic 

Jelas ya masalah awal dari kerontokan itu adalah kulit rambut yang tidak sehat. Jadi langkah awal kita perlu mengembalikan kesehatan kulit kepala, Yohmo tonic hadir dengan Castor Oil atau Minyak Jarak yang bisa mengatasi infeksi kulit kepala dan ketombe serta mempercepat pertumbuhan rambut dan menjadikan rambut lembut. Minyak Jarak sangat baik untuk mengembalikan kesehatan kulit kepala.

Yohmo Spray Tonic

Ethanol dan Benzethnomium Chloride, dua bahan ini membantu membersihkan kulit kepala secara efektif, berupa minyak yang mengeras  dan tidak dapat dibersihkan oleh shampo. Juga membunuh bakteri yang ada di kulit kepala.

Vitamin E

Setelah masalah utama terselesaikan, Yohmo tonic tidak berhenti disitu dalam memberikan khasiatnya. Vitamin E sangat baik untuk menguatkan dan membuat rambut berkilau. Melembutkan dan melembabkan kulit kepala. Vitamin E akan menyatu dengan Minyak Jarak untuk menyehatkan rambut.

Yang paling aku sukai dari Yohmo tonic adalah kemasannya yang praktis dan mudah dibawa bepergian. Yohmo tonic mengeluarkan 2 produk, yang pertama dalam bentuk tube dengan isi 200 ml dan Yohmo 120 ml spay. Sudah pasti dong, aku memilih yang spray, selain harganya yang lebih terjangkau yang pasti pengaplikasiannya juga lebih mudah. Untuk Yohmo 200 ml tube harganya 280k sedangkan Yohmo 120 ml spray dengan harga 170k.


Yohmo Spray Tonic


Cara penggunaan Yohmo tonic yang nggak ngejelimet juga buat aku jatuh hati dengan produk ini. Setelah keramas dengan shampo dan rambut mulai kering, kita bisa mengoleskan atau menyemprotkan cairan Yohmo tonic diseluruh bagian kulit kepala. Untuk lebih rileks dan Yohmo tonic lebih menyerap, lakukan pijatan setidaknya selama satu menit diseluruh bagian kulit kepala, dijamin adem. Aliran darah juga lancar dan rambut harum seharian. Untuk hasil optimal Yohmo tonic bisa digunakan sebanyak dua kali dalam sehari selama setidaknya tiga bulan.

Jangan tunggu rusak dulu, yuk rawat kulit kepala dan rambut dengan Yohmo tonic. Rasakan nikmatnya punya kulit kepala yang sehat serta rambut tebal yang berkilau. Yohmo tonic tersedia di Aeon, Waston, Century, Lulu, Yogya dan Hypermart atau yang menyukai kepraktisan seperti akuuu, bisa langsung melipir ke JD.ID, Bukalapak atau Shopee. Let’s take an action now, save our sclap!

Sunday, 16 December 2018

Tepat, Saat Ku Jauh

Sunday, December 16, 2018 0 Comments
Aku ingin kau abadi, pasti, terukir sama dalam rangkaian kataku, meski payah dan selalu nampak lemah, sebentar, aku tak ingin kurang dalam mengekspresikan engkau dalam kata, yang pasti payah dan selalu terlihat lemah. 

Aku tak menangis saat membaca pesan singkat dari cucumu yang lain, tapi tanganku gemetar, bicaraku rancu, dalam hatiku, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pagi itu, akhirnya tangis pecah, kutahan, kuredam dalam derasnya guyuran air... 

Mendengar kabar kau sakit tepat seminggu yang lalu, hatiku lemah, Tuhan, kenapa saat aku jauh. Pikirku melayang, siapa yang merawatmu, kembali kupastikan, dan menantumu yang kupanggil papa itu, mengabarkan bahwa kau sehat, yah penyakit orang tua ujarnya. Risauku berkurang, kupikir, segera kau kan pulang. Kembali ke rumah yang sepi, ditemani tv dan bergelas-gelas kopi. 

Ternyata, Tuhan telah menakdirkan kepergianmu. Tepat, saat aku jauh. 

Hari itu aku pulang, perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi, aku punya banyak waktu, untuk menangis tersedu tanpa khawatir ada yang melihat. Aku tidak menangisi kepergianmu. Aku mensyukuri setiap hal yang pernah terjadi dan khawatir seberapa lebat rindu kan tumbuh. Di mushola Bandara Sultan Hasanuddin, silih berganti orang asing mendengar senyap tangisku. 

Tuhan, aku selalu berharap kau anugerahi ingatanku, agar kuingat setiap keindahan yang telah kulalui bersama kakek dan nenekku, dua pasang malaikat yang telah merawatku, membesarkanku. 

Tuhan, aku ingat, saat-saat dulu, beliau menjemputku dengan vespanya. Saat beliau mulai pelan membawakan motor ketika aku beranjak mengenakan rok biru. Aku ingat, seberapa dihormatinya beliau. Aku ingat, dengan guru-guru ngaji yang dibawanya ke rumah, aku ingat dengan kebiasaannya terlelap saat fajar. 

Tuhan, beberapa tahun terakhir kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia tanpa lemah dan tua. Dia tak segagah dulu. Dia tak setiap hari lagi ke masjid. Kaki sakit, katanya. Dia menua, dia sakit, dia lemah... 

Subuh menjelang, biasa kudengar suaranya memasak air lalu menyeduh segelas kopi. Lalu, kakinya mulai sering sakit, dia menungguku untuk memasakkan air. Dari kecil, dia selalu enggan membangunkanku. 

Harinya begitu membosankan, tapi dia enggan kuajak berlibur keluar kota. Dia tak gagah lagi untuk bermain badminton apalagi menonton sepak bola ke stadion. Temannya sudah jarang berkunjung, sejak dia turun dari amanatnya. Hanya berteman TV, karena cucunya tak suka mengobrol. Bicara seperlunya. 


Aku hapal betul makanan kesukaannya. Aku suka sekali memasak, saat sadar beliau selalu lahap memakannya. Di 40 hari terakhir hidupnya, aku tak sempat melihat wajahnya, mendengar panggilannya, memasak untuknya. Berkali dia sampaikan, tempatku terlalu jauh. Berkali pula aku yakinkan, bahwa tak jarak yang jauh, sampai akhirnya, aku tak sempat melihatnya.

Tuhan, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi, sepasang yang telah pergi ini telah menanam banyak kebaikan. Gilanya mereka menyemai ribuan bibit kerinduan, dan akan terus lebat sepanjang hanyat ini. 

Tuhan, rinduku semoga dapat kukelola dengan baik. Menjadi baik kemudian bermanfaat, karena aku telah dirawat dan dibesarkan dengan kasih sayang dan contoh yang baik. 

Tuhan, perpisahan itu nyata adanya. 
Sepi, senyap, gelap itu pasti.
Tuhan, rawat ingatanku. 
Agar aku tahu bagaimana aku dirawat dan harus seperti apa kelak aku harus menemani penerusku tumbuh.