Thursday, 28 June 2018

Cara Mengembalikan dan Menjaga Mood Beribadah


Assalammualaikum....

Ramadan telah berlalu, syawal yang mengiringi pun kan segera berakhir. Banyak hal yang mulai kembali seperti biasanya, padahal alangkah baiknya, jika kebiasaan di Ramadan lah yang dilakukan setelah sebulan penuh berusaha ditingkatkan. Tapi sebagai pembelajar, kita memiliki emosional yang naik turun dalam beribadah. Seperti itulah kiranya yang terjadi dengan beberapa orang, istiqomah memang sulit.


“Iman itu kadang naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illaallah.” (HR Ibn Hibban)

Banyak hal yang dapat menyebabkan turunnya iman seseorang, antara lain:

1. Halangan

Sebagai perempuan, yang mengalami siklus haid setiap bulannya, terkadang bingung untuk tetap melakukan banyak amalan. Tidak bisa melaksanakan salat terkadang membuat kita terlena dengan urusan dunia. Karena biasanya, salat adalah pengingat dan pembatas unuk urusan dunia yang fana dan penuh fatamorgana.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mugkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-‘Ankabut/:45)

Salat menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan keji, kebiasaan-kebiasaan yang penuh dengan kesia-siaan. Nah biasanya, ritme ibadah kita yang stabil sebelum haid, akan menurun saat haid dan akan mengalami sedikit kesulitan untuk mengembalikan ritme tersebut sesaat setelah kembali boleh beribadah dengan utuh. Terutama bagi yang baru belajar untuk hijrah. Sebelumnya satu hari bisa membaca satu juz, terus haid dan tidak boleh menyentuh dan membaca alquran selama beberapa hari, setelah suci lagi untuk kembali membiasakan satu juz perhari ini lumayan sulit.

2. Terlena Dunia

Dunia dan seisinya semakin hari semakin mudah dilihat. Kemewahan juga kemiskinan. Dua sisi yang selalu bertolak belakang. Dalam genggaman tangan, kita bisa melihat pola hidup yang hedon dan nampak bahagia.
Dunia selalu saja menawarkan pilihan-pilihannya. Kenikmatan dan kebebasan. Untuk pemula, terkadang urusan dunia masih saja menghantui, merasa perlu didahulukan, merasa perlu untuk dikejar dengan penuh nafsu.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut: 64)

Terkadang melihat pencapaian-pencapaian yang nampak membuat kita termotivasi untuk ikut serta mengejar semua kefanaanya. Ikut serta memakai kelalain yang sedang trend. Kemudian melupakan kewajiban-kewajiban yang ada.

Dua hal ini adalah kebanyakan jawaban dari teman-teman yang aku ajukan pertanyaan, “apa sih yang membuat iman kalian sering turun?” Mereka pun memberikan banyak saran agar keimanan yang memang masih lemah ini terus menguat dan istiqomah.

Cara mengembalikan mood beribadah atau menjaga iman, yaitu:

1. Mengingat Orang Tua

Orang tua selalu menjadi motivasi tersendiri dalam beribadah. Sebisa mungkin jangan sampai diri ini harus menjadi pertanggungjawban yang berat untuk orang tua kelak. Menjadi pemberat langkah beliau menuju surga.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang Ibu-Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Semakin dewasa kita, semakin tua orang tua kita. Dan telah kita lihat sendiri pengorbanan beliau dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Jika kita memiliki impian untuk memberikan yang terbaik di dunia ini, mengapa tidak dengan akhirat kelak? Mengapa tidak kita usahakan bersama-sama agar kaki beliau tak tersentuh panasnya api neraka? Dengan tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan banyak kebaikan.

2. Mengingat Mati

Kematian tidak selalu identik dengan usia yang tua, kematian akan menghampiri siapa saja, setiap makhluk yang bernyawa. Dengan mengingat kematian, kesadaran untuk meningkatkan ibadah akan meningkat, pun untuk meninggalkan kemaksiatan.

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Selain pasti, kematian, perpisahan antara ruh dan raga juga begitu menyakitkan. Datangnya kapan saja dan tak dapat ditunda walau hanya satu detik, semuanya telah tertulis, menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkannya dengan memperbanyak ibadah dan meneguhkan iman.

3. Teman yang Taat

Temanmu adalah siapa kamu. Aku sebenarnya masih belum penuh setuju dengan kalimat ini, tapi semakin hari semakin aku sadari betapa bersyukurnya jika dikelilingi teman-teman yang taat, saling mengingatkan dalam ibadah serta kebaikan.

Teman sebagai pengingat.

“Kalo Rumi pergi jalan-jalan. Misal di kereta nih, Rumi pergi dengan teman yang sedang hijrah mereka bakal ngingetin Rumi untuk tetap salat walau di kereta. Kalo teman biasa, wallahualam.”(Regha Regita)

Seperti itulah adanya. Pernah gak sih ngerasa sungkan untuk bilang mau salat, karena merasa “sungkan” dengan teman-teman. Terkadang jadi beban tersendiri kalo harus berpergian lama dengan teman yang tidak atau lupa salat. Gimana ya.. untuk bilang aku salat dulu ya.. itu berat. Entah kenapa, ini sering terjadi didiri aku. Entah aku takut mereka mikir, Ih, si Rumi sok banget mau salat-salat segala. Aku bodoh banget kan ya? Begitulah kalo aku ngerasa gak nyaman. Sering menunda-nunda, berharap pulang sebelum waktu salat habis. Jadi, penting banget punya teman yang saling mengingatkan, paling tidak memberikan rasa nyaman untuk melaksanakan ibadah.

4. Perbanyak Zikir

Zikir menjadi ibadah paling mudah, bisa dilakukan kapan saja, saat suci ataupun lagi berhalangan. Zikir sebagai pujian-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang, agar hati terus mengingat-Nya dan merasa nyaman. Zikir mengajarkan kita untuk bersyukur, betapa baiknya Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menginkari (nikmat)-Ku”. (QS Al-Baqarah:152)

Perbanyak istigfar, untuk mengingatkan kita betapa banyaknya dosa yang telah diperbuat dan tetap betapa baiknya Allah yang selalu menambahkan nikmat-Nya. Ucapkanlah, lalu tanamkan syukur di hati kita, insyaallah zikir akan membawa kita kepada pribadi yang lebih taat dalam ibadah.

5. Perbanyak Ilmu Agama

Nah... yang satu ini sangat-sangat penting. Hadirilah majelis ilmu, majelis taklim, majelis agama atau tonton video-video ceramah.

“Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapan menerima pelajaran.” (QS Azzumar: 9)

Datangilah rumah Allah, duduklah, berkumpul dengan orang-orang yang berusaha hijrah untuk mendapatkan ilmu. Sulit memang mencintai tanpa mengetahui, begitu kiranya dalam menjalani kehidupan ini. Kita sering menjumpai saudara seiman yang dengan sadar menghina saudara yang keliru, padahal dia tak pernah tahu sulitnya melangkahkan kaki, memilih jalan dan tetap pada jalan yang baik.

Seperti kata seseorang, “solat tidak pernah, datang ke masjid apalagi, eh kalo ngomentarin ulama nomer satu”. Hal seperti ini karena tipisnya ilmu pengetaahuan kita dan bekunya hati. Ilmu dan hidayah itu tidak datang dengan sendirinya, kita harus mencari, menjemputnya.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujaadilah: 11)

Semakin luas ilmu seseorang akan semakin baik akhlaknya. Ingatalah, yang berilmu tidak akan mudah mengeluarkan kata-kata buruk dan tindakan yang tercela. Ilmu menjadi motivasi dan semangat untuk memperbaiki diri.

Kita sering malas untuk datang ke kajian, entah karena malas gerak atau memang tempatnya yang jauh. Menuntut ilmu bisa di mana saja, bisa melalui tontonan ceramah di youtube atau instagram. Tapi berada langsung di masjid pasti memberikan suasana tersendiri, saat seperti ini kita butuh teman yang juga sama-sama semangat menuntut ilmu, memperbaiki diri, mempersiapkan bekal untuk masa depan juga akhirat. Memang tidak ada yang lebih baik dari teman yang mengajak pada kebaikan dan keluar dari kebodohan.

6. Unduh Aplikasi Pengingat Ibadah

Era digital ini, kita banyak menghabiskan waktu dengan menggenggam gawai atau bersenlancar di media sosial. Jika bisa mengunduh instagram dan memainkannya berjam-jam, kita juga harus mengunduh aplikasi-aplikasi pengingat dalam beribadah, seperti alquran digital. Yang bisa dibaca dimana dan kapan saja, serta pengigat untuk membaca alquran yang sebenarnya.

Aplikasi pegingat waktu salat, berupa lantunan azan. Aplikasi ini berperan penting untuk mengingatkan kita agar menunaikan salat diawal waktu tatkala kesibukan sedang melanda dan azan dari masjid tak terdengar. Bukankah amalan yang paling disukai Allah adalah salat diawal waktu? Yuk, laksanakan!
Bahkan ada aplikasi yang bisa mengingatkan amalan-amalan sunnah. Mari kita jadikan kemajuan teknologi juga mempermudah ibadah kita, mendekatkan kita dengan sang pencipta.
Wah, tak terasa! Inilah beberapa jawaban dari teman-teman yang telah aku simpulkan dari pertanyaanku.

“Apa yang membuat iman anda turun? Bagaimana kembali meningkatkannya atau mengembalikan mood beribadah?

Terima kasih sudah berbagi ilmu dan pengalaman, untuk selalu mengingatkan dan memotivasi diri. Semoga kelak Rumi bisa istiqomah seperti kalian. Semoga Allah limpahkan kebaikan dan perlindungan-Nya untuk kita semua.

Aku memilih untuk menikmati semua proses ini. Belajar untuk menjadi lebih baik, perlahan meninggalkan yang fana. Semoga Allah berikan nikmat untuk bertaubat nasuha, semoga Allah izinkan kita wafat dalam keadaan husnulkhatimah, semangat dalam saling mengingatkan!

Wassalammualaikum.

3 comments:

  1. Bener banget mbk, terkadang memang sangat pentng untuk mencari sesuatu yang bisa mengembalikan mood beribadah kepada Allah. Nice Artikel mbk

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah. Terima Kasih ilmunya rum.

    ReplyDelete