Thursday, 28 June 2018

Cara Mengembalikan dan Menjaga Mood Beribadah

Thursday, June 28, 2018 3 Comments

Assalammualaikum....

Ramadan telah berlalu, syawal yang mengiringi pun kan segera berakhir. Banyak hal yang mulai kembali seperti biasanya, padahal alangkah baiknya, jika kebiasaan di Ramadan lah yang dilakukan setelah sebulan penuh berusaha ditingkatkan. Tapi sebagai pembelajar, kita memiliki emosional yang naik turun dalam beribadah. Seperti itulah kiranya yang terjadi dengan beberapa orang, istiqomah memang sulit.


“Iman itu kadang naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illaallah.” (HR Ibn Hibban)

Banyak hal yang dapat menyebabkan turunnya iman seseorang, antara lain:

1. Halangan

Sebagai perempuan, yang mengalami siklus haid setiap bulannya, terkadang bingung untuk tetap melakukan banyak amalan. Tidak bisa melaksanakan salat terkadang membuat kita terlena dengan urusan dunia. Karena biasanya, salat adalah pengingat dan pembatas unuk urusan dunia yang fana dan penuh fatamorgana.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mugkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-‘Ankabut/:45)

Salat menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan keji, kebiasaan-kebiasaan yang penuh dengan kesia-siaan. Nah biasanya, ritme ibadah kita yang stabil sebelum haid, akan menurun saat haid dan akan mengalami sedikit kesulitan untuk mengembalikan ritme tersebut sesaat setelah kembali boleh beribadah dengan utuh. Terutama bagi yang baru belajar untuk hijrah. Sebelumnya satu hari bisa membaca satu juz, terus haid dan tidak boleh menyentuh dan membaca alquran selama beberapa hari, setelah suci lagi untuk kembali membiasakan satu juz perhari ini lumayan sulit.

2. Terlena Dunia

Dunia dan seisinya semakin hari semakin mudah dilihat. Kemewahan juga kemiskinan. Dua sisi yang selalu bertolak belakang. Dalam genggaman tangan, kita bisa melihat pola hidup yang hedon dan nampak bahagia.
Dunia selalu saja menawarkan pilihan-pilihannya. Kenikmatan dan kebebasan. Untuk pemula, terkadang urusan dunia masih saja menghantui, merasa perlu didahulukan, merasa perlu untuk dikejar dengan penuh nafsu.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Ankabut: 64)

Terkadang melihat pencapaian-pencapaian yang nampak membuat kita termotivasi untuk ikut serta mengejar semua kefanaanya. Ikut serta memakai kelalain yang sedang trend. Kemudian melupakan kewajiban-kewajiban yang ada.

Dua hal ini adalah kebanyakan jawaban dari teman-teman yang aku ajukan pertanyaan, “apa sih yang membuat iman kalian sering turun?” Mereka pun memberikan banyak saran agar keimanan yang memang masih lemah ini terus menguat dan istiqomah.

Cara mengembalikan mood beribadah atau menjaga iman, yaitu:

1. Mengingat Orang Tua

Orang tua selalu menjadi motivasi tersendiri dalam beribadah. Sebisa mungkin jangan sampai diri ini harus menjadi pertanggungjawban yang berat untuk orang tua kelak. Menjadi pemberat langkah beliau menuju surga.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang Ibu-Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14)

Semakin dewasa kita, semakin tua orang tua kita. Dan telah kita lihat sendiri pengorbanan beliau dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Jika kita memiliki impian untuk memberikan yang terbaik di dunia ini, mengapa tidak dengan akhirat kelak? Mengapa tidak kita usahakan bersama-sama agar kaki beliau tak tersentuh panasnya api neraka? Dengan tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan banyak kebaikan.

2. Mengingat Mati

Kematian tidak selalu identik dengan usia yang tua, kematian akan menghampiri siapa saja, setiap makhluk yang bernyawa. Dengan mengingat kematian, kesadaran untuk meningkatkan ibadah akan meningkat, pun untuk meninggalkan kemaksiatan.

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Selain pasti, kematian, perpisahan antara ruh dan raga juga begitu menyakitkan. Datangnya kapan saja dan tak dapat ditunda walau hanya satu detik, semuanya telah tertulis, menjadi tanggung jawab kita untuk mempersiapkannya dengan memperbanyak ibadah dan meneguhkan iman.

3. Teman yang Taat

Temanmu adalah siapa kamu. Aku sebenarnya masih belum penuh setuju dengan kalimat ini, tapi semakin hari semakin aku sadari betapa bersyukurnya jika dikelilingi teman-teman yang taat, saling mengingatkan dalam ibadah serta kebaikan.

Teman sebagai pengingat.

“Kalo Rumi pergi jalan-jalan. Misal di kereta nih, Rumi pergi dengan teman yang sedang hijrah mereka bakal ngingetin Rumi untuk tetap salat walau di kereta. Kalo teman biasa, wallahualam.”(Regha Regita)

Seperti itulah adanya. Pernah gak sih ngerasa sungkan untuk bilang mau salat, karena merasa “sungkan” dengan teman-teman. Terkadang jadi beban tersendiri kalo harus berpergian lama dengan teman yang tidak atau lupa salat. Gimana ya.. untuk bilang aku salat dulu ya.. itu berat. Entah kenapa, ini sering terjadi didiri aku. Entah aku takut mereka mikir, Ih, si Rumi sok banget mau salat-salat segala. Aku bodoh banget kan ya? Begitulah kalo aku ngerasa gak nyaman. Sering menunda-nunda, berharap pulang sebelum waktu salat habis. Jadi, penting banget punya teman yang saling mengingatkan, paling tidak memberikan rasa nyaman untuk melaksanakan ibadah.

4. Perbanyak Zikir

Zikir menjadi ibadah paling mudah, bisa dilakukan kapan saja, saat suci ataupun lagi berhalangan. Zikir sebagai pujian-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang, agar hati terus mengingat-Nya dan merasa nyaman. Zikir mengajarkan kita untuk bersyukur, betapa baiknya Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menginkari (nikmat)-Ku”. (QS Al-Baqarah:152)

Perbanyak istigfar, untuk mengingatkan kita betapa banyaknya dosa yang telah diperbuat dan tetap betapa baiknya Allah yang selalu menambahkan nikmat-Nya. Ucapkanlah, lalu tanamkan syukur di hati kita, insyaallah zikir akan membawa kita kepada pribadi yang lebih taat dalam ibadah.

5. Perbanyak Ilmu Agama

Nah... yang satu ini sangat-sangat penting. Hadirilah majelis ilmu, majelis taklim, majelis agama atau tonton video-video ceramah.

“Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapan menerima pelajaran.” (QS Azzumar: 9)

Datangilah rumah Allah, duduklah, berkumpul dengan orang-orang yang berusaha hijrah untuk mendapatkan ilmu. Sulit memang mencintai tanpa mengetahui, begitu kiranya dalam menjalani kehidupan ini. Kita sering menjumpai saudara seiman yang dengan sadar menghina saudara yang keliru, padahal dia tak pernah tahu sulitnya melangkahkan kaki, memilih jalan dan tetap pada jalan yang baik.

Seperti kata seseorang, “solat tidak pernah, datang ke masjid apalagi, eh kalo ngomentarin ulama nomer satu”. Hal seperti ini karena tipisnya ilmu pengetaahuan kita dan bekunya hati. Ilmu dan hidayah itu tidak datang dengan sendirinya, kita harus mencari, menjemputnya.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujaadilah: 11)

Semakin luas ilmu seseorang akan semakin baik akhlaknya. Ingatalah, yang berilmu tidak akan mudah mengeluarkan kata-kata buruk dan tindakan yang tercela. Ilmu menjadi motivasi dan semangat untuk memperbaiki diri.

Kita sering malas untuk datang ke kajian, entah karena malas gerak atau memang tempatnya yang jauh. Menuntut ilmu bisa di mana saja, bisa melalui tontonan ceramah di youtube atau instagram. Tapi berada langsung di masjid pasti memberikan suasana tersendiri, saat seperti ini kita butuh teman yang juga sama-sama semangat menuntut ilmu, memperbaiki diri, mempersiapkan bekal untuk masa depan juga akhirat. Memang tidak ada yang lebih baik dari teman yang mengajak pada kebaikan dan keluar dari kebodohan.

6. Unduh Aplikasi Pengingat Ibadah

Era digital ini, kita banyak menghabiskan waktu dengan menggenggam gawai atau bersenlancar di media sosial. Jika bisa mengunduh instagram dan memainkannya berjam-jam, kita juga harus mengunduh aplikasi-aplikasi pengingat dalam beribadah, seperti alquran digital. Yang bisa dibaca dimana dan kapan saja, serta pengigat untuk membaca alquran yang sebenarnya.

Aplikasi pegingat waktu salat, berupa lantunan azan. Aplikasi ini berperan penting untuk mengingatkan kita agar menunaikan salat diawal waktu tatkala kesibukan sedang melanda dan azan dari masjid tak terdengar. Bukankah amalan yang paling disukai Allah adalah salat diawal waktu? Yuk, laksanakan!
Bahkan ada aplikasi yang bisa mengingatkan amalan-amalan sunnah. Mari kita jadikan kemajuan teknologi juga mempermudah ibadah kita, mendekatkan kita dengan sang pencipta.
Wah, tak terasa! Inilah beberapa jawaban dari teman-teman yang telah aku simpulkan dari pertanyaanku.

“Apa yang membuat iman anda turun? Bagaimana kembali meningkatkannya atau mengembalikan mood beribadah?

Terima kasih sudah berbagi ilmu dan pengalaman, untuk selalu mengingatkan dan memotivasi diri. Semoga kelak Rumi bisa istiqomah seperti kalian. Semoga Allah limpahkan kebaikan dan perlindungan-Nya untuk kita semua.

Aku memilih untuk menikmati semua proses ini. Belajar untuk menjadi lebih baik, perlahan meninggalkan yang fana. Semoga Allah berikan nikmat untuk bertaubat nasuha, semoga Allah izinkan kita wafat dalam keadaan husnulkhatimah, semangat dalam saling mengingatkan!

Wassalammualaikum.

[Review] Mata Hari karya Paulo Coelho

Thursday, June 28, 2018 0 Comments

Selama seperempat detik, Mata Hari tetap tegak. Dia tidak mati seperti yang kulihat di film-film setelah orang ditembak. Dia tidak terjerembab ke depan atau ke belakang, dan tidak mengangkat kedua tanggannya. Tubuhnya merosot ke tanah, kepalanya tetap terdongak, matanya terbuka. Salah satu prajurit pingsan.

Kemudian lututnya melemas dan tubuhnya jatuh ke kanan, kedua kakinya tertekuk di bawah mantel bulunya. Dan dia tergeletak di sana, tak bergerak, dengan wajah menghadap langit.

“Mata Hari sudah mati.”

Yeay, Assalammualaikum. Senang sekali, bulan ini aku punya banyak buku baru. Hehe, pun beberapa sudah selesai aku baca. Salah satu yang paling menarik dan berkesan adalah buku dari Paulo Coelho, Mata Hari. Alasan membeli buku ini, pertama, karena pernah baca biografi singkat si Margaretha Geertruida Grietje Zelle di buku 10 Agen Rahasia Wanita Terpopuler karya Merry Magdalena. Buku yang dibeli beberapa tahun lalu. Alasan selanjutnya karena ini buku karya Paulo Coelho, penulis kesukaanku. Penulis yang dengan baik hati mengajakku ke Festival Film Cannes melalui bukunya The Winner Stands Alone.

Mata Hari karya Paulo Coelho

Aku tipikal yang kalo milih buku, pertama banget liat judulnya. Kalo menarik, aku baca sinopsis singkatnya dibagian cover belakang, kalo aku rasa bakalan kuat setting tempatnya atau misteri campur sejarah pasti aku beli. Hehe.

Pada saat itu, namaku pasti sudah lama terlupakan. Tetapi aku menulis bukan untuk diingat. Aku sendiri sedang memahami situasiku.

Dalam buku Mata Hari, ceritanya ditulis dengan penuh kehati-hatian, mengalir dan penuh misteri. Mata Hari melambangkan perempuan yang bingung dan putus asa, sekaligus perempuan yang penuh ambisi dan keberanian.

Mata Hari lahir dengan nama Margaretha, 7 Agustus 1876 di Belanda. Lahir dari keluarga kaya, Margaretha membeci keadaan ketika keluarganya harus bangkrut. Usianya 16 tahun saat pertama kali harus mengalami pelecehan seksual, oleh kepala sekolahnya sendiri. Saat itu Margaretha mulai hidup dengan rasa takut dan bingung yang perlahan tumbuh bersamanya. Marghareta mulai terkenal karena tariannya di sentreo Leiden.

Berharap dapat menemukan jati dirinya, Margaretha mencoba membalas iklan dari seorang perwira yang sedang mencari istri untuk diajak tinggal di Indonesia. Lautan asing dan eksotis pikirnya, Margaretha mengirimkan surat serta foto terbaiknya. Hingga akhirnya pernikahan digelar dan hiduplah di Indonesia. Kondisi ekonomi membaik dan kelas sosial Margaretha pun meningkat, menjadi keluarga bangsawan militer terhormat. Sayangnya, Rudolf, sang suami ternyata pemabuk dan pemarah. Margaretha menghadapi hari-hari yang hampa di rumah, tanpa cinta yang diharapkannya. Sampai dengan suatu hari, di sebuah pesta Margaretha menyaksikan seorang istri perwira teladan menembak mati dirinya sendiri. Istri perwira teladan yang dihormati serta disukai banyak orang, sebelum mematukkan pistol istri perwira berkata.

“Tubuhku boleh terus bernapas, tetapi jiwaku sudah mati. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, juga tidak bisa membuatmu mengerti bahwa aku memerlukanmu di sisiku.”

Peristiwa itu menyadarkan Margaretha akan hidup yang dijalaninya. Dia terkekang, jauh dari kebebasannya. Mulai saat itu, dia berani untuk membebaskan dirinya, dengan terus mengingat kematian istri perwira.

Dengan mengancam Rudolf, Margaretha sekeluarga kembali ke Belanda. Namun bukan itu yang dia harapkan, bertemu istri tiri ayahnya, mendengar tanggisan bayi, jiwanya ingin bebas. Margaretha memimpikan Paris sebagai kota tujuannya, untuk kembali menari, terkenal dan mengenakan kemewahan. Saat itu perang mulai terjadi, Belanda adalah salah satu negara yang netral. Demi kebebasan yang diinginkannya, Margaretha, memperkenalkan diri sebagai Mata Hari. Dia menjual tarian-tarian yang dipelajarinya di tanah Jawa. Mata Hari, perempuan cerdas namun malang. Mata Hari dituduh menjadi agen rahasia atau mata-mata Jerman oleh pihak Perancis. Perempuan dengan kebebasan dan gaya hidup yang glamor harus mendekam di penjara. Mata Hari begitu tidak terima atas tuduhan yang buktinya sangat lemah. Mata Hari harus mendekam, menunggu keputusan atas hukum yang berusaha dijeratkan padanya, dalam penjara dia mengilas lagi perjalanan hidupnya. Tentang kemewahan, kebebasan, cinta juga keberanian. Diusia 41 tahun dia harus mati ditembak oleh kepolisian negara impiannya, dengan tuduhan yang tak terbukti sampai saat ini.

Mata Hari, kebebasan begitu mahal bukan? Karena meski nikmat, kebebasan haruslah memiliki batas. Tapi keberanianmu telah jauh berjalan dan hidup lebih lama dari usiamu. Novel ini cukup menarik untuk dibaca dan diselesaikan hanya dalam beberapa kali menutupnya, untuk jeda. Mata Hari, perempuan cerdas yang menguasai banyak bahasa, perempuan beruntung karena pada masanya ia sempat mengelilingi banyak negara. Mata Hari, perempuan malang yang tak percaya cinta lalu menaruh hati dengan pria yang tak tulus menginginkannya.

“Bunga mengajarkan kita bahwa tidak ada yang abadi: keindahan mereka, bahkan juga fakta bahwa mereka akan layu, karena masih akan memberikan benih baru. Ingatlah ini kalau kau merasakan sukacita, kepedihan, atau kesedihan. Segala sesuatu berlalu, menjadi tua, mati dan terlahir kembali.”

Novel ini terbit 2016 dan diterjemahkan ditahun yang sama oleh Penerbit PT Gramedi Pustaka Utama, sudah dicetak sebanyak 3 kali sampai dengan November 2017. 192 halaman. Selamat membaca Novelnya! 

Wednesday, 27 June 2018

Kenang Kenanga

Wednesday, June 27, 2018 0 Comments

Aku tidak takut jika kau akan menemui wajah-wajah cantik diluar sana, pun yang lebih bisa menunjukkan perhatiannya. Aku sebenarnya tidak takut, jika kagummu luntur, atau perhatianmu berkurang. Aku tidak takut jika ternyata kisah ini tak berujung, aku memilih diam dan kau membuat jarak. Aku tidak takut. Bahagiaku genap, bertemu denganmu, berbicara denganmu, karena untuk takut aku rasa butuh alasan, sedang aku tak pernah tahu, bagaimana bisa kau begitu membekas, lenyap dalam sanubari, tertanam sebagai rindu.


Aku ingin menulismu, ataukah kau memang sudah menjadi tokoh dari tulisan-tulisanku? Aku ingin berhenti, menulisi isi hati, tapi terlalu sulit tak mengabarkan pada dunia bahwa aku menemukanmu dalam kejap. Bahwa aku telah jatuh pada sesuatu yang biasa, bahwa pesona tak melulu tentang rupa bahkan serupa dalam pemikiran.
Aku ingin, menjadi tulisan yang kau baca, dalam sibukmu memperbaiki diri. Aku ingin menjadi kata-kata yang kau kenang, dalam lelah kau selalu sadar aku mendukung setiap langkahmu. Aku ingin menjadi teman yang tetap menempati satu sisi yang sedari awal kau berikan, agar saat semua semakin tak mungkin, aku bersyukur sempat menghabiskan malam bersamamu, membaca semua pengetahuanmu, melihat betapa hebatnya Ayah Ibu merawatmu.
Aku menyadari, sempat terasa, tak pernah kuingin seseorang selayaknya ingin kurengkuh semua dunia dan isinya. Perasaan ini palsu. Aku harus berhenti. Biarlah, penanda hatiku masih baik, lalu akan jadi kenang saat kelak, bahwa aku pernah sebodoh itu, hanya karena cara hidup seseorang yang begitu sederhana, lalu aku mengingkan hal yang luar biasa tak mungkin.
Berperang sendiri itu tak mudah, lebih baik aku merengek, menunjukkan rindu dan pilu-pilunya, tapi mungkin masih kau ingat, tak mungkin kulakukan hal seperti itu. Menikmati hati yang dikoyak-koyak sepi, sendiri. Menulis kerinduan, lalu kata-kata galau tak berarti aku bersedih, bukan? Aku hanya ingin menulis dan terkadang berharap kau membacanya.
Ah, sudahlah. Jika memang berjodoh. Maka, jarak itu akan terlipat. Kau akan datang dengan cara yang tepat. Jika memang berjodoh, akan Allah pantaskan aku untukmu dan Allah pantaskan kau untukku.
Sekali lagi, terakhir. Ku hadiahi harapan-harapan baik untukmu. Kau harus kuat, ilmumu harus luas, manfaatmu harus mengakar, ditanganmu kebaikan-kebaikan harus menjalar, dari pikiranmu harus lahir ide-ide cemerlang dan dari tuturmu harus kau sampaikan kasih dan sayang, tapi jangan kau tebar pesona apalagi terpesona. Teruntuk kamu, yang dikelilingi banyak wanita, yang menggebu dalam dunia, kuatlah.

Salam kenang
Harumi, dalam pengaruh kopi.  


Saturday, 23 June 2018

Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018

Saturday, June 23, 2018 0 Comments

Hallooooo, baiklah selagi niat nulis, waktu dan rasa ingin mewujudkannya sedang bertemu. Mari selesaikan kisah cinta Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.

Menjadi Finalis

Setelah pengumuman 20 finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan, kami mengikuti kegiatan pra-pembekalan. Kegiatan dimulai tanggal 3 Mei 2018. Selama pra-pembekalan ini kami menerima banyak materi dan sharing dengan para Duta Bahasa Sumatra Selatan 2017 dan pihak Balai Bahasa Sumatra Selatan.

Hari Pertama
Pemilihan Bapak dan Ibu Lurah.

Di hari pertama ini, kami 20 finalis bertemu untuk pertama kalinya sebagai finalis, kami dibagi menjadi 10 pasangan berdasarkan tinggi badan. Aku berpasang dengan Ikrar, dengan nomor urut 05 dan 06. Kesan pertama ketemu Ikrar, aduh ni anakkk sepertinya menyebalkan. I really dunno how amazing he is. Kami menggunakan pakaian kantor di pagi hari dan diminta membawa Pakaian Khas Palembang, untuk photoshoot. Drama banget nyari blazer motif songket yang aku gunain, memang sudah diminta mempersiapkan pakaian khas tapi tak menyangka kalo dibawa di hari pertama pra-pembekalan. Baru baca grup pun tengah malem, padahal seharian main doang. Nanya ke kakak-kakak, dari Kak Nais, Kak Stella, Mbak Isma, semua orang ditanya dan yeayyy Kak Pet ada. Terima kasih Kak Pet!!!!!

Acara dibuka langsung oleh pihak Balai Bahasa, kami mengawalinya dengan memperkenalkan diri lalu melakukan pemilihan Ibu Lurah dan Pak Lurah. Aku ikut pemilihan Ibu Lurah, luar biasa kan? Iyalah, kapan lagi bertingkah jauh dari biasanya. Hehe. Karena sudah sejauh ini. Jadi finalis ini jauh loh, Sekip-Jakabaring. Wkwk. Aku beneran menantang diriku untuk percaya diri dan melakukan yang terbaik. Berlelah-lelah dalam menuntut ilmu selalu menyenangkan.

AKSEL (Aksi Kelompok)

Dari 20 finalis dibagi kedalam 5 kelompok yang akan melakukan aksi nyata dalam menyebarkan virus literasi kepada masyarakat luas. Lokasi ditentukan oleh panitia, di Kawasan Olahraga Jakabaring.

Kami dari Aksel 1 dengan ULTRASI.

Finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan dan peserta ULTRASI.
Ular Tangga Literasi, menggunakan konsep bermain dan belajar dengan target anak-anak hingga remaja. Permainan ini berlangsung seperti permainan ular tangga pada umumnya, akan tetapi jika peserta memasuki angka dengan ular. Maka peserta tidak hanya akan turun ke angka yang lebih rendah tapi juga diberikan pertanyaan seputar literasi. Karena permainan ini diikuti oleh beberapa kalangan usia, kami memiliki pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan sesuai dengan usia peserta. Ultrasi sangat menarik minat pengunjung Kawasan Olahraga Jakabaring, bahkan ada beberapa adik-adik yang kembali lagi untuk mengantre main.

Selain Ultrasi ada juga Tau enggak, sih? dari aksel 2.
Pekan Sastra Daring (Pesadar) dari aksel 3.
Haus Bahasa dari aksel 4. Teman-teman yang penasaran bisa melihat kegiatan Duta Bahasa Sumatra Selatan di ig @dubassumsel.

Belajar Menjadi Duta
Menggunakan pakaian khas Sumatra Selatan, kami belajar parade. Pertama bagiku!
Selain belajar mengenal kebahasaan kami juga belajar menegani sikap seorang Duta. Cielah seneng banget, dapet ilmu yang baruuuu banget bagiku. Pertama diajarkan cara makan, selama ini kita sering salah meletakkan posisi sendok dan garpu saat telah selesai makan. Sepengetahuanku, cara yang sopan saat setelah makan, posisi sendok dan garpu dibalik, diletakkan berdampingan. Ternyata, salah besar!!! Yang benar sendok dan garpu diposisikan mengarah ke pukul 5, dengan sendok disisi luar.
Cara duduk dan berdiri pun sudah ada aturannya, disini letak terlelah. Wkwk. Tapi sekali lagi, tidak ada lelah yang benar-benar melelahkan jika mengenai pengetahuan. Eyaaa.

Belajar parade. Susah-susah mudah tapi semuanya telah selesai. Hari yang melelahkan namun penuh dengan aura positif.

Pembekalan

Hari pembekalan dimulai Hari Senin tanggal 7 Mei 2018. Pembekalan semuanya berisi tentang materi kebahasaan dan pengenalan mengenai Balai Bahasa serta Badan Bahasa. Pembekalan berlangsung selama 4 hari.
Hari pertama pembekalan.
Hari-hari berlalu dengan lelah dan penuh hal baru. Terbiasa dengan kegiatan kerelawanan, aku benar-benar tidak berpikir sedang dalam kompetisi. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Setiap harinya, kami diberikan tugas, yang memerlukan edit-mengedit. Dari sini aku paham, bahwa aku juga bisa mengedit foto, aku bisa buat flayer ala-ala. Rumi bisa, terima kasih Duta Bahasa! Walau bisa meminta bantuan teman, aku memilih belajar untuk meraih sesuatu dengan usaha sendiri dan keikhlasan. Cielah berat amat Rum. 

Suci, Rumi. Yuniar
Selain mendapatkan ilmu mengenai kebahasaan, kami juga mengikuti make up class dari Wardah. Hari itu, aku belajar cara yang benar membersihkan make up dan cara make up simple. 

Finalis Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.
Selain belajar, kami juga mempersiapkan penampilan untuk grand final. Latihan parade yang dimulai sejak pra-pembekalan, beberapa hari sebelum grand final kami berlatih untuk menampilkan sebuah opera dengan judul "Putri Kembang Dadar". Semua serba singkat, karena kegiatan yang memang padat. Pemilihan peran, latihan serta persiapan alat pendukung opera. Latihan berlangsung lucu, bahkan sangat lucu. Aku kebagian peran menjadi dayang tuan putri. Ya! Pengalaman pertama bagiku. Rasanya tidak mungkin Rum, setelah ini kamu masih jadi sosok pemalu.

 Hari Pemaparan


Hari itu, semuanya sudah aku persiapkan semaksimal mungkin. Walaupun aku merasa programku terlalu biasa, tapi seperti itulah nyatanya. Meningkatkan Literasi Anak TPA Sukawinatan melalui Membaca dan Bercerita. Program yang memang telah aku lakukan beberapa bulan belakangan. Aku ingin, anak-anak akrab dengan buku. Hanya itu. Hari itu, aku maju pertama! Wow. Alhamdulillah, lebih cepat lebih baik kan ya. Ada beberapa hal yang mungkin kurang maksimal, tapi aku tidak menampilkan kepalsuan walau hanya satu kata. Ini penting bagi calon penulis. Eyaaa. 

Seperti biasa, saat tegang, nafsu makan hilang. Setelah duduk kembali dan mendengarkan pemaparan teman pun aku masih tak nafsu makan. Hingga tiba saat opini dengan Bahasa Inggris. Yahhhh, you know me so well lah ya. Sialnya, aku maju diurutan 16, sungguh tak bisa kujelaskan perasaan menunggu untuk merasakan malu. Padahal pertanyaannya simple, tapi perbendaharaan kataku tipis ya jadi miris gitu mengenangnya.

Latihan mempersiapkan grand final. Parade, opera dan menyanyi.

GRAND FINAL

Hari yang ditunggu tiba. Dari pagi hari, kami sudah hadir di Balai Bahasa untuk latihan sekali lagi dan make up sedini mungkin. Haha.

Saat siap dan tamu undangan berdatangan, aku mulai gugup. Tak bisa kutolak, saat parade awal aku melakukan kesalahan. Rasanya ingin kuhapus bagian itu.

Sebelum penyematan pemenang, kami memaparkan AKSEL didepan tamu undangan. Ya! Di depan Mama, Papa dan Adikku. Semua berjalan lancar, saat menyanyikan lagu Indonesia Jaya, kami terhanyut dalam haru. Hidup memang tiada mungkin tanpa perjuangan, lalu mengapa masih mengeluh? Kurangin..

Opera. Cantik. Gugup banget Ya Rabb. Penasaran sama pendapat temanku yang tahunya aku paling gak mau ribet, gak mau keliatan dan selu. 

Duta Bahasa Sumatra Selatan 2018.
Pemenangnya pun dipilih. Yang terpilih pastilah yang terbaik.

Rumi dan Rumiku. (red: penggemar Harumi)

Kak Benny dan Rumi.
Tapi, aku tetap pemenang di hati teman-temanku. Apalagi di hati Papa dan Mama. Terima kasih atas dukungan dan doanya teman-teman. Semoga setiap langkah adalah menuju kebaikan dan kebermanfaatan. Karena, sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama, bagi seisi bumi. Penghargaan hanya sebuah bonus, penerapan dari proses belajarlah sebenarnya pencapaian.
Wassalammualaikum. ^^