Sunday, 18 February 2018

Kampung Al-Munawwar, Destinasi Wisata Sejarah di Palembang

Sunday, February 18, 2018 0 Comments
Assalamualaikum teman-teman ^^

Kalo berkunjung ke Palembang destinasi wisatanya kemana aja sih? Palembang ada apa aja sih? Kalo hari libur, selain ke mall bisa kemana aja sih? 
Kampung Al-Munawwar
Rumah Kembar
Palembang emang minim dengan wisata alam, tapi kaya banget loh dengan cultures and heritage. Pernyataan ini udah pernah disampaikan langsung oleh salah satu pemandu wisata nomer wahid di Palembang, sayang banget aku lupa namanya.
Salah satunya Kampung Al-Munawwar yang terletak di tepian Sungai Musi 13 Ulu. Kampung Arab tertua di Palembang ini semakin cantik saat ini. Kampung tempat bermukimnya para keturunan Arab ini tersusun rapi disepanjang lorong dengan bangunan-bangunan khas dan telah berumur lebih dari 300 tahun.
Sebenarnya Etnis Arab cukup banyak tersebar di Palembang, baik di Ulu atau Ilir dari Palembang. Fyi, Palembang terbagai menjadi 2 bagian yang terpisah oleh Sungai Musi, bagian utara yang disebut Seberang Ilir dan bagian selatan dinamakan Seberang Ulu. Perpisahan ini kembali dihubungkan oleh kokohnya Jembatan Ampera yang resmi beroperasi sejak tahun 1965.
Nah, untuk sampai di Kampung Al-Munawwar bisa melalui jalur darat ataupun air. Moda transportasi yang digunakan di darat pun sudah banyak pilihan, dari layanan online maupun konvensional. Kampung Al-Munawwar terletak di Kecematan Seberang Ulu II, kelurahan 13 Ulu. Jalur air bisa ditempuh dengan layanan getek atau ketek. Getek adalah kendaraan apung yang terbuat dari beberapa kayu yang diikat sejajar untuk mengangkut barang atau orang. Untuk naik getek ini, kita bisa naik dari dermaga yang ada di pelataran Benteng Kuto Besak ataupun dermaga lainnya.
Kampung Al-Munawwar
Jalur Air menggunakan Getek; Foto September 2016.
Kampung Al-Munawwar masih sngat memegang teguh adat istiadat. Menjadi daya tarik sendiri saat mendengarkan langsung sejarah Kampung Arab ini dari Pak RT. Dulu sekali saat Etnis Arab mendarat untuk pertama kalinya di Palembang iu adalah di 13 Ulu ini. Tujuannya untuk menyebarkan Ajaran Islam dan berdagang. Kapten Arab diberikan wilayah atau tempat bermukim oleh Kesultanan Palembang, yang kemudian mulai membangun beberapa Rumah di Al-Munawwar. Rumah pertama yang dibangun adalah Rumah Tinggi, yang berasitektur rumah Limas dengan sentuhan Timur Tengah dan Eropa.
Rumah Darat merupakan rumah kedua yang dibangun oleh Al Habib Abdurrahman Al Munawwar untuk putera pertamanya, Al Habib Muhammad Al Munawwar. Rumah Darat berbentuk limas dan berbahan kayu secara keseluruhan.
Kampung Al-Munawwar
Rumah Batu
Rumah Batu adalah rumah ketiga yang dibangun untuk putera ketiga, yaitu Al Habib Ali Al Munawwar. Rumah batu didirikan di atas fondasi bata yang ditinggikan. Struktur Limas tampak pada lantai rumah yang dibuat bertingkat. Lantai rumah ini menggunakan ubin marmer yang diimport langsung dari Itali. Rumah Batu menjadi tempat berlindung warga Kampung Al-Munawwar saat terjadi pertempuran 5 hari 5 malam, pada tanggal 1-5 Januari 1947. Total ada 8 rumah khas beraksitektur limas (rumah kayu khas Palembang) di Kampung Arab Al-Munawwar ini. Yok ke Al-Munawwar!
Kampung Al-Munawwar
Festival Kopi di Kampung Al-munawwar, September 2016
Kampung Al-Munawwar
Penduduk asli Kampung Al-Munawwar
Kampung Al-Munawwar
Arab banget kan? Ini di teras Rumah Batu.
Kampung Al-Munawwar
Teras Rumah Batu Kampung Al-Munawwar, 2016
Jujur, penetapan Kampung Al-Munawwar sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Palembang menjadi salah satu kebanggan tersendiri bagiku. Pertama kali berkunjung September 2016, Kampung Al-Munawwar ini sudah memiliki daya tarik sendiri dengan segala sejarahnya. Kemudian, banyak perbaikan yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata untuk menjadikan Kampung Al-Munawwar sebagai salah satu destinasi wisata di Palembang, baik bagi warga Palembang maupun warga dari luar kota bahkan luar negeri. Palembang sendiri akan menjadi Tuan Rumah Asian Games 2018. Kami tidak hanya siap menyambut para atlet dengan kemegahan Jakabaring Sport City, tapi juga dengan banyaknya wisata budaya dan kuliner yang kaya dan terjaga.

Kampung Al-Munawwar, Februari 2018. Instagramable kan?

Kampung Al-Munawwar
Kampung Al-Munawwar 2018.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatiin nih kalo berkunjung ke
Kampung Al-Munawwar, karena Kampung ini masih sangat menjaga adat dan istiadat.

  • Harus menggunakan pakaian yang sopan. Tidak menggunakan celana pendek untuk laki-laki apalagi perempuan.
  • Tidak disarankan berdua-duaan kalo bukan muhrim.
  • Tidak membuang sampah sembarangan! Pahamilah teman-teman, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
  • Jam berkunjung dari 08.30 – 17.00.
  • Libur saat Hari Jumat.
  • Uang kontribusi masuk Al-Munawwar Rp.5000,-

Kampung Al-Munawwar memang dicanangkan menjadi destinasi wisata budaya yang hanya dibuka pada siang hari. Karena, menjelang magrib anak-anak mulai belajar bersama, mengaji bersama, untuk menjaga hal ini jam operasional hanya sampai pukul 17.00 WIB. Uang kontribusi masuk Kampung Al-Munawwar sudah termasuk parkir dan penggunaan toilet. 
Kampung Al-Munawwar
Masjid di Kampung Al-Munawwar.
Selain sejarah dan budaya kita juga bisa kulineran di Kampung Al-Munawwar ini, disepanjang lorong terdapat beberapa warung yang menjajakan makanan khas Palembang seperti Model, Tekwan, Pempek dan Kemplang. Untuk oleh-oleh bagi wisatawan luar kota bisa membawa Kopi Khas Kampung Al-Munawwar, dengan harga terjangku. Eits, kopi ini bukan kopi biasa loh. Kebetulan saat berkunjung kemarin, ada beberapa kunjungan dari Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Jambi dan beberapa rombongan lain dari luar kota yang di guide langsung oleh Pak Ale (salah satu orang dinpar Kota Palembang dan pengusaha kopi). Ada demo tentang kopi Kampung Al-Munawwar yang langsung disuguhkan dan setelah meminumnya, para wisatawan pun memborong habis kopi tersebut.
Kampung Al-Munawwar
Salah satu warung yang menjual penganan Khas Palembang dan Kopi Khas Al-Munawwar.
Adapun ilmu kopi yang aku dapet dari duduk manis dan memperhatikan Pak Ale, antara lain:
       1. Kalo mau minum kopi sehat, ganti gulanya dengan gula aren! Kalo di supermarket bisa beli brown sugar.
2. Untuk rasa pas untuk yang mau minum kopi, kopi dan gula perbandingannya 1:1. Untuk ukuran gelas sedang, 10 gram kopi (satu sendok makan) dan gula dengan takaran yang sama.
3. Untuk penyuka kopi, kopi bisa diperbanyak dengan menambahkan sekitar 5 gram menjadi 15 gram atau bahkan 20 gram untuk satu sendok makan gula. Tentunya diseduh dengan air mendidih.
Selain makanan khas Palembang disini juga menjual makanan dengan sentuhan khas Arab, seperti nasi goreng dengan kismis.
Kampung Al-Munawwar
Al-Munawwar 2016.

Kampung Al-Munawwar
Al-Munawwar 2018.
Kampung Al-Munawwar sudah menjadi salah satu destinasi study banding bagi beberapa dinas pariwisata dari luar kota. Bangga kan? Kita harus mengapresiasi kerja keras banyak orang ini, kerja keras pemerintah kota maupun provinsi, warga sekitar, dengan tetap mematuhi aturan yang ada dan ikut melestarikannya, melalui tulisan salah satunya. ^^
Wassalammualaikum.

Wednesday, 14 February 2018

[Trip to Lampung] Wisata Alam yang Komplit

Wednesday, February 14, 2018 7 Comments

Hellooo fellas!!
How are you? I’m fine.
Oke, aku balik lagi menceritakan perjalanan hari kedua dan ketiga di Lampung kota sejuta siger. Lampung adalah salah satu provinsi dengan 2 kota dan 15 kabupaten dan Ibukotanya Bandar Lampung.
Hari kedua ini kami rencanakan untuk mengunjungi salah satu museum yang ada di Lampung. Sudah menjadi kewajiban bagiku untuk membedah habis museum disetiap kota yang aku kunjungi. Sejarah tak kalah mempesona dari hamparan alam yang asri. Setuju?
Temanku yang asli Lampung, sangat kebetulan belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di museum Lampung. Jadi, berdasarkan pengalamanku, biasanya museum akan tutup jam 5 sore. Kami memilih berangkat sehabis zuhur, menggunakan mobil salah satu jasa aplikasi online. Ini salah satu yang aku suka dari Lampung, alam yang asri didukung dengan kemajuan-kemajuan yang mempermudah. Kita mungkin akan kesulitan kalo berlibur ke kabupaten dengan pilihan transportasi yang minim, sedangkan tempat-tempat wisata biasanya jauh. Apalagi wisata alam.
Museum Lampung Tampak Depan
Pergi pukul 1 siang, kita tiba di Museum Lampung pukul 1:15 WIB dan museum sudah tutup. Rasanya kecewa sekali. Apa memang jadwal museumnya seperti itu ya?  Padahal aku sudah pengen banget tau sejarah Lampung. Tapi ya, kalo belum berjodoh ya gimana.
Sempet kebingungan harus kemana dan ngapain, akhirnya kita melipir ke salah satu mall yang tidak terlalu jauh dari museum. Boemi Kedaton. Rencana mau nonton atau sekedar ngabisin waktu menunggu magrib. Kita memutuskan untuk ngemilin ice cream di AW dan akhirnya aku menyendiri di gramedia. Membaca beberapa buku puisi Aan Mansyur dan Sapardi. Kekecewaan terbayarkan. Terima kasih, gramedia!
Pusat Oleh-oleh Lampung
Setelah asar kita menuju Askha Jaya untuk membeli oleh-oleh khas Lampung. Yup, berbagai aneka olahan pisang. Dari keripik aneka rasa hingga pie. Harga keripik pisang Rp.50.000,- per kg. Keripik Talas Rp.40.000,- Untir-untir ubi ungu Rp.40.000,- Kita bisa beli ¼ kg aja dan Pie Pisang Rp.38.000,- Disini kita bisa mencicipin keripik pisang sepuasnya. Haha. Kalo bicara Indonesia, bicara daerah-daerah yang ada di Indonesia, keripik pisang dengan rasa susu coklat itu kesukaanku sekali. Kalo temen dari Yogya, Bandung, Bali, Padang, bingung mau oleh-oleh apa (makanan) tapi kalo mereka dari Lampung, selalu minta bawain keripik pisang coklat. Askha Jaya ini terkenal sekali keripik pisangnya yang kaya akan bumbu, jadi kalo rasa susu coklat itu beneran deh tumpeh-tumpeh susunya. Karena membeli cukup banyak kami diberikan bonus untir-untir ubi ungu. Oh iya, Askha Jaya ini gak jauh dari Mall Boemi Kedaton.
Hujan rintik-rintik, dingin. Kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Al-Furqon, ini Masjid Agungnya Lampung nih! Disini, kami menunaikan Ibadah Solat Magrib dan janjian bertemu Sri Rejeki. Temen kuliah yang sudah sukses kerja di Kementrian Keuangan Lampung. Berjalan kaki menyusuri malamnya Lampung, meniti langkah dan membangun kata, perjalanan yang indah. Kami menuntaskan rindu sambil menyantap Ayam Pak Gembus. Sudah pasti, ditraktir pekerja. Haha. Thanks Jek!



Hari ketiga! Ya! Kita ke Pantai Sari Ringgung. Ini salah satu plan yang sebenernya sempet diragukan dan tidak bisa Mei pastikan. Karena jarak yang jauh dan kendaraan yang abu-abu. Berbekal sok akrab dengan driver go-grab yang mengantar kami drai Stasiun Tj. Karang ke rumah Mei, si Bapak berkenan mengantarkan kami ke Pantai Sari Ringgung. Janjian dengan Bapak jam 10, Mei, Salsa, Niken, sempat ragu awalnya. Tapi, aku percaya si Bapak tak mungkin ingkar. Haha. Jam 10 kami pergi, karena ingin dapet sunset di pantai, kami memilih ke Villa Gardenia terlebih dulu. Dengan kesepakatan dua rute, ditunggu, Bapak hanya meminta Rp.250.000,- terjangkau sekali. Coba kalo nyewa mobil? Nyetir sendiri, belum bensin. Ah, rejeki dari Allah memang bentuknya unik-unik. Si Bapak baik lagi, berasa jalan sama keluarga sendiri. Mau kontaknya? Bisa PM aku.
Villa Gardenia. Ini tempat keren parah, instagramable banget deh ya. Warna-warni dan natural juga. Keren.... Lampung udah punya tempat yang komersil gini, biaya masuknya Rp.10.000,- per orang. Villa Gardenia menawarkan kita banyak spot-spot foto yang ciamik! Ada yang free dan berbayar, bayarnya juga gak mahal Rp.5000,- per orang sepuasnya. Bunga warna-warni menemani langka sepanjang menanjak menuju tempat yang lebih tinggi biar keliatan laut. Lokasi Villa Gardenia ini sejalur dengan Pantai Sari Ringgung nih, jadi buat yang mau ke pantai bisa kesini dulu tanpa harus muter-muter memperpanjang rute. Ajaib kan ya. Seneng aja sama kenyataan ini. Haha.  
Selepas solat Dzuhur kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sari Ringgung. Biaya masuk ke pantai Rp.50.000,- per mobil. Harga itu sepertinya hanya berlaku untuk hari biasa, kalo temen-temen ke Pantai Sari Ringgung di hari libur bisa Rp.100.000,- untuk satu mobil. Sampai dipinggir pantai kami menggelar tiker yang sengaja kami bawa, karena kalo harus nyewa itu sekitar Rp.10.000,- untuk tiker dan Rp.100.000,- untuk pondoknya. Dipinggir pantai yang sejuk kami memakan bekal yang sudah dibawa dari rumah Mei. Selesai makan kami pun menaiki bukit yang menghadap ke pantai. Perjalanan menanjak jauh, menyisihkan aku dan Niken untuk sampai puncak. Saat berjalan kami berbarengan dengan Sedan yang ikut naik. Haha. Sedan loh! Ternyata ada cewek cantik dengan heels didalamnya. Pantai dari puncak, indah sekali. Seketika Mamas pengemudi Sedan nanya, “mbak, capek gak jalan turun?” Karena grogi (HAHAHA) dan bingung juga pertanyaannya, kita kan belum turun. Aku hanya jawab “lumayan”.
Perjalanan menuju puncak
View dari puncak



Rencana untuk main air di pantai pun harus aku batalkan karena takut hitam. Haha. Suka pantai tapi takut panas.
Kami masih ditawarkan untuk singgah kebeberapa spot wisata alam sama Bapak Driver, tapi karena lelah, kami memilih untuk pulang.
Jumat pagi, waktunya pulang ke Palembang. Menghadapi kota yang sedang sibuk membangun. Terima kasih keluarga Mei. Terima kasih atas keramahan dan segalanya. Ah, Lampung bakalan jadi tempat yang selalu ingin aku kunjungi lagi.
Wassalammualaikum






Wednesday, 7 February 2018

[Trip to Lampung] Puncak Mas with Golden View

Wednesday, February 07, 2018 8 Comments
Halooo, assalammualaikum. ^^
Kali ini aku mau nyeritain first trip aku ditahun 2018. Antara direncanain dan tidak direncanain. Hoho. Jobseeker kok ngetrip? Karena Allah sayang banyak.
            Trip to Lampung.
            Sebenernya ini udah jadi plan di 2017 tapi dengan berat hati harus ditunda dulu. Januari sebenernya ada rencana untuk ke Batam bahkan ke Bromo tapi aku merasa kurang berdaya. Lain kali ya. Wacana kali ini. Perjalanan dimulai dari aku yang udah mumet banget belajar buat ningkatin TOEFL biar bisa lulus ke tahap selanjutnya dalam test penerimaan salah satu BUMN. Test dilaksanain tanggal 21 dan kita pergi tanggal 22. Kalo aja ada kereta jam 11 siang mungkin tanggal 21 sudah meluncur. Keberangkatan itu deal tanggal 17 Januari. Sejenis unplanned. Mulanya hanya aku, Salsa dan Mei. Karena tanggal 18 Niken dan Lutfi kebetulan main ke rumah dan mendengar rencana kami lalu tertarik bergabunglah mereka, tapi Lutfi gagal ikut.
            Singkat cerita tanggal 20 kita pesen tiket. Seperti biasa kalo tiket kereta aku selalu ngegunain aplikasi pegipegi.com tiketnya lebih murah walau beberapa ribu rupiah saja dan pemesanannya juga mudah! Setelah dibagi 4, harga tiket beserta baiya administrasi hanya Rp. 34.000,- Tiket tanggal 22 Januari untuk 4 cewek dengan jam keberangkatan 8:30 pagi. Stasiun Kertapati cukup jauh dari rumah kami, harus menyebrang! Eits... Udah ada Ampera jadi gak perlu naek perahu apalagi berenang untuk sampe kabagaian Hulu dari Kota Palembang tercinta ini.
            Merasa jam terbang sudah tinggi (cielah), aku menolak saat Mei mengintruksikan untuk sudah ada di stasiun jam 7.30 pagi. What!!! Never in blue moon. Mau sampe ke stasiun sepagi itu. Sempet menyaksikan Mei dag-dig-dug karena Niken kejebak macet. Udah berkali-kali dibilangin.. Mei jam 9.20 baru check in juga gpp. Jangan khawatir, ada aku. Haha. Padahal katanya kereta adalah rumah keduanya.
            Berangkatlah kita menempuh jarak 365 km untuk sampe ke Stasiun Tanjung Karang. Pergi bersama temen, setelah beberapa kali solo trip, memberikan warna tersendiri. Biasanya bawa novel bisa habis berbab-bab ini cuma beberapa lembar aja. Karena kita suka main remi dan bawa kartu (sebenernya untuk main di rumah Mei) tapi bosen melanda kala itu sinyal pun tiada kita gelar jaket buat jadi alas main setsot. What a trip. Sampe-sampe ada kakak yang ikutan main. Waktu magrib menjelang kita sampe di Tanjung Karang. Berang 9:32 pagi sampe sekitar 6:40 malem. Jadi Palembang-Lampung via Kertapati-Tj.Karang butuh waktu 12 jam.
            Gimana solatnya? Gimana? Gimana?
            Untuk trip kali ini aku udah mikirin lumayan perihal solat sebelum pergi, sempet nanya temen singkat. Tapi masih keliru waktu pelaksanaannya. Jadi solat dzuhur, asar, magrib aku qodo di waktu isya. Untuk pelaksanaan qodo mungkin detailnya dipostingan berikutnya ya guys...
            Keesokan harinya kita langsung jalan-jalan menuju Puncak Mas, perjalanan yang mulus tanpa macet buat aku jatuh cinta sama Lampung. Eits, bukan cuma macetnya doang. Tapi suasananya. Gimana ya. Menurutku Lampung ini cukup ideal untuk dijadiin tempat tinggal. Tata kota yang sejuk, jauh dari macet, tempat rekreasi yang beraneka dan yang pasti mallnya cukup memadai. Toko buku ada walau gak selengkap Gramedia World punya Palembang, brand-brand tertentu juga berbaris rapi siap menggoda. Perpaduan yang pas bagiku. Tapi, kalo Lampung gak ada kamu. Pasti berat. Aku milih kota yang ada kamu aja. Iya disana, disitu, disebelahmu, lalu dihatimu.

Pemandangan dari Mushola Cewek Puncak Mas

            Aku gak ada ekspektasi sama sekali untuk ke Puncak Mas, tempatnya seperti apa dan gimana. Ternyata guys, worth it banget! You must to be here. Apa karena hari itu sepi dan sejuk aja ya, jadi asik banget. Gak nyangka aja Lampung punya tempat gini dan berkali-kali aku bilang. “Mei.... lu ngapain di Palembang mulu, Lampung punya tempat gini.”
            Ada pengalaman lucu saat ternyata kami menaiki rumah pohon yang lagi gak boleh dinaikin. Saat penjaganya sadar, diatas rumah pohon itu tinggal aku dan Niken. Ternyata pohon duriannya sedang berbuah dan tidak boleh dinaikin. Haha. Wajar aja serba goyang. Lucunya lagi, kumat deh phobia ketinggianku, walau gak parah tapi lumayan. Setiap mau naikin tangga, semua harus steril aka gak boleh ada yang naik. Hanya aku. Itupun tertatih-tatih. Teriak-teriak dikit. Selalu mengasyikan melawan rasa takut. Yang sulit itu melawan rasa cinta ke kakak.

Ini loh pohon terlarang itu. Plangnya sih dipasang kurang tepat.

Ini lagi diatas rumah pohon yang paling tinggi. Nun jauh disana laut loh kak.

            Ada sekitar 6 rumah pohon untuk bersantai sambil take foto disini. Semuanya punya keunikan masing-masing dan beberapa rumah pohon menggunakan pohon durian hidup. Oh iya, biaya masuk Puncak Mas sangat terjangkau Rp.20.000,- per orang. Karena percayalah, suasana didalamnya tak ternilai. Puncak Mas juga dilengkapi ruang diskusi terbuka yang warna-warni, alangkah beruntungnya komunitas-komunitas atau pemuda-pemudi di Lampung mencari tempat untuk diskusi atau sekedar ngobrol melepas penat. Untuk makan dan minum disini juga ada food cornernya.

Sebelah kanan itu tempat diskusi dengan kursi warna-warni.

            Ajaibnya... musholanya pun dibangun seperti rumah pohon. Jadi ada dua mushola yang dibangun diatas pohon. Mushola cewek dan mushola cowok tepat samping kanan dan kiri atas kantin. Dari atas mushola kita bisa ngeliat jauh pemandangan Lampung dengan bukit-bukit dan laut diujung kanan. Angin sejuk, pemandangan indah. Nikmat Tuhan mana lagi mau didustakan?

Mushola Cewek.

Mushola cowok.


Setelah dari Puncak Mas kita menuju The Little Europe. Satu komplek kecil perumahan bergaya Eropa yang dicat warna-warni. Cantik sekali. Sayangnya gedung-gedung ini seperti terbengkalai. Tidak berpenghuni. Beberapa saja yang menjadikannya cafe. The Little Europe ini ada disalah satu kawasan perumahan elit.

The Little Europe. Semoga bisa ke Eropa anntinya.

Upnormal-mates.

            Perjalanan sore itupun usai dengan perut yang lapar minta diisi indomie kuah karena rintik hujan mulai turun.
            Tuhan, terima kasih karena kaki ini Engkau izinkan melangkah jauh.
            Tuhan, terima kasih karena mata ini Engkau persilahkan melihat jutaan keindahan.
            Tuhan, terima kasih karena teman-temanku adalah rezeki yang tak ternilai.
            dan Tuhan, terima kasih karena hati ini masih bisa sadar dan merasakan keagunganmu.
            See ya... ini baru hari pertama loh!
            Kita 3 hari di Lampung!
            Wassalammualaikum. ^^

Sunday, 4 February 2018

[Review Film] Midnight Runners

Sunday, February 04, 2018 5 Comments
Assalammualaikum. Helloo. ^^
Vas happenin guys? Tetiba kangen aa zayn. How are you my fav vas happenin boy?
Aku barusan nonton film Korea nich. (Who’s care rum?) Haha.
MIDNIGHT RUNNERS (7.6/8)
Kang Hae Nul dan Park Seo Joon
Filmnya udah lama ada di HDD aku tapi baru mood nontonnya tadi siang dan deabak!!! I love this movie, jadi ngayal kalo nontonnya di bioskop kan bakalan lebih asik.
Film yang dibintangi oleh duo ganteng Park Seo Joon dan Kang Ha Neul, siapa sih yang gak tau mereka berdua? Film ini sendiri liris tahun lalu di Korea tepatnya 9 Agustus 2017. Mereka berdua adalah taruna akademi kepolisian di Universitas Kepolisian Nasional Korea. Awal film kau dibuat bingung, kok ya yang jadi taruna ada yang pake kacamata? Apa peraturan di Korea sana beda ya sama di Indonesia?
Berawal dari Ki-Joon (Park Seo Joon) yang meminta potongan sosis yang ditinggalkan oleh Hee-Yeol (Kang Ha Neul) dipiring makannya. Hee-Yeol adalah taruna yang sangat menjaga kebersihan dan pinter bangeeeeet, seharusnya masuk kedokteran kali yak tapi karena doi pengen beda sendiri dari temen-temen SMA nya jadilah Hee-Yeol memutuskan untuk jadi polisi.
Pada saat latihan fisik, para taruna diminta untuk lari menuju ke sebuah lapangan, saat diperjalanan Hee-Yeol tersandung dan jatuh. Kaki kirinya terkilir dan menyebabkan si Hee-Yeol tidak bisa berjalan apalagi lari sis. Jangan harap. Banyak taruna yang hanya lalu lalang tidak memperdulikannya. Tibalah saat Ki-Joon yang melintas, Hee-Yoel langsung merengek meminta tolong dengan sedikit mengungkit dua potong sosis yang diberikannya ke Ki-Joon. Hahaha. Ki-Joon sempat menolak, karena memang mereka diberikan limit waktu untuk sampai di tempat kumpul. Dengan kecerdasannya, Hee-Yoel menawarkan akan mentraktir Ki-Joon makanan Daging Sapi Korea dan binggo! Berhasil. Ki-Joon mendukung Hee-Yoel dengan tertatih-tatih hingga sampai di lapangan kumpul. Karena mereka telat dari waktu yang sudah disepakati, Hee-Yoel meminta agar Ki-Joon untuk tetap diterima. Aku gak nyangka ternyata si cerdas dan steril ini tau diri juga. Haha.
Tampang taruna gini ya..
Selama pendidikan mereka menjadi teman dekat. Hee-Yoel terkenal cerdas dan Ki-Joon selalu menang di kelas Judo. Biasalah yaa, cowok gak lepas dari gimana caranya ngedapetin cewek. Mereka berdua izin untuk keluar asrama, perihal asmara. Mengunjungi salah satu club besar di Seoul tak memberikan perubahan yang signifikan untuk duo taruna ini.
Saat perjalanan pulang mereka berdua melihat cewek yang diidam-idamkan. Berjalanlah mengikuti si cewek sampa akhirnya sepakat untuk meminta nomer si cewek tapi sayang mereka terlambat. Si cewek yang ditaksir keburu diculik. Jiwa menolong mereka langsung keluar dan bereaksi, Hee-Yoel dan Ki-Joon berlari mengejar mobil penculik namun gagal. Mereka melapor polisi pun, tidak ada tindakan yang sigap.
Mereka menghabiskan malam dengan berupaya menyelamatkan si gadis idaman. Setelah ditelusuri ternyata si gadis dijual untuk kemudia diambil sel telurnya. Serem amat yak. Tapi, malam itu mereka gagal dan kecewa dengan sistem yang ada. Awalnya aku ngira film ini akan habis ceritanya dalam satu malam. Kayak perjalanan duo sekawan yang semalaman suntuk berusaha menolong si gadis idaman gitu. Tapi salah.

Mereka enggak putus asa.
Mereka semakin giat melatih fisik agar bisa melawan banyak preman lagi. Mereka meminta salah satu instruktur diawal pendidikan mereka untuk menemukan keberadaan mobil penculik dengan janji mereka akan bertindak setelah keberadaan mobil sudah diketahui.
Ternyata, perdagangan sel telur sudah sangat sistematis dan rapi sekali. Aku jadi penasaran apa sih ya yang dipkirin dokter yang ngelakuin operasi pengangkatan sel telurnya? Lupakah sama sumpah dokternya?
Perjuangan duo sekawan ini tidaklah mudah, klinik yang melakukan tindakan ilegal ini dijaga oleh baanyak preman dan akhirnya berbuah manis. Mereka bukan hanya menyelamatkan si gadis idaman tapi juga 20 gadis lainnya yang sudah dalam keadaan tidak sadar terbius untuk giliiran diambil sel telurnya.
Hee-Yoel dan Ki-Joon adalah dua individu dengan sifat dan latar belakang yang berbeda namun memiliki ketulusan. Penasaran? Yok nonton.
Korea Selatan selalu punya ide yang unik dalam dunia sinema, baik drama ataupun film. Ah, jadi pengen nonton film Indonesia yang keren-keren dengan mengangkat sisi lain dunia ini.
Wassalammualaikum. ^^

Friday, 2 February 2018

Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Anak Pesisir Pantai

Friday, February 02, 2018 4 Comments
Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya alam yang sangat luar biasa. Indonesia terdiri dari 17.508 pulau dengan lautan sebagai pemersatu antar pulau-pulau itu. Luas lautan Indonesia adalah 75% dari total keseluruhan luas Indonesia, dengan kata lain luas daratan Indonesia hanya 25%. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Selain itu Indonesia juga memiliki garis pantai sepanjang 99.093 km, keanekaragamaan fauna bawah laut serta ekosistem terumbu karang yang indah.
Dokumentasi Ekspedisi Nusantara Jaya Kalimantan Tengah 2017, Desa Ujung Pandaran.
Melakukan kegiatan Outbond dengan anak-anak pesisir.

Dengan anugerah-anugerah geografis tersebut sudah seharusnya Indonesia mampu menjadi salah satu negara maju. Tapi, sampai saat ini Sumber Daya Manusia yang dimiliki Indonesia belum mampu untuk maksimal dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Hal ini karena kebanyakan kita lupa bahwa sejarah pernah menuliskan Indonesia pernah jaya di lautan. Infrastruktur hanya jor-joran dibangun diatas daratan. Pemberdayaan masyarakat pesisir pun masih belum maksimal. Pendidikan untuk anak-anak pesisir masih minim.
Pendidikan adalah salah satu cara yang tepat untuk merentaskan kebodohan, untuk memulai perubahan, untuk menanamkan semangat nasionalisme. Anak-anak pesisir sudah seharusnya diberikan pendidikan yang terbaik, terkhusus lagi mengenai kemaritiman. Terlalu jauh jika kita mengharapkan orang-orang yang sibuk dengan hiruk-pikuk kota untuk terjun pertama kali menyelesaikan masalah di pesisir. Anak-anak sedini mungkin ditanamkan rasa memiliki terhadap lingkungannya, dicontohkan mencintai lingkungannya.
Anak-anak pesisir yang dianugerahi indahnya pesisir pantai, lautan dan seisinya. Seyogyanya diajarkan kiat-kiat untuk merawat keindahan sang alam dengan tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga ekositem terumbu karang. Beriring berjalannya waktu akan tumbuh rasa memiliki dan cinta terhadap lingkungan dari diri anak-anak pesisir. Cinta terhadap lingkungan sekitar akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang perlahan akan menguat dalam diri anak-anak. Pendidikan karakter sangatlah penting untuk ditanamankan sedini mungkin.
Edukasi secara formal sangat penting, untuk memaksimalkan peningkatan taraf hidup nelayan pesisir pantai. Anak-anak sebagai penerus estafet baik kepemimpinan ataupun penggerak perekonomian di lingkungan pesisir pantai wajib untuk terus diedukasi mengenai pengelolaan sumber daya alam lautan yang baik. Bagaimana menjaga kelestarian hewan-hewan laut meskipun setiap hari ditangkap, meningkatkan kualitas tangkapan agar daya saing ekspor maksimal. Bagaimana mencapai kesejahteraan yang merata bagi nelayan.
Anak-anak adalah tempat investasi yang baik untuk membenahi bangsa ini. Tempat yang bisa amanah jika dicontohkan kebaikan-kebaikan. Anak-anak yang terdidik secara moral dan formal adalah satu bukti bahwa kita sama-sama mengiginkan dan berharap Indonesia kembali jaya di lautan. Garam tak lagi import, illegal fishing tak lagi terulang, pertambangan dan energi dikelola anak bangsa, anak pesisir dan ekosistem yang terjaga kelestariannya.