Friday, 19 January 2018

Save Street Child, Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Hari minggu yang biasanya digunakan untuk bersantai atau jalan-jalan bersama keluarga dan teman-teman, sejak awal 2016 aku manfaatkan untuk ikut serta mengajar di Save Street Child Palembang. Save Street Child adalah komunitas peduli anak jalanan dan kaum marginal dengan program permberdayaan melalui pendidikan. SSC di Palembang, memiliki beberapa Kelas Belajar. Saat ini ada dua Kelas Belajar, yaitu Kelas Belajar Sukawinatan yang sudah ada sejak SSCP berdiri 5 tahun lalu dan Kelas Belajar Bahasa Inggris di Panti Doa Ibu yang baru berjalan satu tahun. 
Proses Belajar di Kelas Sukawinatan
Kelas Belajar Sukawinatan hanya berjarak sekitar 100 meter dari gunung sampah tertinggi di Palembang. Kelas belajar ini diikuti oleh anak-anak pemulung sampah yang masih sekolah maupun sudah putus sekolah. TPA Sukawinatan adalah tempat marginal yang pemberdayaan masyarakatnya masih kurang tersentuh maksimal oleh pemerintah. Anak-anak yang tidak sekolah demi membantu orang tua memulung, Ibu-ibu yang kurang edukasi mengenai tumbuh kembang anak bahkan Bapak-bapak yang enggan anaknya sekolah. 

Saat pertama datang ke Kelas Belajar Sukawinatan, sangat sulit menghadapi anak-anak sebanyak 40 orang di dalam ruangan 2x3 meter dengan bau sampah yang menyengat. Daya tangkap anak-anak Sukawinatan juga berbeda dari anak-anak dilingkungan tempat tinggalku. Mereka malu untuk bicara, mereka sulit membayangkan kata-kata, mereka sulit mengerti. Tapi, semangat mereka dan kebahagiaan mereka saat kami datang selalu mampu menaikkan semangat kami. Sistem penggajaran di Sukawianatan menggunakan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak-anak, anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis diajarkan membaca dan menulis sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan materi sesuai silabus yang telah disusun. Dalam satu bulan akan ada pekan kreatif yang diisi dengan mengajarkan anak-anak berkreasi melalui barang bekas untuk diubah menjadi barang layak pakai dan memiliki nilai jual. 
Lingkungan tempat tinggal Anak-anak Kelas Belajar Sukawinatan
Foto Originalnya entah dimana jadi ss dari Pdf tulisan 
Selama mengajar aku harus puas hanya dipanggil Kakak Les, karena anak-anak 
memang sedikit sulit mengingat nama pengajar. Sampai akhirnya, setelah mungkin satu tahun anak-anak bisa memanggil namaku “Kak Rumi”. Ini memiliki arti tersendiri bagiku, saat mereka mengingat namaku mungkin hari-hari yang telah kami lalui juga diingat oleh anak-anak Sukawintan. Anak-anak Sukawinatan adalah sama dengan anak-anak di Ibukota sekalipun, mereka adalah Anak Bangsa Indonesia yang berhak atas pendidikan yang layak. 
Anak-anak Sukawinatan mendapat donasi dari Zetizen Sumeks. Masih banyak orang yang peduli di dunia ini.
Sudah menjadi taggung jawab para terdidik untuk mendidik.

Ps: tulisan setahun lalu. Sebentar lagi SSCP bakalan 6 Tahun.

1 comment: