Monday, 29 January 2018

Dilan 1990, Diluar Ekspektasi!!!

Monday, January 29, 2018 7 Comments
        “Sore itu, aku merasa seperti berada di puncak dunia bersamanya, bersama Dilan yang memberi aku pelajaran bahwa cinta sejati adalah kenyamanan, adalah kepercayaan, dan juga dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”

          Finally nonton jugaaaaaaaaaaa guys! Film yang ditunggu-tunggu sekali. Sudah hari ke-4 penanyangan sih. Lumayan telat, dimana-mana udah pada heboh. Terutama dua temenku yang gak berhenti nyoba spoiler. Film yang ditunggu sejak selesai baca novelnyaa sempet buat aku dag-dig-dug, pengen loh rasanya nonton film yang gak ngecewain setelah berhari-hari kita berimajinasi dengan novelnya. Inget banget waktu trailer film Dilan 1990 keluar, boom! Langsung jadi tranding topic di twitter. Banyak netizen yang kecewa dan ragu dengan Iqbaal sebagai Dilan. Mereka dan aku bilang Iqbaal kurang badSorry Baleeee. Jujur aku bukan orang yang ngikutin Iqbaal apalagi ngefans, sekedar tau kalo Iqbaal salah satu personil CJR dan sekarang lagi pendidikan di Amerika.
          Setelah nonton trailernya, aku tetep positif kalo film ini bakalan keren. Aku gak mau ngekritik dulu, karena Pidi Baiq sendiri yang menyetujui Iqbaal memerankan Dilan. Sebagai pembaca yang baik aku rasa kita harus cerdas bersikap, kalo emang film gak akan sebaik saat kita baca dan ngeimajinasiin novel tersebut. Kita adalah sebaik-baiknya pengimajinasi. Haha.
       Tiba tanggal 25 Januari, film Dilan resmi diputar diseluruh bioskop Indonesia. Dan lagi, booming banget. Meme tentang kerinduan Dilan bertebaran di Instagram dan Twitter.

Kamu gak rindu gitu sama aku? Biar gak berat, kamu ungkapin. Kita jalanin bareng-bareng. (Harumi. Palembang, Januari 2018)

Isi instastory Dilan semua euy...
Tibalah hari ini, dengan segala hal yang ditahan. Aku pun nonton!!! Nungguin bioskop buka malahan. Haha. Btw, thanks Bila... lebih milih nonton sama aku dibanding dia. Haha.

Jujur.
Sulit sekali bertahan nonton film ini.
Kenapa?
Karena, Dilan!!!!! Dia lebih dari imajinasiku. Dilan. Iya dia Dilan nya Milea tahun 1990. Dilan yang diperankan Iqbaal sungguh tidak mengecewakan. Kisah cinta putih abu-abu tahun 90an dikemas dengan penuh cerita lucu dan menggemaskan dalam film ini. Ternyata seperti itu Bandung tahun 1990.
Dilan emang brengsek, caranya memperlakukan Milea juara sekali. Bahkan dihatiku, Dilan, kamu juara. Film ini sudah membangun karakter Dilan sedemikian rupa, persis seperti Novel melebihi imajinasiku malahan. Dilan yang sopan, sangat sopan malahan. Sisi manis Dilan yang muncul bertubi-tubi, satu hal yang jauh dari ekspektasi. Rasanya Dilan terlalu anti tolak di film ini.
Sepanjang film, aku dan temanku berkali-kali mengulang. “Sakit jiwa ni film.” Entahlah kenapa kata-kata itu terus kami ulangi. Silahkan tonton filmnya dan rasakan sakit jiwanya!
Sepanjang film aku menunggu sekali sosok Bunda, entahlah Bunda yang aku bayangkan rasanya Sumatera sekali. Aku berharap Bunda Dilan jauh lebih Bunda lagiiii. Duh gimana ya, di novel tuh Bunda itu ya gitu. Mungkin karakter Bunda bakalan diperdalam lagi di Film Dilan 1991. Ada scene aneh juga, saat Bunda mengantar Milea pulang ke rumah. Itu kenapa dah, aku kurang paham tentang itu.
Untuk kamu. Iya kamu! Yang sudah baca ke-3 novelnya wajib ya nonton film ini. Aku jamin gak mengecewakan. Buat kamu yang belum baca novelnya, nonton aja dulu filmnya terus lanjutin baca novelnya. Indonesia, 2018. Sangat butuh cowok seperti Dilan ini. Terutama aku ya. Haha.
Iqbaal Ramadhan. Ternyata kamu sudah dewasa ya. Sudah bisa mempesona. Nama fans club kamu apa Bal?

Saturday, 27 January 2018

Surat Cinta Untuk Anakku

Saturday, January 27, 2018 0 Comments
Sebagai perempuan.
Sebagai anak.
Sebagai calon Ibu.
di akhir zaman.
Assalammualaikum anakku.
Tiba-tiba Ibu ingin menulis sesuatu yang kelak bisa kau baca dengan baik. Tiba-tiba Ibu ingin memberitahumu banyak hal. Tentang cinta, hidup dan kehidupan. Nak, ini Ibu tulis di Minggu pagi saat Ibu (mungkin) belum bertemu dengan Ayahmu. Ibu menulis ini dengan penuh kasih dan harapan.
Nak, kau harus tau bahwa kehadiranmu sangat diharapkan. Bahwa tentangmu telah terapal dengan baik disetiap doa Ibu. Jauh sebelum Ibu bertemu dengan Ayahmu. Jika kelak dunia ini menawarkan racun yang nikmat, kau harus tau bahwa hadirmu sudah diharapkan dan diusahakan dengan baik oleh perempuan akhir zaman yang masih sendiri dan menunggu hari bahagia itu datang dengan istimewa.
Nak.. kau harus tau. Dunia ini memiliki batas, kau boleh tebas segalanya untuk merasa bebas dan bahagia. Tapi ingat, semua berbatas. Saat dunia membuatmu terlena, ingatlah bahwa saat Ibu masih sendiri, hadirmu mulai Ibu jaga dengan doa. Agar kelak kau soleh/soleha. Agar kelak kau tau, apa yang harus kau raih dan apa saja yang wajib kau tinggalkan. Kau harus tau betapa cinta itu tidak mungkin membawamu ke hal-hal buruk dan keji. Ingatlah nak, kau Ibu cinta jauh sebelum semua ini Ibu tulis. Semoga kau selalu mampu menjaga kehormatan dari setiap doa Ibu. Menjaga kemuliaanmu sebagai dirimu. Sebagai seorang muslim/muslimah.
Nak, Ibu ingin kau memilih jalanmu sendiri kelak. Ibu ingin kau meraih semua yang kau inginkan. Ibu ingin kau bahagia. Tapi, apa-apa yang ada di dunia ini fana. Sementara. Kelak raihlah nak semua cinta dan citamu. Ingatlah semua itu harus dengan cara baik dan untuk kebaikan. Kau harus tumbuh cerdas dan kuat. Hadirmu harus memberikan makna bagi sekitar.
Nak, kelak dunia ini akan memberikanmu pilihan-pilihan aneh. Pilihan-pilihan menyakitkan. Akan ada saatnya Ibu tidak bisa membantu, kau hanya perlu mengingat bahwa kau tumbuh dengan segala kebaikan yang diusahakan, bahwa tidak satu detik pun terlewat doa-doa yang tulus Ibu lantunkan. Ibu tak pernah berharap memilki anak yang hebat dengan cara yang salah.
Nak,  mungkin kelak dunia ini bagaikan berada digenggamanmu. Ingatlah bahwa itu tak terlalu penting jika tak kau bagi manfaatnya. Kau harus tau tetnggamu yang kelaparan, kau harus tau anak-anak yang putus sekolah, kau harus tau orang tua yang masih harus bekerja. Kau harus bijaksana dalam bersikap.
Nak... semoga kelak caramu melewati waktu di dunia ini jauh lebih baik dari Ibu. Semoga kelak masa mudamu penuh dengan kisah-kasih yang di ridhoi-Nya. Semoga kelak kau tau bahwa Ibumu sudah menjagamu jauh sebelum kau dilahirkan. Agar kau ingat cara mencinta yang benar. Agar kau bertindak dengan semua kecerdasan yang bijak. Agar kelak harapan-harapan yang akan kita bangun adalah keabadian di syurga.
Anakku, semoga doa yang mulai Ibu ukir, cinta yang mulai Ibu rawat dan kasih yang akan menemani tumbuh kembangmu kelak menjadikanmu seseorang yang penuh cinta. Seseorang dengan kecerdasan dan kesederhanaan. Seseorang yang kuat dan lembut. Seseorang yang selalu merasa puas atas ketetapan Allah dan selalu berusaha dijalan-Nya.
Wassalammualaikum.

Minggu, 28 Januari 2018

2018, Waktunya Hijrah

Saturday, January 27, 2018 0 Comments
Haloooo.. Assalamualaikum
     Bagaimana akhir dari tahun lalu? Iya, tahun 2017? Apakah semuanya indah dan menyenangkan? Pasti enggak kan ya. Karena hidup banyak rasa.
Rumi di Masjid Bayumi
Kemarin dan hari ini adalah hari yang baru banget dari aku. Biasanya pergantian tahun selalu dilalui dengan hal-hal yang erat dengan dunia. Kali ini aku mencoba menanggalkan sebentar semuanya, meninggalkan sesuatu untuk sesuatu yang lebih baik. Benar bahwa jalan menuju Nya tak semudah itu, perjuangan dan pengorbanan harus ada nyatanya. Jalan Nya terasa sunyi dibeberapa detik dalam keramaian. Perubahan itu jika tidak dimulai, lalu kapan kan tiba saatnya?
     Banyak hal yang dilalui sepanjang 2017. Hal-hal indah dan juga kenyataan yang sulit diterima. Tugas Akhir selesai dengan segala dramanya, sidang yang tiba-tiba membuatku sulit terlelap karena harus maju pertama kali. Subuh hari itu, aku menangis merasa tak berdaya dengan segala kelalaian dan keterbatasanku. Tapi, Allah memang selalu berbaik hati. Mantan Direktur yang seharusnya menjadi salah satu pengujiku, belum hadir saat aku mulai melangkahkan kaki ke ruang ujian hingga selesai. Ajaibnya lagi, meski ada beberapa data yang harus diulang pengambilannya, UAV hasil usaha kami sangat diapresiasi.
Nikmat Allah mana lagi yang bisa Aku dustakan(?)
    Mengelilingi Jawa dengan penuh keberanian. Untuk pertama kali naik kereta seorang diri dari Bandung ke Yogyakarta. 12 jam dalam kereta bertemankan Novel yang sampai detik ini belum mampu aku selesaikan.
     Bertemu dengan anak-anak pramuka yang baik hati di Surabaya. Seharusnya perjalanan mengelilingi Jawa ini butuh waktu satu bulan. Harus dinikmati sekali. Mungkin lain kali, sama kamu. Hahaha.
     Mendapat kesempatan menjadi peserta Ekspedisi Nusantara Jaya ke Kalimantan Tengah. Pengalaman yang baru bagiku menginjakkan kaki lagi ke tanah Borneo. Bertemu banyak orang dengan segala hal yang ada pada mereka. Aku selalu berharap, pertemuan itu bukan hanya sekedar rezeki.
     Momen wisuda yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah drama diundur dan prosesnya yang tidak mudah. Alhamdulillah, anak mama papa ini wisuda juga. Walau semuanya harus biasa saja.
     Tidak ada yang spesial tahun ini, aku masih kebingungan tentang banyak hal. Aku masih mencari tahu apa yang aku inginkan. Tapi, malam ini memperlihatkan bahwa butuh pengorbanan untuk sebuah perubahan. Harus ada yang ditinggalkan. Harus ada yang dipilih. Dunia ini fana. Iya, fana dan banyak yang tak setia.
     Malam ini aku yang selalu lupa cara untuk menghargai dan sederhana, duduk diantara ratusan Akhwat untuk mendengarkan kajian. Hal yang bukan Harumi sekali. Tapi, seperti itulah sebenarnya Harumi. Aamiin. Harus aku tinggalkan acara bersama teman yang lebih dulu disepakati, bukan diriku sekali meninggalkan sesuatu, membatalkan sesuatu. Tapi, harus ada pengorbanan.
.... dan dunia akan bersimpuh di kaki mu, saat kau tinggalkan semua urusan dunia untuk akhirat ....
.... dan Aku Ya Rabbi, belum pernah kecewa dalam berdoa dengan Mu..
     Aku selalu menunda semuanya, aku selalu merasa memiliki banyak waktu. Hingga akirnya aku lalai dalam berharap. Aku hancur, benteng itu kembali runtuh.
     Banyak pelajaran ditahun ini dan pergantian tahun ini sungguh (semoga) awal yang baik. Untuk semua hal yang baik.
     Merajut impian yang lebih mulia lagi, meyadari kembali bahwa setiap orang memiliki puncaknya masing-masing. Mengabdi bukan hanya perihal hidup ditengah belantara. Buka rumahmu selebar-lebarnya untuk semua kebaikan..
Rumahku, Rumah Dunia. Ku Bangun dengan Kata-Kata.- Gol A Gong.
     Kabarkan kepadaku, saat kau juga sudah sependapat dengan sepenggal kata-kata diatas. Kata-kata yang menjadi pondasi baru atas impian baruku.
     Terima kasih telah menyinari, menyadarkan bahwa terkadang kita tak perlu alasan yang istimewa untuk jatuh hati. Terima kasih telah mengabarkan, menyadarkan bahwa kecerdasan selalu menarik. Terima kasih telah memberitahu, menyatakan bahwa kau memahami.
     Bersinarlah bintangku, yang kupilih saat redup melelapkan. Bercintalah dengan langkah-langkah beranimu, kebaikan akan selalu bersama kebaikan. Belajarlah hingga lelah melenyapkan, kelak waktu kan menyampaikan. Ada seseorang, untuk mendoakanmu saja dia tak mampu.
     Wassalammualaikum. ^^


- ditulis tepat pada tanggal 1 Januari, karena banyak hambatan baru terbit hari ini. Semoga 2018 kita semakin baik. Bertemu jodoh. Oh iya, novelnya sudah selesai dibaca. -

Friday, 19 January 2018

Save Street Child, Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Friday, January 19, 2018 1 Comments
Hari minggu yang biasanya digunakan untuk bersantai atau jalan-jalan bersama keluarga dan teman-teman, sejak awal 2016 aku manfaatkan untuk ikut serta mengajar di Save Street Child Palembang. Save Street Child adalah komunitas peduli anak jalanan dan kaum marginal dengan program permberdayaan melalui pendidikan. SSC di Palembang, memiliki beberapa Kelas Belajar. Saat ini ada dua Kelas Belajar, yaitu Kelas Belajar Sukawinatan yang sudah ada sejak SSCP berdiri 5 tahun lalu dan Kelas Belajar Bahasa Inggris di Panti Doa Ibu yang baru berjalan satu tahun. 
Proses Belajar di Kelas Sukawinatan
Kelas Belajar Sukawinatan hanya berjarak sekitar 100 meter dari gunung sampah tertinggi di Palembang. Kelas belajar ini diikuti oleh anak-anak pemulung sampah yang masih sekolah maupun sudah putus sekolah. TPA Sukawinatan adalah tempat marginal yang pemberdayaan masyarakatnya masih kurang tersentuh maksimal oleh pemerintah. Anak-anak yang tidak sekolah demi membantu orang tua memulung, Ibu-ibu yang kurang edukasi mengenai tumbuh kembang anak bahkan Bapak-bapak yang enggan anaknya sekolah. 

Saat pertama datang ke Kelas Belajar Sukawinatan, sangat sulit menghadapi anak-anak sebanyak 40 orang di dalam ruangan 2x3 meter dengan bau sampah yang menyengat. Daya tangkap anak-anak Sukawinatan juga berbeda dari anak-anak dilingkungan tempat tinggalku. Mereka malu untuk bicara, mereka sulit membayangkan kata-kata, mereka sulit mengerti. Tapi, semangat mereka dan kebahagiaan mereka saat kami datang selalu mampu menaikkan semangat kami. Sistem penggajaran di Sukawianatan menggunakan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak-anak, anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis diajarkan membaca dan menulis sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan materi sesuai silabus yang telah disusun. Dalam satu bulan akan ada pekan kreatif yang diisi dengan mengajarkan anak-anak berkreasi melalui barang bekas untuk diubah menjadi barang layak pakai dan memiliki nilai jual. 
Lingkungan tempat tinggal Anak-anak Kelas Belajar Sukawinatan
Foto Originalnya entah dimana jadi ss dari Pdf tulisan 
Selama mengajar aku harus puas hanya dipanggil Kakak Les, karena anak-anak 
memang sedikit sulit mengingat nama pengajar. Sampai akhirnya, setelah mungkin satu tahun anak-anak bisa memanggil namaku “Kak Rumi”. Ini memiliki arti tersendiri bagiku, saat mereka mengingat namaku mungkin hari-hari yang telah kami lalui juga diingat oleh anak-anak Sukawintan. Anak-anak Sukawinatan adalah sama dengan anak-anak di Ibukota sekalipun, mereka adalah Anak Bangsa Indonesia yang berhak atas pendidikan yang layak. 
Anak-anak Sukawinatan mendapat donasi dari Zetizen Sumeks. Masih banyak orang yang peduli di dunia ini.
Sudah menjadi taggung jawab para terdidik untuk mendidik.

Ps: tulisan setahun lalu. Sebentar lagi SSCP bakalan 6 Tahun.