Wednesday, 8 November 2017

[Trip] Jakarta Tempat Belajar

Sudah dua minggu menetap di Ibu Kota. Menyaksikan bagaimana Jakarta bergulir dari tengah malam ke malam lagi. Ada beberapa hal yang harus diikuti dan diurus di Ibu Kota. Beberapa hal yang mungkin akan membawa kebahagian untuk Ayah dan Ibu, lalu memperkaya diri ini dengan pengalaman hidup mandiri. 

Karena sudah cuek dari lahir dan malasnya berpikir cerdas, aku harus sadar bahwa aku harus pergi saat jadwal test kurang dari 36 jam. Buru-buru menelpon Papa untuk keberangkatanku. Memesan tiket yang sempat hangus karena waktu pembayaran lewat beberapa detik saja. Ketika memesan ulang harga sudah naik. Waktu adalah uang man. 

Untuk pemesanan tiket pesawat, aku selalu menggunakan aplikasi Airy yang dulu hanya memiliki fitur pemesanan kamar. Harga di Airy cukup bersahabat dan untuk perjalanan jauh ada kode promo yang bisa digunakan untuk meringankan. Sayangnya, aplikasi ini belum melayani pembelian tiket kereta. Haha. Overall, thank you Airy untuk beberapa tiket pesawat yang sudah sering aku dapatkan.

Pertama, aku mempertimbangkan untuk berangkat malam hari tanggal 24 Oktober. Karena pakaian yang masih banyak kotor dan kebetulan ada Mei dan Salsa lagi berkunjung ke rumah. Hari itu kami sibuk menemani Mei mengikuti ujian online salah satu BUMN. Sambil menemani dua temen gilaku, aku sempatkan mencuci baju, menjemur dan berharap kering di sore hari. Karena masih dalam keadaan yang membingungkan, aku belum sempat memesan tiket. Saat adikku menanyakan jam berapa akan berangkat, aku hanya menjawab mungkin nanti malam. Setelah, ditelaah lagi karena test yang diiukuti adalah sesi terakhir. Aku sangat mungkin untuk terbang di penerbangan paling pagi besok. Ya, I think is a good choice. Tiket dipesan. Hangus. Memesan lagi. Terbayar. Siap berangkat.

Setelah kedua temanku pulang, perasaan sedih yang merundungku sejak tadi pagi mulai kembali merayapi hariku. Aku sedih karena lagi-lagi aku tidak memaksimalkan usahaku untuk belajar. Aku terlalu sibuk menyenangkan diri yang mungkin tidak penting untuk masa depanku. Setiap hari selain pekerjaan rumah, aku selalu berkeliaran di mall untuk sekedar membeli barang baru, karoke, nonton atau makan-makan. Hal yang dulu sangat bukan aku. Hedonisme broke my soul and I’m paralyzed. 

Sehabis isya aku mulai belajar. Dengan sangat serius. Dengan ditemani secangkir kopi hitam favoritku. I know I can. Tapi, rasa bersalah masih saja menggangguku. Aku takut mengecewakan banyak orang. Pada seseorang, kubagi rasa resah gelisahku. Tapi, bercerita memang tak pernah mengurangi beban bagiku. Hari itu, aku halangan dan baru sadar di waktu Magrib. Lengkap sudah. Saat kamu ingin merayu Allah dengan mesranya tapi kamu tidak berdaya untuk mendekat dan memperlihatkan ketulusan kalian. Benar-benar perasaan yang menyebalkan.

Belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Bukan hal yang menyebalkan mempeajari negara ini tapi sulit sekali rasanya hanya punya waktu sedikit. Materi ini belum pernah aku sentuh. Berbekal MK Civic Education yang aku jalani sepenuh hati saat semester 5, semuanya cukup membantu. I love this country and I need to know all about it. Terkendala untuk menghafal pasal-pasal. Aduhhh, tapi bukan Rumi kalo gak percaya sama kemampuan diri sendiri dan menyerah sebelum perang. Belajar hingga larut malam, lalu menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Jakarta. Mengangkat baju dari jemuran lalu menyetrika, melipat dan meletakkannya dikoper sendiri. Aku merasa sedih. Biasanya Mama ada. Hari itu aku hanya mempelajari TWK karena untuk TIU dan TPA sudah sering aku pelajari.

Jarum jam mulai bergeser, menunjukkan subuh kan segera genap. Aku mulai menyiapkan sarapan untukku serta adikku. 2 bungkus mie goreng dan nasi goreng. Semalaman tidak tidur dengan satu gelas kopi di lambungku, aku sadar tubuhku butuh asupan yang cukup untuk bisa maksimal.

Penerbangan pukul 7.10 WIB. Di pesawat, sialnya aku tidak mendapatkan kursi favoritku. Kursi dekat dengan jendela. Aku duduk di perbatasan lorong pesawat dengan anak sma yang ramai sekali. Saat pesawat mulai mengintruksikan untuk menonaktifkan Hp mereka masih cekikikan berfoto. Karena pernah mempelajari pensinyalan, aku benar-benar sadar betapa bisa fatalnya Hp yang menyala dengan aktifnya sinyal provider. Minimal plane mode is on girls. Karena masih saja nervous, aku kembali membuka buku untuk belajar. Lumayan nyaris seratus soal gambar terjawab. 

Landing di Soetta 8.06 WIB. Ada janji untuk bertemu dengan teman yang akan pulang ke Kalimantan Barat. Dia harus naik pesawat pukul 12 dan aku harus ada di tempat test jam 4. Bertemu lalu mengobrol dengan ditemani Ice cream strobery yang secara gak sengaja dibayarin temen. Haha. Thank you Kak Shihab! Ngarul-ngidul ngomongin kehidupan job seeker. Karena kesedihan yang melandaku sepanjang hari kemarin, aku tidak sempat untuk membawakan pempek untuk teman-temanku di Jakarta. Jadilah, indomie khas Sumatera Selatan “Mie Celor” aku bawa untuk aku berikan kepada mereka. Diajarin gimana untuk sampai di kosan Anita dan berkelana menggunakan KRL. Serta foto jalur KRL.

Jam 10 WIB kami berdua berpisah. Aku menuju ruang tunggu damri, Kak Shihab check in. Menunggu damri dengan rasa lelah dan gelisah. Dari bandara menuju terminal lebak bulus yang dengan normal cukup satu jam ini harus dilalui dua jam lebih. Aku beberapa kali tertidur dan masih saja belum sampai. Duduk mulai lelah dan aku mulai meghitung... apakah aku bisa sampai tepat waktu.

To be continued..

No comments:

Post a Comment