Friday, 20 October 2017

Akhirnya! Harumi Sampai di Puncak Gunung.

Assalammualaikum kaliaaaan yang kuingin tahu ekspresi kalian setiap baca tulisan aku gimana sih, sekali-kali muncullah dipermukaan. Tinggalkan jejak dikolom komentar. Say hi, siapa tau kan.... kita jodoh.
Jadi gini.
Salah satu keinginanku sudah terwujud!!! Yeay!
Ini dadakan banget, unplanned but I make it happend.
Di depan Pintu Rimba Jalur pendakian Gunung Seminung
Weekend minggu lalu, aku dan beberapa temenku memulai perjalan menuju senja *eyaaa. Kami menuju Danau Ranau! Never planned before. Itu tempat apa sih. Dimana. Gak pernah pengen tau.
But, something bring me to my childhood. Throwback.
Dalam perjalanan aku keinget sama dua guru ngajiku dulu. Ust. Dedi dan Ust. Nanto, dari ingetanku muncullah kerinduan-kerinduan masa gemilangku (hahaha). Kedua Ust.ku itu saat mengajar di TPA Nurul Jannah adalah mahasiswa IAIN (sekarang UIN) yang berasal dari Ranau.
“Hadoooh tad rumi rindu sekali, semoga selalu dalam lindungan-Nya yah. Aamiin.”
Keinget masa-masa dimana rajin-rajinnya ngaji, ikut lomba hafalan, cerdas cermat (aku sok yes), ngehafalin surat-surat yang sekarang udah banyak lupa. Ah sudahlah. Masa itu emas sekali. Rinduuuu.
Persiapan singkat, padat, jelas dan safety.
Perjalanan panjang dan melelahkan. Tau kan. Ku tak bisa berlama-lama di dalem bis. Perjalanan memakan waktu 10 jam. Sampe Ranau udah sore menjelang magrib, dianter ke lorong. (30/4/2017;19:25)
Aku mau review buku, tapi nemu tulisan ini. Yok selesain dulu....
Kita dianter sampe lorong dimana tempat kita akan bernaung rumahnya berdiri dengan kokoh. Dari tempat turun, ke rumah Ibu kuncen itu sekitar 300m. Rumah panggung yang penuh dengan tanaman didepan rumah dan tangga rumahnya. Seperti biasa di desa seperti ini anjing menjadi peliharaan untuk menjaga rumah dan kebun. 
When my happy and tired face captured.
Disambut Ibu dengan hangat, dikenalkan singkat mengenai Gunung Seminung dan pendahulu-pendahulu yang menjadi kuncen. Ibu juga mengenalkan spot-spot wisata yang sebenarnya sudah didukung oleh Dinas Pariwisata. Saat itu sebenarnya aku sudah menyelipkan satu brosur kedalam tasku untuk jadi acuan menulis, tapi entahlah hilang dimana. Mungkin di puncak gunung. Di rumah Ibu kita diberikan kebebasan untuk menggunakan air, listrik dan rumahnya untuk istirahat. Masak juga, minum air kulkas juga. Kita hanya diminta uang, uang apa ya namanya. Sukarela aja, dan saat itu kami ngasih 50K.
Malam harinya kami lanjutkan untuk membeli bahan makanan dan makan malam diluar. Saat membeli telur, ternyata cara menjual telurnya berbeda dengan di Palembang. Telur di Ranau hanya dijual per rak, satu raak isinya 20 butir telur dengan harga 30K malam itu. Telurnya tidak dijual perkilo, aku sempet bingung dan berusaha negoisasi untuk beli sekilo tapi beneran gak bisa. Disini aku belajar memahami perbedaan. Hehe. Beli beras, telur, sejenis kopi, gula dll. Makan lontong sayur.
            Malam dilanjutkan dengan perbincangan mengenai kehidupan anak pecinta alam, yang katanya kalo udah jadi anak pecinta alam. Kemana aja, dimana aja bisa hidup. Tapi, kalo kamu udah jadi bagian pecinta alam, temen kamu gausah. Cukup kamu aja. Biar yang lain muncak bareng kamu aja. Dengerin temen yang nyaris jadi anak PA kampus, kayakny S3 (seru-seru-serem).
            Perjalanan mulai jam 8 pagi dengan menyebrangi Danau Ranau untuk mencapai kaki Gunung Seminung. Aku dan teman-temanku baru pertama kali kesini. Si Akbar yang sudah malang melintang didunia pendakian, baru pertama kali ini ke Seminung. Turun dari getek yang membawa kami, kami langsung menyapa mama Elli untuk mengetahui jalur mana yang harus dilewati dan meminta petunjuk-petunjuk sekaligus membeli beberapa botol air mineral. Mama Elli sendiri adalah warga rantauan dari Pulau Jawa, memilih hidup di ujung pulau dengan segala keterbatasan. Kadang, hal-hal seperti ini ingin aku pahami. Inginku mengerti. Jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman, jauh dari ribuan objek kenangan, menghabiskan waktu hanya dengan ingatan.
Gunung Seminung, Sumatera Selatan. 1881 mdpl.
Robi, Andre, Roby, Salsa, Rumi, Akbar. Sebelum menyebrangi Danau Ranau.
Menyebrangi Danau Ranau dengan Perahu yang biasa membawa orang untuk menyebrang.
            Perjalanan dimulai dengan berdoa sebelum kami memasuki kawasan kebun kopi warga yang sudah terdapat akses jalan setapak untuk mencapai pintu rimba. Sebenarnya untuk mencapai pintu rimba bisa ditempuh menggunakan motor, sebenarnya aku dan Salsa diizikan untuk menepuh perjalanan dengaan menyewa ojek. Tapi, kami ingin lebih menghayati muncak pertama kami ini. Singkatnya sampailah di pintu rimba yang kemudian 15 menit ada tempat pemberhentian terakhir, ada pondok kecil, mushola dan rumah panggung serta sumur dengan air yang bening penuh planton. Disini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang baru turun, anak-anak sma yang tadi pagi mendaki, foto-foto dipuncak gunung lalu turun. Waw! Aku bingung, karena mereka begitu baik-baik saja secara penampilan. 
Bersama adik-adik warga Ranau yang sudah biasa muncak Gunung Seminung.



Cuma Rumi yang bawa sling bag ke Puncak Gunung!

            Pendakian ini kami lakukan bersama dengan rasa was-was. Ingat sekali semua serba cepat. Sore itu, Robi mengajak aku dan Salsa untuk bertemu Akbar dan Andre. Membicarakan keberangkatan esok hari sambil menyantap bakso didekat kosan Robi yang sungguh terkenal itu. Bakso Pakde. Aku dan Akbar ini satu jurusan, tapi aku seperti tidak pernah bertemu dengan Akbar. Kami juga sama-sama kerja praktek di PTBA Tanjung Enim. Tapi tetep aku gak ngeh. Kalo kenal Akbar dari dulu mungkn bakalan sering jalan. Haha. Kata Akbar, yakin yang cewek sanggup untuk muncak? Nadanya penuh ragu dan meremehkan. I still remember it. Keseeel. Akbar, Andre, Robi, Roby, Salsa, Rumi, Chen. Kami bertujuh. Barang bawaan sudah di setting sedemikian rupa, agar aku dan Salsa membawa seringan-ringannya. Sangat sulit sekali menyamai langkah mereka yang sudah pernah mendaki, terutama Akbar dan Andre. Robi, Roby dan Chen selalu bergantian mengekor kami agar aku dan Salsa jangan sampe berada dibelakang sekali. Perjalanan yang dikisarkan selama 6 jam, ternyata lebih. Medan pendakian yang terus tebing-tebing menanjak tidak ada bonus istilah anak PA.
            Waktu makan siang yang terus-terus dipending karena belum menemukan tempat yang pas. Akhirnya kami makan siang di jalur pendakian dengan nasi putih dan telur rebus. Karena mereka menyangka ybekal yang dibawa adalh nasi goreng yang nikmat, kekecewaan tidak bisa ditepis. Wkwkwk. Jadi untuk merasakan nikmatnya makan, kami memasak ar untuk menyeduh 3 cup pop mie. What a life.
Lokasi makan siang, dijalan setapak yang menanjak.
Roby dan makanannya!
Ditengah belantara, kami bersama.
Robi repacking, setelah makan siang. Ready for nanjak-nanjak!
            Perjalanan dilanjutkan, solat ketinggalan. Selama perjalanan yang mulai melelahkan dan sepertinya tidak ada yang bisa meringankan kecuali Allah. Aku berfikir. Rum, ini yang kamu mau? Are you enjoyed it? Rum, ini kan cita-cita kamu? Ini kan yang kamu pengen. Selama itu aku selalu mikir, kalo diajak mendaki lagi. Aku harus nolak atau gimana. Tapi, selelahnya waktu itu, aku sugesti diri untuk menikmati dan gak nyesel. I have no regret!!!!! I love my choice. Tapi, karena rest yang selalu gak bisa semau kita dan selalu aja kurang. Nah, di jam-jam akhir pendakian yang sepertinya lamaaaa sekali ini. Akbar yang cukup setia selalu mengekor kami. Selalu berada paling belakang. Akbar selalu ikutan rest jauh dibelakang kalo aku dan Salsa tiba-tiba rest. 
 
Created by Allah swt.

Arguing about nothing like we used to.
and one day you'll gonna miss me more than I miss him. Haha
            Hari mulai sore, tapi TOP masih jadi kta-kata palsu dari Chen dan Robi. Rasanya bosen banget mereka bohongin. Top, top. Eh taunya masih nanjak aja. Setelah ribuan langkah kaki yang harus melangkah lebih ekstrim dari biasaanya, alhamdulillah sampelah di tempat penuh dengan awan dan senja. Masyaallah. Terbayar sudah. 
Lautan awan jadi background foto!!
The boys and I.
A moment to remember.
            Disambut senja diatas lautan awan, untuk mereka yang sudah beberapa kali menyaksikan ini saja merekaa masih terkagum-kagum. Apalagi aku yang baaru pertama kali, rasanya bahagia sekali. Rasanya alhamdulillah sekali, diberikan kesempatan dan keberanian serta semuanya untuk sampe di Puncak Gunung Seminung ini. Kalo puncak gunung aja seperti ini, gimana surga nanti ya? Wah bahagia. Hari itu satu hal yang kuimpikan tercapai.
Roby and I.
Ratu Angin and I.

            Senja mulai sirna, angin perlahan menusuk. Tapi kami terlalu senang untuk merasa kedinginan. Malam yang dimulai dengan menanak nasi dengan priok. Dengan pop mie yang dimakan secup berdua. Rasanya nasi malam itu nikmat sekali. Kerak yang ada di priok jadi idola. Perlahan persediaan air kian berkurang, rasanya air berharga sekaliiii. Kami menghabiskan waktu sambil bercerita dengan posisi dua tenda yang saling berhadapan. Tepat sekitar pukul 11 malam ada rombongan yang baru tiba. Kami bersyukur karena ada yang bisa memberikan persediaan air tapi ada yang lebih disyukuri lagi oleh cowok-cowok. Mereka bisa minta rokok. Sampe-sampe energen dibarter dengan rokok. Kenapa mereka begitu kuat merokok, entahlah. Malam sangat kelabu hari itu, kami semua berdoa hujan kan turun. Karena kami butuh sekali air untuk persediaan turun besok.
            Subuh menjelang. Mentari terlentang. Alhamdulillah semalam hujan :D ada air untuk melanjutkan kehidupan. Wkwk. Karena kabut momen sunrise terlewatkan. Kami mengabadikan beberapa foto saat pagi hari. Beberapa fotoku seperti diambil oleh amatiran yang paling amatir. Ku sebeeeelll. Haha. Tapi alhamdulillah.
Masyaallah.
Our trully characters :D
            Perjalanan turun sedikit menakutkan. Karena sudah terekam semua jalur pendakian yang curam dan licin. Sepanjang perjalan aku lalui dengan was-was dan jutaan rasa takut yang alhamdulillah bisa aku taklukkan :p Salsa jauh melesat didepan, karena memang pada hakikatnya aku sangat takut jatuh apalagi terluka. Perlahan-lahan sekali dengan bantuan Chen aku turun dari puncak hingga sampai. Beberapa kali bertemu dengan pendaki yang akan naik, tanpa sungkan aku menanyakan air. Berharap pocari. Hari itu air dengan jutaan planton terasa segar dan masuk-masuk saja ketenggorokkanku. Tanpa mual seperti biasanya. Perjalanan yang menurun dan berliku benar-benar menyiksa. Aku hanya ingin sampai Ya Rabb. Perjalanan turun ini kami tersesat. Entahlah, seperti takkan sampai.
            Akhirnya kami sampai kembali di Mushola dengan sumber air. Air...... kami langsung berhamburan istirahat sejenak. Memakan sisa bekal yang ada. Mencuci muka, menggosok gigi bahkan Robi mandi. Cowok yang suka mandi. Sejak dulu. Setelah merasa sedikit fit kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Mama Elly, perjalanan yang sebenarnya hanya satu jam saat itu berhasil kami tempuh dua jam lebih. Kami kembali tersesat dengan segala kekhawatiran dan kelelahan yang berusaha aku sembunyikan. Aku sangattttt lelah sekali, ingin berhenti. Ingin menangis. Tapi, saat itu Chen tidak berhenti mengajakku bicara. Ada-ada saja yang rasanya perlu kujawab dan kutanya. Ketika kamu lelah di sekeliling orang lelah, hatimu tak berdaya. Satu-satunya harus kuat dan kuat. Untuk hari itu, Chenditya terima kasih banyak...
            Sampai dengan jalur yang berbeda dari seharusnya. Mengekor Chen yang mulai bergerak cepat. Ada adik-adik bermotor yang pulang sekolah, tanpa basa-basi aku minta diantarkan ke tempat Mama Elly. Lumayan beberapa ratus meter, kakiku sudah harus menghemat rasa sakitnya. Hujan turun sore itu. Kami gagal mandi di pemandian panas. Karena sudah kesorean juga.
            Sampai di rumah Mama Elly kami memesan kopi dan yang pasti cowok-cowok membeli rokok. Mereka mandi di tempat pemandian air panas yang tak jauh dari rumah Mama Elly. Tempat pemandian yang belum komersil. Sayang hujan mengguyur deras sore itu. Aku dan Salsa hanya menjadi saksi, tingkah lucu lima cowok yang unik dalam mengekspresikan lelah.
Akbar, Chen, Roby.
First picture sesampainya di Palembang, dijemput Bopak :D
          Terima kasih Ya Allah, terima kasih Mama dan Papa.. for your magically gen set in my dna. Terima kasih Robi, Roby, Akbar, Chen, Andre dan Salsa. This beautiful moments always on my mind and too ready for my children to knows about. 

1 comment: