Saturday, 27 May 2017

Harus dengan Kekerasan? atau Kata Kasar?

Saturday, May 27, 2017 0 Comments
Assalammualaikum....
Aku pengen curhat, lagiiii sedih maksimal. Yaelaaaahh, gabut.
Lagi sulit tidur terus ngescrolling salah satu akun Ig yang ngepost tentang gangster. Anggota gangsternya pada cilik-cilik sis:( jadi keinget adek-adekku. Harus banget ya Pak, kalo mereka ditangkep di anjing-anjingin? ditonjok-tonjokin? Idk. But its just hurts me when i see it.
Efek jera?
Seharusnya proses hukum dulu dong, kalo emang kebukti salah ya ditindak sesuai hukum. Kalo hukumannya diterjang-terjang boleh dengan alasan tertentu gpp.
Prihatin banget sama remaja-remaja tanggung saat ini. Merasa kurang perhatian, merasa kurang kasih sayang, merasa kurang hebat (jadi mau hebat), atau Ibu sama Bapak di rumah lupa mencontohkan praktiknya kasih-sayang?
Kadang gimana liat orang yang lagi ketangkep ngelakuin kesalahan/kejahatan. Kadang cuma maling helm, kepala ampe bocor diamuk masa. Koruptor gak ada yang pernah lecet lengannya tu? Mirisssssssssss.
Alesan nyuri juga cuma buat beli makan anak, gak sampe kebeli rumah. Iya tau caranya salah kan ya? Ya seharusnya ada edukasi yang mendalam dan masif untuk membuat perubahan.
Tapi aku ini apalah, pemikiranku ini apa. Baca buku aja jarang. Ngeluarin pendapat masih suka takut.
Menurutku kekerasan gak perlu. Untuk memusnahkan kekerasan cukup ketegasan dan jangan pandang bulu. Tau kok, si koruptor yang doktor mungkin ada sumbangsih lebih ke negara tapi caranya (serakah) tetep salah kan? sama kan dengan si bapak kurus kerempeng penuh peluh yang nyuri dompet buat makan anak.
Mereka sama-sama merugikan dan meresahkan. Mereka sama-sama salah.
Kalo jadi warga, saat lagi ada yang ketangkep nyuri, gakusah ikut main hakim kecuali lo udah pernah ikut atau berani nonjok koruptor yang jelas buat bangsa melarat.
Gak ada kekerasan yang bakal membuahkan kedamaian. Bijaklah dalam bersikap.
Wassalammualaikum.

Monday, 8 May 2017

Dari Kursi Tunggu TM

Monday, May 08, 2017 0 Comments
Haloooo...
Terik kali ini gak berasa menyengat, hal-hal yang biasanya menyayat terlihat normal. Duduk sambil memangku tas kuliah yang kusadari tak pernah kuganti dari awal semester satu. Saat sadar kalo aku sedikit dalam berbelanja, berasa naek level banget sebagai manusia. Yup. Tapi, aku suka sekali beli ini beli itu.
Tepat didepanku ada sembilan gerobak barang bekas yang berjejer dibahu jalan lalu terdengar jelas dari belakang halte suara gap dari bapak-bapak tukang ojek. Sejenak, rehat dari peluh-peluh yang selalu dianugrahi oleh sang mentari kala terang benderang.
Dari wajah mereka tidak terlihat kekhawatiran, aku rasa mereka pengkamuflase ulung. Tidak ada rona yang biasanya membuat irisan-irasan kecil disudut kehidupan. Membekukan idealisme karena ketidakmampuan menolong.
Bapak. Bapak-bapak. Bapak-bapak yamg mencari nafkah. Bapak-bapak yang tidak kenal lelah. Membawa kulkas dalam gerobaknya, turut pula harapan untuk sesuatu yang jauh lebih baik.
Hidup ini elegi.
Disini ada yang bisa bertahan dengan segala keterbatasan dan disudut lain ada yang jatuh hilang harga diri karna merasa tak pernah cukup.
Ada sisi melankonis yang kian hari kurasa kian mengambil alih perasaanku. Saat dimana aku terpekur lesu karena ketidak berdayaanku dalam menolong. Jika niat hanyalah niat. Berbuat baik tak pernah sulit.
Semangat Pak...
Semoga Doa kita tak kalah jauhnya kita langkahkan, tak kurang peluhnya kita lantunkan, terasa harapnya kita lafazkan. Karena kita tau, hidup ini tidak cukup hanya terus berjalan tapi kita perlu mencari tau untuk apa dan kepada siapa kita menjalani semuanya.
Menunggu Transmusi tak pernah semenyenangkan ini.😊

Setiap Kali Kamu Ngaji....

Monday, May 08, 2017 0 Comments

Pernah terpikir gak?

“When you do something good, pahala-pahala akan mengalir ke orang-orang yang kamu sayang.”

Setiap kali kamu ngaji, setiap huruf yang kamu baca dalam keadaan suci akan mengaliri pahala ke buku amalan guru ngaji kamu, ke orang tua kamu yang bayarin ngaji, ke nenek kamu yang nyiapin baju ngaji, ke kakek kamu yang nganterin ngaji. Wah! Hal-hal kecil yang kadang kita malesin bisa jadi salah satu kebaikan yang mungkin bisa nyicil ngebayar semua kebaikan orang-orang sekeliling kita, orang-orang yang dengan cintanya kita tumbuh dan belajar, orang-orang yang setiap detiknya menjadi salah satu alasan untuk terus bersyukur, orang-orang yang gak pernah kebayang kalo mereka gak pernah ada dalam hidup kita.

Kita juga bisa jadi orang yang mengalirin dosa ke buku amalan orang-orang terdekat kita. Terutama ayah, ibu dan saudara laki-laki kita. Terkadang kita lupa, bahwa ayah dan saudara laki-laki kita ikut menanggung setiap detail perbuatan kita.

Hidup ini pilihan. Kita tinggal milih untuk ngebangun jembatan menuju surga atau menuju neraka untuk ayah ibu kita? Untuk saudara kita? Untuk mereka yang kita sayang.

Selama ini aku terlalu takut untuk meninggal... terutama saat muda. Aku takut meninggalkan mama papaku, meninggalkan impian-impianku, mimpi-mimpiku, adik-adikku. Bisa dibilang aku masih sangat mencintai dunia ini dan seisinya. Insyaallah pemilikNya lah yang memiliki hatiku. (lagi berjuang banget).

Kemudian, suatu sore selepas solat. Terlintas, aku rasa jika meninggal dalam keadaan baik maka tidak apa-apa meninggalkan semuanya. Untuk tidak mencintai dunia ini, pertama kita harus mengakrabkan diri dengan kematian. Mendekatkan diri, memperbanyak bekal.

Toh, seluruhnya bisa diminta lagi di surga.

Semangat memperbaiki diri.

Semangat menebar kebaikan.

Wasalammualaikum!

Wednesday, 3 May 2017

[Review] Produk Venus

Wednesday, May 03, 2017 2 Comments
Halloooooo! Assalammualaikum
Kembali lagi bersama aku. Iya balik lagi ke aku. Yuk! Hahahaha
List judul untuk ditulis udah numpuk-puk-puk, yaelah rum kayak apa aja. Wkwk Sometimes, ide muncul tiba-tiba. Sedikit doang, tapi cerah bercahaya menyinari otakku. Membuat ragaku yang malas tersipu malu. Fix ini gaje.
Oke kali ini aku yang perempuan bukan peyempuan, akan mengulas enam bulan terakhirku menggunakan serangkaian produk Marcks’ Venus.
Dahulu sekali, ada seorang wanita paruhbaya sebut saja Makcik. Dia dengan sengaja membelikanku pencuci muka dan body milk dari Venus. Sejak pertama kali pemakaian aku langsung jatuh hati dengan pencuci mukanya. Lembut dan menyegarkan sekali! Body milknya juga aku suka teksturnya tidak lengket dan wanginya elegan. Ya, greentea. Setelah kerasan menggunakan pencuci muka dan body milknya aku pun berencana untuk mengganti bertahap rangkaian produk skin careku dengan produk Venus.
Sebulan kemudian aku membeli pencuci muka dan toner Venus. Produk Venus termasuk produk yang cukup sulit untuk ditemukan, bahkan di Alfama** hanya menjual body milk saja begitu juga Gia**. Hari itu seharusnya sekalian membeli susu pembersih tapi susu pembersih Venus sangat sulit dicari. Sudah keliling dibeberapa Kimia Farma, hasilnya tetap nihil.
Alhamdulillah bulan lalu, bisa mendapatkan lengkap. Pencuci muka, susu pembersih, toner, body milk dan loose powder!
Beberapa Produk Venus yang Aku miliki
Dari keseluruhan produk, hanya loose powder yang kurang memuaskan. Bedaknya lembut, enak dipake tapi packagingnya kacau balau. Bedaknya tumpah-tumpah. Jadi males mau dibawa berpergian.
But overall.
            Untuk pencuci mukanya, recomended banget! 9/10
            Toner. 9/10
            Cleansing Milk. 9/10
            Body Milk Greeantea. 8/10
            Body Milk Bengkoang. 7/10
            Loose Powder. 8/10
            So, grab yours girls. Aku berani pake ini karena aku fikir produk Kimia Farma pasti gak bakalan pake bahan-bahan yang berbahaya untuk pemakaian sehari-hari ataupun pemakaian jangka panjang, harga terjangkau dan yang pasti HALAL.

[Review] Kita dan Rindu yang Tak Terjawab

Wednesday, May 03, 2017 0 Comments
             Jika pilihan tak mampu digenggam, akankah semesta memihak?

         Dari sampul buku, sepertinya orang-orang sudah bisa menebak dimana setting buku yang satu ini. Pemilihan cover yang menurutku, tepat sekali.

Assalammualaikummm.
Kali ini aku diajak mengenal Suku Batak melalui buku ini. Beruntung sekali, karena tidak seperti Bali yang aku udah punya sedikit prngetahuan. Kalo mengenai Suku Batak ini aku belum ada tau apa-apanya lah bang! Janganlah kau biarkan diri kau itu tak berpengetahuan nang! Bacalah buku ini, bagus untuk menambah wawasan kau. Hihi.

Dari buku ini aku belajar betapa kuatnya cinta. Meskipun sudah lama tinggal di Jakarta tapi keluarga Papa Batak tetap menjaga adatnya. Tetap melestarikan adatnya. Buku ini tidak mengajak kita berkeliling ke tanah Suku Batak dengan danaunya yang terkenal. Melainkan bagaimana keluarga Batak dalam menjaga keutuhan Sukunya dan menjaga sikap-sikap baik.
Buku ini memperlihatkan seutuhnya kasih dan sayang kedua orang tua kepada anaknya. Seiring selesainya beberapa step dalam hidup kita sebagai anak, orang tua juga ikut berbahagia dan terus mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk menikahkan anak dengan sebaik-baiknya calon yang ada.
Kita dan Rindu yang Tak Terjawab, mengisahkan Naiza, gadis Batak yang sudah mulai matang untuk sebuah Pernikahan Batak! Papa dan Mama Batak yang sedari kecil membesarkan Naiza dengan adat Batak sangat berharap jika Naiza akan berjodoh dengan laki-laki Batak dan menciptakan banyak pahompu.
Sidney, laki-laki Batak yang mulai bosan mencari pasangan sendiri. Kini mulai pasrah mengenai jodoh. Umur 32 tahun dan desakan orang tua agar segera menikah, dengan Batak pastinya membuat Sidney berusaha mendapatkan Naiza dengan sebisanya.
Tantra, laki-laki Jawa yang telah kenal dan tumbuh bersama Naiza semenjak berusia empat tahun. Tantra dan Naiza adalah sahabat yang sangat cocok. Namun dengan berlalunya waktu, Tantra menyadari sesuatu sekaligus menyadari satu hal lain. Dia bukan Batak!
Membaca novel ini sempat mebuatku bercerita dengan teman kampusku. “Aku lagi baco novel dan tokohnyo itu punyo sahabat dari kecik sampe lah kuliah masih sahabatan. Iri nian aku.” Hahahaha. Cerita ini beneran buat aku sedikit iri dalam kadar yang cukup pastinya. Hehe.
Novel ini aku khatamkan dalam waktu ynag cukup singkat karena cerita yang menarik. Tapi, tiga bab belakang aku merasa bosan dan cerita sudah bisa ditebak! But overall, siapa sih yang merasa gak seneng tau gimana Batak itu.
Btw aku ngarepnya dua Batak, Sidney dan Naiza bisa bersatu melahirkan banyak pahompu untuk Papa dan Mama Batak. Nanti marganya, Sinaga kan ya?
Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca gaes, waktumu tidak akan sia-sia loh. Waktumu bakalan lebih bermanfaat kalo baca buku daripada seliweran di Instagram. Sebagai pembaca yang baru baca satu, dua buku boleh kali ya aku menilai hehe. Untuk buku ini 7,1/9. Sayang sekali settingnya tidak memperkuat cerita seperti dua seri sebelumnya.
Wassalammualaikum.

[Review] Di Bawah Langit yang Sama

Wednesday, May 03, 2017 0 Comments
Hello fellas!!!!!!!
Kali ini aku mau nyoba ng-review buku yang baru selesai dibaca. Hanya dua kali menutupnya! Buku yang sangat asik dan keren banget.
Pertama, buku Di Bawah Langit yang Sama karya Helga Rif. Buku ini wajib baca deh! Lumayan kan menyelami Ubud dengan gratis, singkat tapi dapet feelnya. Sebenernya aku udah lama baca buku pertama, Perempuan-Perempuan Tersayang karya mba Okke yang bersetting di Soe!!!! Akh! Setiap denger nama kota itu disebut, aku berasa seakan tau banyak! Seakan aku perlu berkunjung (lagi). Novel dengan kisah dari sudut-sudut penjuru Indonesia ini sendiri punya temenku, Kahfi. Kahfi yang dengan inisiatif menawarkan buku kedua dan ketiga dari seri Indonesiana. Kahfi, kamu baik sekali. Oke, iklannyaa selesai. Nuhun. 

            “Saat kamu menyakiti seseorang, dan dia memaafkanmu, kamu akan menanggung semua sakitnya.”
“Jangan pergi untuk kukejar. Karena aku tidak mengejar yang pergi meninggalkanku.”
Hematnya. Aku udah ngurangin banget baca novel romance. Selain udah mulai bosan, kesini udah kerasa banget aku gak punya banyak waktu lagi untuk baca. I need to spend my time into the worth something in the right way. Yihaaa. Hihi.
            Di Bawah Langit yang Sama.
            Ubud yang pesonanya menjuru sejak dulu. Ubud memiliki sebenar-sebenarnya yang diharapkan semua orang tentang Pulau Dewata, tentang Bali. Yang buat aku tertarik membaca buku ini, tentu saja karena ada pengetahuan yang berharga didalamnya. Ada Ubud didalam buku dengan cover ungu dengan corak batik dan sepasang kupu-kupu. Sebenernya aku sudah tau sedikit tentang kehidupan di Bali. Tentang tanah yang disewakan bukan dijual, tentang kasta-kasta disana, tentang pencalang dll. Tapi keindahan (yang beneran indah) dan adat yang kental belum pernah aku dengar dan saksikan melalui trip setahun lalu ke Bali. Pertama kali tau Ubud dan sangat ingin berkunjung itu karena melihat postingan dari anak Pak Prabowo, Mas Didiet yang sepertinya sangat suka berkunjung ke Ubud kalo dilihat dari postingan photo beliau di Twitter maupun Instagram.
            Novel ini sendiri menceritakan mengenai kisah cinta gadis puri bernama Indira yang berkasta Ksatria. Gadis puri ini hanya memiliki saudari perempuan. Sebagai gadis yang lahir dan dibesarkan di Bali dan lingkungan puri, Indira mengemban tanggung jawab untuk meneruskan garis keturunan ayahnya. Indira diharuskan menikah dengan laki-laki dengan tingkat kasta yang sama untuk mempertahankan garis keturunan keluarganya. Namun, dalam cintanya pada Bali dan keseluruhan adat yang ada. Indira juga mencintai laki-laki yang tumbuh dan hidup di Singapura. Max, adalah atasan Indira selama bekerja di Perusahaan Tekstil disana.  Kepulangan niangnya, megembalikan Indira ke Ubud dengan segala adat-istiadatnya yang istimewa dan juga membelenggu beberapa impian Indira...
Bagaimana kelanjutan hidup Indira? Silahkan membaca buku ini! Sangat disarankan.
Buku ini sendiri menumbuhkan rasa... Rum you need to stay there for a short while. You need it. One month or more! I hope someday, aku bisa ikut serta menyaksikan upacara ngaben dan upacara-upacara yang dilakukan sebelum pembakaran jenazah dimulut lembu. What a nice trip, mbak Helga!!!!!!! Thank you.
8/9 for this book.
Next book on next post! See ya!
Wassalammualaikum..

Monday, 1 May 2017

Ikut Serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa(?)

Monday, May 01, 2017 0 Comments
Halooooo, 2 Mei 😊
Assalammualaikum teman-teman😊
Hari Selasa kali ini diperingati dengan Hari Pendidikan Nasional dan kampusku memeperingatinya dengan mengadakan ceremony. Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan loh Pak Direktur. Hal-hal yang bisa membawa perubahan yang nyata ketimbang kegiatan ceremonial yang kadang mengiris hati. Huhuhuhu
Pribadi sih, aku orang yang suka ikut upacara. Kegiatan ceremonial yang emotional banget. Cuma upacara loh gak perang melawan penjajah atau terkurung pilu peradaban yang masih terbelakang. Kita wajib bersyukur! Upacara menjadi salah satu kegiatan melembutkan hati, sebagai mahasiswa yang gagal (karena gak pernah berani ngomong apalagi turun ke jalan dan gak ada prestasi akademik) kegiatan upacara sangat baik untuk memekakan hati kita atas tanggung jawab kita sebagai anak bangsa dalam ikut serta mewujudkan cita-cita bangsa ini yang tertuang dalam.Pembukaan UUD 1945.  Jangan sampe mahasiswa gak hafal Pancasila, boro-boro deh mau berusaha mewujudkannya.....
Mungkin dalam prosesnya kita meremehkan hal-hal kecil, tapi prinsip itu perlu untuk hal-hal kecil sekalopun. Sikap itu perlu. Bersyukur itu wajib.
Kalo bicara mewujudkan cita-cita bangsa, kok berat banget ya. Tinggi banget ya. Siapa banget sih ya.
Tapi, kalo bukan kita siapa lagi? Kalo bukan dari hal kecil, lalu darimana? Dari kegiatan kecil kita bisa liat dan boleh menilai (untuk diri sendiri dulu) siapa yang rela berkorban, siapa yang menghormati, menghargai, yaaa kita bisa duduk di bangku kuliah sekarang karena jasa nenek moyang kita dulu... aku bisa nulis karena jasa mereka, bunga-bunga putra bangsa..

Untukmu yang gugur dalam bela negara
Untukmu yang kuat mengusir kebodohan
Untukmu yang menyungsung pagi dengan sigap mendidik
Untukmu yang mengabdi diseluruh pelosok negeri
Untukmu cahaya pelita
Terima Kasih, jasamu akan selalu hidup melingkupi mimpi-mimpiku sebagai anak bangsa

Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk seluruh pendidik di penjuru negeri, baik yang masih berjuang atau telah tenang di peristirahatan.
Sekecil apapun kebaikan, pasti ternilai.
Terima kasih, karena harimu kau gunakan untuk mewujudkan salah satu citaku. Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Wassalammualaikum.