Friday, 27 January 2017

Di Penghujung Usai

Friday, January 27, 2017 0 Comments
Di penghujung usai, aku tak pernah berfikir akan terjadi sesuatu. Aku tak pernah menganggap sesuatu itu sesuatu. Aku tidak mudah memikirkan sesuatu. Aku tak mudah merisaukan sesuatu. Aku tidak mudah terbelenggu, aku selalu merasa kuat. Aku selalu merasa cukup. Aku selalu merasa memiliki yang aku butuhkan saat ini. Aku selalu berusaha bersyukur. Aku selalu sabar, aku hanya tak ingin menodai penantianku. Aku hanya tak ingin doa-doaku tak memiliki ketulusannya.
Sesuatu itu hanya bisa membuatku menangis di atas sajadah tapi tidak akan pernah merenggut keikhlasanku. Sesuatu itu hanya akan ku pendam hingga padam. Jika pun sesuatu itu memberontak, dia tidak akan lari jauh hanya sebatas tulisan-tulisan seorang makhluk hidup.
Aku selalu berfikir bahwa sesuatu itu anugerah, jika sesuatu itu tidak pernah ada mungkin aku tidak akan seperti ini. Seberapapun jiwa ini, hati ini, sifat dan sikap ini jauh dari kata baik, sedetik pun aku tak pernah menyesal untuk memperbaiki masa lalu.
Aku selalu berfikir bahwa keseluruhannya sudah menjadi takdirku, aku tak berharap sesuatu itu tidka pernah terjadi. Aku hanya berusaha bahwa aku pantas untuk sesuatu dibalik sesuatu itu.
Di penghujung usai, sesuatu kembali berusaha mengaburkan pengelihatanku. Di penghujung usai, kembali sesuatu yang sama memperdengarkan isakannya. Di penghujung usai, sesuatu kembali menginginkan ku untuk menyerah. Di penghujung usai, sesuatu datang ingin menyamakanku dengan yang lain. Di penghujung usai, sesuatu menyadarkanku akan sesuatu.

Terima kasih sesuatu. Tanpamu mungkin tangisku takkan pernah sedu sedan. Doaku mungkin tak pernah selembut alunan nina bobo dari sang bunda, melelapkanku dari perihmu. Terima kasih sesuatu. Kau sudah berusaha begitu kerasnya mengajariku bersikap lalu membawa semuanya bersama daun terakhir. 

Sunday, 1 January 2017

Harta Karun

Sunday, January 01, 2017 0 Comments
Bismillahhirahmannirrahim
Assalammualaikum kamu, iya kamu yang baca ini :’)

Hari pertama di tahun 2017, semalaman sudah mengumpulkan banyak hal untuk ditulis, dibagi biar ada manfaatnya pemikiran ini. Tapi aku bingung cara mengemasnya? Aku bingung sekali, biar yang baca tertarik lalu meluangkan waktu hingga titik terakhir.  Dia sering lupa cara terbaik menghabiskan waktu, membaginya untuk raga dan jiwanya secara adil dan bersahaja. Dia hanya selalu berusaha melakukan hal-hal yang disukainya, membaca, menulis, menonton, memasak, bermain dengan anak kucing atau berusaha mengambil perhatian anak kecil yang lucu. Mencoba sekuat hati menjauhi keburukan, tapi tak ingin kehilangan nikmatnya jiwa dengan raga yang kuat. Muda. Dia sadar bahwa waktu takkan terulang walau sedetik.

Malam yang dingin sering menjadi teman dan salah satu teman terbaik. Seperti suatu malam, dingin dan sangat dingin. Malam yang dilalui dengan menyusuri jalanan kota yang gemerlap juga kelam. Malam yang penuh teriak kesenangan, dentam-dentum yang mewarnai langit juga suara lirih dari pinggiran toko yang tertutup rapat. Menyisahkan seorang tua renta meringkuk berselimutkan kain usang yang tak cukup panjang dan tebal untuk memberikan kehangatan. Seorang diri melihat kegelapan dibawah warna-warni langit malam pergantian tahun, melaluinya dengan penuh kesepian ditengah ramainya lalu lintas jalan protokol kota metropolitan.

Di persimpangan jalan yang ramai, seorang Bapak duduk termenung dengan muka lelah dibalik tumpukan kantong kresek berisi arang. Menanti pembeli, tak berputus asa atas rejeki halal yang Allah swt janjikan. Menatap dengan harap setiap pengendara roda dua yang melintas dekat dengan lapak jualannya. Disisi lain, dua laki-laki dewasa dengan sigap menyamakan langka mendorong gerobak yang penuh dengan sisa bahan dagangan. Berusaha mendorong ke jalan yang sedikit menanjak. Beberapa sisa tandan pisang terlihat.  Di depan megahnya satu mall terbaru di kota dengan pembangunan yang pesat, terlihat satu keluarga sedang beristirahat dibawah  kokohnya tiang LRT. Si anak terlihat nyaman meringkuk bersama tumpukan kardus didalam sebuah gerobak kayu. Sedang Bapak, menyelonjorkan kaki, menyandarkan kepala pada muka gerobak. Terlihat lelah, tapi ada senyuman hangat di muka yang sering tersengat ganasnya sinar matahari.

Lalu dijalan tepat di depan salah satu RS swasta terbesar di kota ini, nampak Bapak tua yang melangkah perlahan sambil mengengam pegangan gerobak dengan satu anak laki-laki di dalamnya. Berlomba menyamai langkah mobil-mobil pribadi yang gagah. Melangkah ditepian jalan, mengharap tak mendengar suara klakson karena langkah yang kian lemah.  Dijalan tepat pusat kota, yang katanya 0 KM. Berkumpul para pria berseragam yang perutnya mulai membesar. Terlihat lemah walau terbalut seragam yang rapi. Duduk berkumpul, bercerita sambil menyantap banyak makanan, sesekali melihat-lihat jalanan. Mungkin mereka sedang bercerita tentang kredit mobil yang akan lunas tatkala gaji bulan depan diterima atau rencananya untuk anak-anaknya agar tak merasakan hidup susah.  Dia melihat dengan penuh kebingungan, juga kesedihan.

Dibelakang boncengan teman kampus yang tak lelah berjuang menyelesaikan tugas tepat waktu. Lalu, selintas tulisan yang terbit ditanggal sama tahun lalu menyadarkan bahwa gemerlap dunia masih menenggelamkan jiwa mudanya. Bahkan semakin dalam. Namun, dia bersyukur. Karena menjadi salah satu yang dapat melihat sebenarnya “kehidupan”. Merasakan sebenarnya rasa syukur. Mendoakan dalam dia orang yang tak pernah dikenal, karena hidup mereka adalah bagian dari perjalannya mencari arti kehidupan.

Allah tidak pernah tidur. Allah juga selalu tepat atas segala keputusannya. Allah maha baik, Allah selalu ada. Semoga kita tidak pernah berputus asa atas pertolongan-Nya. Semoga kita takut jika iman kita terkikis daripada takut tak punya uang. Semoga tahun ini bisa lulus dengan ridho Allah, bekerja, lalu melanjutkan pencarian harta karun. Yaitu kelapangan hati.

Wassalammualaikum.